Bre Redana
Kompas, 12/01/14

Kota kelahiran saya, pernahkah saya benar-benar memperhatikan perubahannya? Ibu meninggal di pengujung tahun 2013. Seiring dikebumikannya jasad Ibu, mendadak saya merasa, dikebumikan pula kota lama yang sekarang sudah sangat jauh berubah, yang teramati detailnya selama beberapa hari saya pulang dan tinggal di situ.

Peta kota berubah. Dulu, jalan cukup penting adalah jalan-jalan yang menghubungkan pusat kota dengan desa-desa sekitar. Melalui jalan-jalan itu, orang-orang desa menyuplai kebutuhan kota dengan hasil bumi. Hubungan kami dengan bumi yang menghidupi kami konkret, termanifestasi dalam sosok para penjual sayur-mayur, buah, bunga, yang setiap pagi masuk kota dan meninggalkannya siang atau petang hari. Khusus ternak, ada hari pasar, jatuh pada penanggalan Jawa, Legi. Tanpa melihat kalender, kalau tampak orang-orang membawa sapi atau kambing ke kota pasti itu Legi.

Rasanya kami mengenal seluruh pedagang di pasar. Siapa nama juragan daging, ayam (yang ini anaknya cantik-cantik meski di belakang namanya kemudian ditambah sebutan pitik alias ayam), beras, dan lain-lain. Juga para pemilik toko kelontong, termasuk yang tidak bisa dilupakan, engkoh yang mengajari kami ngomong jorok. Orang-orang kurang waras yang berkeliaran pun kami akrabi.

Min Kebo, Mbok Nyai, Maryuni. Tanya Roy Marten. Dia kenal mereka semua.
Kota menjadi sesuatu yang personal. Termasuk baunya. Ada wangi bunga wora-wari di pinggir jalan. Kami hafal di sudut mana akan membaui apa: adonan kue kukis, wangi kacang disangrai untuk oleh-oleh khas bernama enting-enting, sedapnya bumbu masakan di restoran cina, dan lain-lain.

Kini, kota menggelembung tambah besar. Jalanan beraspal menghubungkan pusat kota tidak dengan desa, melainkan dengan kompleks-kompleks perumahan. Di pasar, masih ada satu-dua penjual bunga, di tempat mereka berjualan sejak puluhan tahun lalu. Hanya saja, yang menonjol adalah mal. Di supermarket di dalamnya orang bisa mendapati apel, anggur—buah-buah yang pasti tidak berasal dari desa-desa sekitar.

Ke mana desa-desa kami? Termasuk lokalisasi yang diakrabi para begajul? Semua telah berubah jadi perumahan yang menusuk ke mana-mana. Tak ada lagi wangi bunga wora-wari. Seluruh bau dan sifat kota yang personal lenyap.

Begitu pula ekspertis-ekspertis lokal seperti ahli bikin betul sepatu, tukang patri peralatan rumah tangga, tukang arloji, dan semacamnya. Mereka tak ada lagi, digantikan oleh anak-anak muda dengan kemampuan seragam: tukang kotak-katik handphone.

Ciri khas modernisasi adalah lumatnya sesuatu yang personal. Infrastruktur modern mal dan supermarket dibikin untuk mendukung penyemaian kehidupan yang sifatnya individual. Bukan sosiabilitas alias bebrayatan. Itu sejalan dengan meluasnya perangkat teknologi modern seperti handphone, iPod, dan komputer. Manusia seolah terhubung, padahal nyatanya terpisahkan.

Dalam perkembangan kota dan urbanisme, keterpisahan bukan hanya terjadi antara manusia dan manusia, tetapi juga antara manusia dan alam. Dulu jelas sekali hubungan kami dengan sumber alam sekitar. Buah-buah yang kami akrabi seperti langsat, duku, manggis, berasal dari desa-desa yang kami tahu alamatnya. Kini, apel merah itu dari mana? Begitu pula anggur? Kentang dalam freezer itu dari mana?

Ah, orang sekarang hanya peduli pada hukum ekonomi: di supermarket ada berbagai barang. Harganya standar. Kadang lebih murah karena berasal dari jaringan kapitalisme yang bekerja efisien.

Kami kehilangan sesuatu yang personal dan khas. Termasuk karakter Jalan Sudirman di tengah kota. Karena kuatnya proses sosialisasi di situ, kota kami beberapa kali terhindar dari kerusuhan rasial yang pernah melanda berbagai kota di masa lalu. Kami bahu-membahu tak peduli apa latar belakang suku dan keyakinan kami, menjaga satu sama lain, menjaga kota kami.

Akhirat tak butuh KTP. Di pemakaman Argolayu, nisan berbagai simbol agama campur baur jadi satu. Di situ pula, saya merasa, ada yang di ambang hilang kini.
***

Categories: Esai