Judul: Lesbumi, Strategi Politik Kebudayan
Penulis: Choirotun Chisaan
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Isi: 247 halaman
Terbit: I, Maret 2008
ISBN: 979-1283-43-8
Peresensi: Ayub
www.lpminstitut.com

Perputaran budaya dan politik di Indonesia memang mengalami fase fluktuatif. Terlebih, pada kurun waktu 1950 hingga 1960. Pada masa itu, polemik kebudayaan, politik, dan agama seolah mengalami perbincangan panjang, bahkan tak menemukan titik temu.

Kondisi ini pun direspon berbagai lembaga di Indonesia. Salah satunya, Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi). Kehadiran lembaga ini juga turut mewarnai pentas budaya nasional.

Lesbumi mungkin tak sepopuler Nahdhatul Ulama (NU). Namun, lembaga ini cukup memiliki peran penting dalam menghiasi dinamika dan polemik kebudayaan, perpolitikan, dan keagamaan yang terjadi di Indonesia.

Kehadiran lembaga yang didirikan Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani tersebut bukan sebagai counter-responses atas kedekatan Lekra dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebaliknya, lahirnya Lesbumi harus dilihat karena dua ‘Momen Historis’ yang melingkupinya yakni, momen politik dan budaya.

Pada momen politik, lahir manifesto politik 1959 Presiden Soekarno dan ideologisasi Nasakom dalam tatanan kehidupan sosial-politik. Sementara dalam momen budaya, dianggap perlu adanya stimulus dan advokasi terhadap kelompok-kelompok seni budaya di lingkungan Nahdhiyyin dan kebutuhan akan modernisasi seni budaya itu sendiri.

Kedua momen inilah yang pada akhirnya mendorong ketiga orang itu mendirikan Lesbumi, yang kemudian berafiliasi NU. Terutama, ketika organisasi ini bertransformasi menjadi partai politik.

Selain itu, kehadiran Lesbumi juga dianggap sebagai penanda kemodernan di tubuh NU. Mengingat, NU dikenal sebagai salah satu partai berbasis agama yang cukup kental. Bahkan selama ini, kajian-kajian NU hanya dilihat dari perspektif sosial keagamaan dan politik.

Oleh karena itu, melalui Lesbumi, NU mencoba merespon modernitas. Terutama, hal yang menyangkut relasi agama dan politik dalam konteks kemusliman. Hal tersebut dilakukan melalui pendefinisian ulang seni-budaya islam.

Menurut ketiga pendiri Lesbumi, pendefinisian kembali mengenai agama dalam konteks kemusliman itu sangat perlu dilakukan. Apalagi, saat ini, Indonesia sedang dalam proses nation-building, khususnya di bidang kebudayaan.

Penjelasan demikian dipaparkan dalam buku berjudul Lesbumi, Strategi Politik Kebudayan karya Choirotun Chisaan. Dalam buku itu, Choirutun menekankan posisi seni budaya pesantren dalam konteks kebudayaan nasional.

Melalui buku ini, Choirutun juga mencoba untuk menyajikan perspektif berbeda sekaligus baru terkait sepak terjang NU di kancah nasional. Penulis buku ini pun dengan jitu menunjukkan versi lain tentang NU, yakni dalam persepktif kebudaayaan. Apalagi saat ini, Lesbumi seolah lenyap dari perbincangan sejarah seni budaya dan politik di Indonesia.

Tentu, buku ini bisa menjadi alternatif di tengah melimpahnya buku tentang wacana dan gerakan NU, khususnya dalam merespon fenomena modernitas. Tidak hanya itu, buku ini juga sangat tepat bagi anda yang ingin mengungkap sejarah, sastra dan budaya terkait keberadaan Lesbumi sebagai bagian dari sejarah NU.
***

Categories: Resensi