Penyakit Banyak Bertanya, Malas Membaca, Enggan Berpikir *

Nurel Javissyarqi

Seperti hari biasanya, mengelilingi kota Reyog sambil mengukir masa memahat waktu di kedalaman kalbu, kadang menghitung usia apa saja yang terlintas. Betapa damai jalan-jalan terlewati; menyusuri pemandangan alam ke Pulung, memutari keindahan telaga Ngebel yang pepohonannya tinggi menjulang, dan dedaunnya melambai ringan merekam jejak perjalanan, mungkin kelak diceritakan oleh angin musim pergantian. Mei (ternyata bulan itu, dalam tahun terakhir saya bermukim di Ponorogo), saya jadi salah satu narasumber bedah bukunya Dr.H.M. Suyudi M.Ag yang bertitel “Rancang Bangun Pendidikan Islam, Dalam Perbincangan Normatif, Filosofis, dan Historis.” Lalu pertengahan wulan di ujung tahun 2014 kini, mengisi pelatihan kepenulisan di kampus yang sama; Insuri Ponorogo. Namun tidak lagi tinggal di tlatah yang bersimpan hikayat rakyat Suminten Edan, sebab sudah balik di bumi kelahiran Lamongan.

Bencah Batoro Katong merupakan dataran lemah lempung yang dipeluk pegunungan serta pebukitan menghijau, berhawa sejuk menyenangkan. Sejauh mata memandang, jajaran bukit tertidur pulas mengerami kesuburan; rerumput-pepadi menghiasi pesawahan, ladang jagung panen tepat waktunya. Yang menggembirakan, banyak penduduk Gebangtinatar betapa hausnya membeli buku-buku bacaan; bisa dihitung setahun dua kali, ada bazar buku dekat alun-alun yang selalu dibanjiri para pengunjung. Sayang, keindahan tersebut tidak didukung hadirnya kantong-kantong diskusi demi merawat kekayaan sejarah masa silam, dan semangat kritis memaknai pergerakan jaman. Ada memang komunitas sastra kelompok diskusi, tetapi nasibnya selalu macet di persimpangan sebelum sampai tujuan.

***

Suatu kali saya diminta melatih para mahasiswa guna menumbuhkan jiwa-jiwa mencintai dunia tulis di kampus masing-masing, rancangan pertemuannya seminggu sekali. Tapi belum genap sebulan, mental-mental tanggung pupus di tengah jalan. Di tilik dari pengadaan acara hari ini pun seolah mubazir, jika tidak ditindaklanjuti oleh pribadi yang mandiri, insan yang suntuk belajar, membaca menulis, meresapi kandungan makna teks serta menyimak hamparan alam. Bagaimana menyebutnya setangguh ombak lautan yang terus memaknai waktu di batuan karang, menggerus butiran pasir berulang, jika setiap malamnya terlelap nyanyian mimpinya, di siang hari ke kampus sekadarnya, lalu membaca buku secukupnya.

Andai ruhaniah Malaikat Jibril diperintah menyampaikan langsung seruan Iqro’ kepada mereka setiap paginya, tentu bernasib sama diabaikan, dianggap angin lalu. Ini mengingatkan kejadian miris waktu itu; di hari dan jam yang sudah ditentukan pertemuan lanjut, saya tunggu dan sengaja berjam-jam menanti, tetap tiada yang nongol, panitia saya hubungi tidak nyambung, baru beberapa hari kemudian berkabar dengan memohon maaf. Bagi saya tidak masalah, toh menunggu masih bisa sambil baca buku. Tapi permintaan maaf sepantasnya bagi mereka sendiri; menginsafi keteledorannya, yang tidak mampu menyanggupi jadwal dari ucapannya, bermalas-malasan menyungguhi perkataannya semula.

***

Sekarang mari menyentuh lapisan judul memasuki inti lembaran, lewat mengupas pelahan demi peroleh hasil sepadan, tidak sekadar selayang pandang perkiraan. Dalam kegiatan seminar pula pelatihan, kita kerap menemukan pertanyaan genit-genit iseng, agak-agak serius menanyakan manfaat dari pertemuan, atau ingin tahu lebih tahap yang dibicarakan, tapi diri penanya belum memasuki alam yang ditanyakan, ini hanya isapan jompol saja bagi jabang bayi proses kreatif.

