Sastra Indonesia Pascakolonial, Timah, Lada dan Mangan (4 Habis)

(Dari Temu Sastrawan Indonesia II, Pangkal Pinang, 30 Juli – 2 Agustus 2009)
Mezra E.Pellondou *
Pos Kupang 13 Sep 2009

Sasando ke Seratus Tanpa Lada dan Timah

BEBERAPA sastrawan dipilih panitia untuk mengisi malam apresiasi, yakni Joni Ariadinata, Mezra E. Pellondou, Tan Lioe Ie, Ragil, Nur Wahida Idris, Irmansyah,Willy Siswanto dan lain- lain.

Dan pada hari ketiga, 1 Agustus 2009 malam apresiasi dimulai dari pukul 20.00 WIB setelah Tan Lioe Ie membawakan musikalisasi puisinya yang teaterikal, tiba giliran Joni Ariadinata membacakan cerpennya dengan gaya khasnya yang memukau.

Setelah itu namaku dipanggil untuk membacakan cerpenku berjudul Sasando ke Seratus. Sambil memainkan Sasando yang sengaja aku bawa dari Kupang, aku membacakan cerpenku dengan memilih lebih banyak memainkan nada-nada chaos.

Namun demikian aku membuka ceritaku dengan instrumen Bolelebo dan menutup ceritaku dengan Maifali e.

Berbeda dengan Tan Lio Ie yang terlihat jelas warna musik Blues-nya dan sedikit pengaruh country. Bagiku, aku tidak harus menjadi pemusik untuk membacakan sebuah cerpen namun aku harus bisa memberi suasana cerpenku lebih dekat ke pendengar dengan cara memainkan Sasando.

Memang malam apresiasi sangat meriah, bahkan kemeriahan itu juga ditulis para wartawan Bangka. Fotoku bermain Sasando menjadi foto headline Bangka Pos Minggu. Namun bagiku terasa ada yang hilang dan hambar ketika tak satu pun karya sastrawan pada malam apresiasi itu bersentuhan dengan Timah dan Lada.

Tiba-tiba aku menunduk dan menggugat tanggung jawab sosialku sebagai seorang sastrawan yang sedang melakukan Temu Sastrawan di Tanah Timah dan Lada ini.

Untuk itulah seusai TSI II kami melakukan tamasya budaya dan beberapa orang di antara kami melakukan diskusi lepas untuk menemukan kegairahan baru bahwa di dunia mana pun kami berada, di tanah mana pun kami berpijak, karya Sastra yang kami lahirkan harus bisa menjawab tanggung jawab sosial kami sebagai seorang pengarang. Semoga Tuhan menjawab doa kami semua.

Dua Agustus 2009, TSI II pun ditutup oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bangka Belitung, Yan Megawandi SH, M.Si, sama meriahnya dengan saat dibuka. Kelompok Kesenian Bedalong persembahan dari Suku Sekak yang diduga sebagai suku pertama yang mendiami Pulau Bangka ini merupakan kesenian orang laut yang menunjukkan kegembiraan dan sukacita.

Lagu dan tarian penuh gerakan khas Melayu persembahan mereka malam itu, tidak mampu menahan para sastrawan untuk turun bergoyang. Suku Sekak ini banyak yang belum beragama dan hidup mereka sangat terasing namun asimilasi kemudian “memaksa” mereka menjadi masyarakat biasa yang harus menerima modernisasi dengan segala akibatnya.

Kesepakatan dalam TSI II ini, selain menumbuhkan dan terus menghidupkan sastra-sastra berwarna lokal dan kedaerahan serta memberi semangat pada sastrawan daerah untuk terus maju dan jangan pernah berhenti, juga melahirkan kesepakatan bersama sastrawan Indonesia bahwa Propinsi Kepulauan Riau, kota Tanjung Pinang akan menjadi tuan rumah pada TSI ke III nanti.

Kita telah berpisah, para sastrawan kembali mengayunkan pena mereka di daerah mereka masing-masing, namun banyak kenangan dan pelajaran berharga bagi kami semua semoga pena kami harus lebih tajam dalam menuliskan tentang daerah kami masing masing. Karena seperti apa yang dikatakan Seno Gumira Adjidarma, jika pers dibungkam sastrawan tetap bisa berbicara.

Dalam perjalanan menuju Bandara Depati Amir aku tiba-tiba kembali merindukan Timah dan Lada sama kuatnya dengan aku merindukan untuk cepat tiba di Kupang-NTT. Dalam taxi yang membawaku aku tiba-tiba berpikir situasi Bangka berkaitan dengan Timah dan Lada bukan mustahil bisa terjadi di Kota Kupang dan NTT umumnya. Indikasi awal sedang berlangsung.

Media cetak telah mempublikasikan bagaimana masyarakat petani di pinggiran Kota Kupang dan Kabupaten TTS serta TTU sedang ramai-ramainya menambang dan memungut Mangan untuk dijual kepada “investor”.

Di Kota Kupang sendiri, Walikota Kupang Drs. Daniel Adoe sudah melarang masyarakat menambang mangan sampai diterbitkannya peraturan pemerintah. Tindakan Pak walikota Kupang ini menurutku cukup peka dan menjadi langkah awal yang bagus untuk masyarakat dan lingkungan hidup.

Di Kabupaten TTS, masyarakat petani “meninggalkan” lahan jagungnya untuk berburu mangan. Di Kabupaten TTU, ratusan petani menjual mangan pada pemodal lokal yang akhirnya ditahan oleh kepolisian setempat.

Semua itu menjadi indikasi bahwa tidak mustahil suatu ketika lahan pertanian di NTT akan terbengkalai, bahkan lingkungan hidup akan terancam karena petani kita lebih memilih mangan dan membiarkan rumah dan lingkungannya rusak dibandingkan mereka harus menjadi petani jagung atau padi, jika pemerintah tidak siap dengan peraturan yang membumi di mana rakyat juga berhak menggali dan menambang mangan namun juga memiliki kewajiban untuk melindungi dan merevitalisasi lingkungannya, para petani pun terus menjadi petani dan tidak harus meninggalkan lahan pertaniannya.

Bunyi ponselku mengagetkanku bahwa aku telah tiba di bandara dan segera boarding. Eh, ternyata sebuah puisi dari Ichsan Mokoginta sastrawan yang juga wartawan Bangka yang dikirimkannya pada ponselku.

…mezra, mungkin ketika ini engkau telah melaju di jalan pulang

Kabarkan pada pepohonan tentang rindu yang meriap, agar angin akan selalu mengaliri kenangan malam
Dan ketika ini engkau telah melaju di pertengahan jalan pulang

Jangan dibawa hitam legam tanah negeri kami menyebrang
Lautan

Atau airnya yang cokelat,muntahkan ketika engkau
Mungkin telah hampir tiba

Kabarkan pada pepohonan tentang rindu yang tak henti dan terus meriap

Agar angin selalu dan terus mengaliri kenangan malam
Aku tersenyum. Selamat tinggal Bangka negeri Timah dan Lada (habis).

*) Mezra E. Pellondou: guru bahasa dan sastra Indonesia SMA Negeri 1 Kupang. Mahasiswa pascasarjana Linguistik Undana. Tinggal di Kupang.
Dijumput dari: http://jurnalis-ntt.blogspot.com/2009/09/sastra-indonesia-pascakolonial-timah_28.html