Suatu sindiran terhadap Sherlock Holmes

yang diterbitkan di surat kabar Bintang Betawi pada tahun 1902
Edwin Wieringa
horisononline.or.id

Cerita detektif Sherlock Holmes ciptaan Sir Arthur Conan Doyle (1859-1930) sudah lama mengakar di Indonesia. Terjemahan dan saduran dari kisah petualangannya tetap populer selama puluhan tahun, tetapi kapan persis tokoh Sherlock Holmes itu untuk pertama kalinya masuk kancah sastra Indonesia? Menurut Doris Jedamski, seorang peneliti yang menulis cukup banyak mengenai penampilan hero tersebut di Hindia Belanda, debutnya dimulai sekitar tahun 1904.[1] Walaupun begitu, ternyata pada tanggal 31 Desember 1902 surat kabar Bintang Betawi sudah pernah menerbitkan cerpen anonim yang berjudul Sherlock Holmes di dalam oeroesan roema tangganja (Satoe peroepama-an).[2] Yang menarik ialah bahwa cerpen tersebut bukan terjemahan atau saduran, melainkan parodi ‘asli’ yang sepertinya tidak dipengaruhi oleh sumber asing.[3] Sebenarnya khalayak pembaca perlu mengetahui karya autentik yang gayanya ditiru­kan supaya dapat menghargai cerpen itu sebagai sindiran, namun tidak dapat dipungkiri bahwa pengetahuan tentang Sherlock Holmes waktu itu masih terbatas dan hanya berdasarkan pada sumber Eropa saja. Rupanya, gambaran figur Sherlock Holmes pada tahun 1902 belum begitu mantap di Betawi: seperti diketahui umum, Holmes seumur hidupnya tetap seorang bujangan yang tidak akan pernah kawin, tetapi di dalam cerpen ini dia malah sudah berkeluarga. Lagipula nama Sherlock sampai tiga kali dieja dengan salah: mungkin karena namanya belum begitu kondang?

Inti ceritanya adalah mengenai Henriette, yaitu istri Sherlock Holmes yang mengelabui suaminya dengan main serong. Yang lucunya, istri yang curang itu dapat menipu Holmes, sang ‘jenius logika’, atas dasar pengetahuan sebelumnya tentang metodologi Holmes dalam memecahkan kasus. Permainan detektif klasik selalu tergantung pada penggunaan logika deduktif dan Henriette tahu bahwa suaminya yang pandai melacak pasti akan menarik kesimpulan yang tidak dapat dielak­kan lagi dari petunjuk-petunjuk (clues). Bahwa semua petunjuk yang ditelusuri oleh detektif handal itu sebetulnya ditinggalkan dengan sengaja dan terencana oleh Henriette sendiri sama sekali tidak masuk ke dalam pikiran Holmes maka secara tidak sadar dia terjerat oleh petunjuk-petunjuk palsu dan bahkan tetap yakin bahwa istrinya setia kepadanya. Seperti lazimnya pada zaman itu, cerita ini berakhir dengan ajaran moral yang eksplisit dalam bentuk peribahasa, tetapi kali ini pesannya mengan­dung unsur misoginis yang mendiskreditkan kaum wanita sebagai penipu licik. Si tukang cerita langsung menyapa para pembaca dan kesimpulan­nya begini: “sapintar-pintarnya lelaki, masih pintar lagi orang perempuan”.

Di bawah ini disajikan teks tulisan selengkapnya tanpa perubahan ejaan dan susunan.

Suntingan teks “Sherlock Holmes di dalem oeroesan roema tangganja (SATOE PEROEPAMA-AN)”

Toean Sherlock Holmes, satoe kapala policie jang amat bidjaksana, hingga di takoet oleh segala bangsat bangsat, ada doedoek tjelentang di korsi males, matanja senantiasa memandang ka kiri kanan di dalem kamarnya. Maski ada di dalem roema sendiri pada waktoenja menje­nangken diri, matanja jang amat tadjem slamanja maoe mentjari taoe segala resia, jang haroes di ketahoei oleh satoe kepala policie. Lantaran begitoe, maka pri keada’an dalem roemanja tinggal slamat, tida di langgar bahaja satoe apa.

Boedjang boedjangnja poen ada takoet sekali kaloe ada sepotong barang jang ilang. Oepamanja satoe botol anggoer soeda djato tebalik di langgar koetjing, hingga isinja toempa di medja, nistjaja boedjang spen tida brani bilang jang barang itoe soeda di bikin djato koetjing, tetapi kaloe di tanja oleh toeannja, dia nanti akoe jang itoe anggoer ia sendiri soeda bikin djato di medja. Begitoe djoega kaloe daging di dapoer di makan andjing, nistjaja kokinja nanti bilang dia soeda bikin angoes daging itoe, laloe di boeang. Pendeknja segala boedjang boedjang soeka pikoel kasalahannja laen orang, soepaja toeannja tiada bertamba mara, pada waktoenja mendapet taoe dalem roemanja ada soeatoe hal soeda kedjadian jang tida patoet.

