Nobel Sastra 2014 Jatuh ke Tangan Patrick Modiano

Yohannie Linggasari
cnnindonesia.com

Nobel Sastra Jatuh ke Tangan Patrick Modiano Ilustrasi
Jakarta, CNN Indonesia — Peraih Nobel bidang sastra diumumkan. Nama novelis Perancis, Patrick Modiano muncul sebagai pemenang. Ia dikenal lewat karyanya, Missing Person dan Lacombe Lucien, film pemenang Oscar tahun 1975.

Film itu jawara untuk kategori Best Foreign Language. Di Lacombe Lucien, Modiano membantu sutradara Louis Malle sebagai penulis skenario. Garapannya ternyata mendapat sanjungan.

Itu salah satu yang membuat Modiano unggul di Nobel. Ia mengalahkan penulis Jepang Haruki Murakami, jurnalis investigasi Belarusia Svetlana Alexievich, penulis Kenya Ngugi wa Thiong’o, dan penyair Suriah Adonis.

Dilaporkan Telegraph, Modiano sudah bereaksi terhadap kemenangannya. “Saya menelepon Modiano dan memberi ucapan selamat padanya. Dengan gaya sederhananya yang biasa, dia bilang merasa aneh, tapi juga senang,” ujar Antoine Gallimard dari penerbit Perancis, Gallimard.

Modiano mempublikasikan novel pertamanya, La Place de l’Etoile, pada 1968. Ia kemudian memenangkan Prix Goncourt pada 1978. Selama tiga dekade, Modiano banyak menulis karya fenomenal. Ia menulis Out of the Dark dan Dora Bruder, yang termasuk novel penting di Perancis.

Ia merasa ditakdirkan untuk menjadi penulis. Modiano pernah berkata, “Saya tidak pernah terpikir melakukan hal lain. Saya tidak punya gelar diploma dan tidak punya tujuan yang pasti.”

Namun, pria 69 tahun itu mengakui, sebagai penulis muda dirinya berat untuk mengawali menggoreskan pena. Jika diminta membaca lagi karya-karyanya dulu, Modiano justru enggan.

“Bukan karena saya tidak menyukainya, tetapi saya seperti tidak mengenali diri saya sendiri. Mungkin rasanya seperti aktor tua yang menonton dirinya saat muda,” ujarnya mengungkapkan.

Modiano lahir di bagian barat Paris, dua bulan setelah Perang Dunia II berakhir di Eropa, Juli 1945. Ayahnya berdarah Yahudi dan Italia, sementara ibunya merupakan aktris Belgia. Keduanya bertemu saat sang ayah menjalankan tugasnya di Paris.

Kisah keluarga dan kehidupan masa kanaknya sering menjadi inspirasi bagi Modiano untuk menulis.

“Modiano seperti Marcel Proust pada masa kini,” kata Sekretaris Swedish Academy, Peter Englund. Lembaga yang memilih pemenang Nobel bidang sastra itu memuji ketekunan Modiano menulis.

“Ini penghargaan untuk seni memorinya, yang dengannya ia telah membangkitkan takdir manusia yang tak bisa digenggam dan membuka tabir pekerjaan seumur hidup,” ujarnya menambahkan. (rsa/utw)