Membongkar Kerancuan Metode Penelitian Sastra

Donny Syofyan *
harianhaluan.com 18 Nov 2012

Dekade 1970-an di Barat menunjukkan perkembangan pesat dalam kajian sastra ilmiah dengan kemunculan pelbagai teori baru mengenai karya sastra. Ini meliputi teori struktural, semiotik, struktu­ralisme genetik, resepsi sastra hingga teori kelisanan. Kecen­derungan ini kian kuat dengan masuknya teori-teori yang lebih baru semisal pasca­struktu­ralisme, pascamodernisme, pascakolonialisme, pasca­mar­xisme, feminsime, pascafemi­nisme. Perkembangan demikian mengesankan bahwa posisi keilmiahan karya sastra tidak dapat digoyahkan dan dira­gukan lagi.

Hanya saja, perkembangan tersebut cenderung tumpang tindih dan menjadi kontra­produktif bagi ilmu sastra sendiri secara totalitas. Dalam masa yang relative singkat, sebuah teori dikoreksi dan digeser oleh teori baru. Dengan demikian, ahli-ahli sastra—baik Barat maupun In­do­nesia—tidak memiliki kesem­patan yang memadai untuk menang­kap dan merumus­kan implikasi metodologis dari pelbagai teori tersebut. Untuk kasus Indo­nesia tidak jarang para akade­misi mengalami kerancuan pemahaman.

Lewat buku terbarunya, Faruk—Guru Besar Ilmu Sastra Fakultas Ilmu Budaya Univer­sitas Gajah Mada, yang juga dikenal sebagai kritikus sastra dan pengamat kebudayaan yang tajam—mencoba menjelaskan pelbagai kesimpangsiuran dan kerancuan pemahaman yang menghinggapi kalangan akade­misi tersebut. Sebagai misal, Faruk menegaskan adanya kecenderungan untuk mende­finisikan landasan teori sebagai hasil renungan terdahulu me­nge­nai masalah penelitian (h.4). Hemat Faruk di sinilah keran­cuan luar biasa karena menya­makan landasan teori dengan “kajian pustaka” atau “pengum­pulan informasi”. Lebih lanjut penulis secara kritis mem­bongkar kerancuan-kerancuan metodologis lainnya dalam penelitian sastra, seperti tren yang menganggap bahwa me­tode semata-mata serangkaian prosedur formal yang sudah menjadi model yang tinggal diadopsi oleh ilmu sastra tanpa mempertimbangkan alasan atau dasar logis dari terben­tuknya prosedur yang demikian. Kesala­han demikian, ungkap Faruk, terkait erat dengan kegagalan sementara akade­misi atau ilmuan sastra untuk memahami induk ilmu penge­tahuan, yakni filsafat, khusus­nya apa yang disebut filsafat ilmu pengetahuan.

Lewat karya terbarunya, Metode Penelitian Sastra: Sebuah Penjelajahan Awal, Faruk me­nunjukkan kebolehannya bukan saja dalam penguasaan teori-teori kesusastraan dan filsafat Barat tapi juga pema­hamannya yang mumpuni ten­tang mozaik dan khazanah kesusastraan Indonesia. Bagi para maha­siswa ilmu-ilmu sastra—S1, S2 dan bahkan S3—buku ini amat dire­komen­dasikan untuk diku­nyak-kunyah mengingat ia menyu­guhkan evaluasi meto­dologis rancangan sejumlah penelitian sastra mahasiswa. Banyaknya kele­mahan dalam penulisan skripsi dan tesis sejujurnya menunjuk­kan lemah­nya pema­haman sebagian mahasiswa terhadap persoalan metode ilmu-ilmu kesusastraan. Menu­rut Faruk, kelemahan-kelema­han tersebut dapat diidentifi­kasi pada langkah-langkah yang signifikan dalam proses penelitian ilmiah: iden­tifikasi masalah, perumusan masalah, penyusunan kerang­kan kon­septual atau teoretik, perumu­san hipotesis, metode penelitian yang meliputi metode pengum­pulan dan analisis data, dan penarikan kesimpulan hasil penelitian (h.13-26).

