Pundi-pundi Tebal Sastrawan Indonesia

Maulana Syamsuri
http://analisadaily.com, 8 Juni 2014

Sastrawan dan budayawan Indonesia bangga. Sastrawan dari Yogyakarta, SH Mintardja menerima anugerah Borobudur Writers and Cultural Festival berupa Sang Hyang Kamahayanikan.
Anugerah Sang Hyang, penghargaan tertinggi untuk tokoh yang berjasa dalam kajian sejarah dan budaya Nusantara. SH Mintardja dinilai layak mendapat anugerah itu karena merupakan generasi pertama penulis cerita silat yang mengangkat latar belakang sejarah nusantara. SH Mintarja, penulis buku sangat kreatif selama lebih dari 50 tahun dan berkarya berupa buku sekitar 400 judul. Api Bukit Menoreh terdiri dari 396 seri, karyanya yang paling terkenal. Mintardja juga menulis karya serial lain, seperti Nagasasra Sabuk Item, Mata Air di Bayangan Bukit, Tanah Warisan dan Matahari Esok Pagi.

Singgih Hadi Mintardja atau S.H. Mintardja, lahir di Yogyakarta, 26 Januari 1933. Meninggal di Yogyakarta, 18 Januari 1999 pada umur 65 tahun. SH Mintardja, maestro cerita silat dari Yogyakarta. Karyanya bernuansakan sejarah dan dunia persilatan di Tanah Jawa. Sebagian besar bukunya diterbitkan oleh Kedaulatan Rakyat Yogyakarta. Di antara karya lainnya adalah Meraba Matahari, Suramnya Bayang-Bayang, Sayap-Sayap Terbang, Istana yang Suram, Bunga di Batu Karang dan lain-lain.

Pundi-Pundi Tebal Sastrawan Indonesia

Sastrawan Sapardi Djoko Damono dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Modern, hadiah sastra yang dikenal sejak awal perkembangan sastra modern sangat beralasan dan sangat besar manfaatnya. Salah satunya untuk perkembangan sastra dan dalih itu boleh masuk akal meskipun tanpa didorong-dorongpun sastra akan terus berkembang.

Khatulistiwa Literary Award (KLA) dicetus oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki (pada waktu itu President Director Plaza Senayan), penulis Danarto dan penyair Sutardji Calzioum Bachri serta beberapa sastrawan Indonesia terkemuka lainnya. Setelah perundingan yang amat serius berdasarkan berbagai pertimbangan, terutama dari segi mutu sastra. Tercetuslah pemberian Anugerah Sastra, Khatulistiwa Literary Award. Pada waktu itu terdorong pula oleh inisiatif untuk memberikan sebuah hadiah berpundi lumayan agar penulis-penulis yang memenangkan hadiah sastra KLA terangkat taraf hidupnya. Hadiah berupa uang tunai yang mencapai seratus jutaan rupiah dari KLA sekali gus menepis, sastrawan itu tidak melarat hidupnya, tidak berpakaian kumuh, tidak bertubuh dekil dan sastrawan itu sebenarnya mampu hidup layak.

Apalagi di antara sastrawan Indonesia yang menerima KLA juga baru saja menerima SEAW award yang jumlahnya juga lumayan. Ditambah lagi honor atau royalti dari penerbit maupun media. Sastrawan Indonesia yang menerima KLA dan juga SEAW award adalah: Seno Gumira Ajidarma, Gus tf Sakai, Acep Zam-Zam Noor, Hamsad Rangkuti, F. Rahadri,Afrizal Malna dan Linda Christanty.

Setiap tahun dewan juri Anugerah Khatulistiwa Literary Award harus bekerja keras melakukan seleksi dari karya-karya sastra yang terbit dalam kurun waktu 12 bulan. Semua karya yang terpilih diseleksi langsung oleh para juri.

Pemenang KLA

Anugerah Khatulistiwa Literary Award 2013 diraih oleh Leila S. Chudori dengan novelnya berjudul Pulang. Leila menyingkirkan 5 finalis lainnya di bidang prosa atau fiksi. Afrizal Malna meraih KLA untuk kumpulan puisinya berjudul Museum Penghancur Dokumen, dengan menyingkirkan 4 pesaingnya di kategori puisi.

Karya mereka sebelumnya dijaring di antara karya-karya sastra penulis Indonesia yang diterbitkan antara Juli 2012-Juni 2013. Anugerah KLA diberikan di Atrium Plaza 26 Nopember 2013 silam. Leila dan Afrizal masing-masing menerima Rp. 50 juta. Tahun 2013 dewan juri anugerah KLA menerima sedikitnya 70 judul buku prosa dan 40 judul kumpulan puisi. Semuanya merupakan rekomendasi dari penerbit atau pengarang. Damhuri Muhammad selaku ketua Dewan Juri KLA tahun 2013 mengungkapkan, KLA berusaha maksimal mencari yang terbaik dalam keranjang yang sarat oleh barang tiruan. Kerja keras yang tidak segampang membalik telapak tangan.

