Sastra dan Perlawanan: Membangkitkan Kembali Sastra Profetik

Ismail Amin
http://rtm-sastra.blogspot.com

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang/suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan/dituduh subversif dan mengganggu keamanan/maka hanya ada satu kata: lawan!

Dalam membaca karya sastra, khususnya puisi. Mayoritas penikmat sastra mendambakan dari hasil bacaannya terkecap keindahan. Teresapi pendar-pendar aroma estetika. Oleh karena itu, banyak penyair berusaha menuangkan harmoni kata yang indah dalam setiap karya puisi mereka. Dalam puisi kita mengenal stigma yang dipakai oleh banyak orang bahwa memuat berbagai kata imajinatif merupakan syarat mutlak dalam puisi. Namun hal ini tidak berlaku oleh beberapa penyair yang menjadikan karya sastra sebagai medium perlawanan terhadap realitas yang timpang. Mereka merasa cukup dengan bahasa yang sederhana. Kata-kata diupayakan menciptakan keutuhan sajak. Lihat saja penggalan puisi dari Wiji Thukul di atas yang berjudul ”Peringatan” (1986). Sebuah jenis puisi dimana fakta, pengalaman atau memori intim seorang penyair diungkapkan apa adanya dalam kesederhanaan bahasa leksikan-gramatikal sehari-hari yang lugas dan tidak rumit. Jenis puisi atau sajak semacam ini oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri dinamakan sebagai ”sajak terang”. Sebab maksud dari puisi tersebut sangat transparan dan nyata.

Puisi Wiji Thukul disini hanyalah contoh kecil dari sebuah karya sastra yang tercipta dari kesadaran menjadikan seni sebagai media perjuangan terhadap kesewenang-wenangan. Wiji Thukul pernah memenangkan penghargaan Werdheim, sebuah anugerah bergengsi untuk karya-karya kemanusiaan. Puisi-puisinya memperoleh pujian, meski ia mengatakan tak pernah menulis puisi untuk menang perlombaan. ”Meski para seniman masih memperdebatkan hubungan halal atau haram antara seni dan politik, tapi kami memutuskan untuk hidup dan berkesenian di tengah perlawanan rakyat yang kehilangan hak-haknya di masa Soeharto”. Ungkapnya, ketika ditanyakan alasan yang mendasari lahirnya puisi-puisi yang ditulisnya.

Berjuang Lewat Sastra

Seno Gumira pernah mengatakan “Ketika Jurnalisme di bungkam, Sastra Harus Mengungkapkan Kebenaran.”. Benarkah sastra memiliki tugas suci seperti itu ? Bisa jadi benar. Malah Mohamad Sobary menilai sastrawan adalah da’i yang baik. Sastrawan di matanya (seharusnya) mampu mengiklankan keluhuran Tuhan dan segenap Nabi-nabi-Nya serta para pendukung nilai luhur lainnya, sehingga keluhuran tersosialisasi dengan baik di masyarakat. Manusia dituntut untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’aruf itu memanusiakan manusia, sedangkan nahi munkar itu pembebasan, dan beriman kepada Tuhan itu transendental. Dalam konteks kesusastraan Indonesia, sastra religius menggenapi isu sastra yang ada. Sastra religius mengambil tema-tema keagamaan yang variasinya amat banyak. Menurut Kuntowijiyo, sesungguhnya semua sastra punya bobot religiusitas, asal dilihat dari pandangan teologis dan metafisis.

Kuntowijoyo menggagas jenis genre baru dalam sastra dan menyebutnya sebagai sastra profetik. Sastra yang menurutnya melanjutkan tradisi kerasulan. Sebab agama dihadirkan untuk membangun peradaban ummat manusia yang berwatak profetik. Dalam artian agama datang untuk mengubah secara radikal tatanan sosial kultural mapan yang opressif, yang membuat manusia terbelenggu, saling melindas dan tak jelas arah sejarahnya. Sehingga ummat manusia mencapai tingkat teratas peradabannya sebagai makhluk yang berakal dan berbudi.