Sedeng toean Sherlock Holmes doedoek berséndèr di korsinja, sakoenjoeng koenjoeng ia dapet liat satoe tjala soetra dari istrinja, jang di taro pada satoe korsi di sebla tempatnja kapala policie itoe doedoek. Boeat laen orang tjalah itoe tida nanti ada satoe sebab jang boleh membikin hati tida enak, tetapi toean Sherlock Holmes sigra bangoen dari tempatnja doedoek dengen mara, sedeng tangannja jang kanan pegang itoe tjala dan tangannja kiri soeda ambil dari barang itoe salembar ramboet pendek jang kriting. Ia meliat dirinja di katja dan liat jang ramboetnja sendiri ada lebi item dan lebi kasar.

“O, Henriette, istrikoe!” berkata toean itoe, sambil tarik napas dan lepas dirinja lagi di atas korsi, apakah kau bisa tipoe pada saja?”

Tetapi tida lama, toean Holmes soeda ilang maranja dan sabar kombali. Ia bangoen berdiri dan boenjiken genta. Satoe boedjang prempoean moeda jang parasnja elok dateng ka dalem.

“Lucij,” berkata toean Sherlock dengen swara bengis, kemaren malem kau soeda pergi kloear djalan-djalan, apa tida betoel?”

“Bener, toean,” sahoet boedjang itoe dengen goemeter.

— “Kamoedian kau berdjoempa satoe lelaki moeda?”

— “Ampoen, toean.”

— “Dan kau soeda pake tjalanja njonja.”

— “Bener, toean,” sahoet Lucij, sambil berloetoet. “Dari sebab gelap saja soeda kesala’an ambil tjalanja njonja.”

— “Itoe orang moeda ramboetnja kriting dan dia taro kapalanja di itoe tjala, takala barang ini kau pake di poendak kau?”

— “Betoel sekali, toean. Saja minta ma-af sadja, tetapi saja tiada ada berboeat laen kadjahatan.”

— “Angkau boleh balik ka dapoer, Lucij.”

— “Trima kasi banjak, toean,” sahoet Lucij, laloe bangoen berdiri, sambil sapoe aer matanja dan berdjalan pergi.

Toean Sherlock Holmes doedoek kombali di korsinja dengen tersenjoem, seraja berkata:

“Adoe, Henriette jang koe tjinta, ampir sadja saja toedoe kau berboeat djahat, tapi baek saja soeda dapet kanjata-an dari kasetia-an kau.”

Sakoetika lamanja kapala policie itoe meramken matanja, kamoedian dia boeka kombali dan meliat satoe kreta brenti di depan roemanja. Tatkala istrinja toeroen dari itoe kreta, toean Sherlock[4] Holmes lantas berpikir.

“Dari perkara itoe tjala baek saja djangan tjerita satoe apa pada istrikoe, kerna ia nanti mara pada Lucij.”

Samentara ini anaknja toean Sherlock [5] dateng hampirken ajahnja, seraja berkata:

“Papa, tjobalah tjerita apa apa lagi, kerna ini hari saja manis.”

“Kau soeda makan manisan?” menanja toean Holmes.

“Bagimanakah papa bias taoe?” menanja anak itoe.

“Di djanggoet kau masi ada bekasnja manisan dan kentara djoega dari moeloet kau,” sahoet toean Sherlock Holmes. “Kau soeda makan manisan framboze, baek kau pergi tjoetji tangan dan moeka kau, jang soeda kena goela.”

Sinjo ketjil itoe sigra lari ka blakang aken tjoetji tangan dan moekanja.

Apabila njonja Holmes berjalan masoek, soeaminja lantas berkata:

“Istrikoe, kau soeda bajar doeit sewa kreta terlaloe banjak pada itoe koesir.”

“Tida,” sahoet istrinja itoe, “saja soeda bajar harga sewa sebagimana pantes. Tapi bagimanakah kau taoe saja soeda bajar terlaloe banjak?”

“Saja soeda dapet taoe itoe perkara, sebab saja liat moekanja itoe koesir dari ini djendela,” sahoet itoe kapala policie. “Seandenja orang itoe kau kasi oewang sebagimana pantes ia moesti di bajar, maka dia nanti tinggal diam, kerna dari saorang prampoean ia tiada harep dapet bajaran lebi. Djikaloe angkau kasi persen 10 cent, dia nanti girang dan membilang trima kasi pada kau tapi koesir ini roepanja sanget heran, satoe tanda, kau soeda kasi oeang doea kali lebi banjak dari sebagimana biasanja dia moesti trima. Tetapi sekarang saja maoe bitjara dari laen perkara. Di waktoe jang blakang ini, kau soeda pake ongkos besar istrikoe?”

