Sastra Bali Modern 2013, Penulis Muda pun Bermunculan

I Nyoman Darma Putra
Bali Post, 26 Jan 2014

Tahun 2013 merupakan tahun istimewa bagi kehidupan sastra Bali modern. Alasannya tahun ini terbit banyak buku, mencapai 19 judul, dan dari berbagai genre termasuk kumpulan puisi, cerpen, novel, dan drama. Ada juga karya terjemahan, ada pula penerbitan ulang karya lama. Kebanyakan antologi sendiri, tetapi ada juga antologi bersama, seperti kumpulan puisi Denpasar lan Don Pasar (Denpasar dan Sasaran Pasar). Semuanya menambah khasanah buku sastra Bali modern.

Dalam seratus tahun terakhir sejak sastra Bali modern mulai lahir, tidak pernah ada jumlah buku terbit sebanyak 19 judul seperti yang terjadi tahun 2013. Pengarang muda pun bermunculan, ikut menerbitkan bukunya. Beberapa dekade lalu pengamat sastra Bali modern seperti Prof Ngurah Bagus dan Putu Setia pernah menyampaikan kekhawatiran bahwa sastra Bali modern akan punah. Data terbitan buku selama ini termasuk tahun 2013 bisa dijadikan bukti bahwa kekhawatiran itu tidak terbukti.

Pengarang Muda dan Senior

Hal menarik yang pantas dicatat adalah hadirnya wajah baru yang muda dalam dunia sastra Bali modern, yaitu I Putu Gede Raka Prama Putra (Tudekamatra) kelahiran 1990 dan Agus Sutrarama kelahiran 1984. Keduanya penulis muda berbakat yang akan menjadi salah satu harapan perkembangan sastra Bali modern pada masa datang. Penulis muda lainnya juga menulis sajak dan cerpen berbahasa Bali di media massa Bali Orti (suplemen Bali Post) dan majalah Canangsari. Anak muda yang sering dirasanin sebagai generasi yang lebih terpikat pada kemilau budaya populer dan tidak tertarik akan seni tradisi, ternyata ikut tampil mengasah bakat menulis bersama pengarang senior.

Penulis senior yang karya dan pengabdiannya membina bahasa dan sastra Bali modern yang sudah mendapat anugerah Rancage juga tetap berkarya seperti I Nyoman Manda, IGG Djelantik Santha, I Made Suarsa, dan IDK Raka Kusuma. Seperti tahun-tahun sebelumnya, I Nyoman Manda adalah sastrawan yang paling banyak menerbitkan buku tahun 2013, yaitu delapan buku drama dan sebuah kumpulan cerpen terjemahan dari bahasa Indonesia.

Sejauh ini, belum ada yang melampaui produktivitas dan dedikasi Nyoman Manda dalam menjaga pelita sastra Bali modern. Sepergian sastrawan I Made Sanggra tahun 2008, Nyoman Manda praktis bekerja sendiri menerbitkan Canangsari, majalah berbahasa Bali yang memuat puisi, artikel, dan cerpen berbahasa Bali. Sampai tahun 2014, sudah terbit edisi ke-45. Nyoman Manda juga menerbitkan majalah khusus cerita pendek yang sampai Januari 2014 sudah memasuki edisi ke-38.

Dalam usinya yang sudah mencapai 75 (lahir 1949) dan kesibukan mengurus dua majalah sendirian, Nyoman Manda masih tetap kreatif produktif menulis karya sastra Bali modern, baik novel maupun drama, serta menerjemahkan karya sastra berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Bali. Tahun 2013, dia menerbitkan delapan buku drama karya I Nyoman Manda adalah Mabela Pati (Mempertaruhkan Nyawa sampai Mati), Kuuk (Kuuk; ucapan cemooh), Jepun Putih Akatih (Sekuntum Kamboja Putih), Mulih (Pulang), Dukana Pujangga (Duka Pujangga), Penggak (Warung), Dadi Ati (Tega), dan Jayaprana Layonsari (Jayaprana-Layonsari). Sumber cerita drama-drama ini beragam yakni mulai dari sejarah perjuangan pahlawan Bali (Mabela Pati), legenda dan cerita rakyat (Dukana Pujangga dan Jayaprana Layonsari, serta kisah kontemporer lainnya. Kumpulan cerpen terjemahan Nyoman Manda diberi judul Kota Harmoni, berisi cerpen-cerpen pengarang Indonesia seperti Idrus dan YB Mangunwijaya.

Satu lagi buku cerpen yang perlu disebutkan di sini karena tidak ikut dalam penilaian adalah Aneka Warna karya I Made Pasek yang diterbitkan ulang oleh Putu Jayanegara (keturunan Made Pasek). Buku ini pertama kali terbit tahun 1910-an, sebagai buku pelajaran membaca di sekolah dasar zaman kolonial. Penerbitannya kembali, walau dalam jumlah terbatas, ikut memperkaya bacaan sastra Bali modern bagi peminatnya atau bagu guru bahasa Bali untuk mengetahui seperti apa model teks pelajaran bahasa Bali tempo dulu.

