Dimensi Profetik: Kisah Penyair Mencari Tuhan di Hikayat Perjalanan Lumpur

Musa Ismail *
riaulive.com

Kalau kita merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), profetik mengandung makna berkenaan dengan kenabian dan ramalan. Namun, dalam pengertian lebih tajam, profetik merupakan suatu istilah yang mengaitkan antara ruang lingkup sastra dengan aspek keagamaan. Abdul Hadi WM mengatakan, segi penting yang kerap ditekankan oleh para ahli dan pengamat yang tajam dalam membicarakan relevansi sastra keagamaan yang mendalam, termasuk sastra sufi, ialah segi profetiknya. Inilah yang disebut semangat profetik. Profetik merupakan segi sentral, pusat bertemunya dimensi sosial dan transendental dalam penciptaan karya sastra (2004:1). Keadaan ini tentu saja berlawanan dengan nilai kemanusiaan yang bersifat profan. Hadi menambahkan, dimensi profetik memberi kedalaman pada suatu karya, menopangnya dengan nilai-nilai kerohanian, membuat suatu karya seni bersifat vertikal atau meninggi.

Kalau kita merujuk ke pemikiran Barat, ternyata dimensi profetik dalam sastra mendapat pengkajian dan perhatian khusus. Karya-karya yang banyak dikaji seperti karya penyair dan sastrawan profetik Goethe, Dostoyevski, Jalaluddin Rumi, Mohammad Iqbal, TS Eliot dan sebagainya. Bahkan, dari pengkajian itu, para pakar menyimpulkan, pesan profetik dan kerohanian sangat diperlukan oleh banyak manusia modern (lihat Hadi, 2004:2). Ini berarti napas dan semangat keagamaan sangat diperlukan untuk menyaring kebudayaan yang serba hedonisme. Suatu kebudayaan tanpa nilai-nilai profetik, akan mengalami kemerosotan dari berbagai sendi kehidupan. TS Eliot menegaskan, kebudayaan takkan bisa mengalami masa cerah tanpa dilandasi nilai-nilai keagamaan. Apa salahnya kalau saya mengatakan bahwa karya sastra takkan bisa mengalami masa cerah tanpa dilandasi nilai-nilai keagamaan. Pada dasarnya, sastra profetik merupakan pencarian jatidiri dalam kaitan dengan aspek ke-Tuhan-an. Ali Syariati mengatakan, segi penting lain dari sastra profetik adalah tolok ukurnya yang hakiki, yaitu sebagai sumber penemuan jatidiri manusia dan penyebab mekarnya kemungkinan-kemungkinan transenden.

Pakar lain, Roger Garaudy mengatakan, semangat profetik timbul karena adanya dorongan untuk menyampaikan makna dari realitas yang tak tampak. Para penyair yang memiliki semangat profetik menyadari, gejala-gejala kehidupan yang terlihat oleh mata dan pikiran yang biasa ini hanyalah ungkapan lahir dan simbol dari kenyataan hakiki yang tersembunyi. Gejala-gejala lahir ini adalah alamat-alamat Tuhan dan ayat-ayat-Nya yang mesti dibaca dan dihayati secara mendalam. Karena ia adalah kebenaran yang hakiki, maka bagi penyair religius tugas utamanya ialah menyampaikan berita kenabian. Berita bahwa ayat-ayat Tuhan terbentang dan tersembunyi di alam dan dalam diri manusia.

Suatu karya sastra bukan hanya mempersoalkan kemungkinan lahiriah kehidupan. Berbagai kemungkinan lain dapat jadi peluang untuk menungkapkan sisi-sisi kehidupan yang lebih dalam. Dimensi profetik merupakan salah satu sisi-sisi kehidupan yang lebih dalam itu. Pengungkapan sisi-sisi terdalam dalam karya sastra akan membangkitkan kegairahan transendental, baik secara mikrokosmos maupun makrokosmos.

