Kota Rawa

Raudal Tanjung Banua
Jawa Pos, 25 Mei 2014

DI dunia yang diliputi bintang khayal, kabut imajinasi, nama-nama dan impian, tak semua kenyataan lahir dari bayangan, sebagaimana tak semua bayangan lahir dari kenyataan. Kita hidup di dunia ketiga dari matahari1, demikian Bob Perelman dalam sebaris sajak yang tak kepalang menghentak.

Entah kenapa, ia meletakkan khayalku di antara malaikat dan kurcaci. Nomor tiga. Kita bisa saja menghitungnya dari Merkurius, di mana bumi memang terletak di urutan ketiga dari matahari. Tapi sejak bertahun-tahun lalu, orang-orang dari negara maju menganggap dunia ketiga itu identik dengan kemiskinan, dunia sedang berkembang. Jadi antara sebutan dan kenyataan bisa berbeda, kadang tak terduga.

Itulah yang kurasakan ketika perlawatan membawaku ke sebuah kota yang tak pernah kubayangkan, namun kemudian kutapaki dengan mesra. Aku tiba mula-mula dengan hasrat ingin melihat kerbau kalang atau kerbau rawa. Di Banjarmasin kudengar kabar kalau kerbau rawa digembalakan di hamparan rawa yang luas bernama Danau Panggang, terletak di Hulu Sungai Utara hingga selatan. Di sana dibangun kandang-kandang kayu yang disebut kalang, lengkap dengan rumah pengembala, menjadi semacam atol di tengah vegetasi rumput yang menghampar hingga ke batas cakrawala.

”Sebenarnya itu bukan danau, tapi rawa menyerupai danau,” kata Agus Suseno, sahabat yang biasa mangkal di Taman Budaya dan akrab kami sapa ”Tukang Kebun”. Dari si ”Tukang Kebun” aku mendapat pelajaran pertama tentang kemungkinan rawa sebagai ”dunia antara”; bayangan yang memproyeksikan diri dan kenyataan. Danau, tapi bukan danau, tak sepenuhnya air tapi juga tak sepenuhnya tanah; air campur lumpur, semacam deru campur debu2. Antara air dan tanah, sungai-darat, laut-muara, terbentang wilayah ”terra cognita”, paya-paya lembab basah. Tak heran, aku menemukan istilah-istilah yang merangsang minat kemudian: nelayan rawa, sunset rawa, ikan rawa, taman rawa dan… kota rawa!
***

YA, kota rawa. Ke sanalah aku dipertemukan, bersama Hajrin, sahabat yang mencintai puisi sebaik ia mencintai politik. Kami naik mobil kesayangannya, opel gardan ganda yang cocok belaka dengan alam dan jalanan Kalimantan. Tak lupa kami singgah di makam mursyid Arsyad Al-Banjari di Kalampaian yang penuh bunga melati dijajakan ibu-ibu di pinggir jalan. Usai berdoa sambil menyaksikan orang-orang sakit yang mengaduh memohon kesembuhan, kami melanjutkan perjalanan. Karena bertujuan ke daerah rawa, kukira kota terakhir adalah Kandangan, kota kecil pelintasan di kaki Meratus, terus ke pedalaman. Setelah itu rawa tak bertepi. Tapi ternyata tidak.

Ketika melewati seutas jalan yang ditinggikan di antara hamparan rendah gambut, sempit dan berdebu, dengan jembatan-jembatan kayu terbelintang sekadarnya, perlahan aku merasa sedang menuju ke suatu tempat yang berdenyut hidup. Hidungku mulai mencium bau perapian, bergalau dengan bau rawa yang masam dan rumput terbakar. Lalu rumah-rumah merapat ke tepi jalan. Serambinya nyaris menempel ke aspal yang mengelupas, sementara bagian belakang menjorok ke rawa-rawa, ditopang tiang kayu gelam, jenis kayu paling ajaib di bumi; makin kuat tiap terendam. Ukurannya tak besar, sehingga jika saja ia mengarah ke atas maka akan tampak seperti tali-temali yang menggantung rumah-rumah itu di udara.