Kumpulan puisi bersama yang terbit tahun ini adalah Denpasar lan Don Pasar (Denpasar dan Target Pasar), terbit atas bantuan Pemkot Denpasar. Antologi ini berisi sekitar 100 puisi karya penyair tua dan muda, laki dan perempuan, tinggal di Denpasar atau di luar. Sesuai judulnya, puisi dalam antologi ini bertema tentang kota Denpasar, di antaranya adalah puisi tentang Catur Muka, Sanur, Benoa, dan Puputan Badung. Kumpulan yang disunting bersama oleh I Nyoman Darma Putra, Gde Gita Purnama, dan AA Oka Wiranatha ini merupakan kelanjutan dari antologi puisi berbahasa Indonesia tentang Denpasar berjudul Dendang Denpasar Nyiur Sanuri (2012).

Buku baru hasil penulis secara individual adalah dua novel yaitu Benang-Benang Samben (Benang-benang Kusut) karya IGG Djelantik Santha dan Sing Jodoh (Bukan Jodoh) karya I Made Sugianto; dua kumpulan puisi masing-masing Padang Tuh (Rumput Kering) karya Tudekamatra dan Ngantih Bulan (Ambilkan Bulan) karya IDK Raka Kusuma; dan empat buku cerita yaitu Tutur Bali (Tutur Bali) karya I Wayan Westa; Nguntul Tanah Nulèngèk Langit (Menunduk ke Tanah, Mendongak ke Langit) karya I Made Suarsa, Bulan Satwak (Cerita Pendek) karya Agus Sutrarama, dan Sawelas Satua Bawak Basa Bali (Sebelas Cerpen Berbahasa Bali) karya I Nengah Sudipa.

Ekspresi Nilai, Media Kritik, dan Tutur

Seperti halnya karakter sastra pada umumnya, karya sastra Bali modern pun tampil sebagai media untuk menyampaikan eskpresi nilai-nilai tradisi, media untuk menyampaikan kritik, dan tutur untuk nasehat atau introspeksi.

Karya pertama yang patut diberikan catatan khusus adalah novel Benang-Benang Samben (305 hlm) karya Djelantik Santha. Novel ini mengisahkan adalah romantika kehidupan siswa sekolah (SMP/SMA) sampai mereka menamatkan perguruan tinggi.Selain berkisah tentang anak-anak yang rajin belajar walau mereka miskin, novel ini juga banyak membahas nilai-nilai agama seperti status kasta, pernikahan saling-memiliki (pada gelahang), hukum karma, dan inses.

Awalnya cerita ini agak datar, namun di belakang menarik ketika muncul konflik soal inses, yang melukiskan dua remaja kembar buncing (tanpa disadarinya) terlibat percintaan yang mengakibatkan kehamilan. Walau berani melukiskan inses, narrator novel ini akhirnya memisahkan mereka dengan menikahkan tokoh wanita yang hamil dengan laki-laki lain. Di satu pihak, akhir novel yang konfliknya kuat ini memang menarik, di lain pihak membuat fokus cerita agak blur karena bukan melukiskan secara dominan tokoh utama cerita.

Novel Sing Jodoh (125 hlm) karya Made Sugianto mengisahkan gagalnya pernikahan antara dua remaja akibat kehamilan di luar nikah. Melihat temanya, novel ini cocok untuk bacaan remaja agar mereka berhati-hati bertindak sehingga tidak menyesal belakangan. Akan lebih baik bila tema dan nilai-nilai dalam novel ini disajikan dengan lebih dalam dan kompleks.

Kumpulan cerpen Bulan Satwak (73 hlm) berisi 10 cerita. Kisah-kisahnya kebanyakan soal romantika cinta remaja. Dilukiskan dengan bahasa yang sederhana, cerpen-cerpen dalam kumpulan ini mampu membangun kisah yang menarik. Tampak sekali dari karya-karyanya, penulis muda Agus Sutrarama ini memiliki bakat yang baik menulis cerpen. Dia tampak terampil menyusun alur dan memilih ekspresi untuk lukisan suasana yang tepat. Hanya saja karena kisah-kisah dalam cerpen ini sangat pendek, tema-temanya kurang tergali sehingga cerita menjadi sangat ringan. Hampir tidak ada pendalaman problematika atau tema dalam cerita-cerita ini.

Antologi cerita pendek Nguntul Tanah Nulèngèk Langit (66 hlm) berisi sebelas cerpen dengan tema dominan tragedi kehidupan tokoh-tokohnya entah karena kemiskinan atau ketidakberdayaan. Ciri khas cerpen-cerpen Made Suarsa dalam kumpulan ini, dan juga dalam buku sebelumnya, adalah bahasanya yang liris, kalimat-kalimatnya bersyair, sehingga enak dibaca.

