Presiden Tewas (?)

Lie Charlie *
Pikiran Rakyat, 13 Jun 2010

MEREKA yang sepanjang malam Minggu (10 April 2010) menikmati dugem (dunia gemerlap) dan ajojing sampai pagi (11 April 2010) serta kurang cermat membaca, pasti kaget bukan alang kepalang saat menatap berita utama “PR” pada Minggu (11/4), “Pesawat Presiden Jatuh”. Demi meyakinkan diri, Hanafi yang baru bangun pukul 11.00 siang meraih surat kabar lain. Selintas ia melirik judul surat kabar terbitan nasional hari itu, “Presiden Tewas Dalam Kecelakaan Pesawat”. Astaga, pikir Hanafi, “SBY tewas! Inna lilahi wa innailaihi rojiun…”

Semua orang yang tidak teliti bisa terkecoh dengan kabar buruk Minggu pagi dua bulan lalu itu. Sebab, bukankah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memang dijadwalkan pulang ke tanah air dengan menumpang pesawat terbang pada hari Sabtu malam, 10 April 2010, setelah mengikuti KTT ASEAN Ke-16 di Hanoi, Vietnam? Jika terjadi apa-apa dengan “presiden”, pastilah sosok yang dimaksudkan benar-benar presiden kita.

Jika tanpa keterangan, kata “presiden” selalu mengacu kepada presiden tempat suatu surat kabar diterbitkan. Pers AS, misalnya, tidak perlu membubuhkan penjelasan “US” di depan kata presiden (US President) dan pembaca New York Times atau Washington Post langsung tahu bahwa orang yang disebut president adalah Barack Obama; tidak mungkin presiden negara lain. Demikian juga di Indonesia. Kalau “PR” atau surat kabar nasional itu menulis kata presiden, jelas, itu Susilo Bambang Yudhoyono, bukan orang lain.

Redaksi bisa saja berkelit dan menyindir, “Baca baik-baik.!” Benar, “PR” sudah mendahului judul induk “Pesawat Presiden Jatuh” dengan judul anak “Pejabat Pemerintahan dan Militer Polandia Tewas” dan surat kabar nasional itu mengawali judul kecil “Presiden Tewas Dalam Kecelakaan Pesawat” dengan judul besar “Polandia Berduka”.
**

DEMI mengejar kehebohan, pers suka bermain-main dalam menjuduli berita. Menunggangi isu panas mengenai Gayus Tambunan yang dicurigai berperan sebagai makelar kasus, contohnya, tempo-tempo wartawan bisa menulis judul berita, “Gayus Jalan-jalan Bersama Istri dan Anaknya di Kelapa Gading”. Setelah kita membaca seluruh berita, barulah kita ketahui bahwa orang yang dimaksud bukan Gayus Tambunan, melainkan (umpamanya) Gayus Lumbuun yang anggota DPR-RI dan anggota Pansus Bank Century. Pembaca tertipu dan wartawan atau redaktur barangkali merasa girang.

Nama Gayus juga dapat dipelintir tatkala terjadi kecelakaan yang menimpa seseorang bernama Gayus yang lain. Kali ini wartawan akan mempergunakan kesempatan ini dengan menulis: “Gayus Tertabrak”. Pembaca pasti teperdayai lagi, sebab mengira Gayus yang dimaksud betul-betul Gayus Tambunan.

Kita perlu memahami acuan-acuan dalam pemberitaan, teristimewa menyangkut nama-nama, sebutan-sebutan, atau sosok besar. Julukan Burung Merak pernah disandang Rendra sehingga ketika membaca judul berita “Sang Burung Merak Telah Tiada”, orang tahu Rendra telah wafat. Hampir tidak mungkin ada pembaca yang menafsirkan bahwa seekor burung merak di Ragunan mati. Kata Ragunan sendiri mengacu kepada kebun binatang di Jakarta.

Acuan ini ada kalanya sangat samar. Judul “Dia Sudah Pergi…” dapat membuat kita bertanya-tanya, “Siapa yang sudah pergi.?”. “Apakah kata ‘pergi’ tersebut bermakna ‘meninggal dunia’?”. Pers menggandrungi judul-judul yang mengundang perhatian dan pertanyaan lantaran hal itu sering membuat orang membaca berita yang disajikan dengan lebih saksama.
***

*) Lie Charlie, sarjana tata bahasa Indonesia.