Oposisi Pasca Tradisi (telaah ringkas atas karya hassan hanafi)

Zaenal Abidin Riam *
zaenalabidinriam.blogspot.com

Buku ini merupakan salah satu karya Hassan hanafi yang penting untuk dibaca, buku ini menjadi salah satu bukti ketajaman Hassan hanafi dalam mengeksplorasi ruang pemikiran islam. Buku “oposisi pasca tradisi” tidak kalah penting jika dibandingkan dengan “yasar al islam” (kiri islam). Melalui analisis yang tajam dibantu dengan pemahaman keislaman yang memadai Hassan hanafi kemudian mencoba melacak genealogi perkembangan tradisi semenjak zaman islam klasik hingga zaman modern, menariknya Karena pembacaan hanafi terhadap tradisi tidak sekedar pembacaan an sich tetapi juga disertai dengan berbagai kritikan yang membuat tradisi terfilter dengan sendirinya.

Menurut Hanafi, secara ideal tradisi selalu mengalir sehingga ia tetap ramah dalam menyapa realitas, bukan terkesan kaku, akan tetapi dalam perjalanannya tradisi seringkali dibekukan (dibuat beku) oleh penguasa untuk kepentingan kekuasaan dan kaum konservatif untuk membenarkan keabsahan klaim ideologi tertentu sehingga selalu ada dua kutub tradisi yakni tradisi penguasa dan tradisi oposisi. Ruang publik sejarah Islam kontemporer selalu diwarnai oleh pertarungan antara dua kutub utama, yakni kaum konservatif yang selalu berkehendak mencomot seratus persen tradisi masa lalu ke masa sekarang dan kaum sekuler yang berkehendak membuang semua tradisi masa lalu. Bagi Hanafi kedua kutub tersebut sama – sama gagal menangkap spirit kemajuan. Kaum konservatif dikatakan gagal karena ingin memakaikan baju abad pertengahan ke manusia modern sementara kaum sekuler juga dikategorikan gagal karena berhasrat memberangus semua tradisi masa lalu kemudian menjadi barat sepenuhnya, hal ini ibarat manusia yang memiliki kepala namun pikiran dalam kepalanya tidak berasal dari hasil perenungan kepalanya, dalam konteks tersebut hanafi kemudian menawarkan jalan tengah yang diyakininya mampu menangkap spirit kemajuan, jalan tengah tersebut ia istilahkan sebagai “pembacaan ulang terhadap tradisi”.

“pembacaan ulang terhadap tradisi” meniscayakan munculnya filterisasi sehingga ada tradisi tertentu yang memang harus ditinggalkan namun ada pula yang harus tetap diapresiasi dan di up to date kan karena pembacaan ulang terhadap tradisi tidak selamanya berorientasi ke masa lalu tapi juga ke masa depan. Item tersebut merupakan penting karena faktanya tradisi yang pernah lahir di panggung peradaban islam juga mengusung ide – ide kemajuan, dengan ungkapan lain bahwa tradisi pencerahan tidak hanya lahir di barat modern akan tetapi semua peradaban pernah melahirkan tradisi pencerahan termasuk peradaban Islam.

Untuk mendukung proyek besar tersebut maka dibutuhkan ilmu filsafat sejarah (seperti yang pernah diuraikan ibnu khaldun dalam buku muqaddimah) demi melakukan pendasaran konsep sejarah dalam tradisi lama agar kita mampu mengetahui realitas serta menjalankan tradisi sesuai denagan realitas kesejarahannya. Sebab tradisi terkait dengan ranah sosial maka untuk mewujudkan kebangkitan Islam diperlukan perangkat ilmu sosial, perlu dicatat bahwa perangkat ilmu sosial barat tidak sepenuhnya mampu mendukung cita – cita kebangkitan Islam karena ilmu social barat cenderung sewenang – wenang dalam menggeneralisir seluruh realitas sosial dengan menjadikan realitas sosial barat sebagai tolak ukur utama, olehnya itu harus ada penciptaan ilmu sosial baru (ilmu sosial nasional) karena ilmu sosial lama lebih berciri orientalistik yang selalu menempatkan barat sebagai eropasentris, ilmu sosial baru semestinya bersifat oksidentalistik agar timur mampu melihat dirinya sendiri, pendapat Hassan hanafi ini sejalan dengan pandangan Bryan turner dalam buku sosiologi post modernisme yang juga mengkritik sosiologi barat modern karena masih dianggap bias orientalisme sehingga cenderung memaksakan barat lebih di atas dari yang lain.

18 Mei 2013
*) Penggerak Komunitas API (arus pemikiran intelektual)