Awalnya tahun 2002, KLA diberikan kepada sastrawan dan budayawan Remi Sylado yang memiliki nama asli Yopi Tambayong. Remi Sylado, penggerak sekaligus promotor dan penggagas puisi mBeling bersama Jeihan dan Abdul Hadi WM. Merekalah yang menggagas Gerakan Puisi mBeling di tahun 1971. Remy Sylado memenangkan KLA atas karynya berjudul Kerudung Merah Kirmizi.

Tahun 2003 KLA diberikan kepada Hamsad Rangkuti atas karyanya yang berjudul Bibir Dalam Toilet. Ada 3 sastrawan yang memenangkan KLA untuk tahun 2004, yakni Sapardi Djoko Damono untuk kumpulan karya non fisksi yang berjudul Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan. Khusus untuk fiksi diraih oleh Linda Christanty dengan bukunya Kuda Terbang Mario Pinto. Seno Gumira Ajidarma juga memenangkan KLA untuk jenis fiksi yang berjudul Negeri Senja: Roman.

Lagi-lagi Seno Gumira Ajidarma meraih KLA di tahun 2005 untuk karya prosa berjudul Kitab Omong Kosong dan khusus kumpulan puisi diraih oleh Joko Pinurbo yang berjudul Kekasihku. Kumpulan puisi karya Dorothea Rosa Herliany berjudul Santa Rosa mearih KLA tahun 2006 disamping karya prosa oleh Gde Aryantha Soethama yang berjudul Mandi Api.

Acep Zamzami Noor, peraih KLA untuk tahun 2007 masing-masing untuk karyanya yang berjudul Menjadi Penyair lagi. Tahun 2008 peraih KLA jenis prosa diraih sastrawan Ayu Utami untuk karyanya Bilangan Flu.

Tahun 2009 peraih KLA diraih oleh 2 sastrawan yakni Sindu Putra untuk kategori puisi yang berjudul Dongeng Anjing Api serta F. Rahardi, untuk jenis prosa berjudul Lembata: Sebuah novel. Sastrawan F. Rahadi sebelumnya juga pernah menerima hadiah sastra di antaranya dari Pusat Bahasa untuk kumpulan Puisi Tuyul Kumpulan sajak. Juga Negeri Badak sebuah puisi lirik mendapat hadiah sastra dari pusat Bahasa tahun 2009.

Kerja keras dalam mencipta karya sastra tidak sia-sia dilakukan oleh H. U. Mardi Luhung, sehingga berhasil meraih KLA tahun 2010 melalui karyanya berjudul Buwun: Kumpulan Puisi. Gunawan Maryanto dengan kumpulan puisinya Sejumlah Perkutut Buat Bapak juga berhasil meriah KLA tahun yang sama.

Linda Christanty juga meraih KLA di tahun ini dengan karyanya Rahasia Selma, kumpulan cerita. Tahun 2011 peraih KLA jenis puisi diraih oleh sastrawan Nirwan Dewanto dengan judul kumpulan puisinya Buli-Buli Lima Kaki serta bidang fiksi diraih oleh Arafat Nur dengan karyanya berjudul Lampuki. Sastrawan Avianty Armand juga meraih KLA untuk jenis puisi dengan karyanya Perempuan yang Dihapus Namanya.

Tahun 2012 peraih KLA, Zeffry J. Katiri untuk kategori puisi dengan karyanya Post Kolonial dan Wisata Sejarah Dalam Sajak. Di bidang fiksi dimenangkan oleh Okky Madasari dengan karyanya Maryam.

Peraih KLA tahun 2013 sudah disebutkan pada bagian atas esai ini. Gunawan Mohammad juga dikabarkan meraih KLA paling awal, yakni pada tahun 2001 dengan karyanya Sajak-Sajak Lengkap tahun 1961.

KLA memberikan hadiah uang tunai, hingga ratusan juta rupiah kepada sastrawan Indonesia. Tim KLA membuat suatu sistem penjurian yang menurut pihak KLA merupakan apresiasi secara langsung dari para sastrawan, akademisi, wartawan kebudayaan dalam satu komunitas bersama dengan para sastrawan.

Hadiah uang tunai dari KLA maupun dari SEAW award, menjadikan sastrawan Indonesia memiliki pundi-pundi tebal sehingga dapat hidup layak, dapat menunaikan ibadah haji atau umroh, serta tampil prima. Profesi sebagai sastrawan, bukanlah profesi kelas teri atau gurum. Sastra dibutuhkan oleh masyarakat, sama dengan manusia butuh bantuan dokter atau tersangka kasus hukum butuh seorang pengacara.

Kini saatnya sastrawan memasuki kantor penerbit atau kantor media dengan berpakaian rapi, bahkan berdasi, seperti halnya seorang pengacara memasuki ruang sidang untuk membela sesuatu perkara. Sebab pundi-pundi milik sastawan saat ini sudah cukup tebal.
***