Kita dan Teori-teori Barat

Budi P. Hatees
analisadaily.com

Dua tokoh sastra di Medan, Damiri Mahmud dan Mihar Harahap, “terhenyak” ucapan Prof. Jan van der Putten ketika berceramah di Universitas Negeri Medan (Unimed). Guru Besar Bahasa dan Kebudayaan Austronesia, Universitas Hamburg, Jerman, ini menyebut sastra kita terasing di luar negeri dalam makalahnya yang berjudul “Tersingkirnya Studi Kebudayaan dan Karya Sastra Indonesia di Luar Negeri”,

Keduanya tokoh sastra Medan, yang selama ini memilih posisi sebagai ahli sastra (kritikus), tentu saja “terhenyak”. Simpul Prof. Jan van der Putten itu sekaligus menegaskan, hasil kerja para kritikus berupa studi sastra, tidak membuat sastra kita diperhitungkan orang luar negeri. Baik Damiri dan Mihar kemudian menulis esai di Analisa edisi Minggu, 12 Oktober 2014, yang diniatkan menyikapi isi ceramah itu.

Mihar Harahap menulis “Menuhankan Teori Sastra dan Pencitraan Budaya”, sedangkan Damiri Mahmud menulis “Senyum Putri Jelita dan Menuhankan Teori”. Pada judul kedua esai, kita temukan kata “menuhankan teori”. Kata “menuhankan” bisa dipahami sebagai “membuat jadi Tuhan” dan bila disandingkan dengan kata “teori”, maka makna yang coba disampaikan judul itu adalah “teori dianggap sebagai kebenaran yang punya nilai sejajar dengan Tuhan”.

Kata itu kristalisasi atas simpul Prof. Jan van der Putten, yang mengeritik para pelaku studi sastra (kritikus) kita karena terlalu mengandalkan teori-teori Barat dalam melakukan kerja kritik karya sastra. Kita pun bersepakat dengan simpul itu.

Teori sastra lokal

Sejak lama, tradisi sastra kita memang sudah seperti itu, terlalu mengandalkan teori-teori sastra dari luar. Banyak kertas kerja, diskusi, seminar, sampai artikel ditulis para ahli sastra kita, yang intinya mengkritisi pemakaian teori-teori sastra Barat di Indonesia. Tidak sedikit pula yang sampai pada simpul agar para teoritisi sastra di negeri ini mulai berpikir untuk menciptakan teori yang khas Indonesia.

Dalam esai saya, “Teori dan Kritik Sastra Lokalitas” yang disiarkan di koran ini. Saya singgung soal teori sastra luar negeri yang dikait-kaitkan orang dengan perkembangan sastra kita yang bersemangat memuat lokalitas, sehingga teori-teori luar negeri dikhawatirkan tak mampu memahami ruh lokal itu. Alasan itu tidak ilmiah karena galibnya teori-teori lahir untuk menjawab persoalan-persoalan universal.

Teori Barat, apapun disiplinnya, relevan dipakai dimana saja. Teori tidak mengenal wilayah negara. Tidak punya kartu tanda penduduk. Kenapa warganegara teori sastra itu selalu dipertanyaan dan dipersoalkan di negeri ini seakan-akan nilai karya sastra ditentukan oleh teori sastra.

Kita tahu, setiap kali karya ktirik sastra muncul, pijakan yang dipakai para pengkritiknya selalu saja teori dan kritik sastra dari luar Indonesia. Bisa dibilang, tidak sedikit kritik sastra itu yang berhasil memperkaya kandungan karya sastra bersangkutan. Bahkan, para penulis kritik mampu mengungkap dunia batin khas Indonesia di dalam karya itu. Sekalipun alat yang dipakai untuk mengungkapkannya bukan teori dan kritik sastra asli Indonesia.

