Pertemuan Pengarang Membangun Kekuatan Sastra di Indonesia

Lusiana Indriasari
Kompas.com, 25 Nov 2012

Kesusateraan Indonesia belum memiliki kekuatan menghadapi berbagai tekanan sosial di sekitarnya. Sejarah membuktikan kesusasteraan dan para pengarangnya menjadi korban kesewenangan.
Di masa lalu pengarang ditindas oleh penguasa, baik politik maupun militer. Di masa sekarang, kesusasteraan berhadapan dengan kekuatan pasar dan organisasi fundamentalis.

Ketidakberdayaan kesusasteraan dan para pengarangnya disebabkan tidak adanya komunikasi, dialog dan asosiasi yang kuat diantara para pengarang itu sendiri. “Sektarianisme dan komunalisme negatif kian kuat menggejala, sehingga perjuangan sastra secara kolektif sulit terselenggara. Akibatnya setiap pengarang harus berjuang dengan sendiri, bahkan sekadar untuk survive,” ujar Radhar Panca Dahana, budayawan dan seniman, Minggu (25/11/2012) di Jakarta.

Pengarang di Indonesia masih terkotak-kotak menurut kelompok, keyakinan dan kepentingannya sendiri-sendiri. Trauma masa lalu ini sampai sekarang masih terus dipelihara.

Sebelumnya, Radhar bersama sastrawan lainnya yaitu Kurnia Effendi, Abdul Hadi WM dan Toety Herawati, menggelar diskusi bertema Sinergi Sastra Indonesia. Diskusi diadakan sebagai pembuka rangkaian kegiatan Pertemuan Pengarang Indonesia (PPI). Pertemuan tersebut diselenggarakan selama tiga hari yaitu 25-27 November di Hotel Aston, Benteng Fort Rotterdam Makassar, Sulawesi Selatan.

PPI dilaksanakan oleh Balai Sastra Indonesia dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tujuannya untuk membangun kembali dialog dan komunikasi di antara pengarang di seluruh Indonesia.

Selain memetakan masalah yang dihadapi pengarang dan dunia kesusasteraan di Tanah Air, PPI diharapkan mampu merumuskan pembentukan asosiasi pengarang. PPI merangkul 150 pengarang dari seluruh provinsi di Indonesia.

Ketua Pelaksana PPI, Kurnia Effendi, mengatakan, pengarang yang diundang ke PPI adalah mereka yang dianggap mewakili daerahnya, baik dari segi genre maupun angkatan pengarang.

Radhar menambahkan, para pengarang bergulat dengan kepentingannya masing-masing tanpa memiliki visi membawa kesusasteraan Indonesia sebagai kekuatan yang bisa membawa kejayaan bangsa. Perpecahan di antara pengarang itu merupakan warisan masa lalu, ketika sastrawan dikotak-kotakkan pada tahun 1960-an, yang “tradisinya” diteruskan hingga sekarang. Mereka tidak beradu pada tataran aliran kesusasteraan, tetapi lebih pada persaingan antar kelompok semata.

Melalui pertemuan, para pengarang diharapkan mampu memetakan masalah yang mereka hadapi selama ini, termasuk soal hubungan dan komunikasi antar sesama pengarang, mengeliminir friksi-friksi, dan membangun kekuatan bersama untuk memajukan kesusasteraan Indonesia.

Toety mengungkapkan, kehidupan pengarang di Indonesia memang belum menjanjikan. Alih-alih menciptkan karya, pengarang sering terbelit masalah untuk menghidupi dirinya sendiri karena mereka tidak bisa hidup dari dunia kepengarangan. Di luar negeri, banyak upaya dilakukan pemerintah negara setempat untuk mendukung kreasi pengarang. Salah satunya memberikan tunjangan hidup kepada pengarangnya.

Abdul Hadi menegaskan, kepedulian negara terhadap pengarang sangat minim. Di negara-negara lain. seperti di Eropa, China, dan India, pengarang menduduki tempat terhormat sejak berabad lalu. Melalui karya-karyanya, mereka ikut mengembangkan kemajuan suatu bangsa.

Penghargaan bagi pengarang dari pemerintah juga sangat minim. Hadiah sastra di Indonesia paling besar hanya sekitar Rp 20 juta, sedangkan di Iran penghargaan sastra bisa untuk membeli tiga mobil mercedez.

Dari pertemuan pengarang, kata Radhar, diharapkan bisa terbentuk asosiasi pengarang. Asosiasi pengarang ini mengurusi hal-hal bersifat non teknis, seperti mengurus asuransi, fasilitasi, mencari pasar, dan lain-lain.
***