Zulfikar Fu’ad
Lampung Post, 30 Maret 2003

SENJA mulai tampak dari wajahnya. Kerut-merut dahinya membentuk bidang garis bertingkat. Flek-flek yang bertebaran di muka menyokong tengara kesepuhan yang paling diwakili rambut memutih. Ramadhan K.H. (76), sebuah nama yang kondang dengan karya-karya tulis monumentalnya. Sebuah nama yang hanya dipisahkan dinding tipis dengan mantan Presiden Soeharto, meskipun secara fisik sangat jauh.

Dari wajah itu, tersirat keletihan yang sangat setelah melalui sebuah perjalanan panjang tak bertepi. Hanya sedikit saja kemilau bekas tanda-tanda masa suksesnya. Sementara, bulir-bulir sisa air sembahyang lebih mendominasi warna masa tuanya.

Bahasa tubuhnya lamban ketika merespons keinginan batinnya yang masih gagah dan bersemangat. Dengan aksen Sunda yang kental, kalimat tuturnya lembut dengan tata bahasa terstruktur, bahkan condong formal. Pada usianya yang lebih tiga perempat abad, kelembutan deskripsi bicaranya makin halus saja, amat santun. Tak ada yang meledak-ledak.

Sebuah rumah yang relatif sederhana di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan, menjadi tempat tinggal sekaligus kantornya. Salah satu sastrawan Indonesia terkemuka yang lahir 16 Maret 1927 ini masih terus menulis dan menulis.

Hari-hari ini, fisiknya jauh berbeda seperti yang banyak orang lihat di layar kaca dan media cetak tahun 1988 ketika ia disorot media massa dengan menulis biografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Itu lantaran presiden kita saat itu dianggap ”tak bisa disentuh”. ”Karena saya diminta, ya saya biasa saja,” katanya.

Satu hal yang tidak berubah dari seorang Ramadhan K.H. adalah tidak pernah bisa diam. Ia selalu sibuk bergulat dengan kata-kata, dengan sejumlah koran, buku-buku, dan kliping media yang berserak di meja, pada ruang tamu, dan ruang tengah rumahnya. Ia seperti tidak pernah letih dan energi berpikirnya tak pernah berakhir. Dan ketika ia sedang bekerja tak seorang pun mampu menghentikannya, sekalipun zaman menelannya.

Ramadhan K.H. adalah seorang yang memilih hidup bergulat dalam perjuangan kemanusiaan dengan dunia menulis. Ia mengalami sebagian besar episode sejarah Indonesia, mulai dari zaman perjuangan revolusi, kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, dan era kini, yang disebut-sebut sebagai reformasi.

Dalam masa-masa itu, ia telah menggoreskan sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Tidak saja di dunia sastra dan pers, yang menyita sebagian besar hidupnya, tapi juga dunia ”politik” internasional. Lebih dari sekadar sebagai sastrawan, seabrek gelar disandangkan orang kepadanya: novelis, cerpenis, pendidik, biograf, pejuang, sejarawan informal, bahkan ”diplomat”.

”Sastra Ramadhan” menjadi sebuah genre yang menarik bagi perkembangan dunia sastra Indonesia. Dia selalu menjadi rujukan. Karyanya sudah berserakan dan tercatat dalam setiap benak peminat sastra Indonesia. Di antaranya, kategori novel; Priangan Si Jelita (1957), Royan Revolusi (1970), Kemelut Hidup (1976), Keluarga Permana (1978), Ladang Perminus (1989). Kategori novel terjemahan/saduran; Rumah Bernarda Alba (1957), Yerma (1959), Romansa Kaum Gitana (1976). Juga cerpen ”Enclave” dan ratusan judul puisi.

Puluhan tokoh ditulisnya dalam bentuk autobiografi, di antaranya Soekarno dan Inggit Garnasih, mantan Presiden Soeharto, A.E. Kawilarang, Ali Sadikin, Sukamdani Sahid Gitosardjono, Jenderal Polisi Hoegeng, Gobel, Kemal Idris, Jenderal Soemitro, Laksamana Sukardi, dan Dewi Dja.

Dari sekian banyak karyanya, yang menonjol salahsatunya adalah autobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Buku inilah yang membuatnya lebih dikenal tidak saja bagi masyarakat Indonesia, tapi juga bagi para Indonesianis di luar negeri. Buku ini menjadi rujukan dalam penelitian banyak ilmuwan tentang kepemimpinan Soeharto sebagai presiden dan juga tentang Indonesia pada masa Orde Baru.

Pengalaman menulis autobiografi Soeharto menanamkan kesan tersendiri bagi Ramadhan K.H. Banyak hal-hal yang tidak diketahui orang lain tentang Soeharto, diketahuinya sebagai penulis. Sebagaimana hal ini juga dialami O.G. Roeder ketika menulis buku The Smiling General, juga autobiografi Soeharto.

Ketika diminta Soeharto menulis kisah hidupnya, Ramadhan K.H. memilih menulis dalam sudut pandang orang pertama. Ia memosisikan diri seolah menjadi Soeharto. Itu artinya dalam bentuk autobiografi. Dengan demikian yang bertanggung jawab terhadap isinya adalah tokoh yang ditulis, Soeharto sendiri. Ramadhan hanya bertanggung jawab terhadap penyajiannya agar enak dibaca.

Berkali-kali hal ini ditekankannya kepada Brigjen G. Dwipayana, utusan Soeharto yang ditugaskan menyampaikan permintaan Soeharto kepada Ramadhan K.H. Sepakat dengan posisi itu, ia memulai pekerjaannya.

Pertanyaan panjang lebar sebagai pengganti wawancara untuk memperoleh data dan bahan tentang Soeharto disampaikan kepada Dipo, panggilan G. Dwipayana. Dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan, tidak terdapat kesulitan untuk disampaikan Dipo kepada Soeharto.

”Tapi satu yang mendapat komentar dari Dipo adalah pertanyaan: ’Bagaimana kalau ajal Pak Harto sampai?’ Dipo merasa amat berat menyampaikan pertanyaan itu, dengan komentar ’sialan’ yang kemudian dikemukakan kepada saya. Sebab, menurut dia, tidak patut kita bertanya begitu di tengah kehidupan masyarakat Jawa. Saya mengajukan pertanyaan itu dengan perasaan tanpa beban, biasa-biasa saja, disebabkan rasa ingin tahu dan sering ditemukan dalam buku-buku memoar orang lain. Tetapi setelah pertanyaan itu diajukan, ternyata Pak Harto menjawabnya, dan kemudian bisa saya masukkan penjelasannya itu dalam satu bab di belakang (Bab 102, halaman 561),” ujar Ramadhan memberi pertanggungjawaban sebagai penulis.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban Ramadhan terhadap autobiografi Soeharto yang ditulisnya, ia membeberkan latar belakang penulisan buku itu dalam buku Panggung Sejarah, Persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lombard. Buku peringatan meninggalnya seorang Indonesianis Prof. Dr. Denys Lombard yang diterbitkan kerja sama antara Ecole Francaise d’Extreme-Orient, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dan Yayasan Obor Indonesia tahun 1999.

Ramadhan mengatakan Soeharto sempat memberi pernyataan yang dianggapnya cukup peka, yakni mengenai ”petrus” atau penembak misterius pada 1980-an. Sebuah peristiwa yang menginternasional dan menjadi perbincangan dalam sidang PBB di Jenewa ketika itu. Apa yang dikatakan Soeharto kepada Ramadhan berbeda jauh dengan pernyataan wakil pemerintah Indonesia di PBB.

”Kita harus mengadakan treatment, tindakan yang tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, dor! dor! begitu saja. Bukan! Tetapi yang melawan, ya, mau tidak mau harus ditembak. Lalu ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi guncangan,” ujar Presiden Soeharto menjawab pertanyaan Ramadhan K.H. ketika itu.

Ramadhan merasa risih dengan pernyataan itu. Sebab sebelumnya juga Pemerintah Indonesia, baik di dalam negeri maupun pada sidang PBB di Geneva, sudah menyatakan itu terjadi karena tembak-menembak antargeng. ”Maka sampai tiga kali saya mengajukan pertanyaan lewat Dipo, apakah tetap begitu keterangan Pak Harto tentang ’petrus’ itu. Jawaban yang saya dapatkan via Dipo adalah ’tetap begitu’, ’sudah benar begitu’. Bahwa soal ini peka, sebelumnya sudah saya dengarkan pendirian Bung Adam Malik, bahwa ’Bagaimanapun, jangan kita membunuhnya sebelum yang bersangkutan dibawa ke pengadilan’,”

“Kemudian saya pun mendengar ada yang merasa kecewa dengan penjelasan Pak Harto itu. Yang bersangkutan merasa tersinggung karena dialah yang pernah menjelaskan bahwa itu terjadi karena tembak-menembak antargeng,” kata Ramadhan dalam buku itu.

Menjawab pertanyaan Ramadhan, Soeharto juga sempat membicarakan soal dibentuknya dua kelompok dari sembilan partai yang ada waktu itu, ditambah satu kelompok, yakni Golongan Karya. ”Soeharto mengatakan upaya itu dilakukannya tanpa paksaan. Apa yang terjadi di lapangan—yang pelaksanaanya waktu itu terutama diserahkan kepada Ali Murtopo—bisa diceritakan pihak-pihak lain yang mengalaminya. Apakah benar tanpa paksaan? Yang mencolok adalah cerita Pak Harto. Bahwa ia waktu itu menanyakan kepada Katolik dan Kristen, apakah akan berpihak kepada yang menonjolkan spiritualnya atau kepada yang menonjolkan materilnya?” tulis Ramadhan.

”Pihak Islam memang memilih yang spiritualnya. Tetapi toh juga saya tekankan, jangan menonjolkan agamanya, jangan menonjolkan Islamnya. Karena itu, namanya pun tidaklah menyebut-nyebut Islam, melainkan Partai Persatuan Pembangunan, dengan program spiritual-materil. Begitu NU, Parmusi, PSII, dan Perti mengelompok,” kata Presiden Soeharto.

Keterangan Soeharto ini menjadi renungan Ramadhan. Terpikir olehnya, jangan-jangan apa yang terbentuk waktu itu pun sebenarnya tidak memenuhi keinginan Soeharto yang sesungguhnya. ”Sejarah menunjukkan bahwa semua pihak yang menunjukkan kuat keberpihakan kepada spiritual (akhirat), semua yang memakai sebutan agama, tidak bisa bersatu dalam satu kelompok sampai sekarang,” kata Ramadhan.
***

Terlahir di Bandung dengan nama Ramadhan Kartahadimadja, adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Sehari-harinya oleh keluarga dan teman-temannya ia disapa Atun. Ayahnya, Rd. Edjeh Kartahadimadja adalah seorang patih pada masa kekuasaan Hindia Belanda. Ramadhan lahir dari pernikahan Rd. Kartahadimadja dan istri ketiganya, Sadiah.

Menyebut nama Ramadhan tidak dapat melupakan almarhum Aoh Karta Hadimadja, sastrawan Indonesia terkemuka yang meninggal tahun 1972. Ia adalah kakak seayah dengan Ramadhan. Aoh pula yang mengawali persentuhan Ramadhan dengan dunia sastra.

Pendidikan Ramadhan K.H. dilaluinya di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Ia pernah belajar di Institut Teknologi Bandung tapi hanya tujuh bulan, kemudian pindah di Akademi Dinas Luar Negeri. Di sini pun tidak sampai tamat.
***

* Ditulis berdasarkan wawancara Zulfikar Fu’ad dengan Ramadhan K.H. di kediaman Kawasan Bintaro, Jakarta Selatan medio Oktober 2002, diterbitkan harian Lampung Post-Media Group pada 30 Maret 2003.
Dijumput dari: http://penulisbiografizulfikarfuad.blogspot.com/2012/06/ramadhan-kh-perjalanan-mengarifi.html

Categories: Canting