Beberapa puisi dalam kumpulan puisi Hikayat Perjalanan Lumpur (selanjutnya saya singkat HPL) karya Syaukani Al Karim memperlihatkan dimensi profetik yang kental. Beberapa puisi lainnya, lebih banyak bicara tentang kepedihan, kesunyian (solitude) dan kenangan sejarah (nostalgia historik). Kalau selama ini kritikus Indonesia, Maman S Mahayana mengukuhkan bahwa Syaukani sangat kuat dengan puisi “Jazirah Luka”-nya, menurut saya, kekuatan Syaukani berikutnya adalah dimensi profetik pada puisi-puisinya dalam HPL. Dalam puisi berjudul “HPL” (2006:1), Syaukani menuturkan dengan kisahan berikut. Aku berkelana menapaki jalan-Mu, karena jiwa yang gundah/ini mencari jawab: siapa aku? Telah kusetubuhi waktu dari/ranjang ke ranjang, dari malam ke malam, namun air/kepuasan hanya jatuh ke lembah dan lebuh-lebuh berbatu. Membeku. Terasing.//

Secara singkat, puisi yang terdiri atas 11 bait itu menuturkan tentang perjalanan batin tokoh aku (akulirik). Pemakaian tokoh aku di sini bisa saja dikaitkan dengan sudut pandang (point of view) orang pertama, yaitu penyair sebagai pelaku dalam kisahan puisinya. Dalam puisi ini, Syaukani merenungi beberapa Alquran, yaitu QS Al Ashr:1-3, QS An Nashr:3 dan QS Asy Syams:10. Tentu saja ini suatu mahakiasan dalam puisi seperti pernyataan penyair sufi Persia abad ke-15, Abdul Rahman A-Jami, bahwa puisi merupakan kias tentang alam keabadian dan isinya merupakan hikmah yang dipetik dari Taman Mawar Ilahi (alam Lahut). Puisi “HPL” ini bertutur tentang tokoh aku yang jadi terasing dengan kitab suci Alquran yang merupakan kitab agama yang diyakininya selama ini. Puisi ini merupakan perjalanan batiniah tokoh aku sebagai tokoh yang selalu diliputi permainan-permainan kotor duniawi. Permainan kotor duniawi ini dapat kita tangkap dari simbol diksi lumpur. Dalam “HPL”, tokoh aku terjerembab dalam beberapa simbolisasi lumpur duniawi. Pertama, tokoh aku terjerembab dalam lumpur fitnah, nafsu dan ujub sehingga tak tahu arah tujuan hakiki. Kedua, tokoh aku terjerembab dalam lumpur kehinaan sebagai manusia batu (manusia yang buta dan tuli akan kebenaran). Ketiga, tokoh aku yang terjerembab pada lumpur ketidakpedulian terhadap para yatim, fakir, salat dan tak mau memahami ayat-ayat Ilahi dan terjebak kesombongan. Kendati demikian, pada 4 bait terakhir, ada keinginan tersirat dari tokoh aku untuk segera kembali ke jalan kebenaran dalam perjalanan panjang duniawi.

Tuturan perjalanan panjang tokoh aku yang terjebak ke perangkap duniawi ini berlanjut pada puisi “HPL 2”. Jika pada puisi “HPL”, Syaukani masih mengaburkan siapa tokoh aku, pada puisi “HPL 2” tokoh aku yang dimaksud penyair adalah penyair (nazim): Akulah sang nazim yang menyusuri pantai-Mu dengan hati/ gelap, membanggakan cinta lewat butir-butir pasir, menulis/ rindu dengan tinta-tinta buih, namun kutinggalkan juga kasih-Mu dalam kabut.//Akulah sang nazim yang membaca nukilan-nukilan nazam/yang Engkau berikan dengan cinta, catatan-catatan semesta-Mu tentang bumi dan langit, tentang syurga dan neraka/ tentang rindu dan murka, namun aku tenggelam dalam alif,/ba, ta yang berkhianat tatkala menjadi kata-kata.//

Dalam kedua puisi HPL ini, dapat dikatakan tokoh aku (penyair) secara teori, sudah memiliki pengetahuan dan pemahaman akan hakikat kehidupan transendental. Namun, hakikat kehidupan tokoh aku masih jadi ‘malin kundang’ yang membatu (keras hati, pikiran dan perasaan). Sikap membatu itu dapat kita pahami dalam bait terakhir kutipan “HPL 2”: Datanglah pada-Ku sebab engkaulah sang tamu. Masuklah, tak pernah aku tutup pintu. Mencintailah, akan Aku ucap/ rindu’// Oh, kudengar kalam-Mu, namun belum mampu kuucap cinta dalam iman yang berbisik.// (2006:8).

