Indri Widiyanti
http://pelumurfrasa.blogspot.com

Bulan Ramadan memang bulan yang sangat ditunggu-tunggu bahkan sangat dinantikan oleh seluruh umat muslim dipelosok dunia. Tentu saja banyak cerita yang ditunggu ketika awal berpuasa, akhir puasa dan yang paling ditunggu adalah ketika lebaran tiba. Biasanya anak-anak lah yang paling menunggu kedatangan hari nan suci itu. Mereka akan senang jika hari lebaran tiba , sebab ada angpao yang menanti untuk mengisi dompet kecil mereka. Sementara untuk sebagian orang dewasa kebanyakan melakukan silahturahmi seperti mudik atau pulang kampung atau bisa juga pergi ke rumah saudara. Tentu saja dengan adanya acara silahturahmi itu, kita mampu merasakan berbagai rasa, suka ataupun duka. Lalu kenapa ada duka? Bukankah yang namanya hari lebaran itu semua orang terutama umat muslim sangat bergembira? Memang, seharusnya memang seperti itu,seharusnya seluruh umat muslim yang merayakan hari lebaran wajib bergembira, bersuka cita dan bukan bersuka duka. tapi coba kita lihat apakah kata-kata tadi mampu mengandalkan sebuah fakta yang ada sebenarnya. Nyatanya tidak, terkadang ada sebagian orang yang tidak bisa menikmati sebuah arti lebaran lantaran persoalan ekonomi, yang seolah-olah membuat suatu dinding kehakiman yang egoistis. Lalu layakkah kita menuai setiap perayaan dengan makna berbangga dan bergembira? Dikalangan orang yang kurang mampu, terkadang tidak menyatakan hal itu dengan gamblang. Mungkin juga bisa berterima, tapi saya yakin hal itu hanya ada didalam naluri jiwa seseorang, itupun saya kira hanya berhubungan dengan Tuhan. Dengan hubungan itu mereka sangat mampu menyatakan bahwa perayaan hari raya idul fitri atau dikenal dengan lebaran ,wajib bergembira dan bersyukur pula, akan tetapi jika hubungan itu berbeda arah sudah pasti hal itu akan sulit untuk dinyatakan oleh mereka. Nyatanya ada realitas yang menyatakan bahwa dikala perayaan yang mengatasnamakan kemeriahan, kegembiraan, dan rasa syukur ternyata ada hal yang tak terduga oleh kita yaitu, kedukaan ketika menjelang lebaran.

Salah satu tulisan seorang sastrawan dan budayawan Umar kayam dalam cerpennya yang berjudul “Menjelang Lebaran”, merupakan salah satu cerpen di kumpulan cerpennya yang bertemakan lebaran. Beliau dalam cerpen-cerpennya tersebut ingin menggambarkan suatu fenomena yang berbeda dibalik kebiasaan saat lebaran yaitu ketika kita sedang merayakan euforia hari raya idul fitri Umar kayyam malah menghadirkan sebuah ironi , yaitu sebuah kedukaan menjelang hari lebaran. Memang seharusnya hari lebaran dimaknai sebagai perayaan besar bagi umat agama islam, hal ini pun dibumbui sebuah sosio-kultur yang sering kita lakukan yaitu silahturahmi, seperti pulang kampung, dan juga berbagai kegiatan seperti berbelanja baju baru, memasak masakan istimewa dan lain sebagainya. Tetapi di dalam cerpen Umar Kayyam ini, malah melakukan sebuah pembuktian lewat fiksi yang dihadirkannya didalam tokoh-tokoh di Cerpen “Menjelang Lebaran” bahwa tidak semua umat yang merayakan hari raya idul fitri merasakan kesukaan tetapi juga kedukaan. Tokoh yang ada di dalam cerpennya adalah tokoh Kamil seorang kepala rumah tangga yang tiba-tiba terkena PHK karena perusahaan tempat dia bekerja telah bangkrut. Mulailah, permasalahan itu timbul apalagi disaat menjelang perayaan hari lebaran.

Ketika Kamil pulang kerja seperti biasa, anak-anaknya Mas dan Ade, menyambutkan dengan gembira, suasana tampak ramai dan harmonis seperti biasanya, tetapi Sri sebagai seorang istri sudah menangkap sesuatu hal yang murung dimata suaminya itu. Ternyata benar bahwa suaminya terkena PHK, berbagai rencana yang sudah dijadwalkan pun sedikit dikhawatirkan, seperti pulang kampung dan juga jatah sangu pembantunya, Nah. Ditengah kepesimisman sang suami Sri berusaha untuk menangkan sang suami dengan keoptimisannya,untuk tidak kuatir dengan recana pulang kampung dan juga gaji untuk Nah, sebab semuanya sudah diperhitungkan keuangannya. Kamil pun sedikit tenang dengan pernyataan istrinya, kamil yakin kalau segala sesuatu itu bisa diatasi. Namun , ketika Sri dan Nah berbelanja di Pasar swalayan , Sri menyaksikan harga –harga melonjak naik, Sri menjadi panik. Sri pun akhirnya meralat optimismenya yang kemarin itu kepada suaminya,akhirnya dengan segala keadaaan yang terjadi, mereka memutuskan untuk membatalkan rencana pulang kampung sebab , akan memakan biaya yang lebih besar meskipun Sri dan Kamil yang sudah berjanji pada dua anaknya untuk pulang kampung halaman. Bahkan pembantunya yang sudah bekerja selama sepuluh tahun tidak digaji meskipun masih boleh tetap tinggal dalam keluarga mereka.

Dilihat dari beberapa alur yang tadi itu, saya merasa bahwa faktor ekonomi mampu mengubah segala aspek kehidupan manusia termausk batinnya, seperti tokoh Kamil yang telah di PHK menjadikan dirinya orang yang pesimis akan hisup, dan juga Sri yang taadinay berusaha menenangkan suaminya dengan optimismenya tetapi ketika melihat realits harga –harga dipasar yang melonajak tinggi, dia pun menjadi pesimisme. Tetapi disini saya bisa merasakan akan sebuah penyelesaian yang diakibatkan dari kekuasaan matereial yang ada , yaitu kepercayaan keluarga yang dihadirkan penulis lewat tokoh-tokohnya. Dari segi penceritaan sang tokoh mampu melakukan sebuah refleksi yang bagus ke masyarakat , yang pada nyatanya hal ini pun tidak bisa dipungkiri bahawa ketika menjelang lebaran banyak kejadian yang tidak diingkan seperti terkena PHK atau tidak meiliki ongkos untuk pulang kampung. Penulis seolah ingin menyadarkan para pembaca bahwa dimana ketika atau akan lebaran pun ternyata ada hal-hal yang mengironikan perayaan lebaran itu, dengan kedukaan. Cerita yang mengharukan dan membuat pembaca menyadari bahwa nyatanya ada kedukaan dibalik perayaan lebaran. Dalam tulisan Umar kayam ini, saya agak merasa tersendat dalam membacanya mungkin karena pemilihan kata yang kurang tepat , meskipun tidak menghilangkan amanat tersebut kepada pembaca.
***

Categories: Esai