Tidak ada yang dilanggar soal pemakaian teori dan kritik satra Barat itu. Kritik-kritik sastra itu tetap dibaca, menjadi bahan pembelajaran bagi generasi kritikus sastra. Hari ini, teopri dan kritik sastra Barat tetap dipakai. Cuma, tidak semua ahli sastra punya kapasitas intelektual yang memuaskan dalam mempergunakan teori-teori yang ada.

Saut Situmorang memberi contoh tentang para ahli sastra yang gegabah memakai teori Barat dalam melihat fenomena sastra kita. Dalam esainya, “Sastra Kontekstual”, Saut mengkritisi Arief Budiman dan Ariel Heryanto yang menjadi penggasan perdebatan tentang sastra konstekstual.

“Membaca kembali tulisan-tulisan Arief Budiman dalam buku Perdebatan Sastra Kontekstual,” tulis Saut Situmorang, “ada beberapa hal yang mencengangkan saya, terutama kalau saya mempertimbangkan reputasi Arief Budiman di dunia intelektual Indonesia selama periode Orde Baru.”

Intinya, bagi Saut, Arief Budiman telah menderita “kegagalan teoritisi” ketika menyebut perdebatan sastra kontekstual sebagai persoalan sosiologi kesenian, padahal elaborasi konseptual atas defenisi sastra kontekstual itu tidak punya kejelasan. Bagi Saut, tulisan maupun isi ceramah Arief Budiman yang memicu perdebatan sastra konstekstual hanya pseudo ilmiah, sesuatu yang seakan-akan ilmiah.

Malangnya, para sastrawan yang ikut berpolemik ketika itu, hanya ikut-ikutan agar terlibat dalam sejarah tetapi tak punya sebuah pemikiran yang mampu menerangjelaskan persoalan yang sesungguhnya sedang terjadi.

Dunia sastra kita memang dihuni oleh para ahli yang hanya ingin agar tercatat, mereka yang selalu berusaha untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan kesusastraan tanpa mengerti apa sesungguhnya yang sedang dilakukan. Para sastrawan pun seperti itu, hidup dalam glamour yang diciptakannya sendiri. Merasa dirinya merupakan sastrawan yang layak dicatat meskipun bukan karena mampu menghasilkan karya.

Sastrawan Jaringan

Dalam berbagai event pertemuan para sastrawan, misalnya, banyak sastrawan yang diundang bukan karena kapasitas karyanya. Melainkan kapasitas jaringannya. Meskipun sudah tidak pernah menghasilkan karya sastra, tetap diundang dalam pertemuan-pertemuan sastrawan. Ini menandakan pertemuan-pertemuan para sastrawan yang digelar di negeri ini, tidak lebih dari acara kangen-kangenan para sastrawan. Seakan-akan serius memikirkan masa depan sastra kita dengan ragam rekomendasi mengenai masa depan karya sastra itu.

Kenyataannya, rekomendasi demi rekomendasi yang lahir dalam bentuk seminar dengan melibatkan para ahli sastra, menegaskan bahwa sastra kita akhirnya seperti makna teks iklan tentang “jeruk makan jeruk”. Kita menulis karya sastra, mempersoalkan karya sastra itu, dan berdebat tentang fenomena sastra itu hanya untuk diri kita sendiri.

Meminjam Prof. Jan van der Putten, kita bersastra tetapi orang lain tidak mengenal sastra kita di luar negeri. Kita ambil contoh sejumlah polemik sastra yang terjadi di Medan, yang muncul di media ini. Setiap orang ingin terlibat dalam polemik, tetapi keterlibatan itu hanya ikut-ikutan berpolemik tanpa jelas apa yang hendak diperjuangkan dengan ikut terlibat. Akibatnya, sastra di Medan (saya tak memakai Sumatra Utara), tidak pernah menghasilkan karya-karya dengan kadar tekstasi yang mumpuni.

Satu dua orang sastrawan sempat bicara di tataran nasional, karena teks sastranya memang punya nilai lebih dibandingkan teks sastra sastrawan lain. Terlalu banyak pujian diarahkan padanya, yang akhirnya membuat sastrawan itu besar kepala.

