Kritik Sastra dalam Realitas Indonesia

Fajar Setiawan Roekminto
http://www.kompasiana.com/gadsa

Sastra dan kritik sastra selalu problematis karena tidak mudah menemukan jawaban atas dua hal tersebut. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu harus mengakar pada budaya dimana karya itu dilahirkan serta kondisi masyarakat yang meresepinya. Untuk itulah maka dalam proses kegiatan kritik sastra perlu muncul teori-teori yang relevan dengan situasi tersebut dan tidak terus menerus mengaplikasikan teori yang datang dari Barat, dan kalau itu terjadi maka masih ada harapan dalam masa depan kegiatan kritik sastra di Indonesia, karena teks kritik sastra harus benar-benar berada di tangan audiensi dan tidak berakhir hanya di ruang seminar dan rak buku perpustakaan.

Mendefinisikan “kritik sastra” sebenarnya sama sulitnya dengan mencari jawaban atas pertanyaan “apakah yang disebut dengan sastra.” Dua hal ini telah menjadi persoalan yang sangat problematis, dan siapa saja yang belajar sastra tentu sepakat, bahwa tidak ada satupun jawaban yang mampu memuaskan semua orang bagi kedua pertanyaan tersebut sampai saat ini. Sastra seolah memiliki dua sisi, yakni ketika dirinya sendiri ingin menjadi besar, sehingga merasa memiliki “kuasa” atas apa yang melekat di dalamnya dan pada sisi yang lain, sastra terhempas pada lorong tanpa makna bersama dengan waktu yang menyertainya. Artinya, sastra memiliki makna apabila individu-individu yang berada dalam ruang dan waktu itu secara bersama-sama memberikannya label. Untuk itulah maka apa yang disebut sastra di satu belahan dunia akan berbeda maknanya di belahan dunia yang lain, bahkan di ruang yang sama namun pada waktu yang berbeda.

Sastra selalu berada di ruang dan waktu dalam satu rangkain kronologis sejarah, sehingga setiap kali muncul upaya untuk memberikan definisi sastra maka uraian atas penjelasan definisi itu justru malah berupa lembaran-lembaran sejarah atas perjalanan panjang kata sastra itu sendiri. Definisi sastra biasanya juga selalu dimulai dari etimologi kata itu, meskipun sebenarnya sastra jauh melewati batas-batas itu semua. Sastra bisa menjadi begitu ideologis pada suatu tempat dan waktu, namun juga bisa tidak menjadi apa-apa pada waktu yang lain.

Kompleksitas sastra inilah yang menyebabkan munculnya banyak tafsir dan pemaknaan, khususnya bagi mereka yang awam akan dunia sastra. Dengan berseloroh atau bahkan mengejek, orang awam tidak jarang memberi pemaknaan sastra sebagai ilmu yang tidak jelas dan bahkan tidak berguna. Pandangan seperti ini tentu saja sangat dapat diterima dan dipahami, bahkan Teeuw (1984) sendiri mengatakan bahwa ilmu sastra itu menunjukan keistimewaan dan bahkan keanehan karena obyek utama penelitannya tidak tentu dan bahkan tidak keruan. Dengan memahami “aneh dan uniknya” sastra maka tidak mengherankan apabila tidak mudah juga untuk menjawab pertanyaan mengenai definisi kritik sastra, karena kritik sastra merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sastra itu sendiri. Jawaban atas pertanyaan itu tentu hampir mirip, artinya jawaban atas pertanyaan apakah “kritik sastra” itu, tidak juga mudah untuk dijawab sebagaimana pertanyaan itu ditujukan kepada arti kata sastra.

Untuk kepentingan yang pragmatis, kritik sastra dapat diartikan sebagai sebuah studi, selain tentunya juga evaluasi yang didalamnya secara simultan juga pemaknaan terhadap eksistensi sastra. Secara lebih sederhana kritik sastra diartikan sebagai kegiatan pembacaan karya sastra, dimana audiensi (baik pembaca maupun penonton) melakukan pemaknaan dengan sudut pandang yang berbeda dari apa yang disajikan dalam teks. Audiensi masuk dan memahami karya sastra dalam relasinya dengan pengarang beserta seluruh semesta yang melekat dalam diri pengarang, baik itu budaya maupun karya/teks lain yang pernah ditulis.

Criticism atau kritik berasal dari bahasa Yunani krites yang berarti menghakimi (Habib, 2005). Memang secara leksikal kata hakim memiliki banyak arti, namun bagi kepentingan penulisan makalah ini hakim diartikan sebagai penilai, atau juri. Lantas, siapa yang berhak mengatakan dirinya sebagai penilai atas sebuah karya sastra? Audiensi tentu saja merupakan hakim yang memberikan penilaian, baik itu audiensi yang menempatkan dirinya hanya sebagai penikmat atau mereka yang bertindak sebagai seorang pakar sastra. Namun demikian hakim pertama yang melakukan penilaian terhadap satu karya sastra bukan audiensi melainkan penulis teks itu sendiri, karena apa yang akan dituangkan dalam karya, beserta seluruh kriteria-kriteria yang dipersyaratkan ditentukan oleh penulis dan pada saat penentuan itulah maka kegiatan kritik itu berlangsung. Pendangan ini tentu saja tidak sepenuhnya dapat diterima khususnya bagi kaum strukturalis.

Penilaian terhadap karya sastra atau kegiatan kritik dilakukan karena tentu memiliki tujuan, tidak hanya dalam rangka mendapatkan kesenangan melainkan juga dalam mendapatkan pengetahuan, baik itu pengetahuan mengenai budaya, ideologi atau pengetahuan lain mengenai ilmu-ilmu kemanusiaan. Penilaian terhadap satu karya sastra tidak hanya disebabkan karena kritikus ingin melakukan hal itu melainkan juga karena sastra juga memiliki karakternya sendiri, yakni kebutuhan akan audiensi. Dalam proses pembacaan itu maka kemudian karakter yang dimaksudkan itu terbentuk dalam pemikiran audiensi yakni bahwa karya tersebut menjadi satu bentuk karya yang diidealkan, terlepas dari apapun teori atau pendekatan yang digunakan dalam proses pembacaannya. Selain itu, tujuan akhir kegiatan kritik sastra bukan sebuah sekedar temuan akan baik atau buruknya karya, melainkan kebenaran itu sendiri, kebenaran yang sejalan dengan teori yang dipakai sebagai alat dalam melakukan kegiatan kritik. Pada titik ini kemudian seorang kritikus memberikan penilaian apakah karya sastra yang telah dibacanya memang karya sastra yang direkomendasikan untuk dibaca, karya yang luar biasa atau bahkan karya yang menurut penilaiannya “sampah” atau tidak perlu dibaca. Selain telah dibekali oleh pengetahuan yang luas, khususnya mengenai teori sastra, seseorang yang melakukan kegiatan kritik sastra juga harus memiliki ketekunan, karena kegiatan ini sangatlah melelahkan dan membutuhkan kejelian yang luar biasa sehingga tidak semua orang berminat menjadi kritikus sastra.

Secara historis, dalam tradisi Yunani kuno, kritikus yang tercatat dalam sejarah sastra adalah Plato dan Artistoteles (Painter, 1903) serta Quintilian, Cicero, dan Horace. Terdapat dua karya penting dalam kaitannya dengan kritik sastra awal, yakni Poetica, yang menjadi materi yang sangat berharga sebagai bahan dalam mendiskusikan prinsip-prinsip dasar kritik sastra serta Ars Poetica yang menjadi bacaan wajib di banyak universitas, karena dianggap memuat prinsip-prinsip kritik yang sangat luar biasa penting. Dalam tradisi kritik sastra Inggris, The Apology (1580) karya Sir Philip Sidney menjadi penanda atas kelahiran kritik di negara itu (Vaughan, 2002). Beberapa diantara sastrawan sekaligus kritikus yang menonjol pada masa itu adalah Dryden, Pope, Addison, Johnson, Coleridge, Jeffrey, Macaulay, Carlyle, dan Matthew Arnold, sedangkan di Amerika nama-nama seperti Poe, Emerson, Whipple, Lowell, dan Stedman merupakan kritikus-kritikus sastra yang sangat diperhitungkan.

Di Indonesia sendiri kegiatan kritik sastra baru dimulai pada periode Balai Pustaka dan teks yang dapat dikatakan sebagai bentuk kritik sastra pertama ialah teks Nota Rinkes, yakni Nota over de Volkslectuur (tahun 1920-an) (Pradotokusumo, 2005). Hal ini sejalan dengan pendapat Pradopo (1994 dan 1995) yang mengatakan bahwa kegiatan kritik dalam tradisi sastra Indonesia merupakan kegiatan yang baru berjalan lebih kurang 60 tahun, sedangkan kegiatan kritik sastra yang menerapkan prinsip, kategori, dan kriteria atau yang mengimplementasikan teori sastra Barat, baru berlangsung pada tahun 1970-an.

Meskipun kegiatan kritik yang mengadaptasi teori-teori dari Barat berlangsung pada tahun 70-an, demarkasi yang jelas akan ruang, antar Indonesia dan Barat harus jela mengingat kesejarahan yang berbeda. Di Barat, pada saat yang bersamaan sedang terjadi perubahan sosial dan budaya. Meskipun kondisi yang hampir mirip juga terjadi di Indonesia mengalami hal yang sama, dari sisi pemikiran agak berlainan. Perubahan sosial dan budaya yang terjadi di Barat lebih disebabkan karena terjadinya perubahan filosofi dan tradisi pemikiran yang pada gilirannya mempengaruhi kegiatan kritik sastra. Sedangkan di Indonesia perubahan lebih disebabkan karena situasi politik pada masa itu dan tidak sedang berlangsung “pergolakan” pemikiran, khususnya dalam kegiatan kritik sastra.

Di Barat pada tahun 70-an lahir teori-teori yang menentang kemapanan teori sebelumnya seperti misalnya teori mengenai wacana. Teori ini mengalami semacam “perumusan ulang” yang dilakukan secara radikal, dan hasil perumusan itulah kemudian menjadi bagian penting dalam pendekatan-pendekatan yang dipakai dalam kegiatan kritik sastra. Jika sebelumnya kaum strukturalis begitu dominan, lambat laun mulai tergantikan oleh pendekatan yang cenderung lebih filosofis hingga kemudia melahirkan postrukturalisme dan posmodernisme. Model pembacaan reader-response juga sedang dimulai dengan teori hermeneutic yang dikembangkan oleh Friedrich Schleiermacher, Martin Heidegger, dan Hans Georg Gadamer. Fenomenologi yang diinspirasi dari pemikiran Edmund Husserl juga mulai menarik minat para kritikus sastra, satu diantaranya adalah Roman Ingarden yang menyatakan bahwa dalam relasinya dengan teks sastra, pembaca terlibat secara kognitif dan historis. Reader-response merupakan reaksi atas formalisme dan objektivisme dan teori itu bukan merupakan sesuatu yang benar-benar baru karena dalam konteks ini Plato pernah mengingatkan akan kekuatan puisi dalam mempengaruhi orang pada tataran nafsu dan moralitas. Teori-teori itu kehadirannya di Indonesia bisa jadi karena dibawa oleh para mahasiswa Indonesia yang baru kembali ke tanah air setelah menempuh studi di Eropa, Amerika atau negara lain yang juga sedang menikmati posmodernisme. Dari situlah kemudian kegiatan kritik sastra yang menggunakan teori yang berasal dari Barat dimulai dalam ranah sastra Indonesia.

