Bagaimana Situasi Perang Sastra di Indonesia? *

Viddy AD Daery **
ahmadsamantho.wordpress.com

Perang sastera yang terjadi dan semakin membesar akhir-akhir ini di Indonesia, menurut hemat saya, sangat berbeza dengan beberapa kali perang sastera yang pernah terjadi di Indonesia.

Bahkan sebelum Republik Indonesia berwujud, perang sastera telah dilancarkan oleh Lembaga Balai Pustaka yang dikendalikan pemerintahan kolonialisme Hindia Belanda, yakni, pada tahun 1920-an melancarkan perang terhadap “bacaan Liar” yakni buku-buku Melayu-Tionghoa yang ditulis oleh orang-orang Tionghoa dengan menggunakan bahasa Melayu yang kacau-balau, atau disebut “Melayu pasar” atau “Melayu Rendah”.

Di samping itu, BP juga hendak memberantas peredaran buku-buku berbahasa Melayu “agak tinggi”, namun bermuatan faham kiri atau komunisme yang kebanyakan sangat radikal ingin menghancurkan pemerintahan Hindia-Belanda, dan terkadang juga bermuatan kritik keras terhadap nilai-nilai Islam, seperti misalnya karya-karya Semaun, Mas Marco, dan sebagainya.

Balai Pustaka (BP) menertibkan dengan cara melarang buku-buku tersebut dipergunakan atau dibaca di lembaga-lembaga resmi yang dikontrol pemerintah. Sebaliknya, BP menerbitkan buku-buku resmi sebanyak-banyaknya untuk mengimbangi arus pemasaran “bacaan liar” tersebut.

Dalam praktiknya, BP tidak hanya menggalakkan penerbitan buku-buku “berbahasa Melayu Tinggi” atau “Melayu Resmi”—yang bersumber dari bahasa Melayu Sumatera–, namun juga menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa, Sunda dan Madura dalam jumlah yang tak kalah banyak ketimbang yang berbahasa Melayu Sumatera.
***

Tahun 1933—juga belum zaman kemerdekaan Republik Indonesia—di Jakarta terbit majalah kebudayaan dan kesusastraan “Pujangga Baru” yang mengembangkan sastra modern berbahasa Melayu dengan menimba dua sumber : yakni sebagian menimba sumber Barat, misalnya Sutan Takdir Alisjahbana, dan sebagian menimba sumber Timur, misalnya Amir Hamzah.

Jadi, di kalangan internal majalah Pujangga Baru sendiri juga sudah terjadi polemik faham kebudayaan dan kesusasteraan. Tetapi “musuh” juga datang dari luar, yakni kalangan pergerakan garis keras dan yang menganut faham kiri dan komunisme, banyak mengkritik pengikut “Pujangga Baru” dengan cara menulis berbagai kritik dan serangan di akhbar “Bintang Timur”.

Mereka mengkritik “Pujangga Baru” yang menganut aliran kooperatif dan berjinak-jinak dengan pemerintah kolonialis “Hindia Belanda” , banyak bekerjasama dengan penerbit Balai Pustaka dan NV Kolff yang “sangat Belanda”.
***

Ketika Jepun datang mengalahkan Belanda dan menguasai bekas jajahannya, banyak menumpas pengaruh Belanda dan menggalakkan kebudayaan timur terutama menggalakkan bahasa Melayu, serta sedikit banyak menyebarkan kebudayaan dan lagu-lagu berbahasa Jepun.

Tetapi penjajahan Jepun tidak berusia lama, meski kekejamannya lebih mengerikan daripada penjajahan Belanda. Revolusi Indonesia membuahkan kemerdekaan dan juga revolusi kebudayaan, di mana pengaruhnya ada pada puisi-puisi angkatan 45 yang heroik dan panas membakar, terutama dapat kita lihat pada puisi-puisi Chairil Anwar.
***

Tetapi angkatan 45 yang heroik,individualis dan kebarat-baratan akhirnya juga dikritik keras oleh kalangan kiri dan komunis yang tergabung dalam organisasi kebudayaan LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang merupakan “onderbouw” dari organisasi politik PKI (Partai Komunis Indonesia). Lekra berdiri pada 17 Ogos 1950.

Para sastrawan Lekra kebanyakan menulis di rubrik “Lentera” asuhan Pramudya Ananta Toer di akhbar Bintang Timur, dan selalu menghantam para sastrawan “humanisme universal” yang kebanyakan menulis di majalah “Sastra” asuhan HB Jassin.

Perang sastera di era awal kemerdekaan Indonesia ini agaknya sangat panas membara, kerana kelompok Lekra menggunakan kekuatan politik—dimana PKI waktu itu menguasai politik Indonesia—dan Lekra membabat dan menyerang habis-habisan sasterawan aliran “humanisme universal” atau boleh juga disebut kelompok “Manikebu”—kerana kelompok ini mendeklarasikan “Manifesto Kebudayaan” disingkat manikebu pada 17 Ogos 1963..Ancaman kekerasan dari Lekra terhadap sasterawan Manikebu tidak hanya dengan kritik dan caci-maki, namun juga penyerangan secara fisik dan kekerasan, bahkan ancaman pembunuhan.

Nasib kelompok Manikebu diselamatkan oleh perubahan angin politik. Kerana PKI dianggap terlibat dalam Kudeta G 30 S yang gagal di tahun 1965, maka pemerintahan Orde Baru pimpinan Soeharto yang menguasai keadaan, berbalik memburu PKI dan semua antek-anteknya, termasuk Lekra. Maka banyak seniman dan sasterawan Lekra yang ditangkap, dipenjara dan dibuang ke pulau Buru, Maluku.

Yang berhasil menyelamatkan diri akan melarikan diri ke Moskow,Uni Soviet,atau ke Beijing,RR China, atau menjadi eksil di Negara-negara Eropa. Namun satu-dua ada juga yang dapat bertahan di Indonesia dengan cara menghilangkan jejak, pindah ke desa-desa terpencil dan mengubah identitas administratif mereka.

Kelompok Manikebu segera membentuk majalah HORISON pada Julai 1966 , dan segera terlibat dalam “sastra politik”, dengan dimuatnya puisi politik penyair Taufiq Ismail di cover depan majalah Horison nombor perdana, yang berisi simpati terhadap korban-korban demonstrasi yang ditembak mati oleh tentera pasukan pengawal Orde Lama.

Tetapi hubungan mesra kelompok Horison dengan penguasa Orde Baru juga tidak lama, ketika tokoh-tokoh Orde Baru mulai menjalankan korupsi persis orang-orang Orde Lama yang ditumpasnya. Sasterawan dan budayawan sebagai “penjaga moral” tidak dapat tinggal diam menyaksikan penyelewengan moral dan penyelewengan kekuasaan.

Merekapun “bersaksi” lewat karya-karya sastera ,teater dan seni pada umumnya.

Namun, karya-karya seni yang dimuat atau yang didukung oleh Horison dan bermuatan kritik sosial sudah pasti akan diberangus oleh antek-antek Orde Baru yang bertahan menguasai sistem politik Indonesia lebih dari 35 tahun.

Korban-korban nyata selain hanya karyanya dilarang atau dibredel, adalah beberapa sasterawan yang mengalami nasib pahit, misalnya : WS Rendra yang mengalami dipenjara beberapa kali, sampai penyair Wiji Thukul yang beraliran kiri “hilang” dalam huru-hara politik “reformasi” menjelang tumbangnya Soeharto dan Orde Baru.

Dalam perjalanan meniti buih gelombang politik Orde Baru, sastera Indonesia juga beberapa kali dipanaskan oleh beberapa kali “Perang Sastera” yang polemiknya menghangati halaman-halaman koran dan majalah Indonesia serta beberapa perdebatan di forum-forum diskusi sastera.

Antara lain beberapa “Perang Sastera” yang cukup riuh rendah ialah polemik aliran Sastera Kontekstual dengan pengikut aliran Sastera Non-kontekstual, Aliran Sastra Pusat/Jakarta melawan Kelompok Revitalisasi Sastera Pedalaman, Aliran Puisi Gelap melawan Puisi Bermakna. Dan akhirnya…Perang Dahsyat aliran Sastera Bermoral melawan penggiat aliran Sastera Seks dan Neo-liberalisme-imperialisme dalam masa yang belakangan ini.

PERANG YANG AKAN LATEN

Pemicu perang ini marak di media massa justru pihak “sastra amoral”. Sejarah memang dapat dirunut dari “Reformasi Politik” di Indonesia. Kejatuhan rezim Orde Baru Soeharto yang korup justru menghasilkan pemimpin-pemimpin baru yang tidak kalah bajingannya dengan zaman Soeharto, sehingga rakyat Indonesia makin terpuruk ke jurang kehancuran.

Para pemimpin baru yang merupakan “pengkhianat reformasi” itu berkorupsi secara terang-terangan dan mengkhianati rakyat dengan membusung dada, meski para pemimpin baru tersebut banyak yang berlatar belakang ulama dan kyai.

Satu-satunya yang bisa dinikmati orang banyak ialah kebebasan tanpa batas, karena kebebasan itu adalah hal yang paling langka didapatkan di zaman Soeharto, maka rakyat Indonesia seakan-akan tenggelam dalam “euforia” kebebasan.

Mereka membebaskan diri untuk berbuat apa saja yang selama ini terlarang : membunuh dan membakar orang-orang gila yang dicurigai sebagai pencuri di jalanan, membunuh dan menganiaya para kyai dan ulama di beberapa tempat Indonesia, lalu kepalanya dipasang di tongkat kayu dan diarak di jalanan, melambungkan kembali tokoh-tokoh dan sastrawan-seniman komunis yang dulu terkekang dan terpenjara, sambil menghujat dan melecehkan sastra-sastra Islami, dan puncaknya ialah ketika “Dewan Kesenian Jakarta” yang notabene dibiayai dengan uang Negara alias pajak rakyat, pada tahun 1998 memenangkan novel seks vulgar “Saman” karya Ayu Utami sebagai juara pertama dengan pujian “novel yang bahasanya berkilau-kilau bagaikan kristal”.

Disamping itu, karya para sastrawan kiri dilambungkan di mana-mana. Karya-karya Pramudya Ananta Toer menjadi pajangan di semua rak toko buku dan menjadi karya yang dibicarakan,dipentaskan dan dirayakan di seluruh Indonesia selama bertahun-tahun.

Sebaliknya, karya-karya HAMKA ditenggelamkan di sudut rak tersembunyi dan tak ada yang membicarakan, kalaupun ada yang membicarakan pasti dengan sinisme mengenai beberapa kelemahan novel-novelnya. Begitulah situasi Indonesia pasca reformasi.

Diikuti kemudian, penerbitan novel “Supernova “ yang penuh adegan senggama secara terus terang karya Dewi Dee Lestari, seorang penyanyi pop, yang pelancarannya didukung dan dipuji oleh sastrawan dan kritikus senior, maka mulailah satu persatu karya tulis seks terbit dan dipuji dan dihantarkan oleh sastrawan senior, dan lahirlah era karya tulis seks vulgar dan atheisme disebut “sebagai karya sastra unggulan zaman mutakhir” di Indonesia.

Sutardji Calzoum Bachri, Maman S Mahayana ( mula-mula membela sastra seks tapi kemudian plin-plan terkadang mengkritik terkadang membela—meski dengan sok memakai gaya bahasa bercanda ) , Faruk HT ,Tommy F Awuy, M Fadjroel Rachman, dan beberapa lagi, menjadi sahabat karib para selebritis “sastrawangi”, yakni para novelis dan cerpenis seks yang kebanyakan memang berjantina wanita, dan tak jarang mereka adalah sudah berprofesi sebagai artis dunia industri hiburan pop.

Diantara mereka dengan bangga mendemonstrasikan diri mereka di depan publik bergandengan tangan, berpelukan, duduk berrangkulan dan bahkan berpangku tubuh dan berciuman “persahabatan” di depan para sastrawan lain yang “ngiler” melihat perilaku “snob” tersebut.

Hal itu adalah dikarenakan mereka mencoba membahagiakan para sastrawati seks itu dengan mencoba memahami dan mengapresiasi karya-karya mereka dengan “bijaksana” , misalnya M.Fadjroel Rachman menulis apresiasi semacam …“….seks di tangan para penulis perempuan itu adalah upaya merumuskan kembali identitas seksual mereka sebagai perempuan,mengatasi dan membongkar dominasi konstruksi sosial yang selama ini menjadikan perempuan sebagai manusia kelas dua ( second sex ). Yaitu konstruksi sosial yang memusuhi tubuh dan organ kelamin perempuan….” (lihat Media Indonesia 2 September 2007).

Sejak itu, novelis-novelis wanita yang jelita, seperti Ayu Utami, Dewi Dee Lestari, Jenar Mahesa Ayu,Fira Basuki,Nova Riyanti Yusuf, Dinar Rahayu,Mariana Amirudin,yang sebelumnya tak pernah terdengar namanya di blantika tulis-menulis, tiba-tiba bagai meteor melejit di jagat sastra Indonesia mengalahkan ribuan sastrawan yang memahat nama dengan keringat,darah dan air mata.

Disemangati kondisi yang menggiurkan itu, maka beberapa sastrawan pria yang amoral dan mengaku atheis, mulai menggalakkan penulisan cerpen, puisi dan novel yang sadis,amoral, atheis dan merumuskan nama-nama kelamin dan alat genitalia secara blak-blakan. Hudan Hidayat memilih bentuk cerpen dan novel, Binhad Nurrohmat memilih puisi dan esei yang memuja tubuh dan melecehkan moral dan nilai-nilai agama,juga ada beberapa nama yang secara ekstrem menghina agama dan Tuhan/Allah SWT, seperti Muhidin Dahlan dan sebagainya. Juga muncul sastrawan/sastrawati yang mencoba mengkritisi seksualitas dalam agama lain seperti Hindu, misalnya sastrawati Oka Rusmini dan Pranita Dewi.

Itu adalah gejala puncak yang muncul semarak di semua media massa, dan diketahui secara umum oleh publik. Di balik puncak gunung es itu, berlakulah banyak peristiwa dengan motif sama. Banyak nama-nama sastrawan seks dan atheis yang baru muncul mengikuti “booming” yang menggiurkan itu, misalnya : Stefani Hid, Herlinatins, Naning Pranoto, Clara Ng, Henny Purnamasari, Triyanto Triwikromo,Chavchay Syaefullah,Jimmi Maruli Alfian,dan banyak lagi,yang tidak terlalu muncul secara moncer di media massa.

Sebaliknya, para sastrawan yang religius, peduli sosial dan kemanusiaan,ditenggelamkan oleh politik media massa yang dikuasai oleh para pemodal besar non muslim, seperti Kompas,Koran Tempo,Media Indonesia,Suara Pembaruan,Sinar Harapan,Jawa Pos dan sebagainya.

Bahkan Republika yang koran berwarna Islam, juga lebih suka memuat para sastrawan seks dan atheis ketimbang para sastrawan Islami dan peduli sosial, meski karya-karya para sastrawan seks dan atheis itu dipilih oleh redaktur Republika yang khusus bernuansa netral atau menyembunyikan atheisme dengan rapi.

Akhirnya, agar tidak jumbuh,lalu ada kebijakan baru Republika di tahun 2009, yang menghapus ruang sastra budaya selama beberapa bulan, dan kemudian muncul lagi dengan format baru, yaitu FULL ISLAM dalam bentuk DIGEST, yakni memuat dan membahas karya-karya sastra lama , semisal karya-karya Hamzah Fansuri, Barzanji dari zaman sastra Arab kuno dan sebagainya. Jadi, tidak memuat karya-karya kreatif baru kiriman penulis sastra modern Indonesia.

Tapi kemudian berkembang lagi, yang terkini adalah memuat secara fifty-fifty : karya sastra Islami kuno dan karya sastra Islami baru, tapi dari para penulis baru yang kadar sastranya belum matang, namun yang penting adalah “Islami”. Redakturnyapun bukan lagi sastrawan ternama Ahmadun Yosi Herfanda,melainkan redaktur biasa saja.

Yang menyedihkan, HORISON sebagai majalah sastra paling berwibawa, juga banyak memuat karya-karya bernuansa atheis dan memuja seks secara tersembunyi, itu dikarenakan para redakturnya adalah para liberalis. Jadi, Taufiq Ismail kecolongan di kandangnya sendiri.

Dalam beberapa proyek besar yang diselenggarakan Horison maupun yang didukung Horison, seperti SBSB ( Siswa Bertanya Sastrawan Bicara ) , lomba resensi tingkat nasional, antologi sastra dan sebagainya, karya-karya para sastrawan seks dan atheis serta sastrawan nonsense, banyak yang diikutsertakan. Sedangkan banyak sastrawan religius dan sastrawan peduli sosial dengan mutu sastra yang tak kalah bagusnya, justru tidak pernah dilibatkan sama sekali, meskipun sastrawan itu beberapa kali puisinya pernah dimuat di Horison dan Kompas.

Puncak ironi sastra Indonesia adalah, lembaga pemerintah Indonesia yang membidangi sastra, yakni Pusat Bahasa—yang memang tidak pernah merangkul sastrawan Indonesia kecuali segelintir sastrawan “KKN” yang orangnya Cuma itu-itu saja, pada tahun 2008, merilis hadiah MASTERA, yang justru diberikan kepada pelopor sastra seks generasi 2000-an, yakni Ayu Utami dengan novel “Saman”nya yang amat pornografis.

SASTRAWAN MEMPROTES HADIAH NEGARA UNTUK SASTRA SEKS

Penghargaan yang diberikan kepada Ayu Utami sempat mengundang tanda tanya banyak pihak, termasuk para peserta seminar. Mereka terkejut, di tengah semangat untuk menegakkan moralitas bangsa-bangsa serumpun Melayu melalui sastra, justruMastera memberikan penghargaan kepada seorang penulis perempuan yang mendukung GSM (gerakan seks merdeka– pinjam istilah Taufiq Ismail), menolak lembaga perkawinan, dan menganggap penegakan moral sebagai penindasan. Sementara itu, mereka –sastrawan seks dan para pembelanya– tidak mau perduli, kalau misalnya ulah mereka telah dinilai oleh banyak pihak sebagai menindas dan meresahkan masyarakat banyak.

