BERMULA DARI OBSESI *

Bambang Kempling

Ernest Hemingway dalam novelnya, The Sun Also Rises mempertanyakan mengapa laut tidak pernah penuh. Albert Camus lewat beberapa karya abadinya, terus menerus mempertanyakan tentang kenisbian dunia. Dalam periode tertentu, Rendra mempertanyakan tentang ketidakadilan, Afrizal Malna mempertanyakan ketimpangan sosial. Melalui proses dan jalan panjang, serangkaian pertanyaan itu kemudian mereka perjuangkan jawabannya dalam wujud karya outentik.

Gambaran tentang serangkaian pertanyaan di atas, adalah merupakan obsesi pengarang, yaitu serangkaian pertanyaan yang terus-menerus mendorong untuk menulis. Obsesi bisa datang dari dalam diri, meskipun pemicunya bisa dari luar, pun bisa dari luar yang kemudian diolah melalui rasa. Variasi-variasinya meliputi, inspirasi yang besar, cita-cita yang tinggi, atau mungkin juga ambisi tanpa terkendali.

Obsesi seseorang untuk menjadi pengarang berbeda dengan obsesi pengarang. Keinginan untuk menjadi sama atau lebih baik daripada pengarang yang lain bisa menjadi objektif seandainya seseorang telah menjadi pengarang, dan bukan sebelumnya. Seorang penjual bakso, ibaratnya, baru bisa bersaing dengan penjual bakso yang lain, manakala dia sudah menjadi penjual bakso.

Proses kreatif adalah satu pembicaraan yang bersangkut-paut dengan konsep dasar pemikiran tentang jalan berkarya dan sikap terhadap karya itu sendiri. Entah sejak kapan pembahasan seperti ini mulai diminati, atau jangan-jangan lebih diminati daripada karya penulis? Bahkan saya pun tidak tahu sejak kapan saya benar-benar menjadi penulis, atau justru benarkah saya telah menjadi seorang penulis?

Pertanyaan-pertanyaan itu sering menggelitik saya, terutama yang berkaitan dengan aktualitas kepenulisan. Terus terang, meskipun dalam kapasitas sebagai penulis asongan terkadang saya lupa dengan kemampuan diri dan tergoda untuk dikenal secara luas, tanpa bekerja keras. Jelas suatu kemustahilan.

Berangkat dari gelitik dan kemustahilan itu, kemudian saya menyadari bahwa ada sesuatu yang ingin saya dialogkan yang tertangkap dari kehidupan. Sesuatu itu kemudian saya rekontruksi bahkan dekontruksi dalam upaya menciptakan “living form” menurut akal sehat fersi sendiri. Dialog itu berbentuk rangkaian kata-kata yang saya sebut sebagai puisi, entah itu benar-benar puisi atau hanya sekedar lenguhan panjang. Dan bersentuhan dengan kehidupan telah membantu saya untuk membangun kehidupan secara “sadar.”

Dalam usaha membangun kehidupan semacam itu, sering saya seakan memisahkan diri dari diri saya sendiri. Memandang dari luar, bersimpangan di jalan, kudirikan tembok pemisah berjendela sehingga dapat saling mengintip, ngobrol dengan berbagi secangkir kopi, pun mungkin saling jambak. Saat seperti itu berarti saya sedang dalam kondisi membangun kesadaran. Tak jarang pula ada usaha membabi-buta untuk menancapkan makna bagi kata-kata. Dan tak jarang pula ada kata-kata yang bertandang begitu saja. Untuk itu saya harus mengasah kepekaan terhadap peristiwa puitis dengan cara menempa dan menempa rasa.

Proses itu cukup panjang, sampai tiba-tiba dipertemukan dengan kalimat, “Menulis adalah bentuk dialog diri yang baik bagi saya, oleh karena itu akan terus saya lakukan sepanjang masih bermakna.” Kalimat itu kemudian menjadi kredo sampai kini. Dan ia menempatkan diri sebagai pengisi sekaligus penghidup bagi setiap kata.

