Catatan akhir tahun; Tubuh Bahasa

Awalludin GD Mualif

Keberadaan alam semesta beserta isinya,
manifestasi dari cara Tuhan menunjukan kebesaranya.

Tubuh, Bahasa

Tubuh bahasa merupakan ruh yang membutuhkan ruang, ada ruang tubuh, ada ruang bahasa. Tanpa ruh, tubuh dan bahasa hanyalah seonggok daging tanpa nyawa, ibarat benda mati: ada tangan, kaki, kepala, yang terpotong sebagian atau seluruh bagiannya, namun tak bernyawa. “Benda mati” sebagai bagian terkecil dari susunan bahasa, ibarat bagian tubuh yang terpotong berserakan. Sedangkan pada bahasa, tubuh menjelma dalam bentuk grafis berupa huruf: a, b, c, dst.

Sebagai sesuatu yang tak bernyawa mereka tak dapat mengenali alam kenyataan, apalagi mempermainkanya. Mereka dapat mengolahnya ketika ruh bersarang di dalamnya, menggerakan, memberikan daya, bergerak dinamis, memiliki tenaga serta kekuatan tanpa bergantung kepada “daya hidup lainya”. Maka, ia ibarat pusaran air yang mampu menelan apa pun yang masuk ke dalam lingkarannya.

Kesadaran Tubuh

Daya bahasa adalah kesadaran yang ditiupkan oleh Tuhan, bernama “ruh”, dimana nalaria dan naluria,gagasan dan harapan berada di dalamnya. Kesadaran merupakan pancaran ruh yang tak mau lepas dari Tuhannya, bayangan yang tak lepas dari bendanya. Sebagai daya bahasa kesadaran dapat menggambarkan dunia kenyataan. Ia mampu bercerita, pula menyingkap misteri kenyataan. Dengannya sebuah kenyataan mampu dipertimbangkan atau dicampakkan. Ringkasnya, sebuah kenyataan dapat diberi bentuk.

Bahasa pun dapat menjadi sebuah alam misteri, namun ia dapat dikuak lewat kesadaran manusia. Tanpa manusia beserta kesadarannya, bahasa tetaplah menjadi misteri yang tidak akan menjadi daya (tenaga) bahasa. Selihai apa pun manusia menyusun rangkaian bahasa, -bentuk dan penempatan huruf- ia akan tetap menjadi parade benda mati. Dengan kesadaranlah sebuah kenyataan dapat dikelola.

Semesta merupakan kepingan mozaik yang tercecer dan terserak di alam. Bagai reranting yang terpisah dan jatuh dari batangnya. Atau, seperti tangan manusia yang terlepas dari tubuhnya. Fragmentasi kedua hal tersebut merupakan seonggok benda tak bernyawa, keindahan beserta fungsinya ada pada kelengkapan tubuh-batang dan tubuh-manusianya. Mereka yang tidak memiliki jiwa tidaklah hidup: karena jiwa dan kehidupan menyatu berada dalam tubuh induknya. Seperti bulu seekor burung yang tercerabut dari tubuhnya, melayang, jatuh, dan mengering. Keelokan bulu burung itu ada dalam keutuhan burung itu sendiri, bulu tersebut menjadi indah saat ia berada dalam tubuh burung.

Seperti itulah saya menafsirkan tampilan huruf-huruf, yang tertulis, terbaca. Grafis a, b, c, d, dan seterusnya merupakan benda mati, sama halnya dengan fragmen alam yang adalah benda mati, belum memiliki jiwa, belum hidup, tak dapat mengenali serta belum dapat mengelola sebuah kenyataan. Mereka belum memiliki kesadaran.

Semesta, Bahasa

Lalu apakah yang dinamakan bahasa? Apakah ia rangkaian dari huruf-huruf yang sudah hidup, memiliki kesadaran? Ataukah huruf-huruf yang tersusun merangkai sebuah kesadaran, menjelma menjadi misteri-misteri bahasa? Misteri bahasa lahir dari sebuah keasadaran, dari susunan, dari pertimbangan, dari permainan dan kemungkinan-kemungkinan. Ibarat ruh yang terperangkap dalam sebuah tubuh, begitu pun manusia terperangkap di dalam semesta, atau sebuah kesadaran yang terperangkap dalam kata-kata. Mereka inginmelepaskan diri tapi bukan untuk melarikan diri, untuk melihat dari luar guna menjangkau serta mengenali siapakah gerangan yang membuat mereka terkungkung tak bisa lepas dari kemisteriannya.

Sepi, sunyi, tak bersemangat, putus asa, sesekali muncul pengharapan, adalah ciri-ciri dari mereka yang terperangkap. Tak ada kata takluk dan menyerah. “perlawanan” selalu diupayakan untuk menghasilkan simbol, juga metafora, agar dapat menjangkau keluar dari dirinya atau bahkan masuk ke dalam dirinya. Gerak ruh yang dipenuhi kegelisahan membutuhkan ruang. Bahasa adalah ruangnya. Bahasa mampu menggerakan huruf-hurufnya demi memenuhi kegelisahan kesadaran, melayani kebutuhan kesadaran. Kebutuhan kesadaran untuk mengetahui arti dunia yang belum dikenalinya atau mencoba untuk dikenali.

