Surau tempat Ronggowarsito menimba ilmu

Surau Ronggowarsito, foto Edy Susanto

Edy Susanto
http://krjogja.com

Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur ternyata menyimpan banyak petilasan yang memiliki nilai sejarah tinggi dalam penyebaran agama Islam. Salah satunya adalah wisata religius kawasan Tegalsari, Kecamatan Jetis, kurang lebih 10 kilometer arah tenggara Kota Ponorogo.

Di tempat ini, terdapat masjid besar Tegalsari sebagai bukti tegaknya Islam di kawasan Ponorogo tenggara. Selain menjadi tempat menyenangkan untuk menjalankan ibadah bagi muslim, tempat ini juga memiliki nilai historis yang menarik.

Sekitar 400 tahun lalu, di daerah ini terdapat pesantren kecil yang dipimpin oleh Kyai Hasan Besari atau dikenal dengan nama Ki Ageng Tegalsari. Selain memiliki ilmu agama yang mumpuni, beliau juga tokoh bijaksana dan memiliki ilmu yang tinggi.

Dari pesantren ini, lahir beberapat tokoh terkenal di negeri ini, salah satunya adalah Pujangga Ronggowarsito. Ia pernah menjadi santri di Tegalsari dan menjadi murid yang ditempat oleh kyai Hasan Besari dengan segala ilmu. Ia bertempat tinggal di rumah kyai yang berada di timur atau (depan masjid Tegalsari sekarang ini).

Kondisi bangunan rumah asli Kyai Hasan Besari di Tegalsari dan surau yang pernah dipergunakan Ronggowarsito masih utuh dan berdiri kokoh meski usianya sudah ratusan tahun. Lingkungan rumah, kyai juga tampak gagah dan menyenangkan.

Ny Wardani (50) masih keturunan Kyai Hasan Besari, mengungkapkan dirinya bertempat tinggal di lahan depan rumah Kyai Hasan Besari dan merasa nyaman.

“Banyak yang berkunjung ke sini, sebagian besar keturuan dan kerabat Tegalsari maupun dari keluarga Gontor Ponorogo. Sekadar melihat dari dekat cikal bakal mereka. Surau itu masih utuh dan pernah digunakan mengaji Ronggowarsito,” ujar Wardani.

Tanah yang ditempat rumah Kyai Hasan Besari tidak kurang dari 1.000 meter persegi dan disamping kanan berdiri surau kecil tebuat dari kayu masih kelihatan kuat dan mengandung nilai agamis yang tinggi.

Ronggowarsito adalah seorang tokoh pujangga alias peramal ulung yang sangat disegani oleh para raja-raja yang ada di tanah Jawa. Ronggowarsito lahir di Yosodipura, Surakarta, Jawa Tengah, dengan nama kecil yaitu Bagus Burhan. Dalam penanggalan Jawa, Ronggowarsito terlahir pada tanggal 10 Dzulkaidah, tahun Be 1728, wuku Sungsang, atau dalam hitungan penanggalan Masehi berarti tanggal 15 Maret 1802, tepat pukul 12 siang.

Dengan kepekaan spiritual dan olah kebatinan kejawen yang dimilikinya, Ronggowarsito pun akhirnya didaulat oleh Sultan Keraton Surakarta untuk menjadi peramal istana kerajaan yang merupakan kerajaan pecahan dari Keraton Yogyakarta, hasil dari Perjanjian Giyanti tahun 1755.

Dalam kehidupan kerajaan jaman dahulu, keberadaan seorang peramal istana memang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan kehidupan bagi kerajaan itu. Selain untuk meramalkan tentang apa yang akan terjadi terhadap kehidupan kerajaan, seorang pujangga juga dibutuhkan jasanya untuk meramalkan kekuasaan dari sang raja itu sendiri di kemudian hari.

Artinya, dengan ramalan-ramalan dari seorang ahli nujum istana tersebut, sang raja pun bisa mengantisipasi sejak awal guna mengamankan posisi kekuasaannya dari gangguan rival-rival yang ingin menjatuhkannya dan menginginkan posisinya sebagai raja.

Ronggowarsito mengabdi sebagai ahli ramal Keraton Surakarta ini sejak masa pemerintahan Sultan ke VII hingga Sultan ke VIII di keraton tersebut. Berkat ramalan-ramalan dari Ronggowarsito, Keraton Surakarta sempat mengalami masa kejayaannya kala itu dan menjadi kerajaan yang disegani di kawasan tanah Jawa.

Ronggowarsito meninggal dunia pada tahun 1873 dalam usia 71 tahun. Dalam salah satu wasiat terakhirnya, Ronggowarsito berpesan untuk dimakamkam berdekatan dengan pusara kakeknya, yaitu Sudiro Dirjo Gantang di kompleks pemakaman Dusun Kedon, Palar, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah.

Kematian Ronggowarsito merupakan kehilangan besar bagi Keraton Surakarta. Ronggowarsito tutup usia dengan meninggalkan ratusan ramalan-ramalan yang ditulisnya dalam bentuk syair dan bait yang sampai saat ini terus menjadi tanda tanya besar yang belum terpecahkan bagi masyarakat Jawa pada umumnya.