DARI DISKUSI PENTAS DUA BAHASA;

TEATER TIDAK ADA KETIKA NASKAH DIBACA
Acep Iwan Saidi *
Pikiran Rakyat, 12 Jan 1997

Beberapa waktu lalu, (24/12/1997), Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (GSSTF) Unpad bekerjasama dengan Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Unpad menyelenggarakan pementasan teater dalam dua bahasa. Naskah yang dipentaskan adalah Purgatory karya W.B. Yeats (dalam bahasa Inggris oleh Sastra Inggris) dan Arwah-arwah (dalam bahasa Indonesia oleh GSSTF) yang diadaptasi Suyatna Anirun dari Purgatory. Pementasan ini kemudian diakhiri dengan sebuah diskusi, menghadirkan Nandi Rifandi (STSI) dan A.J. Adipurwawidjana (Sastra Inggris Unpad yang juga terlibat sebagai aktor dalam pementasan Purgatory).

Peristiwa pementasan tersebut sebenarnya merupakan hal yang menarik. Soalnya, di samping pentas teater dalam dua bahasa jarang dilakukan, di dalamnya kita akan menemukan sebuah perbandingan antara naskah asli yang dipentaskan dan naskah saduran atau hasil adaptasi dari naskah bersangkutan.

Akan tetapi, diskusi yang menyajikan pembicaraan dua akademikus itu justru menjauhkan dirinya dari persoalan tersebut. ”Naskah” dalam pengertian teks yang telah dipentaskan tidak digubris sama sekali. Adipurwawidjana, dosen sastra Inggris yang menyelesaikan program masternya di Kentucky University, AS, hanya berbicara tentang naskah Purgatory sebagaimana ia memberi kuliah di ruang kelas, sedangkan Nandi yang notabene sebagai dosen seni peran pun tidak menyinggung soal pemeranan. Alhasil, pementasan seakan-akan menjadi hal yang percuma.

Hal lain yang penting mendapat tanggapan adalah beberapa tesis yang dikemukakan Adipurwawidjana. Di awal makalahnya, Adipurwawidjana memberikan semacam pandangan filosofis yang mendasari pemikirannya tentang persoalan kesusastraan. Ia memberikan usulan agar tesis yang dikedepankan Rene Descartes, cagito ergo sum (aku berpikir karena itu aku ada) diubah menjadi recito ergo sum atau locuto ergo sum (aku membaca/berbicara karena itu aku ada).

Bertolak dari gagasan itulah, Adipurwawidjana mengusung pembicaraannya ke arah pengkajian naskah mentah (belum dipentaskan) daripada berbicara tentang teks yang telah dimainkan (naskah di atas panggung). Dari sini pula ia mencoba menyikapi naskah Purgatory sebagai naskah yang detail-detailnya harus dibaca dan diperankan sebagaimana petunjuk yang diberikan Yeats. Sebagai seorang yang menempatkan dirinya seorang pengkaji daripada praktisi teater, meskipun ia sendiri berperan sebagai aktor dalam pementasan itu (memerankan tokoh the old man), Adipurwawidjana menempatkan seni peran sebagai seni bacaan. Dengan pembacaan itulah sebuah teks dipentaskan. Singkat kata, Adipurwawidjana ”mementaskan” naskah tersebut dalam bacaan dan diskusi (membaca/berbicara) dengan harapan pementasan yang sesungguhnya menjadi ada.

Dengan pembacaan semacam itu, Adipurwawidjana kemudian melakukan pengkajian terhadap naskah Purgatory dengan berbagai segi yang menyertainya, yakni struktur teks dan unsur-unsur lain yang berada di luar teks. Ia membagi analisisnya ke dalam tiga lingkup persoalan, yaitu pertama, dunia Yeats sebagai penulis Irlandia yang sadar akan identitas keirlandiaannya di satu pihak, tetapi harus menulis dalam bahasa Inggris yang notabene sebagai bahasa penjajahnya di lain pihak. Kedua adalah dunia naskah yang dibatasi oleh kertas tercetak, yakni dunia yang mengisahkan seorang penjaja keliling tua dan putranya bersama puing-puing rumah tua yang menghidupkan kembali kenangan tragis tentang nenek moyang bapak beranak tersebut. Dan yang ketiga adalah dunia para penafsir yang melibatkan penonton, penulis naskah saduran, pengkaji sastra Inggris, sutradara, aktor, dan lain-lain.

Dari pengkajian yang menitikberatkan pada lingkup kedua, yakni naskah yang dibatasi kertas tercatat alias teks, Adipurwawidjana sampai pada kesimpulan bahwa Purgatory adalah naskah yang mandiri, yang tidak bisa dihubungkan dengan Arwah-arwah sebagai adaptasinya dalam bahasa Indonesia. Di akhir makalahnya, Adipurwawidjana menulis, ”dengan segala kegelisahan dan ketidakpuasan yang mencirikan dan mengelilingi Purgatory, apa pula yang dapat kita temukan dalam Arwah-arwah? Menurut kami (sastra Inggris yang mementaskan Purgatory), karena Indonesia bukan Irlandia, Inggris bukan Belanda ataupun Jepang maupun Amerika Serikat dan Suyatna Anirun bukan pula William Butler Yeats, Arwah-arwah bukanlah Purgatory, Arwah-arwah adalah teks yang otonom penuh atas segala potensi dan alternatif makna yang dapat ditafsirkan darinya.”

Tesis yang dikemukakan Adipurwawidjana tersebut sebenarnya sah-sah saja untuk diterima. Siapapun boleh memberikan tanggapan terhadap dunia teater secara khusus dan sastra pada umumnya, mengingat wilayah ini memang wilayah yang sangat terbuka untuk berbagai pemikiran. Akan tetapi, hal itu bukan berarti para penggagas boleh semena-mena di dalamnya. Pementasan tetater adalah sebuah lingkup intelektualitas yang mengalir di atas panggung, yang melakukan suatu lakuan dengan pertimbangan logika dan rasa para aktor di pentas dan kru lain di balik layar.

Hal ini berarti bahwa gagasan Adipurwawidjana, aku membaca/berbicara karena itu aku ada, telah menyesatkan. Sastra memang perlu dibaca, tetapi teater baru ada jika ia diperankan di mana di dalam pemeranan itu ada proses intelektualitas (pemaknaan) para aktor dan sutradara terhadap naskah yang dibaca dan ingin diperankan.

Jika naskah hanya dibaca dan ”diperankan dalam diskusi” atau dikaji sebagaimana Adipurwawidjana melakukannya, teater tidak akan pernah ada. Dan pembacaan Adipurwawidjana yang dilakukan di atas panggung dengan sangat patuh terhadap naskah sehingga detail-detailnya diikuti tanpa sedikitpun melakukan penafsiran terhadapnya adalah kerja yang sia-sia. Di sini, proses intelektualitas dalam berteater dengan serta merta telah dikhianati. (Dan sebenarnya Adipurwawidjana cs telah melakukan kekeliruan yang fatal. Ia menggunakan lighting, make up, dan unsur artistik lain dalam pementasannya, padahal dalam naskah tidak ada permintaan untuk itu).

Maka terlalu pandir jadinya, pada saat Adipurwawidjana ingin mendapatkan makna sebuah karya sastra sesuai dengan yang diinginkan pengarangnya. Dan terlalu sombong kiranya, ketika ia menyebut bahwa itulah naskah asli Purgatory yang telah dipentaskan sebagaimana Yeats menginginkannya yang kemudian juga menunjuk bahwa ”itulah pula Arwah-arwah sebagai sadurannya.” Alhasil, tesis Adipurwawidjana, recito ergo sum atau locuto ergo sum tersebut menjadi gugur dan berantakan. Menurut hemat saya, jika konsep Descartes itu mau “disempurnakan” atau diemansipatoriskan agar tidak hanya menjadi abstraksi di kepala, premisnya adalah “aku berkarya karena itu aku ada.” Dalam berkarya, saya pikir, ada proses berpikir, membaca, dan melakukan sesuatu (baca: pementasan). Dengan cara berpikir seperti inilah teater akan menampakkan adanya.

Kesimpulan lain yang dikemukakan Adipurwawidjana yang dikutip di atas juga sangat membingungkan. Dengan menyebut Purgatory adalah teks yang mandiri dan Arwah-arwah adalah sadurannya memiliki otonomi penuh atas segala potensi dan alternatif makna yang ditampilkannya, Adipurwawidjana telah melakukan pengebirian terhadap sejarah teks. Arwah-arwah, jelas, tidak bisa dilepaskan dari Purgatory sebagai naskah aslinya. Persoalan apakah maknanya akan berbeda atau tidak adalah persoalan penafsir. Tidak ada makna tunggal dalam sebuah karya sastra (teater). Dan justru karena itulah, sebuah karya bisa disebut bagus. Landasan berpikir Adipurwawidjana memang bisa disebut struktural. Akan tetapi, dengan melupakan kajian intertekstual, ia telah mengacaukan acuannya sendiri. Ia lupa bahwa tidak ada karya yang tercipta dari kekosongan budaya. Hidup kita, bagaimanapun, berada di dalam lingkaran beribu-ribu teks yang setiap saat melakukan aktivitas saling mempengaruhi. Dan Suyatna Anirun ketika mengadaptasi Purgatory menjadi Arwah-arwah, jelas, berada dalam lingkaran pengaruh itu. Tanpa ada kegelisahan terhadap lingkungan yang mempengaruhinya, yang kemudian kegelisahan itu menemukan pengucapan estetis dalam Purgatory, rasanya tidak mungkin Suyatna melakukan pengadaptasian terhadap naskah tersebut menjadi Arwah-arwah. Hal ini berarti, kegelisahan Suyatna dalam Arwah-arwah yang memusat pada Purgatory menyebabkan keduanya tidak akan pernah bisa dipisahkan.

Persoalan Irlandian bukan Indonesia, Belanda ataupun Amerika Serikat dan Suyatna Anirun bukan W.B. Yeats yang disinyalir Adipurwawidjana memang benar. Akan tetapi, pemikiran ini tampaknya akan tepat jika dikemukakan beberapa puluh tahun ke belakang. Saat ini, dalam beberapa hal, kita hampir bisa menyebut bahwa Indonesia juga Amerika, Inggris atau Jepang.

Mari perhatikan generasi Mc Donald, Kentucky Fried Chicken, sampai ibu-ibu rumah tangga yang berakraban dengan telenovela yang notabene adalah Amerika Latin, misalnya. Hal ini berarti bahwa transformasi budaya dan tabiat manusia secara umum tidak bisa disamakan dengan program komputer di mana data dalam word star harus dibuka dan dibaca oleh word star juga sebagaimana dikemukakan Adipurwawidjana (padahal ws juga bisa dibaca dan ditransfer ke ms!). Transformasi budaya tidak mengenal wahana eksak. Ia bisa berjalan melalui berbagai cara sejumlah kepala manusia.

Dengan demikian, Adipurwawidjana telah melupakan universalitas jika tidak mau disebut berpikir lokal. Padahal, teater khususnya dan sastra pada umumnya adalah karya yang selalu mengangkat persoalan kemanusiaan secara universal. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa karya yang baik adalah karya yang bisa menembus ruang, waktu, dan memiliki ”ketakterhinggaan makna” sehingga ia selalu kontekstual dengan ruang dan waktu di mana ia hadir dan dimaknai. Hamlet yang beberapa kali dipentaskan Rendra dan selalu mengusung makna baru adalah salah satu contoh yang bisa ditunjuk.

Hal itu berarti bahwa naskah dan pementasan tidak pernah berhenti berbicara. Pun demikian dengan tulisan ini. Saya, barangkali, hanya berbicara dalam satu anggel saja. Ia sangat terbuka untuk dikoreksi, diluruskan, bahkan dimaki jika perlu. Saya selalu berpikir, dalam keterbukaan menyikapi, menilai, dan mengkritisi karya sastra secara umum dan teater pada khususnya, ketergesaan, kegegabahan, dan kesemana-menaan adalah hal yang harus dilenyapkan sebelum menjalar.

*) Acep Iwan Saidi, Ketua Forum Studi Kebudayaan ITB.