Kumpulan kata-kata yang dipotong danpotongan hurufnya dipisahkan, hanyalah grafis huruf. Maka itu, rumput dan bergoyang, tiang dan akhirbelum memberikan makna apa-apa, saat ia kita baca sebagai fragmen, belum dapat menggugah rasa kesadaran pembaca (karena kesadaran tersebut belum disematkan oleh penulisnya). Berbeda ketika penulisnya bergerak merangkai kata-kata dalam bentuk penghayatan akan kenyataan alam, menjelmalah semua kata dan membentuk dunia kenyataan. Dalam baris syair lagu Ebiet G. Ade “ tanyalah pada rumput yang bergoyang”, merupakan sebuah “analogi” dan “metafora”. Ebiet G. Ade dengan sangat indah melukiskan sebuah bentuk jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh manusia dalam menjalani roda kehidupan, pula dengan sangat apik menganalogikan manusia mencari tempat untuk mencurahkan segala permasalahan yang sedang dihadapi yaitu dengan bertanya kepada seorang Alim (orang yang ahli dzkir) yakni, rumput yang bergoyang. Di sana bahasa telah memberikan dinaya untuk merengkuh semesta, terpanah oleh semesta, telah mentakdirkan kehidupanya sendiri, alam berpikirnya sendiri. Dari huruf-huruf “mati” tiba-tiba ia bergerak, tersusun, hidup, dan akhirnya mengandung semesta di dalam dirinya. Rumput dan bergoyang sebagai kata (kenyataan) yang kita kenal adalah sesuatu yang biasa, tak bertenaga, tak memiliki misteri. Namun, begitu “rumput” digabung dengan “bergoyang”, lalu ditambahkan kata “yang”, menjelmalah keluasan tanpa batas itu: tanyalah pada rumput yang bergoyang. Selaras dengan hal tersebut, tiang dan akhir merupakan dua kata yang tak mempunyai tenaga, berbeda ketika kedua kata tersebut digabungkan, lalu ditambahkan kata “tanpa” diantara keduanya: tiang tanpa akhir, maka ia akan menjadi susunan bahasa yang bermakna luas.

Misteri bahasa datang dari kata-kata yang saling merangkai, saling bermain. Sebaliknya, semesta akan buyar tatkala rangkaian huruf-huruf dicerai beraikan dari tubuhnya, dari tubuh bahasa. Pun misterinya akan berantakan. Ia kembali menjadi benda mati, parade grafis dari huruf-huruf.

Dunia kenyataan yang “coba” kita kenali melalui panca indera kita yang terbatas, tidak akan dapat menguak misteri semesta. Indera kita hanya dapat melihat sebatas kemampuan indera itu sendiri. Maka tidaklah mudah, dan tidak seorang pun dapat dijadikan rujukan sebab semesta merupakan misteri Ilahi. Pula sangat tidak “mudah” mencari intelektual, agamawan, ilmuwan yang mampu dan dengan pasti menjelaskan misteri semesta. Kalaupun ada, semuanya akan masuk kerana dunia perkiraan. Bahasa mencoba melukiskannya melalui rangkaian syair yang tersusun apik.

Dalam perjalanan dunia sastra kita mengenal nama Abu Nuwas dan beberapa penyair yang mencoba menggerakan huruf melalui rangkaian bahasa “sufi” demi mencoba mengungkap kemisterian serta kuasa Tuhan dan semesta penyair dari Bagdad (Irak), yang dikenal lewat syairnya yang mashur, dan hingga kini masih sering diperdendangkan menjelang Sholat di surau-surau di tanah Nusantara ini: “Wahai Tuhanku, aku bukanlah orang yang layak masuk ke surga-Mu. Namun aku tak sanggup untuk masuk ke neraka-Mu. Maka itu berikan aku kekuatan bertaubat dan ampunilah dosa-dosaku. Karena hanya Engkaulah yang mampu mengampuni dosa-dosa besar. Maka ampunilah dosaku, karena hanya Engkaulah yang Mahapengampun segala dosa.”

Bahasa, Kuasa Misteri

Bahasa senantiasa mencoba menjadi mediaatas misteri keputusan Tuhan akan nasib manusia di antara surga dan neraka. Abu Nuwas mengungkapkan kelemahan dirinya sebagai hamba di hadapan Tuhan, namun sekaligus mencoba “menawar” sebuah keputusan atas ke Mahakuasa Tuhan dalam menentukan nasib hamba-Nya.

Mungkin beginilah kesadaran mencari bahasa, dan bahasa mencari kata-kata guna mengenali alam, mengelola makna melalui simbol-metafora agar dapat tertangkap panca indera manusia. Sedangkan alam beserta seluruh hiruk pikuk yang berada di dalamnya tetaplah menjadi misteri, sebagaimana Tuhan dimana kemisterian hanya dapat “dicoba” untuk dimengerti tanpa kesimpulan pasti.

Yogyakarta, 29 Desember 2013