Bagi para penikmat teori dan kritik sastra, buku ini sangat dibutuhkan guna mema­hami paradigma-paradigma dalam ilmu sastra, seperti kritik sas­tra humanis, kritik sastra struk­turalis, kritik sastra dis­kursif atau pasca-struktural, kri­tik sastra pasca-Marxis, ser­ta kajian-kajian budaya. Dalam menjabarkan pelbagai kecende­rungan kritik sastra tersebut, Faruk melompat lebih jauh dari apa yang pernah dieksplorasi oleh M.H. Abrams. Bila Ab­rams melakukan se­mata-mata dalam batas teks­tu­al dan teknis meto­dologis, ma­ka Faruk mela­kukannya de­ngan menem­patkan berbagai kri­tik sastra tersebut dalam kon­teks diskur­sif yang lebih lu­as sehingga signifikansi kultu­ral-ideologis­nya pun dapat dipahami.

Hal yang cukup menarik dalam buku ini adalah eks­plorasi penulis tentang teori-teori pascastruktural. Boleh jadi bagi sementara kalangan teori-teori ini relatif sukar untuk dipahami. Ditunjang oleh photo­graphic skill-nya yang luar biasa, Faruk secara lihai mene­lusuri teori-teori tersebut—psikoanalisis Lacan, dekons­truksi Derrida, dan wacana Foucault—dengan cara yang gampang dimengerti lengkap dengan contoh analisisnya. Pendekatan demikian bukan saja memicu animo intelektual kritikus dan peminat sastra untuk merespon secara lebih terbuka dan sistematis tapi juga memberikan peluang inter­p­retasi yang lebih luas bagi.

Namun demikian, terutama bagi orang-orang yang intens mengikuti pemikiran dan kar­ya-karya Faruk, buku ini juga memuat repitisi dari karya-karya Faruk sebelumnya. Tela­ah teori-teori pascastruktural yang mengambil jumlah halaman yang cukup panjang sesungguh­nya merupakan pengulangan dari buku Faruk sebelumnya, yakni Pascastrukturalisme: Teori, Implikasi Metodologi, dan Contoh Aplikasi terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Sungguhpun buku itu adalah salah satu buku terbaik yang diterbitkan oleh lembaga tersebut, pengulangan yang cukup panjang dalam karya terbarunya ini sedikit banyak­nya akan mengurangi orisina­litasnya, walau tanpa harus kehilangan bobotnya. Agaknya Faruk bisa membaca karya-karya seorang penulis prolifik yang dianggap sebagai Bapak Postmodernisme Indonesia, yaitu Yasraf Amir Piliang. Yasraf dikenal sebagai penulis yang punya stamina dan kebo­lehan intelektual yang sangat kuat untuk membangun novelty (kebaruan) dalam banyak karya-karyanya. Ia mampu menulis lebih dari 10 bab pada setiap buku yang dihasilkannya.

Karya Faruk terbaru ini berupaya mencari dan mena­warkan cara yang lebih masuk akal dan sistematik untuk menggunakan teori-teori sastra secara lebih pas. Buku Faruk ini berupaya mengisi salah satu ruang kosong dalam usaha perumusan dan penulisan meto­de penelitian ilmu sastra yang relatif tertinggal jika dibanding­kan dengan ilmu sosial dan budaya lainnya, seperti sejarah, antropologi, linguistik, psikologi, dan so­sio­lo­gi. Bila selama ini para ah­­li ilmu sastra lebih banyak me­nulis buku seputar teori-teo­ri sastra, Faruk dengan karya ini menggeliat dan mengi­ngatkan bahwa kita juga mem­bu­tuhkan lebih banyak buku metode dalam ilmu sastra. ***

*) Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas