Faruk HT: Sastra Bukan Tempat Sunyi Lagi

Wawancara bersama Faruk H.T.
Sariful Lazi
sarifulpenyair.blogspot.com

Sastra Islami dalam beberapa tahun belakang ini sedang laku keras. Apakah fenomena sastra islami akan mengukuhkan genre yang kuat dalam dunia sastra Indonesia atau sekadar tren?

Dr. Faruk, S.U., kritikus Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai sastra islami sebagai karya populer. Yang disebut sastra populer di Indonesia, kata Faruk, agak mungkin menjadi sastra islami. Islam itu pasar. Ini bagian dari proses besar komoditifikasi agama.

Sastra dewasa ini dalam pandangan Faruk, cenderung ke arah kolaboratif. Sastra sekarang bukan tempat sunyi lagi. Sastra itu bagian seperti dakwah. Semuanya masuk ke arah hiburan.

Faruk HT saat ini mengajar di almamaternya Jurusan Sastra Indonesia UGM. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Kepala Pusat Kebudayaan dan Perubahan Sosial UGM. Faruk telah menulis sejumlah buku. Buku-bukunya yang telah terbit antara lain Strukturalisme Genetik dan Epistemologi Sastra (1989), Pengantar Sosiologi Sastra (1993), Pertarungan Tak Kunjung Usai (1995), Hilangnya Pesona Dunia (1999), Women Womeni Lupus (2000), dan Beyond Imagination (2001). Muhamad Sulhanudin dan Wiwik Hidayati mewawancarainya pada Juni 2007 di Gadjah Mada Medical Centre (GMC).

Bagaimana pandangan anda mengenai pesan moral dalam karya sastra?
Kalau kita mendengarkan lagu-lahgu Jawa, tembang-tembang moral, itu isinya pesan-pesan moral, dan itu tak ada masalah. Dalam konteks sastra modern agak berisiko kalau banyak pesan moralnya. Orang sekarang lebih suka hiburan daripada banyak ajaran. Bahkan sebenarnya banyak ajaran yang disampaikan dengan menghibur. Ini juga masalah. Masalahnya, apakah sejenis dakwah yang berisi hiburan, atau sejenis sastra yang diisi dakwah. Kalau dia sejenis dakwah yang disampaikan dengan hiburan, ini artinya degradasi. Sebenarnya bukan apakah sastra perlu moral, tapi apakah dakwah perlu mengibur. Itu bukan kemajuan, tapi kemunduran bagi dakwah.

Masalahnya bagi karya sastra?
Itu problematik. Dia bisa dimasukkan dalam kategori sastra pop. Ini tren. Tapi yang paling penting bahwa masyarakat Indonesia mayoritas islam dalam tanda petik. Banyak islamnya. Yang namanya sastra populer di Indonesia otomatis agak mungkin menjadi sastra islami. Islam itu pasar. Ini bagian dari proses besar komoditifikasi agama. Jadi bagaiamana agama itu menjadi komoditas.

Lalu, jika dakwah disampaikan dalam medium sastra?
Sekarang dakwah itu macam-macam. Ada Aa Gym, Bukhori, semuanya itu dakwah. Problemnya itu bukan di sastra, tapi di dakwah.

Dalam fiksi islami yang diusung oleh Forum Lingkar Pena ada pembatasan eksplorasi seks. Apakah dalam sastra memang mengenal pembatasan, misalnya tidak boleh menyampaikan sesuatu yang dianggap tabu?
Dalam sastra tidak mengenal tabu. Kalau dalam FLP ada perdebatan seperti itu, berarti itu tabu dalam islam, bukan dalam sastra. Dalam sastra pengarang bebas saja.

Kalau pengarang bebas, bagaimana dengan tanggungjawab penulis terhadap karyanya?
Penulis tidak ada tanggungjawab. Tanggung jawab penulis adalah berkarya. Kalau dia tidak berkarya, berarti dia tidak bertanggunjawab.

Taufik Ismail dalam pidato kebudayaannya menyebut pengarang turut andil dalam kebrobrokan di masyarakat. Itu akibat karyanya yang banyak mengeksplotasi seks?
Nggak ada hubungannya kebobrokan masyarakat dengan karya seks. Kalau Aa’ Gym gimana? Taufik Ismail menganggap itu bobrok, bagi saya nggak ada maslaah. Tergantung siapa yang memandang. Itu korelatif. Penemuan-penemuan cara ber-sek, penemuan-penemuan untuk merangsang berbirahi, kalau tak ada itu, 90% laki-laki impoten. Keluarga jadi bubrah karena laki-laki tak bisa bergairah, perempuan nggak bergairah. Mereka memerlukan nonton video prono biar bergairah lagi. Daripada keluarga bercerai, lebih baik nonton video porno.

Apakah anda sepakat dengan pelabelan sastra islami? Adakah kajian khusus dalam dunia akademik mengenai sastra islami ini?
Labelling itu untuk jualan. Secara konseptual saya kira itu lebih dekat denga dakwah. Pelabelan itu hanya orang jualan. Islam itu pasar. Dakwah itu jualan. Kalau dalam dunia akademis untuk soal itu, kajiannya lebih bersifat sosiologis, bukan estetik.

Apakah sastra islami itu lantas hanya sekadar tren?
Ya, itu tren sesaat. Di indonesia, itu ciri khas. Semua cepat berubah. Orang gampang bosan. Apalagi sekarang zaman media elektronik, televisi. Cepat sekali orang gampang berubah. Periodisasi sastra di Indonesia paling lama hanya 10 tahun. Itu hanya angin lewat. Itu berulang-ulang. Hal yang sama, seperti orang seminar, temanya diulang-ulang. Yang berubah bentuknya, isinya sama. Tempatnya saja yang berubah, bentuknya sama. Kalau sebelumnya dari TV, pindah ke musik, pindah ke yang lain lagi. Sama saja.

Anda tadi menyebut sastra islami atau sastra dakwah itu sebagai karya populer. Karya populer dalam hal ini seperti apa?
Populer dalam arti menjangkau publik yang lebih luas. Yang tidak populer, itu punya publik sendiri. Publik yang lebih sedikit. Kecil. kalanganya elit.

Bagaimana apresiasi para kritikus sastra terhadap karya populer semacam itu?
Apresiasi itu bentuknya bermacam-macam. Ada apresiasi berupa pujian kritikus. Ada apresiasi dalam bentuk orang membeli buku. Orang membeli itu juga memberi apresiasi. Targetnya beda-beda. Target audiensnya beda, bentuk apresiasnya berbeda.

Apakah mungkin sebuah karya populer akan dipuji oleh kritikus sastra?
Karya populer yang mendapat pujian, bisa juga. Apalagi kalau kritikusnya dibayar. Sekarang bukan pada orangn atau karyanya, tapi pada besar kecil honornya. Sekarang pada umumnya karya yang diterbitkan oleh penerbit besar, akan mendapatkan pujian. Tergantung honornya.

Kritik yang bagus seharusnya yang seperti apa?
Kritik yang merangsang diskusi

Kalau karya populer banyak diapresiasi masyarakat, tapi kenapa kritikus kurang mengapresiasinya?
Kritikus sendiri. Audiens sendiri. Orang bangga dengan dirinya sendiri. Yang penting orang jangan serakah. Sudah laku pengen dibicarakan kritikus. Orang itu punya tempatnya sendiri. Itu sudah satu kelompok sendiri. Pembaca itu kritikus sendiri. Yang membaca sastra itu sesama sastrawan. Kategori pembaca sastra itu sekarang gelap. Kategori pembaca di dalam konteks karya sastra itu lebih tepat mengarah ke sastra populer daripada sastra yang disebut serius. Sastra serius itu persoalannya di seputar kritikus. Ia membangun duniaya sendiri. Dan pembaca dalam lingkaran sastra, kawanya sendiri. Dunia kritikus dan pembaca dalam konteks elitis, ya itu saja. Dalam lingkungan sastrawan sendiri. Kadang mereka berdebat, berkelahi.

Kalau sebuah karya sastra hanya diapresiasi oleh kritikus atau kalangan elit, apakah itu tidak terkesan ekslusif?
Mau ekslusif ya karepe, mau tidak ya karepe, kenapa sih kok repot banget. Biarin saja. Jangan meminta orang yang ekslusif untuk tidak ekslusif. Jangan meminta orang yang tidak ekslusif, untuk ekslusif. Kalau ada yang memprotes ekslusif, buat saja yang tidak ekslusif. Jalannya sendiri. Nggak ada masalah. Orang sekarang sudah harus bisa toleran terhadap perbedaan, pilihan dan sebagainya.

Bagaimana anda melihat kecenderungan sastra belakangan ini?
Sastra itu sekarang kolaboratif. Berkolaborasi dengan musik, pembacaan, pementasan, diskusi launching. Sastra kelihatanya sekarang bukan tempat sunyi lagi. Sastra itu bagian seperti dakwah. Semuanya masuk ke arah hiburan. Arahnya semua ke sana. Yang serius dan yang tak serius arahnya sama. Mencoba menghilangkan skat-skat.

Apakah dengan begitu sastra akan kehilangan esensinya?
Bisa juga. Tapi nggak ada masalah. Mau hilang ya hilang, mau nggak ya silakan.

Menurut anda, apakah karya yang muncul pada periode ini akan bertahan lama?
Nggak ada sastra yang bertahan sampai lama. Lagu-lagu pop bertahan sampai lama. Lagu nostalgia itu, tahun 50an, tahun 60an. Haryati… Karya sastra itu muncul tenggelam. Chairil Anwar kadang orang lupa, kadang inget lagi. Sama saja. Sastra sekarang, sastra dulu, sama saja akan timbul tenggelam. Bentuk, pilihan jalannya sama. Tak ada perubahan yang signifikan.

Ada sastrawan yang mengatakan problem dalam dunia sastra Indonesia sekarang karena kurangnya kritikus?
Nggak usah berharap banyak dari kritikus. Kritik saja sendiri. Sesama sastrawan kan saling mengkritik. Saingannya sastra, ya ekspresi seni yang lain. Misalnya televisi. TV itu audio visual. Lain dengan era cetak, yang jadi raja ya sastra. Lain dengan era audio visual. Di era audio visual yang jadi raja bukan lagi sastra, tapi teater, pertunjukan. Sastra itu wakil dari masyarakat aksara. Sekarang masyarakatnya sudah elektronik.

Dengan begitu apa sastra Indonesia tidak punya masa depan?
Sastra yang mau kuat itu sementara di televisi. Kalau mau banyak, televisi. Kalau mau kuat dalam arti banyak. Kalau kuat tidak dalam arti banyak, sedikit itu sudah kuat. Berdua saja itu banyak.
***