Bertemunya para Penyair Bali

Nuryana Asmaudi SA
http://www.balipost.co.id

APA yang terjadi jika para penyair Bali dari berbagai generasi dipertemukan? Pasti heboh. Ya, begitulah suasana yang terjadi di Gedung Wantilan Taman Budaya Bali, Sabtu (20/5) lalu. Penyair Bali dari berbagai generasi, mulai dari generasi penglingsir hingga generasi terkini, berkumpul dalam sebuah acara bertajuk “Temu Penyair Bali”. Inilah acara “langka” yang digelar Taman Budaya Bali.

Meski tak semua penyair Bali hadir dalam acara ini, lantaran sulitnya mendapatkan data dan alamat masing-masing, namun suasana sudah nampak heboh. Acara yang disertai peluncuran buku kumpulan puisi karya 81 penyair Bali ini dihadiri puluhan penyair Bali.

Penyair dari generasi penglingsir yang hadir antara lain Made Taro, Ngurah Parsua, Abu Bakar, sampai Samargantang. Lalu dari generasi di bawahnya, Ketut Syahruwardi Abbas, Widiyazid Soethama, Hartanto, Sthiraprana Duarsa, Wayan Redika, Warih Wisatsana, Made Suantha, Mas Ruscitadewi, Oka Rusmini dan Arif B.Prasetyo, Cok Sawitri, hingga Adnyana Ole. Generasi bawahnya lagi, Riki Dhamparan Putra, Wayan Sunarta, hingga penyair generasi terbaru dan para pelajar yang saat ini sedang belajar menulis puisi.

Di samping pembacaan puisi, orasi budaya, dan dialog sastra, acara ini juga diisi dengan pentas monolog dari dramawan Putu Satria Kusuma dan pemanggungan puisi-piano oleh Hartanto yang berduet dengan Natya Nindyagitaya. Acara juga dimeriahkan dengan lagu pop Bali oleh penyanyi Liana sebagai pengganti musikalisasi puisi yang batal tampil.

Acara ini ditandai dengan peluncuran buku “Edisi Hitam Putih Antologi Puisi Bali” — suntingan Wayan Juniartha dan diterbitkan oleh Museum Patung Wayan Pendet Nyuh Kuning Ubud — dengan penyerahan buku oleh Wayan Windia kepada Kepala Taman Budaya Drs.Dewa Made Beratha, M.Si. Buku juga diserahkan kepada penyair Made Taro, Samargantang, Syahruwardi Abbas, Sthiraprana Duarsa, dan Made Suantha. Selanjutnya, orasi budaya menampilkan Nyoman Gede Sugiarta Lanus Kaleran, yang membawakan makalah berjudul “Puisi dan Konsumsi”.

Turut Andil

Dalam orasi budaya itu, Sugilanus antara lain mengatakan, puisi sebagai salah satu bentuk ujar manusia dalam bentuk kata-kalimat, dipercaya sebagai cara yang paling “canggih” untuk menyampaikan atau mengungkapkan sesuatu penghayatan rasa lewat basa. Karena menyangkut pencapaian dalam basa, puisi tidak lepas dari keberhasilan atau kegagalan dalam pengungkapannya.

Terkait dengan peran penyair di tengah perkembangan zaman, Sugilanus berpendapat, penyair punya kemungkinan untuk turut andil dalam peradaban dunia sekarang. Pada abad ini di mana perkembangan dunia ditutupi oleh bayang-bayang industri konsumsi kapitalis, katanya, masih ada celah-celah atau ruang kosong yang ditinggalkan oleh estetika konsumsi kapitalis, yang bisa diisi dan direbut oleh penyair untuk memberi andil dan mengambil peran dalam penghalusan peradaban untuk mencapai hidup yang lebih baik, dengan usaha-usaha kemanusiaan, lewat karya sastra atau puisi.

Orasi dan dialog yang dipandu Wayan Juniartha itu berlangsung menarik. Sejak awal suasana dibikin ger-geran oleh sentilan-sentilan ilmiah dari Sugilanus dan joke-joke cerdas dari Juniarta, juga celetukan-celetukan tanggapan dari para penyair, membuat acara ini benar-benar hangat, menjadi ajang keakraban dan “reuni” penyair Bali.

Usai orasi dan dialog budaya, panggung diisi dengan pentas monolog oleh Putu Satria Kusuma yang membawakan naskah berjudul “Kelamin”. Monolog ini menggambarkan tentang kelamin manusia yang sering bikin heboh dan dipersoalkan. Ia sering dianggap jorok dan menjadi penyebab bencana serta kerusakan moral manusia. Padahal, ia sangat dibutuhkan oleh siapapun. “Jika tak ada kelamin, kehidupan manusia di muka bumi ini tidak akan ada,” tutur Satria.

Acara ditutup dan dipuncaki dengan pembacaan puisi. Para penyair yang tampil di panggung antara lain Cok Sawitri, Warih Wisatsana, Ketut Syahruwardi Abbas, Samargantang, Adnyana Ole, Abu bakar, Made Taro, Made Suantha, dan Mas Ruscitadewi yang sekaligus menutup acara.

Tonggak Penting

Acara yang berakhir pukul 22.00 wita ini tak hanya menjadi ajang temu kangen atau reuni, tapi juga menjadi penyambung tali silaturahmi antar-generasi penyair Bali. Penerbitan dan peluncuran buku antologi puisi penyair Bali itu juga bisa menjadi semacam tonggak penting bagi dunia kepenyairan di Bali. Buku itu memuat 81 puisi karya penyair Bali yang dimuat di Bali Post Minggu pada kurun 1978-2000. Sayang, banyak penyair penting dari berbagai daerah di luar Denpasar yang berhalangan hadir.

Menurut Mas Ruscitadewi dan Wayan Gunasta, dua penyair Bali yang ikut memprakarsai dan menangani acara ini, temu penyair dan peluncuran buku antologi puisi sebenarnya adalah dua acara yang berbeda. Menurut Mas dan Gunasta, penerbitan antologi puisi itu sebenarnya tidak diformat untuk acara temu penyair karena masih sedang disiapkan untuk waktu mendatang. Tetapi karena momentumnya bagus, yakni bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, maka akhirnya penerbitan buku diajukan dan digabung deangan acara temu penyair.

Para penyair Bali tentu saja menyambut gembira dan mendukung acara ini. Umbu Landu Paranggi, pengasuh ruang sastra Bali Post Minggu, saat ditemui seusai acara, misalnya, memuji diadakannya acara itu. “Gagasan mengadakan temu penyair dan menerbitkan buku antologi puisi penyair Bali itu sangat bagus. Momentum itu bisa menjadi tonggak penting bagi sejarah kepenyairan di Bali. Sayang, kalau tidak dimanfaatkan dengan baik oleh para penyair di Bali,” ujar Umbu.

BP/28 Mei 2006