Di celah semak dan gelagah liar, terlihat perahu-perahu terikat di tiang, sebagian melaju dikayuh orang-orang bercaping lebar. Merekalah para nelayan (nelayan rawa!) yang hidup dengan bubu, pancing dan jala. Perahu mereka sarat ikan (ikan rawa!) hasil tangkapan: pepuyu, aruan, baung, lais, sepat, dan entah apa lagi. Aruan atau ikan gabus, biasa dijual basah, sepat dan pepuyu dijual kering. Cara mengeringkannya unik, sebagaimana kulihat dijemur di atap dan tepi jalan. Ikan-ikan dibelah dan digarami lalu dirangkaikan satu sama lain sehingga tampak seperti lembaran kriya yang indah, mengingatkanku pada kulit lembu bahan tata sungging di Yogya.

Tapi tak semua rumah memajang ”kriya ikan sepat”, sebagian rumah dipenuhi aneka gerabah. Piring, cangkir, periuk, belanga, celengan, anglo, bahkan kloset. Meski glasirnya tak sehalus keramik Kasongan atau Minahasa, namun justru memunculkan gurat-gurat kekuatan manusia rawa. Semua dibiarkan seperti warna aslinya: merah cokelat kuning –warna lumpur tanah rawa, bukan merah tanah liat. Jenis buah-buahan diberi warna mencolok melebihi warna buah yang sebenarnya; rambutan anggur merah nyala, pisang-pisang kuning cerlang, mangga alpukat hijau terawang. Semuanya menggandoli dinding dan tiang. Aku menikmatinya dari kendaraan yang tak bisa berlari kencang.

Kata Hajrin, orang sini juga ahli membuat baling-baling kapal dan alat rumah tangga dari aluminium, besi, segala baja. Jika orang Madura dikenal sebagai pengusaha besi tua, maka orang-orang rawa dari Hulu Sungai Selatan mengolah besi jadi apa pun. Di saat sama, mereka ahli mengolah segala yang lunak: lumpur, tanah, rumput, ternak, dan ikan-ikan…
***

KIAN lama jalan kian sempit dan rumah tambah padat. Jalan yang menyusut, ataukah kampung yang mengembung? Seharusnya kami ke sini naik perahu, dan memang begitulah dulu kehidupan warga di sini, kata Hajrin. Sungai sebagai ”jalan utama” dicapai dari berbagai arah, langsung dari tangga rumah. Air membawa mereka pergi lebih jauh ke hulu atau kuala. Hajrin tahu banyak kehidupan di sini karena ayahnya salah seorang manusia rawa yang sukses berdagang kayu, dan ketika kayu surut ia membuka gudang sewaan di Surabaya. Sebelumnya ia punya kapal dagang pemasok kebutuhan pokok ke pedalaman. Jalan raya kemudian dibuat, meski seadanya, sebagaimana yang kulihat, tapi cukup membelah dunia air, seperti tongkat Musa. Perahu dan kapal-kapal kian semu, seolah dalam pusaran sihir maya. Sebaliknya, bayangan ”dunia antara” makin kentara; antara air dan darat – yang cair dan mengalir, yang keras dan mampat!

Bagaimanapun jalan inilah yang mempertemukanku dengan sebuah kota di atas rawa; bukan dengan bim salabim tongkat Musa. Ditandai derak roda melewati jembatan panjang berlantai kayu tebal di atas Sungai Alai, mataku lalu tertumbuk menara dan kubah Masjid Jami’ Ibrahim. Warnanya kuning kecokelatan seolah memantulkan warna sungai, dan sungai memantulkan kubah-kubahnya. Di samping masjid, pasar yang ramai. Lembaran ikan kering tampak digantung dan ditumpuk; ikan-ikan yang hidup menggelepar dalam baskom. Juga unggas yang dikandangkan. Itulah belibis yang banyak hidup di rawa, sekilas menyerupai itik-itik gadis-belia, konon dagingnya lebih enak.

