Monumen Nasional dan Pemikiran Soekarno

Djulianto Susantio
Warta Kota, 17 Okt 2012

Ikon kota Jakarta yang paling dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat adalah Monumen Nasional atau Tugu Monas. Tugu Monas adalah titik nol kota Jakarta, dibangun atas pemikiran Presiden Soekarno. Beliau ingin adanya sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel Perancis di dekat Istana Merdeka. Tujuannya untuk mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia untuk generasi sekarang dan mendatang.

Pada 1954 pemerintah membentuk sebuah komite nasional, tahun berikutnya digelar sayembara perancangan monumen nasional. Dari 51 karya, hanya karya F. Silaban yang memenuhi sedikit kriteria. Sayembara kedua digelar tahun 1960, lagi-lagi tidak satu pun dari 136 karya yang dianggap layak. Akhirnya juri meminta F. Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Soekarno yang menginginkan monumen berbentuk lingga (lambang pria) dan yoni (lambang wanita). Bersatunya lingga dan yoni adalah lambang kesuburan. Batang tugu juga diibaratkan alu, sementara bagian cawan diumpamakan lesung. Maknanya adalah kesejahteraan atau kemakmuran bagi bangsa Indonesia.

Pembangunan Monas dimulai pada 17 Agustus 1961, arsiteknya adalah F. Silaban dan R.M. Soedarsono. Areal yang digunakan memiliki luas 80 hektar. Perencanaan dan pengerjaan konstruksi dilakukan oleh ahli-ahli Indonesia. Perlambangan proklamasi kemerdekaan kental terasa di tugu Monas. Tugu bagian bawah berukuran 8 meter x 8 meter, sementara bagian atas 5 meter x 5 meter. Pada bagian bawah terdapat pelataran cawan, yang berada pada ketinggian 17 meter dengan ukuran 45 meter x 45 meter. Ukuran-ukuran tugu disesuaikan dengan angka keramat bangsa Indonesia, yakni 17-8-45. Tinggi tugu di luar tinggi lidah api, mencapai 115 meter dari permukaan tanah.

Pembangunan Monas terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama, kurun 1961/1962—1964/1965. Pembangunan tahap kedua berlangsung pada kurun 1966—1968. Tahap ketiga berlangsung 1969—1976. Monumen secara resmi dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975 oleh Presiden Soeharto. Di sekeliling tugu terdapat taman, kolam, dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur Taman Monas ramai dipenuhi pengunjung.

Patung Pangeran Diponegoro, sumbangan warga Italia, menandai pintu masuk Monas. Sebelum ke puncak teratas, pengunjung bisa melihat-lihat Museum Sejarah Nasional. Puncak teratas tugu Monas bisa didatangi oleh pengunjung melalui lift (elevator) dengan membayar tiket masuk.

*) Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya