Puisi “Manusia Lain” Dahta Gautama:

Konkretisasi Makna Kedalam Keindahan Teks Sastra
Sayyid Fahmi Alathas *
Riau Pos, 22 Des 2013

Konkretisasi Makna

Apabila menurut salah seorang tokoh berkebangsaan Polandia bernama Roman Ingarden, dengan mengatakan bahwa karya sastra mempunyai struktur yang objektif, yang memberi peluang kepada pembaca untuk memberi arti terhadapnya.

Akan tetapi struktur karya sastra sementara belum bisa berbuat banyak terhadap pembaca sehingga di perlukan suatu kegiatan konkretisasi terhadap kemungkinan makna yang disediakan oleh struktur objektif tadi. Disini kegiatan makna karya dibatasi oleh struktur itu sendiri; karena struktur objektif itu hanya satu maka konkretisasi makna hanya ada satu terlepas dari pengaruh masa dan tempat.

Meskipun yang terdapat pada karya sastra menekankan keberlangsungan teori, dikarenakan kajian mengenai teori resepsi sastra menentukan kebermulaan makna yang mudah dicerna para pembaca selaku pemberi makna. Dimana tidak ubahnya serupa artefak atau benda mati!. Dimana di perlukan proses konkretisasi, dimana mesti mengartikan kode-kode makna sesuai yang ada dihadapannya.

Namun menyangkut kosakata bahasa kedalam proses konkretisasi pada kalimat membentuk makna mencakup tema serta bahasa. Ada seorang tokoh pelopor sejarah sastra berkebangsaan Jerman Barat, bernama Hans Robert Jausz, melalui pokok pokok bahasannya penekanan pembaca selaku pemberi makna dapat ditelusuri dalam makalahnya berjudul “ Literatur Geiscichte Als Provokation”. Yakni sejarah sastra sebagai tantangan. Berisikan mengenai “Dinamika Sastra” yang timbul berdasarkan diakronis dan sinkronis.

Apabila dari segi estetik karya sastra sebagai karya seni, pembacalah yang menentukan apakah karya sastra dapat diterima atau ditolak, apakah karya sastra bernilai atau tidak, apakah karya sastra yang tertonjol itu nilai esetetik atau nilai kegunaannya. Dengan mengatakan pula bahwa interpretasi seorang pembaca terhadap sebuah teks sastra ditentukan oleh apa yang disebutnya dengan Horison Penerimaan. Dimana dibaginya kedalam dua bagian. Pertama yang bersifat estetik atau yang ada di dalam teks sastra. Kedua yang tidak bersifat estetik atau yang tidak berada di dalam teks sastra tetapi sesuatu yang melekat kepada pembaca.

Apabila menurut salah seorang tokoh berkebangsaan Polandia bernama Feliks Vodicka, merupakan seorang murid seorang tokoh kaum strukturalis Praha yang mengembangkan teori lanjutan kaum Formalis Rusia, dengan menekankan fungsi estetik bahasa dengan konteks sosial, dengan mengatakan bahwa karya sastra puisi tak ubahnya artefak, benda mati. Pembacalah yang menghidupkan melalui proses konkretisasi. Sebagai artefak, karya sastra tidak jelas maknanya; ia baru jelas atau konkret setelah berinteraksi dengan pembaca.

Meskipun Jan Mukarovsky, dengan mengatakan bahwa karya sastra sangat berkaitan dengan konteks sosial, sehingga fungsi estetik dan puitika bahasa tidak terlepas dari fungsi sosial sementara fungsi estetik dan fungsi sosial selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan fungsi sosial itu sendiri. Fungsi estetik dan fungsi sosial selalu berubah-ubah pada suatu masyarakat sepanjang zaman. Kadang kala lebih mementingkan fungsi sosial dan kadang kadang lebih mementingkan fungsi estetik ( Teeuw, 1984-7).

Disebabkan dalam suatu masyarakat fungsi bahasa kerap berkaitan dengan fungsi estetik dan fungsi sosial suatu lingkungan masyarakat, apabila keindahan seni terletak pada karya sastra puisi bermain dalam proses ruang bahasa berhadapan langsung dengan kenyataan kosakata bahasa itu sendiri, yang apabila digunakan seorang pengarang dalam setiap kali menciptakan karya sastra puisi untuk menemukan makna.