Pada banyak tulisan dan kiprahnya, Ayu Utami berpihak pada pornografi dan kebebasan seks, sementara para anggota Mabbim dan Mastera menyatakan sedang memerangi pornografi dan kebebasan seks. Jadi, amat ironis dan bertolak belakang.

Ayu Utami , selain menulis novel Saman yang kontroversial, misalnya, juga pernah menjadi redaktur pelaksana majalah X-Magazine — majalah softporn yang lebih porno dibanding Playboy Indonesia.

Di majalah itulah Ayu Utami menulis kolom-kolom yang sangat vulgar sambil mempromosikan kebebasan seks. Menurut Wowok Hesti Prabowo dalam sebuah kritiknya yang dimuat di Republika : “…dalam salah satu eseinya yang menceritakan pengalamannya berselingkuh dengan banyak lelaki, Ayu Utami bahkan terkesan melecehkan kaum santri dengan mangatakan salah satu pasangan selingkuhnya yang santri selalu shalat dulu sebelum naik ranjang untuk bersetubuh dengannya.

Karena itu, wajar kalau banyak pihak merasa heran Penghargaan Mastera dapat jatuh kepada Ayu Utami , sebab itu berarti Mastera mengingkari perjuangannya sendiri untuk melawan pornografi dan kebebasan seks melalui kegiatan sastra. Dipilihnya Ayu Utami, menjadikan upaya Mabbim dan Mastera untuk menegakkan moral bangsa menjadi semacam ‘dagelan’ semata. Apalagi harus diingat, bahwa uang yang dipakai untuk Hadiah Mastera adalah uang Negara, hasil pajak dari keringat dan darah rakyat.

Bagi alumni Mastera, Hadiah Mastera adalah salah satu penghargaan yang diberikanMastera kepada penulis muda dari tiga negara pendiri Mastera, yaitu Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia. Selain Hadiah Mastera kepada penulis muda yang diberikan oleh Indonesia, ada pula Anugerah Mastera (diberikan kepada Tokoh Sastra dari tiga negara, oleh Brunei Darussalam) dan Penghargaan Mastera (untuk karya-karya fiksi dan non fiksi terbaik, diberikan oleh Malaysia).

Hadiah Mastera mulai diberikan tiga tahun lalu, setiap Indonesia menjadi tuan rumah bagi pelaksanaan sidang dan seminar Mastera. Berdasarkan keputusan dari tiga negara pendiri Mastera, hadiah tersebut ditujukan bagi alumni peserta program penulisan Mastera. Program ini sudah melahirkan banyak penulis/sastrawan yang bermutu, dan untuk mengapresiasinya, Mastera memberi semacam hadiah khusus bagi alumnus yang dinilai sangat pesat perkembangan kepenulisannya dari segi kualitas maupun produktivitas.

Program penulisan Mastera, dimulai tahun 1997, dengan program penulisan puisi, kemudian setiap tahun berturut-turut program penulisan cerpen, novel, esai dan drama. Para pesertanya dipilih berdasarkan rekomendasi sastrawan senior, pantauan terhadap karya mereka di media, dan pengajuan diri. Program tersebut diperuntukkan bagi sastrawan di bawah 35 tahun (untuk Indonesia Timur di bawah 40 tahun), sudah menerbitkan minimal satu buku dan atau lima karyanya pernah dimuat di media nasioanal.

Saat ini ada sekitar 70 orang lebih , alumni program penulisan Mastera. Di antara mereka adalah Oka Rusmini, Jamal D Rahman, Agus Noor, Joni Ariadinata, Hudan Hidayat, Arief B Prasetyo, Asma Nadia, Ode Barta Ananda, Nenden Lilis A, Viddy AD Daery, Wowok Hesti Prabowo, Ngarto Februana, Yatty Setiawan, Iyut Fitra, Ahmad Syubbanudin Alwi, Cecep Syamsul Hari, dan Dindon WS.

Menurut Wowok HP, para penerima penghargaan sewajarnya dipilih oleh juri independen, 3 dari luar anggota Mastera, dan 2 orang pakar Mastera negara masing-masing. Jadi pemenangnya bukanlah pilihan Mastera di tingkat internasional, melainkan pilihan Mastera di negara masing-masing. Brunei Darussalam dan Malaysia atau Singapura sebagai negara pemerhati Mastera, tidak memilih peraih penghargaan dari Indonesia. Begitu pula sebaliknya. Tiap negara memilih pemenang dari negara mereka sendiri.

Ketika lalu Ayu Utami menerima Hadiah Mastera untuk penulis muda, mewakili Indonesia, banyak yang terkejut. Bukan hanya para sastrawan Indonesia saja, Malaysia dan Brunei malah nyaris tak percaya. Hadiah Mastera buat Ayu Utami memunculkan banyak pertanyaan. Pertanyaan yang juga mungkin harus bisa dijawab dan dipertanggunngjawabkan oleh para juri.

Pertama, Ayu Utami bukan alumnus program Mastera. Jelas ada kesalahan prosedur di sini, karena penghargaan ini diberikan hanya bagi alumni peserta program Mastera. Nurfiks Brunei dan Siti Jasmina, pengarang muda penerima penghargaan dari Brunei dan Malaysia, adalah peserta program Mastera dari negara masing-masing.

Kedua, selama lima tahun terakhir, Ayu Utami tidak melahirkan karya yang mencuri perhatian para kritikus sastra maupun publik sastra. Karya sastranya yang terakhir, Larung (Gramedia), terbit tahun 2001. Buku berikutnya, Si Parasit Lajang; Seks, Sketsa dan Cerita (Gagas Media), yang terbit tahun 2003, adalah sekumpulan tulisan unek-unek belaka, yang mengajak orang untuk tidak menikah.

Naskah drama yang disebut-sebut sebagai karyanya, Sidang Susila, yang baru-baru ini dipentaskan, adalah karya bersama Agus Noor. Lalu bagaimana mungkin, pengarang dengan karya sastra yang nyaris mandul selama lima tahun terakhir diberikan penghargaan level internasional seperti Mastera , yang salah satu kriterianya melihat karya dalam tiga tahun terakhir?

PELECEHAN TERHADAP SASTRA INDONESIA

Menurut Wowok,terpilihnya Ayu Utami juga merupakan pelecehan terhadap sekitar 70 orang lebih alumnus peserta program Mastera lainnya, karena mereka tidak ada yang dianggap layak untuk menerima hadiah tersebut. Padahal Oka Rusmini, Agus Noor, Helvy Tiana Rosa, Joni Ariadinata,Viddy AD Daery dan Jamal D Rahman, sekadar menyebut beberapa nama, sungguh sangat layak menerima penghargaan tersebut. Mereka bukan hanya bagus dari segi karya dan produktif, tetapi juga intens terlibat dalam berbagai kegiatan bimbingan bagi munculnya penulis-penulis baru di Nusantara.

Dengan tidak terpilihnya alumni program Mastera untuk mendapatkan Hadiah Mastera yang ditujukan bagi mereka, berarti program penulisan Mastera yang sudah berlangsung selama lebih dari 10 tahun, telah gagal, karena alumninya dianggap tidak cukup berkualitas, sehingga penulis di luar program tersebut yang dipilih untuk mendapatkannya.

Kalaupun memang penghargaan tersebut harus jatuh ke tangan penulis luar program, rasanya tak ada yang paling pantas mendapatkannya selain salah satu dari dua pengarang yang menghasilkan karya fenomenal luar biasa, yaitu Habiburrahman el Shirazy (Ayat-Ayat Cinta) dan Andrea Hirata (Laskar Pelangi), paling tidak mereka berhak dari segi pencapaian rekor penjualan buku (mega best seller). Namun juri ‘independen’ yang diketuai Sapardi Djoko Damono kabarnya tetap ngotot untuk memenangkan Ayu Utami.

Itu pula hal yang mungkin membuat Pusat Bahasa sebagai panitia Mastera Indonesia tak bisa berbuat apapun dan akhirnya terpaksa membuat “keputusan tambahan” dengan memberikan penghargaan ‘mendadak’ bagi Habiburrahman el Shirazy (“Hadiah Khusus Pusat Bahasa”), untuk mengalihkann perhatian kita dari persoalan Hadiah Mastera tahun 2008.

Kemenangan Ayu Utami merupakan keanehan dan preseden buruk bagi sastra Indonesia hari ini. Publik sastra dan masyarakat kita lagi-lagi ‘dibodohi’ oleh konspirasi yang tak sehat para ‘mafia’ sastra. “Karena itu, ketua Mastera perlu untuk meninjau kembali, bahkan membatalkan Hadiah Mastera yang diterima Ayu Utami itu” , demikian penutup kritik Wowok HP di rubrik Sastra Republika.

KOMUNITAS UTAN KAYU

Komunitas Utan Kayu (KUK) yang lebih terkenal di publik dengan nama TUK (Teater Utan Kayu, yang dalam istilah bahasa Jawa, Tuk mempunyai makna mata air), dipimpin dan disponsori oleh sastrawan senior pro atheisme, Goenawan Mohammad yang kaya raya sebagai salah satu majikan kelompok media massa TEMPO dan anak-pinaknya, menjadikan kelompok / komunitas itu sebagai pelindung utama jenis-jenis sastra atheis dan liberal.

Markas mereka berada di tepi jalan raya Utan Kayu , Jakarta, hanya beberapa ratus meter dari rumah sastrawan Taufiq Ismail yang merupakan “musuh utama” dari Kelompok Utan Kayu. Kantor majalah sastra Horison juga berada di daerah Utan Kayu, namun agak masuk ke dalam gang jalan.

Di situlah (Komunitas Utan kayu), bergabung para sastrawan semacam Nirwan Dewanto (anti Islam), Sitok Srengenge (sastrawan seks dan nonsens-isme yaitu mendewakan karya-karya yang anti-manfaat) dan Ayu Utami (novelis seks) serta Nukila Amal (sastrawati nonsense—yang banyak mengeksplorasi sastra yang remeh temeh dan anti manfaat).

Di TUK, disamping bermarkas satu kelompok kajian yang banyak menghancurkan nilai-nilai dan akidah Islam , yakni JIL (Jaringan Islam Liberal) , juga banyak bersarang para aktifis komunis dari Partai Rakyat Demokratik (PRD), juga beberapa kelompok usaha penerbitan, radio dan kelompok kajian sosial-politik yang berorientasi kiri,atheis dan liberal.

Sedangkan untuk menunjang gemuruh sastra aliran KUK-TUK yang amoral, nonsens,seksisme,atheis,dan liberal,Goenawan Mohammad merogoh kantongnya cukup besar ditambah meminta sumbangan dari lembaga asing yang sangat anti Islam, untuk membiayai kehidupan “Teater Utan Kayu” , Jurnal Sastra KALAM, penerbitan buku-buku sastra-budaya liberalisme, kegiatan diskusi, pementasan dan pameran, serta berbagai event penghargaan sastra budaya khusus kepada sastrawan aliran atheis dan liberalis,serta pengiriman para sastrawan atheis dan liberalis ke forum-forum pertemuan sastra tingkat Internasional di berbagai belahan dunia.

Yang terkini, KUK-TUK berhasil membangun Gedung Salihara yang megah di wilayah Pejaten,Jakarta Selatan dekat dengan kantor harian Republika, ironisnya adalah, Republika konon kini sebagian sahamnya dibeli oleh investor Yahudi dari Irlandia. Yang menjual saham Republika ke investor Yahudi adalah Erick Tohir, seorang Cina yang mula-mula membeli saham Republika hanya dengan uang Rp 10 milyar . Untuk sumber berita ini silahkan periksa internet antaralain di www.google.co.id, yang antara lain bersumber dari website “Kaskus” dan “ppiindia” .