Sesekali saya tiba-tiba terjebak dalam situasi yang lain sama sekali, seakan-akan berada dalam cengkeraman dunia belahan entah. Cengkeraman itu baru lepas ketika saya selesai menulis. Sesekali pula saya mempunyai keinginan yang kuat untuk menulis, tetapi sampai gosong otak tidak ada satu katapun yang tertulis. Di lain pihak kadang ada dorongan untuk bersimpati kepada kejadian-kejadian luar biasa untuk saya tulis, dan menurut pengalaman selama ini berakibat fatal, meskipun mendapat pujian. Artinya hanya dalam kondisi tertentu saya bisa menulis. Karya yang menentang arus irama dalam diri yang berusaha saya bangun, bisa dikatakan sebagai karya yang gagal.

Mengikuti irama alam dalam diri barangkali akan membuahkan kebaikan. Irama alam dalam diri adalah satu pengalaman yang subjektif sifatnya dan setiap orang akan mengalaminya dalam bentuk yang berbeda. Maka sebagaimana proses penciptaan, setiap orang mengalami suatu jalan yang berbeda-beda pula. Kehadiran dan eksistensi terusung bersamaan dengan semua itu.

Memahami irama alam dalam diri dengan jernih membutuhkan kejujuran, intensitas, dan kerja keras terus-menerus. Sebab tidak ada satu hasil yang baik tanpa kerja keras. Saya rasa, penyair-penyair sekarang yang kita kenal dan mengisi sejarah, adalah mereka-mereka yang bersungguh-sungguh dan jujur dalam mengejar mimpinya. Bukan karena kebetulan.

Saya tidak bisa seperti Putu Wijaya yang mengatakan, bahwa menulis baginya adalah menggorok leher, baik itu leher sendiri maupun leher orang lain tanpa menyakiti yang bersangkutan, bahkan kalau bisa tanpa diketahui. Ini semacam pencurian, kucing-kucingan, akal-akalan, kadangkala dengan ngumpet-umpet, kalau perlu menghapus jejak sama sekali. Dengan demikian, sama sekali tidak memiliki pretensi untuk melahirkan resep apalagi pahlawan. Hanya menyeret orang untuk melihat begitu banyak alternatif dalam kehidupan. Dia memilih anekdot sebagai bentuk yang dianggap bisa mewakili konsep tersebut.

Saya juga tidak bisa seperti Rendra yang pada periode kepenyairannya mengungkapkan, bahwa bersastra adalah untuk melayani kebutuhan dinamisme rohani dan pikiran. Alam di luar dan alam di dalam diri diamati kembali dipeluk, dihayati, disetubuhi. Seluruh kekuatan panca indera dipertanyakan kembali, disegarkan dalam gairah hidup baru. Dalam proses itu, dia sampai pada “kesadaran alam”, atau kesadaran di luar “kesadaran kebudayaan” yang berarti kesadaran di luar perbendaharaan kebudayaan sehari-hari, di luar akal sehat pada umumnya. Dengan kata lain dia sering dalam keadaan trance atau stoned. Tetapi pada akhirnya, setelah kepergiannya ke Amerika, setelah bertemu dengan sarana penghayatan kehidupan dalam berbagai bentuk disiplin ilmu terutama sosial, ekonomi, dan politik, terjadi penyeberangan mendasar dalam pola penghayatannya dari stoned menuju common sense.

Pun saya tidak bisa seperti seorang Danarto yang mengatakan bahwa daerah penciptaan itu netral. Seperti ruang kosong di mana kita bisa mengisi sebebas-bebasnya dengan apa saja. Ruang kosong itu murni, tak terikat oleh hukum penciptaan. Murni bagaikan kanak-kanak. Tak ada konsep penciptaan.

Sampai tahap ini, saya belum bisa memastikan apakah saya sebagai penyair atau seseorang yang berkeinginan menjadi penyair. Mungkin hal itu merupakan obsesi atau sekedar utopi.

Kesimpulan: Masing-masing pengarang memiliki konsep sendiri, sesuai dengan kepribadian masing-masing.

*) Disampaikan dalam “DIALOG SASTRA” di MA. Matholiul Anwar, 21 Desember 2014