Sastra Indonesia Pascakolonial, Timah, Lada dan Mangan (3)

(Dari Temu Sastrawan Indonesia II, Pangkal Pinang, 30 Juli – 2 Agustus 2009)
Mezra E.Pellondou
Pos Kupang 6 Sep 2009

TANGGAL 30 Juli 2009, TSI (Temu Sastra Indonesia) II pun dibuka secara resmi oleh gubernur Kepulauan Bangka Belitung Eko Maulana Alli dengan meriah.

Selain diisi dengan berbalasan pantun oleh Saad Toyib dan Kario, sang juara pantun pada Festival Berpantun Serumpun Kuala Lumpur, juga musikalisasi Gurindam Dua Puluh Satu yang dikarang oleh gubernur yang jago menulis puisi ini.

Gubernur yang juga sastrawan ini tampil bersama kelompok musik melayu dengan petikan gambus para sastrawan dan seniman Pangkal Pinang. Sementara Kario yang petani lada dari Kurau, Bangka Tengah ini cukup memikat memunculkan seni berpantunnya dengan meminta hadirin ikut berpantun sepanggung dengannya.

Tampil sepanggung dengannya saat itu sastrawan Hamsad Rangkuti dan Mezra E Pellondou menjawab pancingan Kario.

Orang mengatakan, sastra “nasional” kita merupakan nota bene perpanjangan dari sastra kolonial, apakah dengan demikian kita memang sudah seyogyanya melanjutkan perkembangan sastra Barat? Atau kita harus menulis ulang sejarah sastra kita? Atau memilih melupkan sejarah tersebut?

Itulah segelintir pertanyaan yang membawa sastrawan Indonesia berkumpul di Pangkal Pinang dalam Temu Sastrawan Indonesia II dengan mengusung tema: “Sastra Indonesia Pascakolonial”.

Acara akbar ini di hadiri oleh ratusan sastrawan se tanah air Indonesia dengan suatu kesadaran penuh bahwa tentunya sastra pascakolonial Indonesia berbeda dengan sastra pascakolonial negara-negara dunia ketiga lainnya. Masing-masing memiliki ciri khas dan problemnya tersendiri.

Sastra Indonesia berbeda dengan sastra Amerika latin,sastra Afrika,atau sastra negara-negara Asia bekas jajahan Barat lainnya. Sebagai bekas jajahan Belanda misalnya,kita tidak meneruskan bahasa Belanda sebagai bahasa ekspresi sastra kita, berbeda dengan kalangan sastrawan hibrid India sebagai contoh, yang notabenenya menulis dalam bahasa bekas pejajahnnya yaitu bahasa Inggris.

Tokoh-tokoh seperti Jorge Luis Borges, Bharati Mukherjee, Caryl Philips. Derek Walcott, Maxine Hong Kingston, Vikram Seth, Amy Tan,Jhumpa Lahiri, V.S Naipaul, Salman Rusdhie, Ben Okri, dan Kazua Ishiguro sekedar menyebut sejumlah nama-adalah para sastrawan dari lingkungan pascakolonial seperti kita, yakni lingkungan yang jauh.

Namun mereka bereaksi secara aktif terhadap sastra kanonik Eropa dan Amerika-yang menyitir Nirwan Dewanto-melawan hegemoni kulit putih dalam kancah sastra (berbahasa) Inggris.

Selain hal tersebut, kita jika tahu bahwa sejarah sastra kita tumbuh dan berkembang di tengah ketegangan antara “authenticity” dan “modernity”, ketegangan antara sejarah ke depan dan kembali kepada akar yang tak kunjung reda.

Nasionalisme dalam sastra pun semakin kabur untuk dirumuskan. Meskipun kerap kali kita merasa kalau sastra Indonesia telah menjadi bangunan dan tradisi yang kokoh, sebagai identitas asali dan murni, sebagaimana Bung Karno memperkenalkan demokrasi asli Indonesia, demokrasi pancasila.