Masjid dan pasar menjadi titik koordinat geliat kota, dari mana sambung-bersambung rumah-rumah kayu dan bata, lalu memecah mengikuti simpang jalan, disambut rumah-rumah lanting di air tenang. Di bawah jembatan Andi Tajang yang berderak setiap saat, batang-batang bambu yang dialirkan dari Loksado, terapung-apung menunggu diangkut ke darat. Dekat situ ada dermaga kecil di mana perahu nelayan merapat menurunkan ikan tangkapan, termasuk lobster sungai. Perempuan-perempuan perkasa menjunjung baskom di kepala, membawa ikan dengan gembira. Pakaian mereka kuning keemasan, disepuh riak cahaya. Sedikit ke kiri, terdapat satu jembatan lagi, tak kalah panjang, melintasi Sungai Nagara. Persis di pangkalnya tegak papan nama tua, nyaris tak terbaca: SMU Negeri Daha Utara.

O, aku telah bertemu kota yang menakjubkan di antara dua sungai, di atas rawa yang kukira tak akan bisa menerima arsitektur sebuah kota. Ajaib, Nagara, ya, kota kecil Nagara, ibu kota Kecamatan Daha, tegak penuh keyakinan di atas rawa yang kita tahu lunak goyah itu, dan karenanya tak bakal kekal. Tapi lihatlah, tegak ia menyambut apa pun, siapa pun, yang tiba: angin santer, panas siang, burung-burung migrasi, banjir, kanal-kanal lumpur, dan air bumi. Juga ketakjuban-ketakjubanku yang tak terpermanai.
***

BEGITULAH aku terdampar di Nagara-Daha. O, bukan terdampar, sebab ia lunak dan airnya membawaku ke mana saja, menyentuh apa yang tak tersentuh, mencium segala bau. Lumpur yang menguarkan aroma kampung halaman. Getah rumput beraroma tajam. Datanglah angin, mula-mula pelan semilir, mengangkut aroma masam, menerbangkan bulu-bulu belibis dan itik-itik di pematang. Tapi lebih sering angin santer, memukul-mukul kusen dan jendela, menggeriapkan rumput dan gelagah.

Di tepian, di antara rumah-rumah lanting dan jamban, bersandar kapal-kapal ke pedalaman. Memuat dan menurunkan barang, lalu angkat jangkar, untuk pergi berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Adakalanya mereka kembali berlabuh pada bulan Ramadan, lantaran jauhnya jarak tempuh ke kota-kota air yang menunggu: Kuala Kapus, Muara Teweh, Puruk Cahu, Tanjungkulan, dan kota-kota lain yang tak tercatat. Sementara di hamparan rawa, air membangun jalur-jalurnya sendiri di antara gelagah, seakan mencari celah dari pepatnya vegetasi paya. Jalur-jalur itu saling bertemu dan memisahkan diri membentuk persimpangan ke berbagai arah, ke kota-kota kecil di tepian rawa, atau kampung terdekat. Marabahan, Amuntai, Alabio, Babirik, Pandak Daun, Sungai Pinang, Habirau dan Bayanan. Atau tidak ke mana-mana, hanya melingkar dan berujung pada sebuah kandang.

Menyusuri rawa di atas kapal kecil yang disebut klotok, sebagaimana kulakukan kemudian, aku terceguk suasana ngelangut. Dinding-dinding rumah berderet membelakangi sungai, menguning disepuh cahaya matahari. Melihat kota dari luar, dalam gerak kapal yang merentang jarak perlahan, lain sekali rasanya dibanding melihat dari dalam, menyusuri jalanan. Diriku seperti bertolak, namun sembari merengkuh semua dinding, semua kubah dan dermaga. Bila aku berada di dalam, kotalah yang merengkuhku lewat jalan-jalannya berdebu, seolah jari-jemari tak dikenal membekapku hingga sesak.

Di Baruh Kambang, klotok membelok ke jalur yang dipenuhi galah-galah bambu dan keramba. Seperti di perumahan, jalur itu dipasangi portal kayu. Seorang nelayan di atas perahu bergegas membukanya. Kecipak dayungnya campuran air dan lumpur. Julak Ahim, tukang klotok yang kutumpangi, melambaikan tangannya. Ia dan nelayan itu saling sapa dalam bahasa Banjar, kadang kudengar seperti tutur bahasa Sunda. Dari sang julak yang artinya paman, aku tahu jalur-jalur rawa memang dijaga nelayan atau penggembala.