Sastra profetik, menurut penulis mesti dikembangkan oleh kalangan pemerhati dan penikmat sastra generasi saat ini. Kuntowijoyo, Wiji Thukul, W.S Rendra dan beberapa penyair lainnya dengan sastra profetiknya telah menanamkan dan memperkaya cakrawala sastra religius yang lebih membawa pencerahan dan tidak melulu lebih sibuk mengurus hablumminallah (melangit) dan mengabaikan hablumminannas (membumi). Dan, sastra profetik lebih jelas kualitasnya dan kekuatan moralnya daripada sastra yang melulu membincang seks.

Lewat sastra profetik, penyair dapat mensosialisasikan penyataan sikapnya. Sikap perlawanan terhadap setiap penindasan yang menginjak-injak kemanusiaan, pemberontakan kultural terhadap setiap ketidakadilan, perjuangan untuk mewujudkan nilai-nilai sejati yang telah lama mati, penyadaran manusia Indonesia yang mengalami situasi acak (chaos) yang cukup akut sehingga terbatah-batah untuk menjelaskan diri sendiri. Penyair-penyair profetik tidak menulis puisi dari ilusi-ilusi fantasianisme, atau dari dunia bawah sadar. Sebaliknya mereka menulis puisi dengan berakar pada persoalan sehari-hari, persoalan yang ada di depan matanya. Mereka menuliskan puisi dengan penuh kesadaran, kesadaran akan adanya penindasan, akan adanya struktur-struktur riil ketidakadilan, akan adanya epikolonialisme.

Mereka bertindak sebagai ”penyaksi” yang berhadapan dengan cermin realitas yang bobrok. Dan, Thukul adalah salah seorangnya. Sajak-sajaknya terkesan sederhana, diksi-diksi yang dipakai sangat biasa, bahkan lumrah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Lewat kata-kata yang umumnya kita jumpai, Thukul seperti mencoba untuk menarik sebuah busur yang baru, dengan memosisikan dirinya sebagai yang terlibat di dalam (insider). Puisi-puisi yang ditulisnya menampakkan wajah protes yang meluap, pertanyaan-pertanyaan satire, mengapa dalam peristiwa politik kehidupan bernegara rakyat kecil yang melulu menjadi korban. Melalui puisi ia berjuang, sekadar melakukan ”penggugatan”. Dan perjuangan Thukul tidak hanya sebatas diksi dalam puisi, melainkan juga melebar dalam kegiatan nyata, di mana ia juga bergabung dalam sebuah gerakan yang memperjuangkan kebebasan orang-orang sipil bersama mahasiswa.

Dari sini benarlah apa yang pernah dikatakan H.B.Jassin. Semestinya sastra menempatkan posisi sebagai penyaksi zaman dengan prinsip humanisme universal-nya. Bangsa saat ini butuh sastrawan yang tidak asyik sendiri, tetapi mampu mencipta karya yang menghargai kualitas dan mempertinggi harkat hidup kemanusiaan. Meskipun sejarah mencatat, mereka yang melakukannya, terkadang harus mengecap penderitaan. Kita tahu bagaimana Rendra sempat tinggal di balik jeruji, dan dilarang untuk membaca puisinya. Bahkan Wiji Thukul telah menjadi korban kebengisan orde yang paranoid terhadap karya sastra. Tukul dinyatakan hilang 27 Juli 1996 dan belum diketahui riwayatnya hingga kini. Membaca kisah Tukul, mengingatkan saya pada seorang penyair Bulgaria yang mati dieksekusi di muka regu tembak rezim fasis negerinya. Penyair ini bernama Nikolai Vaptsarov. Ia mati muda dalam usia 32 tahun. Vaptsarov seorang pejuang bagi rakyatnya, sama seperti Wiji Thukul. Tapi, jarang ada yang tahu bahwa mereka berjuang dan melawan bermula lewat bait-bait sajaknya. Sebuah sastra profetik.
Salam Perlawanan !!!
***