Adakah Masa Depan Kritik Sastra di Indonesia

Masih adakah sastra dan kritik Indonesia? Benar bahwa setelah reformasi sampai abad ke-21 ini bermunculan karya-karya satra baik itu puisi, cerpen, maupun novel di Indonesia. Pada masa reformasi misalnya, karya-karya itu umumnya merekam dan membuat perenungan atas kondisi sosial dan politik yang terjadi di Indonesia. Widji Thukul barangkali bisa dikatakan sebagai ikon Angkatan Reformasi. Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi, muncul kemudian “Sastrawan Angkatan 2000” yang didalamnya terdapat nama-nama seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma yang juga menjadi “Sastrawan Angkatan 80”, serta “Sastrawan Angkatan 90”, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany. Selain itu juga masih terdapat nama-nama lain yang dikategorikan dalam “Sastrawan Angkatan 2000” dan salah satu yang menuai sukses dari angkatan ini adalah Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi­-nya.

Menanggapi kelahiran kedua angkatan ini, paling tidak terdapat beberapa hal yang harus disikapi dan dikomentari salah satunya sisi kuantitas karya dan pengarang. Mulai Angkatan Reformasi sampai saat ini jumlah karya yang dihasilkan, termasuk didalamnya jumlah pengarang, masih terbilang jauh dibanding angkatan-angkatan sastra sebelumnya. Berbeda dengan angkatan sebelumnya, misalnya angkatan 60-an, kemunculan angkatan sastra ini tidak dibarengi dengan keberadaan kritikus seperti “Paus Sastra” Indonesia, HB.Jassin. Meskipun kritik HB Jassin cenderung bersifat apresiatif, kehadiran kritikus mutlak perlu. Sebagai hasil proses kreatif, karya sastra menjadi seperti kehilangan rohnya ketika tidak dikritisi, selain karena kritik terhadap karya sastra akan memunculkan pemikiran-pemikiran yang ada di balik teks. Karya sastra sebagai produk budaya hanya mungkin hidup, bertahan dan bermakna bagi peradaban apabila terus menerus tersentuh oleh pisau tajam para kritikus. Kalaupun hadir tulisan-tulisan yang mengupas secara serius karya-karya sastra itu, maka hanya itu berhenti di rak-rak perpustakaan dalam bentuk skripsi, tesis atau disertasi dan jarang yang secara luas dipublikasikan. Karya-karya yang muncul dalam dua angkatan sastra yang disebutkan di atas muncul secara sporadis dan eksitensinya lebih pada kepentingan industri hiburan daripada menyuarakan pemikiran zaman. Inilah yang membedakan dengan Angkatan Sastra 60-an misalnya. Karya-karya sastra itu diproduksi lebih karena kepentingan industri budaya pop dan bukan sebuah karya yang bersifat filosofis.

Tuduhan akan malasnya masyarakat Indonesia untuk membaca dan menulis, ditambah lagi dengan pengaruh global, dalam hal ini kemajuan teknologi informasi (TI), semakin membuat keterpurukan sastra di Indonesia. TI telah mengalineasi manusia dengan budaya tulis, satu bentuk budaya yang membutuhkan permenungan. Orang tidak lagi mau bersusah payah untuk menulis atau membaca teks-teks panjang dan juga malas untuk membaca naskah berlembar-lembar karena telah tergantikan oleh teks-teks yang pendek-pendek. Cukup dengan sentuhan jari maka tersaji di layar monitor komputer, laptop, Ipad, Tab dan bahkan telepon genggam, seluruh teks, termasuk di dalamnya teks sastra. Teks-teks itu dapat diakses dengan mudah dan bahkan dibaca dalam waktu yang bersamaan.

Harus diakui, TI telah mampu melakukan revolusi terhadap struktur, tatanan, estetika dan etika berinteraksi antar sesama manusia. Namun demikian perkembangan TI telah mengubah cara pandang, sikap dan perilaku individu serta kelompok masyarakat penggunanya menjadi tidak lagi kontemplatif. Puisi-puisi yang dulu tertulis indah di surat-surat cinta anak-anak remaja, sekarang tergantikan oleh short message service (SMS), atau kalau ingin agak panjang, ungkapan hati itu ditulis lewat email. Tidak ada lagi imajinasi karena semua orang tidak lagi ingin berlama-lama.