Klotok kini melaju di antara rumput yang memanjang. Teratai dan eceng gondok yang mati-layu hanyut menuju sungai. Sekilas seperti sesaji alam, mengingatkan zaman Kuripan. Yang hidup memunculkan bunga-bunga segar, di mana kawanan bangau terbang berputar-putar lalu hinggap mengerkap katak, udang dan ikan-ikan. Maut dan kehidupan jumpalitan di sebalik rumput dan bunga liar. Di taman rawa yang pesonanya tak ditemukan pada taman-taman lain di dunia, keliaran menjadi aura yang mewarnai jagad raya. Di alur lumpur, belibis-belibis berbaris mandi, persis itik yang digembalakan, sebagian terbang menggaris cakrawala.

Yang menakjubkan, di tengah rawa kami tak hanya bersua nelayan pencari ikan, dengan galah dan tangkai pancingnya seolah menggores bola bulat matahari, tapi juga penggembala yang tinggal bersama kerbaunya di atas kalang. Sejenak mengingatkanku pada bagan atau jermal yang dibuat nelayan di tengah laut, dari bambu dan batang nibung. Kerbau-kerbau dilepas pagi hari, berenang menyusuri jalur air untuk mencapai hamparan rumput, dan sorenya pulang sendiri ke atas kandang.3

Jika musim hujan tiba, jalur-jalur kecil ini akan lenyap ditutupi air yang menghampar rata dengan sungai, sehingga hanya gelagah dan rumput-rumput lampai panjang yang kelihatan. Saat itulah rawa berubah jadi danau, kerbau-kerbau dipasok pakan, rumah-rumah di kampung membiarkan separo tiangnya terendam. Bila air surut, rumput bertambah hijau, tiang-tiang kemilau, dan begitulah segala sesuatu secara pantas mengekalkan dirinya di bumi paya-paya lunak kekal ini. Di kejauhan, membubung asap pembakaran, ramping menggurat kaki langit dengan kelembutan cahaya petang. Seseorang mungkin sedang berladang, menerabas rumput, membersihkan lahan. Memang, rawa yang kering biasa untuk bertanam palawija. Di musim hujan, lahan yang sama tempat keramba. Berkah rawa sepanjang masa!

”Asal jangan ditanami sawit, sebab mengubah rawa jadi lahan kering selamanya,” kata Julak Ahim. ”Kami menolak perusahaan sawit masuk kemari. Dari Masjid Jami’ kami naik truk ke kantor bupati di Kandangan menuntut pembatalan izin.” Wajah julak basah keringat. Aku mengacungkan jempol tanganku, meski tahu semua menunggu waktu.

Kembali kulayangkan pandang ke kejauhan. Asap yang menari, kian sayup ke arah Alabio. Itu kota kecil lain di tepi rawa yang terkenal dengan itik dan tikar purunnya. Juga pintu masuk Muhammadiyah pertama kali ke tanah Banjar. Ke utara sedikit, Kota Amuntai, tempat kerajaan Banjar Siwa-Budha pertama bernama Kuripan, sebelum pindah ke Nagara-Daha ini. Seorang kawanku pernah bercerita mengenai sepasang anak muda, cucu keturunan opsir Belanda. Mereka datang ke ibu kota Hulu Sungai Utara itu mencari bekas rumah opanya. Berbekal selembar foto saat si opa bertugas di sana. Dan rumah itu masih ada, berdiri dengan sedikit perubahan di tepi sebuah jalan. Begitulah mereka menjaga sejarah dan silsilah: datang ribuan mil menyusuri jejak leluhur.

Aku berpikir: jika rawa-rawa ini kelak dikuasai perusahaan sawit, adakah jejak dan kenangan bisa dikekalkan? Aku pejamkan mata, merapal doa yang sama saat kudawamkan di makam Syekh Arsyad di Kalampaian.
***

TAK puas menyusuri kota ini sehari-dua, aku turuti kehendak hati mengenalinya barang setapak lagi, meski kutahu, semakin didalami semakin hatiku tak sanggup merengkuhnya. Dari rumah bibi Hajrin tempat kami menginap, aku susuri tepiannya yang lembab, bertemu jalan-jalan kecil kering berdebu, mengular ke hamparan lain yang lebih kerontang di mana bahkan rumput tumbuh seperti di atas batu, di bakar sepi4. Antara yang kering dan yang basah hidup berdampingan di sini: tepian, rumah-rumah lanting, rumah-rumah bata, geletar mesin klotok, deru kendaraan, berbaur simpang-siur, di persimpangan. Selain titik koordinat masjid dan pasar yang menandai geliat darat, sesungguhnya ada koordinat bayangan di air yang tidak saja memantulkan wajah kota sekarang, juga masa lama berselang.

Itulah titik pertemuan dua sungai besar: Nagara dan Alai –lazim disebut ”tumbukan banyu”. Titik yang telah menumbuhkan kota dalam rupanya yang azali dan jejaknya hidup dalam mitos abadi. Jika di Jawa dikenal ”kali tempur” tempat keramat ritual kungkum, di Daha, Putri Junjung Buih, permaisuri Pangeran Suryanata, raja termasyhur orang Banjar, diyakini muncul di tengah arus pertemuan itu. Bersama Lambung Mangkurat, patih sakti penuh martabat, raja meletakkan pancang pertama Nagara-Daha.

Sukar dibayangkan bagaimanakah berabad lalu membangun ibu kota di atas tanah lunak berlumpur? Bagaimanakah tiang-tiang istana ditegakkan dan taman-tamannya dirancang? Adakah dulu bukan rawa melainkan hutan raya hingga ke kaki Meratus sana?

Entahlah. Semua mesti dicipta ulang. Hidup menuntut manusia membangun kota di mana pun, kadang seperti di luar kesanggupan. Dari pegunungan hingga lembah yang dalam, di karang batu hingga ke pantai tersembunyi, di rawa dan kanal-kanal, di gurun, bahkan bawah tanah. Telah kubaca kota-kota dari lumpur dan debu seperti Jaipur di India atau Timbuktu di Sahara; kota di atas payau seperti Bagan Siapi-api di Riau; kota-kota air di sepanjang Mahakam dan Barito, kota-kota kecil berdinding batu di pegunungan Sewu. Tapi baru sekaranglah aku temui sebuah kota di atas rawa. Di atas, bukan di tepi-tepi, seperti Tamban dan Bati-bati yang pernah kutemui dengan hanya sebelah dindingnya menghadap paya. Di Nagara, sebelah-menyebelah, semua dinding semua pintu, menghadap ke rawa yang sama karena tegak dalam kepungan rumput, eceng gondok, gelagah, dan teratai-teratai ungu.

Kudengar azan dari Masjid Jami’ Ibrahim. Merdu. Aku berbelok. Kubasuh muka dan ragaku. Kudawamkan lagi doa di Kelampaian, lalu masuk. Di dalam masjid peninggalan Tuan Guru dari abad ke-17 itu, kulihat sebuah kubah kecil terletak tepat di bawah cungkup kubah utama. Bentuknya persis, kecuali warnanya yang dibuat hijau. ”Kubah dalam kubah,” bisik Hajrin yang tiba menyusulku,”Ini uniknya masjid habib.”

Sebagaimana si ”Tukang Kebun”, dari Hajrin aku dapatkan pelajaran berikutnya sebelum pulang. Tentang spiritualitas ”dunia antara”; bayangan dan semesta saling memproyeksikan diri, membuat segala sesuatu menjadi ada. Sungai memantulkan kubah maya di kejauhan, lantai dan dinding-dinding meniru kubah utama di kedalaman, dekat dalam dekapan. Dan di sisi bayangan kubah sejati itu kulihat sang muazin tersenyum padaku. Dialah Julak Ahim. Paman yang mencintai rawa sebaik ia mencintai kubah dan tiang-tiang kotanya.
***

DI sebuah kedai aku berhenti, memesan kopi pahit sambil merenungkan perjumpaanku yang sengit. Kakiku terasa masih berdenyar, aura kota merasuk tak hanya lewat mata, juga aliran darah yang membuatku teleng. Telah aku tapaki ia dengan hati-hati dan leluasa, sesuai kontur tanahnya yang lembab-basah, namun kerontang pada bagian tertentu. Bunga-bunga kering perdu, teratai-teratai basah ungu, jadi penanda ”dunia antara” yang kuangan dan kujumpai.