Akan tetapi proses konkretisasi kedalam ruang bahasa membentuk kalimat, apakah proses kosakata bahasa yang apabila pendapat seorang tokoh ilmu tata bahasa yakni “Transformatif Generatif” bernama, Noam Chomsky, dengan mengatakan bahwa setiap penutur bahasa asli sesuatu bahasa alami telah menyimpang dari rumus gramatis bahasa yang ada dalam otaknya. Pada dasarnya bahasa mempunyai dua struktur yakni struktur dalam (Deep Structure) dan struktur permukaan ( Surface Structure), yang dapat disamakan dengan istilah “Comptence” atau penguasaan bahasa dalam otak sesuai dengan aturannya, dan “Performance” atau pelahiran bahasa oleh seeseorang. Orang yang sama mungkin berbeda dalam “Performance” atau “Surface Structure”.

Keindahan Teks Sastra Puisi “Manusia Lain”

Namun menurut kaum strukturalis dengan mengatakan bahwa karya sastra dapat didekati dari dua segi yakni segi pertentangan dengan bentuk dan pemakaian bahasa dan segi seni dalam kaitan dan pertentangannya dengan bentuk-bentuk seni yang lain. Mendekati sastra dari segi seni berarti mendekati sastra dari segi estetik atau keindahan. Akan tetapi sastra lebih ditekankan pada aspek bahasanya karena aspek seni pada sastra melekat pada penggunanan bahasa itu sendiri. Bahasa pada sastra tidak sama dengan cat, gerak, atau bahan baku seni yang lain, karena bahasa sebelum digunakan dalam sastra telah mempunyai makna yang mau tak mau melandasi penciptaan sastrawan (Bdk, Teeuw, 1984:34).

Dimana bahasa masih berlangsung kontekstual meskipun keuniversalan makna melingkupi penciptaan karya sastra. Akan tetapi karya sastra menerobos kearah perkembangan kajian ilmu sastra, kearah kajian ilmu bahasa menentukan makna yang mudah dicerna dan dipertanggung jawabkan pengarangnya terhadap pembaca. Dimana kesimpulan karya sastra menekankan keberlangsungan teori, bukan hanya menyulitkan pengarangnya selaku pencipta karya sastra dari beraneka ragam kosakata bahasa sampai membentuk kalimat.

Apabila sejauh mana kejadian atau peristiwa dalam bahasa, dimana pengarangnya menyikapi segala bentuk yang berhubungan beraneka ragam kosakata bahasa membentuk kalimat, dimana mengembangkan cerita membawa perubahan zaman kearah bahasa. Kemungkinan pengarangnya menciptakan karya sastra berkualitas bukan hanya terletak kepada pencapaian fungsi estetika dan puitika bahasa dari beraneka ragam kosakata bahasa membentuk kalimat. Apabila dilihat dari aspek mengandung batasan kenyataan dan ketidaknyataan koeralasi beraneka ragam kosakata bahasa membentuk kalimat. Apabila koeralasi antara satu kosakata bahasa kedalam kalimat.

Pertama, seperti koeralasi langkah awal menentukan kalimat, dimana mengandung batasan antara kenyataan dan ketidaknyataan maksud, tujuan, sebab, akibat, sejauh mana karya sastra puisi “manusia Lain” menjadi suatu karya berkualitas. Seperti terdapat pada puisinya berjudul “Persekongkolan Anjing”; Anjing-anjing berburu Tuhan dirumahmu./ ditempat yang paling basah dalam keluargamu./ Istri selalu mengira bahwa engkau pulang membungkus nabi dalam tas ranselmu. /Ia tak pernah memahami, gerakan anjing bisa melukai rumah tangga/ Demikianlah, anjing mencarinya, dan menemui Tuhan dirumah itu./ Sementara engkau menjadi lelaki yang selalu marah/ dan Tuhan, tak pernah memberi mu’jizat pada laki-lakijahat,/ maka engkau hanya dapat menjumpai perempuan/ kering diatas ranjang berderik/ Nabi yang dipuja istri, tak pernah engkau bawa pulang/ Padahal engkau sudah terlalu payah untuk bernapas.

Apabila menurut salah seorang kaum Formalis Rusia yang pertama kali memulai penekanannya atas bahasa dalam karya sastra, agar bisa terjadinya proses efek pengasingan atau penggelapan bernama, Roman Jakobson, dengan mengatakan bahwa sumber-sumber puitis yang tersembunyi pada struktur morfologi dan sintaksis sering kali tidak diketahui oleh pakar bahasa tetapi dikuasai oleh penulis penulis kreatif; ahli bahasa tuli terhadap fungsi puitis bahasa dan pakar sastra bersikap dingin terhadap masalah linguistik adalah mereka yang membuat kesalahan besar atau anakronis. ( Simanjuntak 1982: 38).

Seperti terdapat pada puisinya berjudul “Lelaki yang Tumbang”; Demikianlah, aku menemukan perempuan lain dikartu nama yang salah./ Ketika engkau menyebut satu orang berbeda/ dan dia pasti memiliki kesempatan serupa untuk membunuhmu./ Aku berada di tempat busuk, di bawah akasia layu./ Menatap pucuknya dan ingin benar mengecup sisa getahnya./ Perempuan yang tak pernah kukenal asalnya./ Mungkin engkau mendamba bau tubuh lain./ Kau merindu perilaku ganjil, dari lelaki telanjang./ Itulah sebabnya, kau tak sudi, ada lelaki sama dalam sejarah hidup mu yang ringkas itu./ Engkau selalu menyebutku sebagai lelaki tumbang./ Sebab tak pernah memahami tatacara mengeja nama musuhmu./ Engkau pasti ingin bercinta dalam waktu purba, kemudian menghujamkan belati kedada ku./ Sungguh, aku cuma lelaki penggembira./ Lelaki yang tak pintar bergerak, menghindar kalah.

Pertama, apakah makna yang terdapat pada baris dan bait setiap karya sastra puisinya itu puitis? Kedua, apakah setiap jenis kosakata bahasa menjadi unsur kalimat apabila dipadukan dalam setiap karya sastra puisinya itu puitis? Ketiga, apakah proses generalisasi struktur kosakata bahasa seorang pembaca memperoleh makna dari karya sastra puisinya itu puitis? Keempat, apakah proses generalisasi struktur kosakata bahasa, membangun setiap unsur pada kalimat dalam karya sastra puisinya itu puitis! Kelima, apakah proses generalisasi karya sastra puisinya itu seperti yang dikemukakan oleh seorang tokoh kaum Formalis Rusia murid dari seorang tokoh kaum praha yakni, Jans Mukarovsky, bernama Feliks Vodicka!

Disebabkan pandangan-pandangan suatu masyarakat terhadap karya sastra, kepada pandangan nilai-nilai lingkungan sosial masyarakat dimana karya sastra tersebut berada. Apabila dalam suatu karya sastra makna berpusat kepada bahasa? Apakah yang mesti dilakukan seorang sastrawan dimana mesti berhadapan langsung dengan “realitas” kosakata bahasa sebagai pembentuk teks. Dimana dalam menyampaikan makna merupakan bagian “integral” yang tidak dapat dipisahkan dari fungsi utama penggunaan struktur kosakata bahasa kedalam kalimat. Disebabkan pengarangnya melakukan proses permentasi dari beraneka ragam kosakata bahasa yang disusunnya kedalam kalimat.

Sehingga menjadikan bahasa yang berbeda dari pemakaian bahasa biasa pada umumnya. Apabila menurut salah seorang tokoh bernama, Jurich Lotman dengan mengatakan bahwa bahasa mempunyai potensi bentuk dan makna tidak terbatas. Karena disatu sisi, pengarang harus tunduk pada tata bahasa, disisi yang lain pengarang bebas menggunakan tata bahasa sesuai dengan prinsip-prinsip “Lincetia Poetica”. Dikarenakan teks sastra ditengah perubahan arus sosial kearah absurditasnya, bukan hanya kontestual namun universal, dimana menyesuaikan harapan pengarangnya, seperti kedua tokoh, Ariel Haryanto dan Arief Budiman, dengan mengatakan bahwa perubahan-perubahan didalam teks sastra dapat berkembang kapan saja, dimana saja, sekalipun ditengah kontroversi arus pengkritisi dan pengarang.

*) Sayyid Fahmi Alathas, Karya Sastra berupa Puisi Dan Esai terbit di sejumlah Belasan Media Massa Lokal dan Nasional