Usman Arrumy *

Dengan menyebut nama cinta, yang dengannya Manusia dapat merasakan Tuhan hadir dalam setiap desir. Aku berlindung dari kebencian dan dendam yang menjerumuskan.

Alif laam miim. Cinta itu, tidak ada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi mereka yang setia melaksanakan perintah kekasihnya. Yaitu mereka yang mempercayai kenangan, menegakkan rindu, dan menyerahkan hatinya.

Di Selasa yang tabah, pada senja yang suci itu, kenangan seperti sonya-ruri; dalam dan tak terperi. Barangkali, sesekali, ada saat dimana ingatan terenggut oleh rasa trauma. Kenangan selalu berpaut dengan kejadian, dan trauma berkait dengan peristiwa. Keduanya mungkin bersumber dari masa yang sama; Yang Silam. Tapi masing-masing memiliki tataran nyali yang berbeda, dengan kata lain— kenangan menumbuhkan ketegaran, dan trauma menghadirkan keberanian.

Airmata adalah konsekuensi rindu, sementara menangis adalah pengakuan atas cinta.

Hari ini adalah Hari Besar Kenangan. Hari untuk pulang; ke hatimu. Aku harus mengadakan perayaan untuk menghormati jasa-jasa Kenangan. Setidaknya karena Kenangan, telah memberi banyak uluran tangan untuk menyelamatkan karunia yang tak diakui. Karena dengan demikian, aku bisa menyampaikan rasa syukurku kepada Tuhan. Ya, aku akan melangsungkan ritual untuk memperingati Hari Besar ini dengan cara mengisahkan cerita kita, semata agar semua makhluk tahu bahwa cintaku padamu, Sita. Lebih luas ketimbang kesepian.

Kau dilahirkan ke muka bumi ini tentu ada banyak tujuan, salah satunya agar aku dapat menyaksikan keindahan, karena dengan itu dapat kutemukan jalan untuk mengenal Tuhan. Maka mencintaimu, Sita, adalah pintu masuk untuk sampai ke dalam Tuhan.

Maka demi mempertanggung-jawabkan kenanganku kepada Sita di hadapan semesta, di Hari Besar Kenangan ini, aku telah mengangkat sumpah untuk senantiasa memperjuangkan kenanganku padanya, dengan cara menuliskannya ke dalam cerita:

Sudah lama sekali rasanya ketika aku melihat Sita kali pertama. Aku sudah lupa kapan kejadian itu berlangsung, tapi persisnya itu hari selasa. Aku hanya ingat bahwa keindahan hadir pada hari yang agung itu. Aku namai ia keindahan karena Tuhan sendiri mencintai keindahan. Tapi mengapa aku dan Sita mesti dipertemukan di hari Selasa? Aku sempat merenung karena itu adalah hari kelahiranku. Pertanyaan itu terus terlontar dari pikiranku bahkan masuk di luar kesadaranku.

‘’Hari Selasa adalah hari berdarah, pada hari itulah Siti Hawa, ibu dari semua ibu itu mengalami haid untuk kali pertama, ialah perempuan pertama yang akan mewariskan keindahannya kepada Sita. Pada hari itulah bermula kejadian berdarah; Qobil membunuh Habil. Pada hari itulah nabi Jirjis, nabi Zakariya, nabi Yahya; terbunuh. Dan Selasa adalah nama dewa perang Tiu. Maka bersiaplah untuk perang dan berdarah-darah, wahai pemuda, terutama melawan dirimu sendiri’’. Kata orang sepuh di kedalaman mimpiku, suatu ketika.

Sebelum senja yang suci itu, seluruh pusaran waktuku terasa begitu suwung, detik demi detik kulalui seperti mayat yang terapung. Mengalir saja, bahwa nasibku tergantung keputusan arah arus sungai kehidupan. Diriku seperti dilepas ke tengah-tengah takdir. Perjalanan itu benar-benar gaib. Bahkan, saudara tahu. Aku hidup dalam keadaan mati roso. Mati roso itu barang misalnya sudah tak lagi sanggup merasakan kebahagiaan atau penderitaan. Seperti paceklik yang abadi itu.

Hingga akhirnya datang hari itu, hari selasa yang agung itu— Muara tempat arus sungai perjalananku menemukan maknanya. Di senja yang keramat itu aku sampai pada satu titik dimana Tuhan menampakkan wujudnya. Aku merasa itu adalah isyarat bahwa akan ada kejadian di kedalaman diriku. Ya, Tuhan menampakkan senyumNya melalui bibir Sita. Tuhan memberi anugerah kepadaku dalam bentuk bahwa aku dapat melihat semua keindahan di muka bumi ini cukup dengan melihat wajah Sita.
***
Sita dinaungi keluarga yang begitu ketat menjaganya. Setiap sudut dari rumahnya ada penjaga yang senantiasa siaga. Tak dibiarkannya Sita keluar rumah sendirian, untuk keluar dari gerbang rumahnya saja ia mesti dikawal oleh dua ajudan. Tapi, meski demikian, Sita dididik keluarganya sejak kecil untuk selalu percaya pada keindahan. Aku tak takjub jika kemudian dari kalangan priyayi dan ajengan banyak yang klepek-klepek begitu menyaksikan Sita. Justru aku akan bertanya-tanya jika ada satu manusia saja yang tak kasmaran begitu melihat paras Sita. Itu mungkin yang menjadikanku tak sanggup terbakar cemburu meski Sita, dicintai oleh sekian banyak lelaki.

Tapi, Tuhan Maha Takterbandingkan. Maha Takterduga. Ia dengan segala kebesaranNya bisa mengubah keadaan hanya dengan sekali Kun. Beberapa hari sebelum hari agung itu tiba, mendadak ada isyarat kalau Tuhan hendak mengakhiri ujian yang ditimpakan kepadaku. Tentu, saudara tahu, ujian itu berupa bahwa selama tiga dasawarsa aku tak dapat melihat bola mata Sita yang nampak seperti ndamar kanginan, begitu dalam dan bersahaja.

Maka pada selepas subuh ketika itu, aku seperti mengalami astral projection, keadaan di luar sadar yang menjadikan sukmaku bagai dikuasai oleh hal gaib. Di alam delta itulah jemariku serasa dituntun— entah apa atau siapa, untuk menulis seloka:

Tuhan ada di gelapku
Ketika kaupadamkan lampumu
Tuhan ada di terangku
Ketika kaunyalakan cahayamu

Aku bara dalam apimu
Kau ombak dalam lautku
Aku bunyi dari suaramu
Kau arti dalam maknaku

Tuhan ada di isiku
Ketika kau memasuki kosongku

Kau isi dari kosongku
Aku penuh oleh adamu

: ke haribaan Sita

Kulipat kertas Daluwang yang memuat seloka itu dan kuserahkan kepada kukila— burung Bromodedali yang taat berada di pundakku itu. Nampaknya ia sudah mafhum untuk siapa seloka itu dan kemana ia harus mengantarkan. Sebab, saudara tahu. Hanya Kukila itulah satu-satunya makhluk yang dapat memahami airmataku.

Aku mencintai Sita semata karena tunduk pada nurani, sebab apapun yang diputuskan oleh nurani adalah mandat dari takdir. Bagaimana aku dapat menghindar dari sesuatu yang telah digariskan oleh Tuhan, sementara tak ada sehela saja dari nafasku yang keluar dari perhitunganNya? Saudara boleh membilang ganjil karena aku baru melihat wajahnya Sita selintas, itu pun sudah terlampau purba. Kalau akhirnya cintaku kepada Sita diadili dan digugat oleh seluruh penghuni semesta, biar Tuhan sendiri yang turun tangan, karena aku yakin bahwa Dalang akan bertanggung jawab atas lakon wayang yang ia gelar di pertunjukan.

Terbilang musykil karena sesungguhnya Sita sama sekali tak mengenal aku. Aku tahu semua tentang Sita justru dari Bromodedali, burung kesayanganku itu, disampaikannya isyarat-isyarat itu melalui bola mata yang bergerak-gerak dan bahasa sayap yang mengepak-ngepak, atau dari kicaunya yang menjerit-jerit itu. Setiap pagi Kukila selalu pamit untuk pergi ke gerbang taman dimana Sita bermain dengan bunga-bunga. Ia hanya mengawasinya dari pohon Dewadaru dekat gerbang itu. Habis itu, seperti biasa, Kukila kembali ke pundakku sambil membawa kabar tentang Sita dengan cara itu.

Saudara tahu, setiap kali kangenku pada Sita memuncak, betapa cukup bagiku memandang rumahnya dari jarak kejauhan. Aku bahkan sering membayangkan betapa bahagia atap rumahnya yang bisa menaungi Sita dari hujan dan kepanasan, betapa senang dinding rumahnya yang dapat melindungi Sita dari kedinginan. Betapa, Oh, Betapa… Lantai rumahnya pasti merasa beruntung karena bisa dibuat alas untuk kaki Sita. Barangkali, matahari yang terbit setiap pagi itu dalam rangka takzim atas keluhuran Sita, dipancarkannya cahaya matanya ke pusat kehormatan malam dan menjadikan bulan menemukan maknanya. Betapa rinduku mengembara dari bintang ke bintang.

Sudah tujuh hari Kukila pergi membawa seloka yang kutulis, dan selama itu pula aku merasa mengemban beban yang begitu berat. Namun, jelang maghrib, dalam kecemasanku yang langgeng, kulihat dari kejauhan Kukila melayang ke arahku sambil membawa sesuatu yang dicengkeram di kakinya. Dari matanya terpancar air bening yang mengembun. Aku tahu, itulah isyarat kebahagiaan. Kubuka daun siwalan yang dibawa Kukila itu sambil menahan dada yang gemetaran:

Semoga setiap salam tercurah untukmu selalu.
Maafkan jika Kukila-mu kutahan di kamarku, sebab setelah membaca seloka yang kau tulis itu, mendadak ada hal lain yang terbit dari sukmaku. Aku tidak tahu kau siapa. Lelaki atau perempuan. Tapi membaca itu aku menerka bahwa kau tidak sejenis denganku. Hari pertama aku ingin mendengar cerita tentangmu dari Kukila. Tapi ia hanya meneteskan airmata. Kau tahu, tidak setiap burung sanggup menangis seperti Kukila-mu. Hari selanjutnya aku semakin tahu bahwa yang dibawa Kukila darimu semata adalah penderitaan. Aku melihat penderitaan yang kau tanggung melalui tangisan Kukila yang tak lelah-lelahnya itu.

Atas nama senja, yang darinya dikekalkan jingga sebagai lapisan lembayung kenangan yang diulur-ulur, kusampaikan kejujuran ini bahwa, aku ingin kautemui di Candi Cemara, di bukit Tidar yang terhormat itu, Selasa Kliwon nanti, demi satu tujuan; menunaikan cinta.

Sejak membaca warkat yang ditulis Sita di atas daun siwalan itu, aku diberi pengertian baru oleh semesta, bahwa Sita, di atas bumi ini kukenal sebagai representasi langit, keindahan dari segala keindahan langit tersusun dari parasnya. Saudara tahu, Restu Nirwana turun ke dunia melalui luh yang meleleh dari manik mata Sita. Setiap kebahagiaan dan kesedihan di dunia ini diukur dari bagaimana Sita mengalami suatu keadaan.

Selama tiga dasawarsa itu aku tak habis-habisnya memuja Sita sebagai penegasan jati diri seorang pecinta. Kini, sudah tiba saatnya aku akan datang ke haribaannya sebagai pemuja yang baka, semata demi menegakkan cinta yang telah dijanjikan oleh penguasa bentala dan bumantara.

Maka, dengan jiwa yang diberkati kefanaan yang kekal, aku menempuh perjalanan ke Candi Cemara bersama Kukila. Tak ada perjalanan yang lebih genting melampaui perjalananku menempuh ke arah Sita. Lebih ringan bagiku memikul bukit Tidar daripada harus menanggung jarak. Dari kejauhan, kusaksikan Sita bersedekap menghadap senja, dilipatkannya kedua tangan di atas dadanya. Rambutnya berkibar seperti pecahan kaca yang ambyar. Di sampingnya nampak empat kuda dengan kereta kencana di belakangnya. Kusambut pertemuan itu dengan satu kesimpulan; Mati sebelum waktunya atau Hidup melampaui kehidupan yang telah ada.

Di hadapan Sita, tubuhku bertekuk lutut, mukaku tertunduk khidmat, terpejam. Hatiku kalang kabut. Kuangkat kepalaku bagai cangkir kopi menadah cahaya bulan, kupandang Sita, cuma memandang Sita. Seperti dua batu yang berhaluan— saling tatap tanpa ucap. Bagaimana hendak kunyatakan cinta ini jika tatapan mata lebih sanggup menafsirkan suasana batin. Sorot matanya telah menerjemahkan situasi kejadian di dalam dirinya. Rahasia yang sejauh ini intim tersimpan akhirnya dijelaskan oleh lelehan airmatanya yang mengucur dari purnama di matanya.

Hatiku saat itu seperti mendapat petunjuk, semacam wangsit yang memberi pengertian kalau kejujuran harus bertindak. “Kau mesti angkat suara, demi bakti hidupmu mencintai satu-satunya perempuan yang menjadikanmu dapat menemukan dirimu sendiri, menemukan hakekat ketiadaan”. Terpana sekujur tubuhku menerima titah itu.

“ Sita… Inilah aku, lelaki yang selama tiga puluh tahun mempunyai cita-cita hanya untuk memandang wajahmu. Kini, di senja yang nirmala ini, cita-cita itu telah tercapai. Aku tak berharap ingin memilikimu, sebab aku mencintaimu bukan untuk ingin menguasaimu. Cintaku padamu, Sita, semata-mata adalah bagian dari darma, dan mencintaimu, Sita. hanya untuk melaksanakan takdirku. Kau tahu, selama ini aku menghamba dengan cara memperjuangkan cinta. Hanya untuk mencintaimu. Setiap kali aku lalai akan Tuhanku, yang kuingat cuma wajahmu, hanya wajahmu belaka yang membayang jauh ke dalam batinku”. Kusampaikan kata-kata itu dalam keadaan berlutut, sembari memandang bola mata Sita yang kuyup. Bukan, itu bukan kata-kataku, itu adalah hyang wisesa yang berbicara melalui mulutku.