Kedai ini menghadap rawa dan tepian sungai, o, tidak, padang rawalah yang justru mengepungnya dari segala sisi. Di malam-malam tanpa bintang, kubayangkan rawa-rawa menyeringai seperti habis mencekik dua sejoli dirajam sepi5. Ah, aku mulai ngelantur lantaran pertemuan ini melebihi fisik. Ia menyentuh juga ingatan masa laluku. Dulu, ada sebentang rawa yang memisahkan kampungku dengan pantai. Itulah wilayah misteri tak teraba; sarang yang nyaman bagi nyamuk malaria, ular, lintah dan kura-kura. Juga jenis pohon pemangsa disebut kayu angeh; getahnya melepuhkan kulit hingga memar sampai ke daging. Tak seorang pun berani melintasinya. Untuk ke pantai orang harus memutar jalan ke muara. Sungguh pun begitu, vegetasi rawa dengan semak dan rumput hijau, cukup buat penggembala menghalau kerbau di tepi-tepi. Tak lebih. Di tengah, rawa tak ubahnya pasir hisap, membenam yang terperosok, mencekik tiap yang bergerak.

Itulah yang terjadi ketika suatu hari kerbau Pak Pili yang hamil tua tergoda rumput lebih hijau di bagian tengah, dan terperosok! Kerbau itu melenguh dengan mata mendelik serta kaki menggapai-gapai. Tentu saja tak mendapat pijakan karena jauh di bawah hanya air dan lumpur, bagai sumur tanpa dasar 6. Malahan makin bergerak, lumpur kian membenam. Hidungnya berbuih dan air hitam keruh mulai mengalir masuk. Kami sesama gembala mendorongnya dengan tongkat bambu, tapi ujung tongkat pun tak menyentuh apa-apa kecuali kecipak lumpur pekat. Pak Pili yang sedih dan putus asa malah mencambuk si ”Minah” –demikian ia memanggil kerbau kesayangannya itu– supaya berdiri, sia-sia.

Dan ketika si ”Minah” diam pasrah, saat itulah tubuhnya berhenti diisap bumi, sekarang gantian Pak Pili yang melenguh menangisi dua kerbaunya yang lenyap sekaligus: ”Minah” yang malang dan anaknya dalam kandungan. Sementara aku, untuk berhari-hari ke depan dibayangi hantu teror terkenang mata seekor makhluk tak berdaya, takluk tercekik paya-paya.

Dan berhari-hari pula aku menyaksikan pemandangan yang mengusik bintang khayal. Kerbau malang itu seperti kapal terdampar di sarang penyamun yang tak mengenal belas kasihan. Sekali waktu tampak seperti mahkluk purba terakhir menunggu punah, dengan lintah-lintah hitam gendut kemerahan berpesta mengisap sisa darah selagi maut menabungnya segobang-segobang7. Tapi bahkan ketika maut pergi, lintah-lintah tetap bersigayut, seolah lintah rawa tak hanya hidup dari darah, juga daging yang koyak. Di waktu lain, kulihat tanduk kerbau persis atap rumah gadang yang ditinggalkan; daging-dagingnya mulai berlepasan dan lengkung tulangnya menyumbul keluar; kuamsal sebagai dinding dan tiang-tiang, lapuk merana menunggu perantau pulang.