Beberapa pertanyaan mendasar sering tidak masuk akal jika ditinjau dari usia penanya, sejenis menghabiskan waktu yang tersedia, padahal dengan sedikit berpikir mengenai yang ditanyakan sudah teratasi, atau pertanyaan dari jiwa-jiwa sangsi, karena baru beberapa kali mencoba sudah lelah di tengah kembara. Saya berharap pertanyaan cerdas tidak hanya di lingkup kreativitas pribadi juga mengusung pelbagai kasus, membongkar sejarah kreatif para pendahulu, misalkan. Membaca perangai kekinian, mencermati letak geografis pengarang; apa yang diperjuangkan pula yang telah dihasilkan, sehingga menapaki tangga jawaban lebih dari materi yang dikenyam, atau menelusuri jembatan kemungkinan membentang dengan kesadaran di atas totalitas proses.

Karena kesuntukan belajar kian bertumpuk mematangkan karakter diri, mengetahui jelas kelemahan pribadi, dan sudah paham batas kemampuan setelah latihan berkali-kali, ini mendorong timbulnya pertanyaan mempuni yang layak disuarakan untuk pelajaran. Judul catatan ini bertentangan dengan peribahasa; tidak mau bertanya sesat di jalan. Tapi tidakkah kudu hati-hati mawas diri mencurigai pemberi informasi, barangkali iseng ingin menyesatkan, bisa saja tidak berkenan atas kehadiran kita, lalu memberi kabar keliru hingga mentok di gang buntu. Ini dapat terjadi, yang tidak diinginkan sampai terbit kecewa, tapi kita tidak dapat berbuat apa-apa lantaran hanya bertanya. Maka tiada pantas disalahkan kecuali diri sendiri yang malas membaca peta, dan pembaca bisa tersesat jika yang dibacanya sudah usang, sedangkan peta pelajaran berkembang bersama kesadaran hidup yang terus berputar di porosnya, sekaligus mengitari matahari pengetahuan.

Betapa seorang punya semangat besar ingin jadi penulis dengan latihan menerus, mengasa ujung penanya setiap hari hingga mencapai ribuan lembar, bertumpuk kertas kerjanya sampai kamar belajarnya dipenuhi catatan, ocehan, celoteh, gagasan memikat menembus dinding perkiraan manusia di jamannya, tapi dalam hari-harinya malas membaca. Maka yang terjadi berputar-putar dalam kebingungannya, bersuara lantang di tempurung kekerdilan; buta arah yang hendak diraih atau kurang pertimbangan jauh, sebatas langkah kecil kaki-kakinya, telinga tuli suara lain, lantaran terlanjur asyik menyendiri dengan kuping tebalnya.

Mungkin di saat proses kreativitas yang menggila, melupa jam, hari, bulan, dan tahun dilalui, ia temukan corak anyar, karakter murni dari penggalian terdalam di kesunyian yang lara, punya kepekaan lembut terhadap daya tahan serta naik-turunnya melodi jiwa. Tapi sekiranya enggan membaca karya lain atau para pendahulu, maka akan mencapai ketersesatan berkali-kali, bisa jadi menimbulkan penyakit kebutaan dalam pencarian yang sulit ditemukan obatnya, atau karena lubang penciumannya hanya mengenal bau tubuhnya saja. Maka bisa dipastikan limbung digerogoti kangker percaya diri berlebihan, perasaan puas membunuhnya perlahan; yang dipakai lelangkah pincang, pandangan nyinyir, penglihatan sepihak, dan kupasannya tiada nafas segar dari akarnya.

Bagaimana sanggup mencipta alam dunia teks pada lembar tulisannya, memberi nafas di setiap rentang kalimatnya berkesepadanan realitas, jika cara membacanya sambil lalu. Lebih fatal memproduksi secara asal-asalan, maka akan tampak berhamburan kata-kata mencelat mengsle terlepas dari sasaran yang hendak dituju, dan pembacanya dibuat kebingungan. Seperti seorang yang belum mengenali dunia kata-kata, tetapi ingin peroleh lebih lewat sekadar tanya tanpa mau bersuntuk di bawah lampu ublik kesunyiannya, serupa layang-layang putus talinya, mimpi tinggal impian kalau tidak baca karya (orang) lain, memelototi karya sendiri juga tahu batas dinaya serta puncak yang telah didaki.

Membaca yang lain dapat dilakukan dengan menyimak sejarah pergolakan di bumi, kejadian alam raya, peredaran planet-planet di antariksa, lahirnya embun terpelanting dari ujung daun, dedaun mengering jatuh disapu angin, kekuncup kembang bermekaran; kelahiran dan kematian di sisi penyebaran, pertumbuhan, pergeseran, perubahan. Maka sepatutnya sang petapa keluar dari goa keegoisannya, lalu menyebarkan berita ke jalan-jalan di bawah awan kemanusiaan, menghirup hawa kemungkinan tidak tunggal, mengamati mendung yang terbang memayungi dataran, merasai sengatan terik mentari atas tubuh kesadaran, memadukan riwayat semedinya dengan yang dilewati, meresapi seksama kehalusan kabut, layang kabar desas-desus. Ketika melihat tangga pesawahan menghiasi pebukitan, terbersitlah pengetahuan di atas langit masih ada langit, dan gemunung menjadi saksi bisu penuh getar perubahan.

