Alfred Tuname
www.weeklyline.net

I

Tulisan ini merupakan sebuah pembacaan ulang atas puisi seorang penyair Bali, Wayan Sunarta (WS). Penyair ini lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Puisinya berjudul “Pada Lingkar Putingmu” menjadi “jingle” ulung yang kemudian menjadi judul buku antologi puisinya. Antologi puisi itu diterbitkan pada tahun 2005.

Puisi “Pada Lingkar Putingmu” tentu saja lahir dari imajinasi seorang penyair modern, WS. Ritus kota yang terus bergerak cepat seakan memaksa penyair menelan remah-remah waktu yang bisa ia telan. Bali yang berbudaya sekaligus berindustri pariwisata ternyata masih menghidupkan penyair dengan segenap kompkleksitasnya. Penyair harus berlama-lama menghindar dari hiruk-pikuk industri pariwisata nan gemerlap.

Di tengah hiruk-pukuk pariwisata Bali, penyair terlibat dalam membentuk identitas Bali. Tentu, ruang yang dipakai penyair adalah ruang budaya. Puisi yang dilahirkan penyair tentu merefleksikan potret budaya sekaligus mengkonstruksi identitas budaya Bali itu sendiri. Di sini, budaya adalah sebuah produksi yang partisipatif dan tak berkesudahan. Puisi itu sendiri merupakan sebuah representasi budaya.

Membaca puisi WS pun tidak lepas dari ruang sosial budaya yang sudah lama terbentuk, Bali. Bali yang religius penuh ritus, philosophis, mistis sekaligus menjunjung nilai kekeluargaan dan keterbukaan (bdk. Hildred Geertz dan Clifford Geertz, 1975), telah berpengaruh besar pada kehidupan penyair. Penyair pun menghidupi nilai-nilai itu dengan sungguh dan penuh khidmad. Nilai keterbukaan itu telah membebaskan penyair untuk mengunakan kata dan menghidupkan kata an sich. Kata itu pun telah membunting puisi.

Pada Lingkar Putingmu

Pada lingkar putingmu
Pada lingkaran tahun batang cendana
Jiwaku berputar-putar di situ
Tak juga kutemukan jalan keluar

Bertahun-tahun aku terjebak
Belantara sabana pangkal pahamu
Apakah telah kutemukan sumber air
Diantara kelopak seroja merah muda?

Aku si pertapa bisu tak lagi letih
Merambah bukit venus
Meraba dengan tongkat kayu tua

Dan kau yang selalu kehilangan siang
Hanya terlentang saja diranjang
Pupur telah lama luntur
Dan wangi tubuhmu masih mengambang
Dikamar beraroma damar

Tapi kita telah dikalahkan hari
Tak mampu lagi menyepi
Atau menari
Dengan lagu sendiri

Pada lingkar putingmu
Aku mengukur umur
Pertemuan kita

Bagi penikmat sastra (puisi) di luar Bali, mungkin puisi di atas tidak lebih dari ekspresi dan eksploitasi seksual semata. Mendengar judulnya saja bisa bikin merinding. Tentu, pembacaan seperti ini justru karena kita keluar dari konteks. Bahwa, selain penciptaan sastra yang kontekstual, pembacaan pun harus kontekstual. Meski makna puisi harus kembali pada pembacanya, tetapi identifikasi imajinari (imaginary identification) harus masuk pada jantung kebudayaan di mana karya itu diproduksi. Dalam hal inilah, konteks Bali tidak bisa terlepas dari pembacaan puisi karya WS.

II

Membaca puisi “pada lingkar putingmu” WS, seakan mengembalikan kita pada suasana Bali sebelum kemerdekaan. Di Balik gemerlap Bali modern sekarang, kedalaman rasa penyair selalu sama mengkhawatirkan Bali. Bali telah lebam oleh pembangunannnya sendiri. Bali yang cantik dan molek justru meninggalkan jiwa-jiwa yang berpilin mencari kebahagiaan paripurna.

Puisi “Oh Bali” yang ditulis oleh penyair Windia pada tahun 1938 (I Nyoman Darma Putra, 2011) mengabarkan cerita yang sama tentang jiwa yang berpilin mencari jalan keluar.