Penulis cerpen seperti Hasan Al Banna adalah sastrawan yang terlalu cepat besar kepala. Orang yang merasa telah selesai menghasilkan karya hanya karena cerpen-cerpennya banyak mendapat pujian. Hasan mengikuti tradisi yang diwariskan sastrawan terdahulu, yang tidak lagi menulis karya sastra hanya karena namanya telah masuk dalam daftar list sastrawan nasional. Kita bisa melihat nama mereka dalam buku Leksikon Sastrawan yang ditulis Korrie Layun Rampan. Berapa di antara nama sastrawan Sumatra Utara dalam buku itu, yang masih berkarya sampai sekarang?

Sastra yang Terasing

Kembali pada dua tokoh sastra Medan yang “terhenyak” karena simpul Prof. Jan van der Putten, lalu buru-buru menulis esai yang intinya redunden atas apa yang sering mereka bicarakan dalam tulisan-tulisannya: mengulang-ulangi menyebut sejarah sastra kita dengan sastrawan yang gemilang di luar negeri sambil mengutip sejumlah nama. Kentara kalau Damiri maupun Mihar terpengaruh simpul Prof. Jan van der Putten, karena merasa, apa yang disampaikan ahli bahasa Antronesia itu sesuatu yang penting.

Artinya, meskipun benar sastra kita terasing di luar negeri, tetap perlu mendebat “luar negeri” yang dimaksud Prof. Jan van der Putten. Apakah luar negeri itu Benua Eropa, Benua Amerika, Benua Afrika atau Benua Asia. Kalau luar negeri yang dimaksud adalah Benua Eropa, khususnya Jerman, perlu diajukan pertanyaan: apakah perlu bagi sastra kita untuk dikenal atau diterima di Jerman.

Kita tahu, belakangan banyak ahli dari Jerman yang tertarik dengan sastra kita. Kita juga punya sastrawan yang gemar menerjemahkan karya sastrawan Jerman ke dalam bahasa Indonesia seperti yang dilakukan Agus R. Sarjono. Ada pertukaran budaya Indonesia-Jerman yang terus berlanjut hingga kini, didukung sejumlah non-government organization.

Sastra dan gerakan demokrasi bersetubuh dalam jalinan pertukaran budaya Indonesia-Jerman sejak lama. Kita ingat ketika novel Saman karya Ayu Utami mendapat penghargaan dari sebuah institusi di Jerman padahal novel itu belum diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman.

Belakangan, adanya pertukaran kebudayaan Indonesia-Jerman mendorong panitian The Frankfurt Book Fair (FBF) 2015 untuk memposisikan Indonesia sebagai peserta kehormatan. Sebab itu, kita layak bercuriga. Simpul Prof. Jan van der Putten tentang sastra kita yang tidak dikenal di Jerman bagian dari komunikasi bisnis untuk mengkampanyekan betapa pentingnya event The Frankfurt Book Fair (FBF) 2015. Bagi penyelenggaran FBF 2015, negara kita yang menjadi peserta kehormatan, dituntut untuk mensyukuri penunjukkan sebagai peserta kehormatan.

Coba perspektifnya kita balik. Sesungguhnya Jerman membutuhkan Indonesia dan berharap masyarakat kita menjadi pasar potensial atas produk dari produsen-produsen dunia yang bergerak dalam industri perbukuan yang akan hadir dalam ajang FBF 2015. Sebagai negara yang besar, Indonesia adalah pasar besar bagi seluruh kapitalis dunia. Pasar dengan masyarakat yang gampang dibodohi dengan studi-studi ilmiah, karena memang tidak punya tradisi ilmiah yang mumpuni. Kita menuhankan teori-teori Barat sekaligus terlalu menuhankan orang-orang Barat.

http://analisadaily.com/news/read/kita-dan-teori-teori-barat/73953/2014/10/19