Pada mulanya kehadiran KUK tidak menimbulkan gejolak, malahan banyak pihak yang mengaguminya, karena keseriusan mereka memperjuangkan nilai-nilai sastra, bahkan semboyan Goenawan Mohammad yang diamini oleh para pengikutnya ialah “membuat yang remeh temeh menjadi bermakna” atau “membuat sesuatu yang kelak retak dapat bernilai dan berguna…”

Semboyan ini justru menjadikan KUK semakin mendewakan seni remeh temeh. Maka KUK memberi penghargaan berlebihan untuk sastra yang hanya membicarakan celana dalam, sikat gigi, daun, pasir, debu, salju, bahkan khayalan yang tanpa tujuan,misalnya negeri dongeng, sastra absurd paling absurd di dunia,dan sebagainya dan akhirnya malah mengutamakan yang nonsense dibanding sastra yang lebih peduli masalah sosial.

Dalam seni tari dan teater juga lebih menghargai tari-tari yang Cuma meliuk atau berkelojotan atau sempoyongan dengan busana minim hampir telanjang dibanding tari tradisional yang indah. Dalam teater juga lebih mengutamakan teater yang Cuma berteriak-teriak atau diam sepanjang jam atau beradegan seks di atas panggung, ketimbang pementasan teater cerita yang konvensional.

Dalam senirupa juga lebih diutamakan eksplorasi benda-benda aneh atau absurdisme. Hanya yang bermuatan atheisme, komunisme, pornografi dan kebudayaan Cina, yang masih ditoleransi oleh KUK untuk tampil secara konvensional.

Diskusi-diskusi filsafat dan pemikiran Barat ataupun Timur, lebih diutamakan kepada yang memuja atheisme, pornografisme, liberalisme dan yang menghancurkan Islam dari dalam.

Dalam esei-eseinya di “Catatan Pinggir” majalah TEMPO (majalah TEMPO juga beredar di Malaysia ,Singapura dan Brunei) , Goenawan Mohammad memang sangat memuja atheisme dan sangat melecehkan agama terutama agama Islam.

Toh begitu, publik Indonesia masih apresiatif terhadap KUK dan Goenawan Mohammad cs. Mereka menjadi selebriti yang didewakan di berbagai lapisan sastra Indonesia. Lembaga Islam, Kristen maupun Hindu dan Konghucu,menghargai orang-orang KUK dengan penghormatan yang tinggi meskipun jelas-jelas mereka anti agama terutama agama Islam.

Koran Republika dan majalah Horison tidak sekali dua bahkan sering mengundang mereka bicara, mewawancarai mereka dan menokohkan mereka di beberapa penerbitan mereka.

Justru para sastrawan Islami dari kelompok FLP (Forum Lingkar Pena) yang dipimpin Helvy Tiana Rosa, maupun para sastrawan peduli sosial, sama sekali tidak pernah dihargai oleh banyak pihak di Indonesia. Beberapa sastrawan yang dilupakan itu, meski karya-karya mereka sering dimuat di banyak media massa Indonesia dan luar negeri, akhirnya lebih dihargai di Malaysia, Singapura dan Brunei.

Lalu datanglah kesalahan dari orang-orang KUK : yaitu mereka merasa superior dan paling pintar di Indonesia, dan mulai melecehkan orang-orang yang bukan “teman dan konco” KUK. Bahkan para sastrawan yang memuja atheisme,absurdisme dan pornografi, namun karena bukan “kelompok atau konco KUK” seperti Hudan Hidayat, Edy A Efendi, Chavchay Syaefullah,Saut Situmorang dan sebagainya, juga dilecehkan oleh orang-orang KUK, maka apalagi para sastrawan yang anti aliran KUK atau anti aliran atheisme, absurdisme dan pornopraksis.

Maka, beberapa sastrawan yang alirannya persis KUK akan tetapi benci kesombongan KUK mulai menyebar kritik di beberapa forum diskusi, seperti Hudan Hidayat, Edy A Efendi, Saut Situmorang dan Chavchay Syaefullah. Namun mereka tidak berani melancarkan kritik secara terbuka di Koran dan hanya berselindung di forum diskusi kecil-kecilan. Bahkan pada forum diskusi resmi yang diselenggarakan secara besar-besaranpun mereka tidak berani melancarkan kritik , kecuali kritik terselindung dan tidak berani menyebut terang-terangan nama lembaga Teater Utan Kayu.

MAKA DIMULAILAH “PERANG” ITU : TAUFIQ ISMAIL, WOWOK , VIDDY MELAWAN TERUS TERANG

Maka dimulailah “Perang” itu : Pada acara Pidato Kebudayaan di TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta 20 Disember 2006, Taufiq Ismail, sastrawan senior dan redaktur senior majalah Horison, banyak membicarakan kerisauannya terhadap kehancuran bangsa Indonesia , terutama kehancuran yang disumbang oleh para sastrawan dan seniman pornopraksis.

Pidato itu sebenarnya tidak pernah ditanggapi oleh TUK/KUK yang menjadi pihak yang paling terkena serangan Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail. Maka, lama kelamaan nuansa pidato anti sastra seks dan komunisme itupun menguap dan dilupakan begitu saja.

Namun dalam hati nurani beberapa anggota KSI (Komunitas Sastra Indonesia), ulah TUK/KUK yang sangat bangga kepada pemikiran asing yang merusak Islam dan bangsa Indonesia, terus menerus mengusik kesadaran. Dalam beberapa forum pertemuan, antara lain di Medan International Poetry Gathering pada 25-28 Mei 2007 di Hotel Sri Deli Medan, niatan untuk membendung kejahatan TUK/KUK sudah dibicarakan oleh Viddy AD Daery dan Ahmaddun YH serta Idris Pasaribu, meski ditentang secara keras oleh beberapa peserta , misalnya Binhad Nurrohmat dan Isbedy Stiawan ZS.

Maka, dalam sebuah diskusi kecil “Komunitas Sastra Indonesia” (KSI) yang dimotori Wowok Hesti Prabowo, Viddy AD Daery dan Ahmaddun Yossi Herfanda di rumah Ahmaddun di Pamulang,Banten,beberapa minggu setelah pertemuan di Medan, terbetik tekad KSI ataupun orang-orang KSI yang berani, untuk melawan dominasi aliran sastra KUK yang menghancurkan bangsa.