Sastra kita adalah hasil modernisasi yang seringkali dikacaukan dengan westernisasi. Padahal modernisasi pada esensinya yang luas tak selalu merupakan anak kandung dari Renaisans peradaban barat. Kita menjadi begitu gamang dalam membaca pascakolonialitas.

Dalam nasionalisme yang didengungkan, diakui atau tidak sesungguhnya mengandung orientalisme yang dulu diciptakan barat demi keuntungan kolonialisasi. Di sinilah kita selalu diantar untuk kembali berhadapan dengan polemik yang tak pernah tuntas antara upaya menggali sumur-sumur asli dan akar-akar tradisi dan itikad menjadi pewaris kebudayaan dunia yang sah tanpa beban.

Sementara mentalitas dan kondisi pascakolonial itu sendiri tidak pernah betul-betul mendapatkan sentuhan kajian yang memadai.

Demikianlah latar belakang diusungnya tema Sastra Pasacakolonial pada Temu Sastrawan Indonesia II yang berlangsung 30 Juli sampai 2 Agustus 2009. Itulah soalnya.

Sedangkan untuk dapat bergaul mesra dengan sastra dunia, seringkali kita masih disergap kegagapan. Adalah realitas, kalau tidaklah semua dari kita mampu melakukan pembacaan dekat terhadap sastra dunia, lantaran keterbatasan penguasaan bahasa.

Sebagai contoh banyak karya sastra asing yang dipuji setinggi langit di negeri ini padahal persentuhan kita dengan karya-karya tersebut kerap hanyalah melalui pembacaan kedua, bahkan ketiga. Tidak melalui bahasa aslinya.

Para sastrawan memandang terjemahan karya sastra asing seyogyanya memang merupakan sebuah kebutuhan,meskipun karya sastra sesungguhnya utuh pada bahasanya. Tetapi (lagi-lagi) di sini kita menemukan persoalan baru, yakni lemahnya dunia terjemahan kita. Banyak sekali karya-karya sastra bagus yang diterjemahkan secara tidak memadai, karya-karya tersebut juga tidak diterjemahkan dari bahasa asli.

Kebanyakan dari terjemahan bahasa Inggris.
Dengan latar belakang tersebut TSI II membagi tema Sastra Indonesia Pascakolonial ke dalam bebera sub tema:
1) Merumuskan kembali sastra Indonesia: Definisi, Sejarah, dan Identitas
2) Kritik Sastra Indonesia Pascakolonial
3) Membaca Teks dan Gerakan Sastra Muktahir: Mencari Subjek Pascakolonial
4) Penerjemahan Sastra: Keharusan, Pilihan, atau sekedar perkenalan?

Ada pun tujuan dilakukannya TSI II ini adalah
1) menggulingkan kembali Sastra Indonesia Pascakolonial sebagai sebuah wacana : mengingat diskursus ini merupakan persoalan yang cukup urgen untuk diperbincangkan

2)Mengenalkan eksistensi karya sastra Bangka Belitung sebagai bagian dari khasanah dan peta kesastraan Indonesia kontemporer

3)Meluaskan jaringan silaturrahmi dan memperkenalkan sastrawan Indonesia kontemporer kepada masyarakat Bangka Belitung umumnya dan khalayak sastra Bangka Belitung khususnya.

Selama berlangsungnya TSI II ini berbagai rangkaian acara dilakukan antara lain

1) Dialog sastra sebagai agenda yang terpenting dan berlangsung selama dua hari karena membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan tema.

2) Malam apresiasi: yakni dibukanya forum bagi sastrawan untuk mensosialissaikan karya-karya sastranya di atas panggung dan digelar pada malam pembukaan dan malam penutupan.

3) Forum bazar buku: memfasilitasi para sastrawan yang ingin mengadakan launching dan bedah buku

4) Penerbitan Antologi Sastra: ada dua antologi sastra yang diterbitkan yakni antologi Puisi dan Antologi Cerpen. (bersambung)
***

Dijumput dari: http://jurnalis-ntt.blogspot.com/2009/09/dari-temu-sastrawan-indonesia-ii-3.html