Buku Tutur Bali (88 hlm) berisi 42 kisah-kisah yang sangat pendek. Kisah-kisah itu ditulis dalam bentuk cerita yang memang dimaksudkan untuk memberikan nasehat (tutur). Pendekatan penulisannya adalah mengemas tutur dalam bentuk cerita, bukan sebaliknya. Tema yang diangkat sangat beragam dan aktual, seperti bencana AIDS dan kejahatan teroris. Ada juga tema-tema universal yang dipopulerkan dengan materi cerita baru. Kekuatan cerita-cerita dalam buku ini adalah keseimbangan antara bentuk dan isi. Buku ini baik dijadikan teks pengayaan bacaan bahasa Bali di sekolah, karena isinya bermanfaat untuk pembinaan karakter beradasarkan kearifan lokal.

Kumpulan cerpen Sawelas Satua Bawa Basa Bali (87 hlm) karya Nengah Sudipa berisi sebelas cerpen. Salah satu ciri estetik dari cerpen-cerpen dalam antologi ini sudah tampak pada judul setiap cerpen yang menggunakan ‘satu kata’, seperti “Ngempu” (mengasuh anak) dan “Reuni” (Patungan). Ciri lain dari antologi ini adalah kuatnya usaha menjadikan cerpen untuk melestarikan tradisi seperti “Magibung”. Cerpen ini bukan sekadar kisah antara dua sahabat tetapi sebuah ‘etnografi mini’ tentang jenis makanan dan tata cara melaksanakan makan bersama dalam tradisi Bali.

Asosiasi Semesta dan Sukma

Dua kumpulan puisi yang terbit tahun 2013 sama-sama memiliki cirri pemakaian teknik ekspresi asosiatif antara realitas semesta (makrokosmos) dengan sukma (mirkokrosmos). Antologi puisi Padang Tuh (86 hlm) berisi 86 puisi-puisi karya Tudekamara. Penyair muda ini juga memiliki kemampuan untuk menulis sajak yang mencoba menjadikan apa yang ada di alam semesta sebagai landasan atau asosiasi untuk melukiskan apa yang ada di dalam sukma, misalnya “Segara Indria” (Samudra Indra) yang mengasosiasikan ombak di samudra dengan ombak di hati. Tema-temanya beragam seperti kritik sosial, renungan tentang nilai, dan pesan-pesan ketabahan menghadapi kehidupan. Sajak “Peturu Anak Bali” (Sesama Anak Bali), misalnya, berisi sindiran kepada warga Bali yang suka bertengkar dengan sesama padahal mereka mestinya akur.

Antologi Ngantih Bulan (Ambilkan Bulan) (55 hlm) karya penyair senior Bali IDK Raka Kusuma yang juga menullis dalam bahasa Indonesia. Buku ini berisi 28 sajak, yang sebagian besar menampilkan tema-tema mistis. Dalam antologi ini pun ada beberapa sajak yang menjadikan fakta alam semesta sebagai asosiasi dengan apa yang ada dalam jiwa. Sajak-sajak dalam antologi ini ditulis dalam bait-bait pendek, kalimat-kalimat pendek, tetapi mampu melukiskan suatu gambaran yang kompleks.

Berbeda dengan antologi di atas, kumpulan sajak ini berisi banyak sajak yang panjang, yang menggarap tema secara naratif atau berupa kisahan (tetap dalam baris-baris yang pendek). Misalnya sajak “Ngutus Nyama” (Mengutus Saudara) yang dituangkan ke dalam lima bagian sepanjang tujuh halaman, berkisah tentang hal mistis dalam kepercayaan masyarakat Bali yakni tentang saudara-maya yang dimiliki dan selalu mengikuti setiap orang.

Ungkapan dalam sajak-sajak ini juga terjaga dalam rima. Rima itu memperkuat estetika sajak. Untuk tema-temanya, walaupun beberapa sajak diawali dengan ‘sampiran’ ringan, seolah bercanda, seperti lagu anak-anak, di ujungnya adalah ‘isi’ yang mistis dan dalam. Makna sajak-sajaknya tersembunyi dalam lapisan-lapisan ekspresi, sesuatu yang bagi pembaca awam akan terbata-bata menyimaknya, terutama pada ungkapan-ungkapan yang sangat personal.

Apresiasi Terbatas

Sejauh ini, apresiasi terhadap karya sastra Bali modern yang terbit hanya sebatas kajian di perguruan tinggi untuk makalah, skripsi atau tesis, dan sedikit sebagai bacaan di sekolah-sekolah. Kehadirannya belum mampu menarik minat publik secara luas, walau para penulisnya seperti Made Sugianto sudah berusaha memperkenalkan karyanya dengan berbagai cara termasuk ‘door to door’.

Seperti halnya karya sastra pada umumnya, mendapatkan pembaca luas bagi sastra Bali modern pun merupakan tantangan sejak dulu.

*) Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana dan juri Hadiah Sastra Rancage sejak 2000.