Sedeng istrinja doedoek di korsi, toean Holmes berkata lagi:

“Ja, baek kau doedoek, kerna saja maoe bitjara banjak pada kau. Angkau soeda bli satoe topi pake boeloe, kerna di badjoe kau ada salembar dari boeloe boeroeng. Kamoedian saja liat njonja Jones, tetangga kita, soeda pandang kau dari kapala troes di kaki, apabila kau maoe naek kreta, tandanja kau soeda pake Japon baroe, dan sebab kau soeda angkat rok begitoe tinggi, tatkala kau toeroen dari kreta maski djalanan ada kering, njatalah jang kau poenja rok dan kous semoea ada baroe. Ahirnja saja rasa kau dateng pada saja, boeat minta bajar blandja kau sama sekali, kira kira ada ƒ 500. Apakah bener begitoe?”

“Sherlock[6],” berkata istrinja, “soenggoe kau ini ada saorang sakti dan bisa taoe semoea resia. Saja moesti minta ampoen jang saja diam diam soeda pake ongkos besar. Haroes djoega kau diseboet satoe lelaki jang paling tjerdik dan tadjem pikiran kau kerna apa jang kau bilang semoea betoel adanja. Sekarang saja tida bisa simpen resia lagi. Sasoenggoenja angkau ini ada satoe dewa jang sakti.”

“Trima sekarang ini soerat Cheque boeat bajar oetang kau,” berkata toean Sherlock lagi, [“]dan djangan kau tipoe lagi pada saja, kerna saja tiada bole di bikin bodo.[”]

Toean Sherlock Holmes reba poela di korsi males sambil tersenjoem, kerna hatinja amat senang, sedeng tangannja di masoeken dalem sakoe, merobek sepotong kertas ketjil. Njonja Holmes kloear dari kamar itoe dengen tertawa seraja berkata:

“Siapakah bisa kira jang djantoeng hatikoe Kirsch, soeda kirim itoe rekening begitoe lekas pada Sherlock, dan soeamikoe ini soeda kira saja tida taoe jang dalem sakoenja dia ada simpen satoe soerat nota dari itoe rekening. Soenggoe gampang sekali tipoe orang lelaki! sebagi soeamikoe ini maski dia di kataken sakti.

***

Sasoenggoenja itoe boedjang prempoean Lucij, tida sekali pake tjala njonjanja begimana dia tjerita dan djoega dia tida djalan sama lelaki moeda, tetapi itoe ramboet jang toean Holmes soeda dapet liat di tjala istrinja, ada ramboetnja saorang lelaki moeda goela-annja njonja Holmes sendiri.

Pembatja liat sekarang bagimana seorang prempoean bisa bikin bodo lakinja, satoe kapala policie jang kasohor tjerdik, jang bisa bikin terang segala perkara gelap, bisa dapet tjari segala resia jang gelap dan kenal betoel tipoenja segala bangsat jang pande.

Sapinter pinternja lelaki, masi pinter lagi orang prampoen, maka tiada sala orang soeka membilang aer dalem bole di kira, tetapi atinja prampoean soesa di doega.

____________________
*) Edwin Wieringa adalah Guru Besar dalam bidang Bahasa dan Sastra Indonesia dan Pengkajian Islam di Universitas Cologne, Jerman.

[1] Lihat Doris Jedamski, 2009, Terjemahan sastra dari bahasa-bahasa Eropa ke dalam bahasa Melayu sampai tahun 1942, Henri Chambert-Loir (ed.), Sadur: Sejarah terjemahan di Indonesia dan Malaysia, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, École française d’Extrême-Orient, Forum Jakarta-Paris, Pusat Bahasa, Universitas Padjadjaran, 181; Doris Jedamski, 2009, The vanishing–act of Sherlock Holmes in Indonesia’s national awakening, Doris Jedamski (ed.), Chewing over the West: Occidental narratives in non-Western readings, Amsterdam, New York: Rodopi, 353. Silakan merujuk kepada kedua esai ini untuk artikel-artikel yang lain oleh Jedamski tentang Sherlock Holmes di Indonesia.

[2] Saya berterima kasih kepada Joachim Nieß yang mengarahkan perhatian saya kepada cerpen tersebut.

[3] Bandingkan Peter Ridgway Watt & Joseph Green, 2003, The alternative Sherlock Holmes: Pastiches, parodies and copies, Aldershot, Burlington: Ashgate Publishing.

[4] Teks: Sherloch.

[5] Teks: Sherlack.

[6] Teks: Sherloch.

http://horisononline.or.id/id/esai/233-suatu-sindiran-terhadap-sherlock-holmes-yang-diterbitkan-di-surat-kabar-bintang-betawi-pada-tahun-1902