Bagaimana mengetahui kadar asinnya garam pengetahuan, keharuman bunga-bunga berbeda di taman, gemintang saling bicara dalam selimut malam, pebukitan merapatkan barisan, wewarna malam selalu berbeda, juga pelarian seekor burung nekat menyeberangi jalan raya dengan terbang rendah. Atau para sastrawan menghasilkan karya-karya abadi yang selalu mewangi dihirup para pembacanya, menciptakan kedamaian, senyaman kita bernafas di sisi kekasih, atau ketegangan-ketegangan muncul dari maha karya besarnya. Perihal itu dapat diudar dengan ketekunan berpikir, dan atau kesuntukan memaknai ulang. Lalu memperoleh alat tukar pertimbangan setelah banyak baca, kerap meneliti, pula menitipkan gayuhan rindu pada praduga belum bernama.

Orang-orang enggang berpikir terus melontarkan kata-kata yang musproh (sia-sia), menghasilkan nada suara sumbang, debat kusir, pertemuan tidak sepadan menimbulkan kerugian waktu, tenaga, pikiran dan materi di atas lawan bicara. Bagaimana dapat menyimak pelajaran dengan baik, membaca dengan tepat, mendengar secara maksimal, kalau tidak mengguna cangkul nalarnya; maka tidak akan paham kerasnya lemah lempung yang digali, seberapa dalam dinaya dimiliki. Yang terjadi ibarat masuk telinga kanan keluar telinga kiri (numpang lewat), hidup yang tidak sempat meminum seteguk tirta hayati. Penyakit banyak bertanya, malas membaca dan enggan berpikir seharusnya cepas digerus, borok yang sepatutnya lekas dikeringkan, karat teyeng diamplas tuntas, lalu diolesi minyak ketundukan kepada ilmu, kepatuhan terhadap cahaya kasih sayang.

***

Di atas keterangan yang membuat muak sampai muntah, saya tetap membuka paras kemungkinan atau rahmat tuhan, siapa tahu di antara hadirin yang datang ada niatan tulus memerangi ketumpulan berkarya, menghardik kesambillaluan, melawan kebuntuan berpikir, mematahkan kemalasan, membasmi keraguan, hingga para malaikat tidak segan merentangkan sayap-sayapnya, menurunkan bebulir gerimis memberkah di ubun-ubun serta melapangkan dada.

Setelah menulis paragraf terakhir, mendadak anak saya Ahmad Syauqillah datang, menanyakan “apa yang tertulis itu puisi,” saya jawab “bukan.” Lantas anak saya bertanya, “apa judulnya,” dan setelah dibacanya sendiri, ia tertawa, merasa kalau saya menulis tentang dirinya, menyindir pribadinya. Maka jika para pembaca masih bertingkah serupa titel di muka, jadilah sepadan anak sekolah kelas V Ibtidaiyah.

Sesudah paragraf di atas saya baca keras-keras di hadapan anak saya, ia sangat malu dan ingin dihapus, tapi saya bersikeras tetap mencetaknya, lalu ia merelakan dengan catatan nanti malam diputarkan film kesukaannya. Rasa malu pada jiwa belia, seyogyanya jadi cambukan keras bagi jiwa-jiwa yang sudah kerap dipukuli tempaan hidup, ejekan peristiwa, himpitan wewaktu tidak bersahabat. Demikian celoteh ini saya tulis dengan senyuman manis atau bisa jadi sinis.

Sebagai penutup saya jumput tulisan dari bukunya M. Suyudi, halaman 115 (dengan melengkapi satu ayat penuh yang dikutipnya): …emosi takut, gelisah, sedih dan semacamnya akan menjadi penting jika diarahkan pada ketakutan intelektual yang disimbolkan dengan ketakutan terhadap kejahatan yang mengancamnya. Sementara bentuk tafaqahu seperti disebutkan dalam Qs. At-Taubah: 122: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Olehnya, pencari ilmu yang tekun belajar, suntuk sinahi adalah setingkat mujahid di jalan Allah Swt; maka selamat berpikir, rajin membaca, dan tidak bertanya kembali pada yang sudah tahu jawabannya!

*) Bahan mengisi acara di kampus INSURI Ponorogo, pada tanggal 14 Desember 2014.