Melawan Virus Akal Budi

Chaidir
riaupos.co 15 Juli 2014

SUATU ketika penyair Kahlil Gibran menulis sebuah cerita perumpamaan tentang kebaikan dan keburukan. Kedua makhluk ini, tulis Kalil Gibran – kebaikan dan keburukan – bertemu di tepi pantai, lantas keduanya sepakat mandi bersama. Keduanya menanggalkan pakaian dan berenang bersukaria.

Sesaat kemudian keburukan selesai mandi terlebih dahulu dan naik ke darat, tanpa berpikir panjang dia pakai pakaian kebaikan dan segera berlalu. Tidak berselang lama kebaikan pun menyudahi mandinya dan naik ke darat, namun dia tidak lagi mendapati pakaiannya yang tadi ia tinggalkan, maka mau tidak mau ia pun mengenakan pakaian keburukan.

Sejak saat itu kata Khalil Gibran, kita kebingungan membedakan kebaikan dan keburukan. Kebaikan tak jarang susah dikenali, keburukan pun demikian, walaupun adakalanya keburukan tak bisa menyembunyikan wajahnya di balik pakaian yang ia pakai.

Perumpaman itu terasa sangat kontekstual dengan apa yang terjadi di tengah masyarakat kita sekarang, ketika kebajikan berhadap-hadapan secara diametral dengan kemunafikan yang licik. Fitnah dan virus akal budi merajalela sehingga sesama saudara yang bertengkar tak terdamaikan.

Kahlil Gibran (1883-1931) bukan sastrawan atau penyair Muslim. Ia penyair perantauan Lebanon di Amerika Serikat beraliran romantik. Tapi penyair bukan dinilai dari keyakinan agamanya. Labid dan Umayyah bin Abu Ash-Shalt (yang hidup pada abad ke-7 Masehi) misalnya, dihormati oleh Nabi Muhammad SAW karena syair keduanya memperlihatkan ketakwaan dan moralitas sekalipun keduanya bukan orang beriman.

Nabi bahkan kemudian minta tiga penyair Muslim (Hassan bin Tsabit, Ka’b bin Malik dan ‘Abdullah bin Rawahah) untuk tampil membela Islam dengan syair. Permintaan Nabi mereka lakukan sehingga dengan propaganda syairnya, hancurlah kuam kafir Makkah. Ketika orang non-Arab, yang penguasaan bahasa Arab dan maknanya sangat memuaskan, mulai masuk Islam, Khalifah Umar bin Khattab mendesak para mualaf ini belajar syair. Bersama Ibnu Abbas sebagai juru tafsir Alquran pertama, para mualaf itu dan orang-orang Muslim Arab mulai menafsirkan Alquran. Untuk memperdalam pemahaman, mereka tak segan-segan membaca syair-syair Arab pra-Muslim.

Para khulafaurrasyidin terutama Khalifah Umar bin Khattab sering membaca syair, baik untuk menasehati kaum Muslim agar berbuat kebajikan atau untuk menyemangati mereka dalam membela Islam. Mungkin karena itulah ucapan Umar bin Khattab sering dikutip, ‘’Ajari anakmu sastra supaya ia jadi pemberani.’’

Nabi sangat peka terhadap keadaan orang Arab pra-Muslim yang semangat syairnya cenderung pada semangat permusuhan dan kekerasan. Karena itu dalam beberapa kasus, Nabi melarang syair. Namun bila syair mempromosikan kearifan dan kebajikan, Nabi memujinya. Barangkali karena kegersangan gurun menciptakan gaya hidup keras, membentuk karakter manusia dan mengembangkan sifat mental dan sosial yang khas bagi penduduknya.

Betapa pun kegersangan gurun menciptakan karakter hidup yang keras, namun kebajikan tetap mendapatkan tempat yang mulia. Kebajikan dimaknai dengan segala macam cara antara lain ditandai dengan penghormatan terhadap sesama, terhadap tamu, kedermawanan dan keramahan. Kebaikan dimaknai dengan perbuatan-perbuatan yang mengandung nilai kebajikan.

Aljahizh, penulis Arab pada abad ke-8 M menyebut, makna tersembunyi dalam kesadaran. Di sana, makna berada dalam keadaan terendam tidak dikenali. Bila diberi ungkapan yang tepat, makna menjadi hidup. Makna akan bangkit mengerahkan kekuatannya yang menggetarkan. Makna membuat yang jauh menjadi dekat, yang tiada menjadi ada, yang rumit menjadi mudah, yang asing menjadi akrab. Begitu jugalah dengan makna kebajikan yang tersembunyi dalam perasaan.

Ramadan tidak meminta kita melakukan sweeping dari kampung ke kampung, dari rumah ke rumah atau dari kedai ke kedai untuk sebuah operasi razia mencari keburukan yang telah salah mengambil pakaian kebaikan untuk mengembalikan kepada pemiliknya yang sah. Bukan untuk itu. Ramadan adalah kesempatan di mana kita secara jujur dan ikhlas berani melakukan kontemplasi dan introspeksi, dan kemudian melatih diri. Sungguh, kita perlu menyuburkan perbuatan kebajikan sebagai sebuah karakter masyarakat di tengah gersangnya gurun kehidupan yang semakin terasa asing.

Ramadan memberi kita peluang membangunkan sebuah kesadaran, memaknai kembali kebajikan yang terendam tak dikenal. Kita sudah terlalu banyak memberi laluan pada semangat kebendaan dan kekuasaan. Pandanglah diri kita dan sekeliling betapa merajalelanya ‘’virus’’ akal budi yang bernama iri hati, dengki, korupsi, manipulasi, kolusi, kejahatan, kemunafikan, kesombongan, kebohongan, kecurangan, kelicikan, kebengisan, dan sebagainya. Kebajikan tak boleh menepi, atau masyarakat kita akan semakin tebenam tenggelam dalam wilayah kelam tak dikenal.***

*) Chaidir, Mantan Ketua DPRD Riau