Berbagai strategi perlawananpun disusun, antara lain akan menerbitkan “Jurnal Boemiputra” yang dijadikan wadah dan sarana untuk melawan dan membendung kesombongan TUK/KUK. Hal itu disebabkan oleh kenyataan, bahwa 99 % media massa Indonesia adalah pro KUK-TUK atau bersimpati terhadap KUK-TUK atau bahkan milik jaringan holding company KUK-TUK.

Rencana ini dicium oleh Edy A Efendi dan Chavchay Syaefullah yang juga membenci TUK/KUK dan kebetulan bekerja di akhbar Media Indonesia yang sebenarnya beraliran TUK/KUK dalam semua kebijakan redaksional sastra budayanya.

Maka, Wowok HP diwawancara oleh Media Indonesia (MI) dan dalam MI keluaran 16 June 2007 dengan lantang Wowok menyatakan bahwa Gunawan Mohamad dan kelompok TUK/KUK adalah agen imperialisme karena memperjuangkan pemikiran-pemikiran asing yang menghancurkan nilai-nilai kearifan lokal.

Secara kebetulan, di Jawa Pos, akhbar yang banyak memberi kesempatan para sastrawan perusak Islam, dalam edisi Ahad 6 Mei 2007 Hudan Hidayat menulis serangan terhadap pemikiran Taufiq Ismail yang anti pornografi dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an secara ngawur dan semberono.

Tetapi anehnya tidak ada ummat Islam Indonesia yang tersinggung dengan ulah Hudan Hidayat tersebut kecuali Viddy AD Daery. Beberapa sastrawan terkenal maupun tidak, bahkan berramai-ramai menulis di Jawa Pos mendukung Hudan Hidayat dan ikut mengkritik pedas Taufiq Ismail. Bahkan orang-orang Horison yang notabene para anak buah Taufiq Ismail, tidak ada yang membela bosnya, karena memang sesungguhnya di dalam hati mereka adalah sefaham dan sefikiran dengan Hudan Hidayat, bahkan beberapa redaktur Horison sebenarnya memang pro-PKI (Partai Komunis Indonesia).

Maka, Viddy AD Daery menulis esei di Republika Ahad 1 Julai 2007 dengan menghajar dua pihak, yakni Hudan Hidayat yang menulis serangan terhadap Taufiq Ismail dengan mengutip ayat-ayat Tuhan secara salah, dan TUK/KUK yang dihajar Wowok HP, karena memang merupakan penyebar pemikiran atheis, seks-pornopraksis, nonsense dan imperialisme.

Esei Viddy mendapat reaksi keras dari salah satu orang TUK/KUK, yakni sastrawan Veven SP Wardhana di Republika Ahad 15 Julai 2007, yang menyebut Viddy membuat “Neo Takhayul” karena menobatkan TUK/KUK sebagai lembaga perusak kebudayaan Indonesia.

Tetapi kemudian berbondong-bondong muncul pembelaan terhadap Viddy dan menyatakan bahwa memang TUK/KUK adalah penyebar “ajaran sesat” berupa pemikiran-pemikiran neo-liberalisme yang berpotensi menghancurkan kearifan lokal dan keunggulan-keunggulan tradisi tempatan. Firman Venayaksa, Mahdiduri, Sunaryono Basuki KS, Kusywadi Syafi’I dan sebagainya berbondong-bondong “meletakkan dirinya di barisan jalan kebenaran” (meminjam istilah Kusywadi Syafi’i).

Maka perangpun berlangsung riuh rendah di jagat sastra Indonesia, dan melibatkan akhbar-akhbar nasional semacam Jawa Pos, Republika dan Media Indonesia, disamping juga penerbitan terbatas seperti “Jurnal Boemiputra” dan ramai pula bersahut-sahutan diskusi dan caci-maki di milis-milis internet meramaikan perang sastera mutakhir di Indonesia itu. Terutama Saut Situmorang yang terkenal menghantam KUK-TUK dan Goenawan group dengan bahasa kasar dan bergaya “premanisme”.

Bahkan milis-milis Internasional, seperti Zikir Group asuhan Datok Kemala dan SPM-GAPENA asuhan SM Zakir dari Malaysia ikut aktif memantau dan menyebarkan perkembangan “Perang Sastera Indonesia” tersebut meski tidak ikut melibatkan diri dalam kancah perdebatan.

Goenawan Mohamadpun berreaksi, meskipun tidak dengan jalan menulis tanggapan langsung, namun melalui komentarnya yang dimuat di beberapa situs internet,dan juga dalam wawancara yang dimuat di majalah porno-untuk kaum dewasa “Playboy Indonesia”–meski bukan komentar yang terkait secara langsung .

Sitok Srengenge juga melakukan protes keras terhadap Media Indonesia melalui artikelnya “Empat Dusta” yang dimuat di MI Ahad 2 September 2007 , dan berdasarkan ketakutan terhadap artikel protes itu mengakibatkan MI kembali ke “jalur memberi porsi besar-besaran lagi aliran sastra seks dan atheisme, nonsense dan absurdisme” sebagaimana yang dilakukan MI selama bertahun-tahun.

Perkembangan terkininya, kemudian MI memutuskan untuk menghapus rubrik sastra secara permanen sampai kini. Yang lebih tragis, beberapa wartawan MI yang memusuhi TUK/KUK/Goenawan Mohammad, dipecat oleh manajemen MI.

POST SCRIPTUM

1.Perang Sastra ini menurut saya, akan berlainan sifatnya daripada perang-perang yang terjadi sepanjang sejarah sastra di Indonesia, karena kali ini sifatnya lebih mendasar : MORAL vs AMORAL. Beda dengan zaman Balai Pustaka yang bersifat politik : pro Belanda dan tidak pro Belanda atau soal martabat, yakni bermartabat tinggi karena menggunakan bahasa rasmi vs bahasa pasaran yang berderajat rendah.

Juga beda dengan zaman Pujangga Baru yang hanya berdasarkan soal kiblat budaya : Barat yang rasional dan Timur yang irrasional. Bahkan beda dengan zaman LEKRA yang riuh rendah dan sadis karena penuh gertak dan ancaman : karena mengenai aliran sastra individualistis dan eksperimental vs sastra yang mengabdi kepada politik kerakyatan komunisme.

Pada perang kali ini, menyangkut eksistensi suatu bangsa. Aliran amoral sangat membahayakan eksistensi suatu bangsa, karena suatu bangsa diajak amoral, atheis, tanpa martabat. Sedang aliran pro-moral berjuang menjaga dan meninggikan martabat bangsa. Perang ini akan sulit diprediksi kapan akan selesai, karena masalah bangsa adalah masalah yang krusial, sementara para pembela aliran itu sama-sama kerasnya memperjuangkan aliran masing-masing. Tidak tertutup kemungkinan perang sastra ini pada akhirnya nanti menjadi perang ideologi dan dilumuri adu fisik, meskipun mungkin tidak dalam waktu dekat ini.Toh begitu, tanda-tanda beberapa pengikutnya (yang bukan merupakan aktor utama dan penting) mulai saling tantang menantang untuk beradu fisik sudah beberapa kali terjadi, meski belum ada insiden.

2.Dalam perjalanannya, ada pula beberapa kejumbuhan, karena pada masing-masing aliran terdapat beberapa pengikut yang secara asasi mempunyai persilangan kekhasan. Pembela aliran amoral dan seks serta atheisme , disamping merupakan orang-orang atheis, liberalis dan politikus licik, juga terdapat beberapa orang yang jujur dan alim, yaitu mereka yang “pandai tapi bodoh” karena tidak tahu di pihak mana ia berdiri seharusnya.

Namun di pihak sastra pembela moral, juga terdapat beberapa sastrawan preman peminum bier dan arak, bahkan mereka menulis sastra seks dan atheisme juga, hanya saja mereka merasa muak dengan kesombongan kelompok KUK/TUK yang sangat sok selektif memilih “teman” , jadi motif utama sastrawan preman peminum arak itu tentu hanya karena faktor kemarahan karena disisihkan oleh sastrawan amoral yang seharusnya menjadi teman mereka.

Pertempuran mereka ini justru berlangsung kasar, banal, licik dan “amoral”, namun tidak di akhbar rasmi semacam Media Indonesia, Jawa Pos, Republika dan beberapa lagi, namun berlangsung seru di internet : di milis-milis dan situs-situs maupun saling serang ke email pribadi.

Disamping itu, siantara mereka, ada juga yang berhasil menyusup ke dalam jajaran redaksi “Jurnal Boemiputra” sehingga banyak pihak yang menilai bahwa “Jurnal Boemiputra” bahasanya menjadi kasar dan kurang intelektual,bahkan dalam perilaku “politik bersastranya”. Karena itu, beberapa redaksi “Jurnal Boemiputra” yang masih mempunyai intelektualitas dan moral standar, memilih “no comment” saja, ketika tiba-tiba nama mereka “dicopot” dari daftar susunan redaksi “Jurnal Boemiputra” semenjak edisi Juli 2009. Mereka merasa rugi berlama-lama berada di “Jurnal Boemiputra” karena semakin lama, Jurnal tersebut semakin jatuh ke “standar ganda” yang mencederai intelektualitas.

3.Seluruh riuh-rendah perang sastra Indonesia ini sebetulnya adalah akibat kesalahan pemerintah atau khususnya Pusat Bahasa yang tidak bijak dalam “mengelola” sastra Indonesia, sehingga sastrawan dibiarkan keleleran dan kelaparan, lalu membentuk kubu-kubu pertahanan sendiri untuk mencari makan bagi kelompoknya masing-masing. Orang-orang Pusat Bahasa hanya sibuk berkorupsi dan menciptakan proyek-proyek yang kurang menyentuh eksistensi sastrawan Indonesia.

Apalagi kemudian Pusat Bahasa dengan gampang lalu mencomot tokoh-tokoh yang menjadi puncak-puncak masing-masing kelompok, tak perduli apakah kelompok itu atheis, komunis,liberalis, seks pornografis dan nonsense, tetap saja dicomot dan diajak terlibat proyek, sehingga para sastrawan yang menjaga moral dan martabat bangsa, namun karena mereka bukan tokoh-tokoh puncak—karena tidak didukung oleh pembai’atan media massa yang pro sekularisme dan liberalisme—maka para sastrawan penjaga moral bangsa tadi memendam rasa sakit hati.

4.Ironisnya, majalah Horison sendiri juga melakukan hal yang sama dengan Pusat Bahasa, padahal tokoh utama majalah Horison yaitu sastrawan senior Taufiq Ismail justru merupakan penggerak utama pengganyangan terhadap sastrawan-sastrawan pemuja seks, atheis dan amoralis.Hal itu terjadi, karena sesungguhnya Taufiq Ismail kebobolan di kandang sendiri, karena para anak buahnya adalah juga pembela atau setidak-tidaknya penghormat (fans) sastra seks, atheis, liberalis dan amoralisme.

5.Tanpa campur tangan dan keperdulian pemerintah untuk “mengelola” dan “menjembatani” pertempuran sastra ini, saya tidak tahu, bagaimana jadinya perkembangan perang sastra Indonesia ini. Dan sekali lagi saya berani mengatakan : pertempuran ini akan berlangsung laten dan lama, tidak seperti prediksi beberapa orang yang mengatakan bahwa seperti perang-perang sastra Indonesia yang lalu, kasus ini akan timbul-tenggelam,timbul lagi dan segera tenggelam. Tidak,tidak! Kasus ini lain, karena menyangkut eksistensi dan martabat suatu bangsa! Dari perang ini akan ditentukan : Indonesia adalah Negara bangsa yang bermartabat atau sampah kehidupan!!! Nauzubillahi min ndzaalik!!!
***

**) Penyair, novelis, eseis, budayawan.
*) Makalah yang sudah dibacakan pada “Pesta Penyair Nusantara (PPN) III”di Dewan Bahasa dan Pustaka ,KL, Malaysia, 20-22 November 2009.
Dijumput dari: http://ahmadsamantho.wordpress.com/2014/05/09/bagaimana-situasi-perang-sastera-di-indonesia/