Oh Bali

Oh, Bali pulau yang molek
Letakmu tidak pula jelek
Tanahmu terberita subur
Perihal alam pun masyur

Hidup marhaenmu sederhana
Makan, berpakaian sederhana
Tetapi ta’ terbilang kaya
Sebab kurang daya upaya

Ia bekerja bukan untukmu
Bagi kapitalis sudah tentu
Hanya ada satu yang nyata
Perut gembung itu dicipta

Puisi Windia ini sangat berdekatan dengan irama rasa penyair WS. “Putting” merupakan simbol oedipal yang membahasakan kenikmatan (jouissance) seorang anak yang menyatu dengan ibunya. Kenikmatan itu tidak lepas dari simpul pulau Bali yang molek, indah, subur dan masyur. Nyaris setiap tahun aroma “cendana” Bali itu dibangga-banggakan. Tetapi status Bali itu hanya berhenti di situ. Selebihnya, jiwa dan nilai-nilai budaya Bali semakin hari semakin dipecut kapitalisme industri pariwisata. Geliat kapitalisme industri pariwisata ini menyisakan masyarakat Bali sebagai manusia “kurang daya upaya”. Kapitalisme itu telah mengeksploitasi “puting” keindahan Bali dan melepas masyarakatkan sebagai calo-calo pariwisata. Artinya, industri pariwisata bukan lagi milik masyarakat Bali, malainkan orang asing yang menanamkan modalnya.

Atas refleksinya, penyair tidak bisa tinggal diam dalam ironi sosio-budaya dan politiko-ekonomi lingkungannya. Bali sudah terlepas jauh dari cita-cita dan nilai-nilai luhur budayanya. Inilah sumber air, oase, yang ingin dinikmati kembali oleh sang penyair. Tetapi, penyair nyaris tak lagi menemukannya. Kelana pencariannya justru hanya terjebak dalam “belantara pangkal paha” dengan mekar “kelopak seroja merah muda” di atasnya. Itulah belantara eksplorasi kenikmatan pariwisata Bali dengan gemerlap modernisme bak kelopak seroja merah muda.

Di tengah gemerlap pariwisata Bali, WS merefleksikan dirinya (penyair) dengan metafora seorang pertapa yang mengecil dan lenyap di antara lampu-lampu diksotik, kafe dan hotel berbintang. Tongkat kuasa paternalistik tak lagi mampu mendeterminasi budaya yang kian banal. Bali dengan dunia malam yang binal memaksa tanah Bali hanya sebagai pelayan kasur para pemodal (asing).

Saat itulah pupur wajah Bali yang indah, molek dan masyur bersamaan luntur. Luntur oleh penyakit-penyakit bawaan kapitalisme lama merusak sendi-sendi kehidupan Bali. Aroma budaya dan ritus-ritus religius Bali pun seakan masih mengambang dari otentisitasnya. Seringkali didapati semua itu hanya sekadar tontonan dalam balutan ke-ajeg-kan di ruang (kamar) publik Bali.

Akan tetapi, dunia Bali bukanlah Atlantis yang suram dijelajahi. Penyair sudah lama bersama masyrakat Bali dan hidup di tengah masyarakat Bali. Karena itu, penyair tidak bisa lagi terasing dari dunianya. Bersyair juga bermasyrakat. Karena itu, penyair harus benar-benar berada dalam masyarakat dan sejenak melepas rutinitas (“lagu”) yang sendiri nikmati. Lalu pada lingkar kebersamaan dan kenikamatan tanah Bali, penyair menyadari hidupnya dan menakar kemBali nasipnya sendiri. sebab, “dari” dan “di” tanah Bali-lah sang penyair menemukan hidupnya.

II

Puisi adalah dharma penyair dalam refleksi panjangnya. Dengan permainan simbol, penyair WS telah berhasil membuat refleksi pemberontakan menjadi sedikit sensual. Boleh jadi, simbol sensul itu juga sebuah pemberontakan. Puisi “Pada Lingkar Putingmu” adalah sebuah pemberontakan. Dengan pemberontakan ini, penyair kembali menjadi subyek di tengah realitas kapitalisme pariwisata menjadikan manusia dan alam sebagai obyek eksploitasi. Atas dharma inilah, Albert Camus (1951) dalam bukunya “L’Homme révolté” menulis bahwa “manusia perlu memprotes nasipnya. Bila perlu ia harus memprotes seluruh makhluk dan kehidupan yang ada di dunia ini, sesuai dengan kondisi yang ada”. Sebab, filsuf Friedrich Nietzsche, tokoh idola Albert Camus, pernah menulis, “tiada seniman yang mentolerir realitas”. Pada konteks ini, realitas itu adalah realitas Bali dalam rezim kapitalisme industri pariwisata.

Tentu saja, sisi lain dari pemberontakan itu, ada harapan yang indah untuk Bali yang kembali untuk orang Bali. Bahwa Bali yang indah bukan untuk “dijual” pun dieskplotasi, tetapi untuk dirayakan dalam kebersamaan atas karunia yang terberikan oleh Sang Maha Kuasa.

Djogja, Desember 2013

Categories: Esai