Airmata Sita berguguran di atas tanah, seketika wanginya merebak. Mataku pejam, menghirup dalam-dalam raksinya. Tak akan, bahkan tak pernah, airmata Sita itu tak sanggup membatalkan keelokannya. Bibir Sita bergerak pelahan, seolah hendak mengeluarkan permata. ‘’ Wahai pengemban amanat cinta… Seumur hayat aku tak pernah melihat lelaki yang sanggup menjaga cintanya setangguh hatimu. Dan tak akan mungkin ada. Mereka yang telah mengajukan cintanya kepadaku adalah para lelaki yang cengeng atas kehidupan— manja terhadap kecantikan. Mereka lebih terangsang pada wujud jasad yang kumiliki, lebih syahwat pada pangkat dan derajat ayahku. Tidak semata-mata karena mencintaiku. Maka, jika kau mencintaiku demi menunaikan takdirmu, aku akan menyongsong takdirmu itu. Sebab kini, kebahagiaan dan kesedihanmu telah menjadi bagian yang sah untuk kutanggung”.

Bumi gonjang-ganjing, langit memercikkan cahaya menjangkau bagian paling peka dari semesta. Gunung seolah hendak melampiaskan magma keluar. Laut menangguhkan ombak dan gelombang. Tiba-tiba gerimis lepas dari ketinggian. Rintik-rintik saja. Disaksikan senja di bukit Tidar, Tuhan kembali mesem melalui bibir Sita.

Bungkam suaraku, mematung tubuhku, di hadapan Sita yang tegak. Mendadak Kukila memekik, gemanya memantul ke bagian paling dalam dari bukit Tidar.

Panah hitam meluncur dari arah belakang, lesap ke punggungku, tembus dadaku, dikoyak jantungku oleh jemparing yang dilepas oleh entah siapa jauh di belakangku. Kulihat darahku tumpah di atas tanah. Airmata Sita kembali gugur di atas mukaku yang tengadah ke arah wajahnya. Pada denyut terakhirku kusampaikan kebenaran dalam puisiku, lalu tubuhku tersungkur tepat di atas kaki Sita.

“Aku bersaksi bahwa tak ada keindahan selain kau, Sita…”

Hari selasa adalah hari berdarah, sebagaimana kelahiranku, kematianku juga ditandai dengan darah. Selasa adalah nama dewa perang Tiu— isyarat kalau kehidupanku akan berlangsung penuh dengan perang. Justru peperanganku melawan diriku sendiri, melawan Keinginanku untuk memiliki Sita. Bahwa takdir mengizinkanku hanya untuk mencintai Sita, dan bahwa semesta menyetujui meski mati, jiwaku tetap diperkenankan untuk mencintai Sita, hanya Sita. Semata-mata cintaku menghadap ke haribaan Sita.

***
Sesungguhnya aku tak mahir menulis cerita, tapi demi mempertanggung-jawabkan kenanganku pada Sita, aku bertekad mencari penulis yang sudi menunjang agar cerita ini sampai pada kalian. Maka begitu tahu kalau diriku ditampilkan di sampul buku puisi Mantra Asmara, aku segera mencari muallifnya. Pada selasa kliwon yang lalu, lepas tengah malam, ketika muallif Mantra Asmara sedang sibuk menunaikan ibadah ngopi, arwahku masuk ke dalam cangkirnya, dari situlah aku nantinya bisa meresap ke dalam tubuhnya. Kuarahkan pikirannya dan kutuntun jemarinya untuk menulis cerita ini. Sesungguhnya bukan Usman Arrumy yang menulis ini, saat itu ia tak tahu apa-apa karena ia kerasukan rohku, aku hanya memanfaatkan raganya dan meminjam jemarinya semata agar cerita ini bisa tertulis dan dapat terbaca.

Karena sebaik-baik pecinta adalah ia yang kembali pulang ke kampung halaman; ke hati Sita.

__________________
*) Usman Arrumy adalah santri Al-Fadlu Kaliwungu. Sekarang sedang mengenyam pendidikan di Univ. Al-Azhar, Fak. Lughoh. Kairo, Mesir. Ia baru menerbitkan buku puisi bertajuk Mantra Asmara, 70 Selected Poems.

3 September 2014. Kafe Cemara, Bawabat, Nasr City

Categories: Cerpen