Kenangan masa kecil itu muncul menggetarkan ketika kulihat rawa yang luasnya tak kepalang ini. Lebih membuat gentar karena di tengahnya kutemukan sebuah kota! Nagara-Daha! Bertemu kota kecil di dalam hutan lebih mungkin membuatku tenang, sebagaimana jumpa pertamaku dengan Sungaipenuh di pedalaman Taman Nasional Kerinci Seblat. Setelah semalaman melewati Bukit Tapan, Sako yang lengang, dan jalan kubangan gajah, aku dapatkan Sungaipenuh dalam basuhan embun dan sepuhan cahaya pertama. Hatiku meriap, merasa siap menyentuhnya kapan saja. Tentu, karena selama ini aku merasa hutan di Bukit Barisan sebagai rumah sendiri tempat keluarga dan orang kampung membuka huma, tinggal berladang.

Aku juga terbiasa mendengar cerita tentang kota orang bunian, makhluk gaib di hutan, lebih ramai dan hidup, meski tak gampang terlihat mata telanjang. Satu-dua peladang yang tersesat konon pernah melihatnya, dan mereka terpesona hingga nyaris buta oleh cahaya dan kemilau rumah-rumah (ah, tentang ini lain kali saja kuceritakan!).

Kembali ke kota rawa, bagaimana mungkin aku juga tak ‘kan buta? Segala sesuatu tentang rawa tertanam abu-abu dalam jiwaku. Meski luasnya tak seberapa, rawa kampungku memberi kesan tentang dunia yang tak utuh, tak penuh, mustahil berpenghidupan. Hanya lumpur hitam, air keruh cokelat. Rumput dan belukar pepat. Akar-akar saling belit seolah hendak mencekik diri sendiri. Pohon-pohon berwajah aneh dijalari akar berduri. Di atasnya, elang berkuik dan gagak-gagak berkoak. Tapi rawa ganas itu lantas menemui ajal ketika tali bandar digali. Air di tiap lekuk berangsur surut-kering, ikan-ikan menggelepar, dan panas kemarau membuat bongkahan demi bongkahan. Garing. Lalu orang-orang menimbunnya dengan batu gunung, rumah-rumah merangsek tak kenal ampun. Dalam waktu singkat, rawa-rawa masa kecilku mengeras, angslup bersama misteri dan kenangan dangkal.

Tapi Nagara-Daha, lihatlah, didirikan dengan rawa masih basah, lumpur lunak berkecipak dan air menghampar seperti danau, bukan, seperti lautan! Tiang-tiang kayu gelam yang tak lebih sebesar lengan menopang struktur kota penuh keyakinan, tenang tiada goyah, melebihi beton, besi dan baja. Beton bisa retak, besi berkarat dan patah, baja melengkung dalam takdirnya, tapi kayu-kayu gelam makin kuat tiap terbenam; alot terendam payau dan paya-paya. Jika satu-dua mulai payah, tinggal menggantinya saat itu juga, cukup dengan paku dan palu, penghuni rumah paling perasa sekalipun tak akan tahu ada penopang hidupnya telah diganti. Begitulah, kayu gelam mengimbangi watak rawa yang rahasia: mengerkap tiap yang meronta, walau dalam diam. Namun dalam situasi demikian, perlahan kudengar percakapan samar Marco Polo dan Kaisar Kaum Tartar –dari buku merah dadu kesayangan:

”Kota-kotamu tak nyata. Mungkin tak pernah ada. Aku juga yakin kota-kota itu tak akan pernah ada lagi. Mengapa kau menghibur diri dengan fabel-fabel menggelikan ini?”

”Inilah maksud dari segala eksplorasi hamba: mengamati jejak-jejak kebahagiaan yang masih tampak sekilas…”

”Aku tahu kekaisaranku membusuk seperti mayat dalam rawa-rawa… Mengapa tak kau utarakan hal ini kepadaku? Kenapa kau berbohong kepada Kaisar kaum Tartar, wahai orang asing?”

”Ya, kekaisaran ini sakit, dan malangnya lagi, ia mencoba membiasakan diri hidup dengan penyakit kronis tersebut. Bila Baginda ingin tahu betapa kegelapan ada di sekeliling paduka, Baginda harus mempertajam penglihatan, berpedoman pada cahaya-cahaya redup di kejauhan.”8

Tanpa terasa, percakapan acak yang kuhapal di luar kepala itu berbaur dengan percakapan nyata di sekitarku. Entah mana lebih dulu. Percakapan miris yang menyumbul dari ingatanku atau suara-suara pengunjung kedai kopi yang mistis berdengung ini:

”Mereka tak peduli aksi kita, bahkan tutup mata!”