Semua serba cepat dan dapat diakses dimanapun. Kalau dulu seorang gadis remaja mengalami kegalauan hati karena menunggu surat cinta kekasih hatinya maka situasi seperti itu tidak akan terjadi lagi pada saat ini. Hampir tidak ada satupun suasana hati yang tidak bisa divisualisasikan secara digital, rasa gundah, kecewa, senang, rindu dan hampir semua emosi yang dulu dirangkai dalam kalimat yang indah dan panjang namun sekarang cukup dengan satu sentuhan jari. Dengan kondisi dan situasi semacam ini maka budaya tulis dengan kertas lambat laun hanya akan menjadi kenangan.

Melihat begitu cepatnya dunia berubah serta adanya kecenderungan di dunia sastra di Indonesia yang kering akan kritikus, kalaupun ada jumlahnya sedikit dan cenderung “akademis” seperti Umar Junus, Faruk dan Sapardi Djoko Damono, maka model kritik juga harus mengikuti perkembangan zaman. Selain itu, apabila dikaitkan dengan implementasi, kritik sastra Indonesia harus menemukan model kritiknya sendiri dan tidak sekedar mengekor teori-teori yang selama ini datang dari Barat. Mengapa? Karena tulisan-tulisan mengenai kritik sastra harus benar-benar berada di tangan masyarakat pembaca dan tidak berakhir hanya di ruang seminar dan rak buku perpustakaan. Kritik sastra sedikitnya juga memperhatikan standar kritik itu sendiri. Standar, dalam pengertian ini tidak bersifat teknis tetapi lebih kepada hadirnya kesatuan pemikiran, obyektif dan berimbang dalam teks kritik sastra, serta tidak terjebak pada kritik yang bersifat ad hominem dengan menyerang penulisnya baik yang sifatnya circumstansial maupun abusive.

Dengan mempertimbangkan hal itu maka kritikus sastra juga harus memahami bahwa dirinya memang “terlahir” sebagai kritikus. Seringkali muncul banyak teks yang memberikan kritik pada satu karya tetapi tidak diimbangi oleh pengetahuan yang cukup serta sangat tergesa-gesa dalam memberikan kesimpulan. Dalam sejarah sastra Inggris, terdapat beberapa pengarang yang melakukan blunder dalam kegiatan kritiknya seperti William Wordsworth, Coleridge, dan John Keats yang tentunya bisa menjadi pelajaran bagi kritikus sastra di Indonesia. Untuk itulah maka, seorang kritikus, selain harus memiliki pemahaman budaya yang mumpuni dan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap perbedaan, ia juga harus mampu memposisikan dirinya sebagai sosok yang netral, karena sejatinya seorang kritikus sastra harus berada jauh melampaui kemampuan pengarang dalam kedalaman filosofi.

Kritik sastra juga harus dipahami tidak sebagai parasit yang menghalangi lahirnya karya-karya yang baru, melainkan sebagai hamba dalam sebuah rumah bernama sastra. Tujuan kegiatan kritik sastra harus dilihat dari dua hal, bagi kritikus dan pengarang. Bagi seorang kritikus, kegiatan kritik adalah upaya dalam membantu masyarakat memilih karya-karya yang dianggap bermutu dan layak untuk dibaca oleh khalayak pembaca, sedangkan bagi pengarang akan menjadi pendorong bagi lahirnya karya-karya baru yang lebih berkualitas. Dengan semakin banyak lahir teks yang ditulis oleh para kritikus, maka akan meningkatkan kualitas masyarakat dari sisi selera bacaannya serta kualitas pengarang. Kalau seandainya apa yang diuraikan di atas terjadi dalam proses kegiatan kritik sastra di Indonesia, maka dapat dipastikan masih akan ada masa depan kritik sastra di Indonesia. ***

05 February 2014