Perjalanan batiniah yang dahsyat dapat kita tangkap dari kedua puisi HPL Syaukani. Berkemungkinan besar ini adalah perjalanan transendental sang penyair (Syaukani) dalam memahami, memaknai dan menerapkan nilai-nilai keagamaan pada dirinya, baik secara mikro maupun makrokosmos. Puisi ini merupakan puisi perjalanan atau petualangan mencari cinta sejati, yaitu cinta dari Ilahi. Dalam perjalanan ini, sangat kental dengan pergulatan emosional sang penyair.

Inilah perjalanan kerinduan yang panjang dari seorang penyair. Suatu perjalanan panjang, selalu dengan tahapan yang melelahkan. Namun, karena kerinduan hakiki pada Ilahi, kelelahan selalu tersembunyi di balik tembok keinginan yang kuat. Lanjutan kisah perjalanan sang penyair dapat kita pahami dalam puisi “Maafkan Manusiaku Ini, Tuhan” (MMIT). Syaukani sebagai penyair masih tetap menyatakan kerinduannya pada kemahasucian Ilahi. Penyair masih terus mengembara, mencari, dan memburu kalbunya yang telah hilang. Masih ada jarak terbentang jauh antara si akulirik dengan Tuhan. Namun, kesadaran akulirik masih saja dalam batas kesadaran yang kosong yang dapat kita pahami dalam kutipan larik berikut: Rinduku ingin merangkul cinta-Mu yang suci//Mencari kepingan-kepingan kalbu yang hilang, juga cahaya.// Rinduku mencari cinta-Mu yang suci.//Dalam cinta-Mu tersebut cintaku, tak dicintaku Engkau…//Maafkan manusiaku ini, Tuhan.//

Kisah perjalanan penyair mencari cinta Ilahi dalam HPL diakhiri dengan puisi ‘’Kepadamu Jua” (KJ). Judul ini mengingatkan kita dengan puisi profetik/sufistik lainnya, yaitu “Padamu Jua” karya Amir Hamzah. Meski beda, pokok masalah sama: mencari Tuhan. Dalam “KJ”, Syaukani mengungkapkan suatu kesadaran penuh makna dari kehidupan yang sebenarnya, yaitu hanya pada Tuhan-lah tujuan kehidupan yang kita kehendaki: Tiada yang setia memberi cinta,/selain Engkau.//Kepada-Mu juga,/rinduku kan sampai ke batas.-//.

Dimensi profetik dalam HPL karya Syaukani Al Karim merupakan gambaran kisah perjalanan dan petualangan sang penyair mencari hakikat kehidupan sebenarnya. Terkhusus dalam perjalanan mencari cinta dan rindu Ilahi. Dari puisi ini, dapat kita simak betapa perjalanan rohaniah lebih bermakna daripada lahiriah. Kebermaknaan itu dapat kita sandingkan dengan upaya mencari hakikat diri, pesan-pesan agung spiritual dan imbauan kewaspadaan akan bahaya kehidupan duniawi. Pada umumnya, demikianlah wujud dari sastra (puisi) profetik, yaitu ingin tetap zuhud dan meninggalkan ujub. Namun, Tuhan telah menyuguhkan ujub duniawi untuk berpasangan dengan perilaku zuhud. Di sinilah letak perjalanan mencari cinta Ilahi. Sehubungan dengan hal ini, Braginsky mengatakan, sastra agama atau tasawuf menggambarkan tahap-tahap perjalanan rohani, pengenalan hakikat diri, memberi peringatan tentang bahaya yang mengancam jiwa seseorang, serta penjelasan tentang cara-cara mengatasi bahaya tersebut (dalam Hadi W.M., 2004:49). Perjalanan rohani dalam HPL adalah kisah perjalanan manusia (penyair) yang terjerembab, terjerat, dan terjerumus ke lumpur dalam upaya mencari Tuhan.

*) Menulis tiga kumpulan cerpen, dua novel dan satu kumpulan esai sastra-budaya. Masih ada lima naskah yang belum dipublikasikan. Guru SMNA 3 Bengkalis ini sedang belajar di Pascasarjana Manajemen Pendidikan, Universitas Riau.
http://www.riaulive.com/dimensi-profetik-kisah-penyair-mencari-tuhan-di-hikayat-perjalanan-lumpur.html