”Ya, mereka tambah lahan baru di selatan…”

”Di Bajayau mulai ada kerbau mati minum limbah.”

”Ulun tetap ingin jadi nelayan, seperti pian, hidup dari kerbau gembalaan.”

”Tapi pemimpin kita terus memberi izin…”

”Ya, karena mereka dibuat kenyang seperti itik pulang petang…”

Aku teringat wajah Julak Ahim di atas klotok tempo hari, wajah yang berkeringat. Terasa benar ia memikirkan sawit yang mengubah banyak hal di Kalimantan. Bukan. Bahkan setiap sudut negeri ini. Lahan dikuasai investor. Tanaman tunggal berpelepah sekeras besi menghampar seluas bumi. Selamat tinggal air-tanah, ladang-huma, tumpangsari! Dan sangketa demi sangketa menanti. Tapi entahlah, pemerintah senang bermain api, membuka hutan ulayat, merenggut jalur leluhur, mendirikan kekuasaan dari perbukitan hingga tepian. Tak meluputkan rawa-rawa, ”dunia antara”, penyanggah jagad raya.
***

AKU tahu, kekuasaan (meski tak kita sebut kekaisaran) sedang sakit, menunggu busuk. Para Kublai Khan enggan bercermin pada cahaya kecil di jauhan. Sementara Marco Polo, si orang asing, selalu takjub berlebih pada apa pun yang baru ia jumpai. Adakah keduanya cukup berguna? Tiba-tiba aku merasa tak yakin pada diri sendiri. Akulah juga si orang asing itu, tergeragap takjub pada pandangan pertama, pada tiang-tiang Nagara-Daha, menganggapnya akan abadi hingga lupa kefanaan di bumi.

Telah kuusap dinding-dindingnya yang kuning disepuh cahaya petang, kupoleskan lumpur ke tiang jembatan, dan kupotret taman rawa dalam keliaran tak tergantikan. Tapi apa yang kukatakan pada kaisar-kaisar kecil, para pejabat terhormat kaum banua yang mulai mengintai luas rawa-rawa sepi ini? Tak ada.

Tak ada? O, ada barangkali, memang bukan rumus ilmu yang penuh janji!9. Hatiku megap dari kelumpuhan. Sebagaimana Marco, aku coba menghidupkan jejak kebahagiaan yang masih tampak sekilas dan mungkin tinggal, dalam perjumpaan menggetarkan. Meskipun cerita pahit kedai kopi serasa ingin merenggutnya lebih awal, secepat kopi jadi dingin dan cahaya sore lekas jadi pudar, dihembus-hempas angin santer. Tak apa. Bahkan sebentar lagi gelap dan rawa semata kelam. Tapi kehidupan di dalamnya, di atas tiang-tiangnya, di galur-galur air-lumpurnya, akan tetap berdenyut seperti insang ikan-ikan. O, para klan Kublai Khan, lihatlah cahaya bintang dan kunang-kunang di atas rumput dan gelagah, lampu-lampu di air dan di rumah-rumah kota tercinta; Nagara, Nagara-Daha… ***

/Rumahlebah Jogjakarta, 2012-2014

Catatan:
1. Terjemahan Saut Situmorang, “Cina” (Jurnal CAK No. 2/1995)
2. Kumpulan puisi Chairil Anwar, terbit pertama 1949.
3. Lebih lanjut tentang kerbau kalang, lihat catatan perjalanan saya di Koran Tempo, 6 September 2009
4. Puisi Sitor Situmorang, “Bunga”
5. Ingatan pada sebuah puisi Subagio Sastrowardoyo
6. Judul drama Arifin C. Noor
7. Puisi Sutardji Calzoum Bachri, “Hemat”
8. Dikutip secara acak dari Kota-kota Imajiner-Italo Calvino (terj.Erwin Salim, Freshbook, 2006)
9. Puisi Subagio Sastrowardoyo, “Manusia Pertama di Angkasa Luar”