Puasa dan Peradaban Bangsa

Musa Asy’arie
http://bagusprasetyo.blogspot.com

Marhaban ya Ramadhan. Dengan sukacita umat Islam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan dengan berpuasa selama satu bulan. Orang tua, kaum muda, dan anak-anak menyambut bulan puasa dengan romantisme sendiri-sendiri. Suatu pengalaman spiritual yang sungguh indah.

Jiwa manusia sebenarnya terpenjara oleh tubuhnya sendiri. Dalam realitas kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat betapa manusia didera nafsu untuk mengejar kepuasan tubuh semata, seperti mengejar kepuasan makan, minum, berpakaian, berhubungan seks, merebut kekuasaan, dan melampiaskan egoisme pribadi dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.

Deraan nafsu sering mengalahkan akal sehat, lalu seseorang jatuh dalam penderitaan. Pada saat usianya lanjut, tubuh menjadi penjara bagi jiwa yang terus mengembara untuk kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang tak mampu diwujudkan lagi karena tubuhnya kian rapuh tak berdaya.

Dorongan untuk memenuhi kebutuhan tubuh adalah alami, siapa pun tidak bisa menolaknya. Namun, manusia tidak seperti binatang karena dalam dirinya ada kekuatan jiwa yang merindukan kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Karena itu, tidak selamanya jiwa manusia merasa tenteram melihat kelakuan diri sendiri. Sering kali berbagai dorongan tubuh itu berlawanan dengan dorongan kejiwaan.

Berbagai dorongan tubuh manusia tidak bisa dimatikan dalam kehidupan, tetapi harus dikendalikan agar pemenuhan atas aneka dorongan tubuh tidak bertentangan dengan dorongan jiwanya sehingga tidak berlawanan dengan kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Bahkan, aneka dorongan tubuh dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata sesuai tuntutan jiwa sehingga realisasi dorongan-dorongan tubuh itu menjadi sesuatu yang benar, baik, dan indah.

Sebenarnya puasa merupakan pendidikan dan latihan agar seseorang dalam memenuhi aneka dorongan tubuhnya tidak melakukannya secara membabi buta, yang melanggar etika sosial keagamaan dan melanggar harmoni sosial kemasyarakatan. Karena itu, puasa dalam Islam ditujukan untuk mencapai tingkat ketakwaan tinggi guna melahirkan kesalehan sosial. Puasa tanpa kesalehan sosial akan sia-sia karena yang didapatkan hanya rasa lapar dan dahaga.

Peradaban bangsa

Pekan Olahraga Nasional di Samarinda dan Olimpiade Beijing, China, merupakan olahraga massal agar tubuh sehat. Kini kita memasuki babak olah jiwa massal, dengan menjalankan ibadah puasa satu bulan. Olah jiwa massal ini bermakna strategis sebagai kekuatan untuk membangun peradaban bangsa.

Peradaban suatu bangsa mengalami proses jatuh bangun. Dalam sejarah kehidupan bangsa-bangsa di dunia, kita menyaksikan puncak-puncak peradaban itu bergeser dan berpindah, dari suatu bangsa ke bangsa lain, dari suatu wilayah ke wilayah lain. Dulu puncak peradaban pernah ada di Yunani dengan tingkat pemikiran filsafat tinggi, yang hingga kini masih jadi rujukan.

Dari Yunani bergeser ke Arab dengan puncak peradaban Islam. Bangsa-bangsa di dunia belajar filsafat sebagai induk ilmu-ilmu, melalui penerjemahan buku filsafat Yunani ke dunia Arab. Akibat kejatuhan dunia Arab, puncak peradaban bergeser ke Barat dan berkembang melalui cabang-cabang sains dan teknologi hingga kini. Sebagai bangsa, kita pun pernah mencapai puncak peradaban tinggi saat menguasai lautan untuk menggerakkan perdagangan. Karya sastra dan filsafat pun mendapat tempat terhormat.

Kekuatan pluralitas

Puncak peradaban suatu bangsa pada dasarnya hanya bisa dicapai jika bangsa itu mampu melakukan olah jiwa massal untuk mencintai dan mewujudkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan dalam realitas perilaku kehidupannya. Jika suatu bangsa tidak mampu melakukan olah jiwa massal, pluralitas tidak lagi menjadi kekuatan yang mendorong pengayaan spiritualitas, sebaliknya justru akan memicu konflik kekerasan akibat perebutan kekuasaan yang vulgar, yang terlepas dari etika politik bangsa untuk membangun keadilan sosial, kemakmuran bersama, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Puncak-puncak peradaban suatu bangsa akan mengalami kejatuhan jika kehidupan bangsa itu dilanda krisis moral secara massal, yang melahirkan krisis politik kekuasaan. Kekuasaan diperebutkan tanpa landasan spiritualitas etika sosial. Kekuasaan diperebutkan dan beredar hanya di kalangan elite, sementara rakyat hanya sebagai alat legitimasi kekuasaan elite, yang sama sekali tidak terkait dengan kepentingan rakyat.

Karena itu, puasa yang kita jalani tahun ini seharusnya menjadi momentum bagi bangsa untuk menggerakkan olah jiwa massal agar pemilu yang segera tiba memberi makna bagi kehidupan bangsa untuk mewujudkan cita-citanya. Puasa harus dapat membangun peradaban bangsa untuk mencapai ketakwaan tinggi, yang wujudnya tidak lain adalah kesalehan sosial, penghargaan atas pluralitas sebagai pengayaan spiritualitas, dan menempatkan kekuasaan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan secara bersamaan. Kekuasaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bukan untuk membodohinya. Jika tidak, peradaban kita akan sulit bangkit kembali.

Musa Asy’arie, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga