Teater Angin, Bersiap Gelar Malam Apresiasi Sastra

Rindra
Bali Post 7 Feb 2015

NAMA Teater Angin tentu sudah tidak asing lagi di kalangan komunitas sastra atau teater di Bali. Komunitas teater besutan SMA Negeri 1 Denpasar ini memang telah malang-melintang di berbagai event sastra. Tak sedikit penghargaan yang sudah diraih, membanggakan para pegiat Teater Angin sekaligus mengharumkan nama SMA Negeri 1 Denpasar sendiri.

Pembina Teater Angin Ida Bagus Suwana, S.Pd., M.Pd. mengatakan, Teater Angin merupakan media pengembangan diri bagi remaja yang mencintai sastra. Pengembangan diri lewat media sastra diyakini dapat membentuk sikap, etika, dan estetika selain mengasah daya intelektual siswa. Apalagi dalam pelaksanaannya, Teater Angin kerap bekerja sama dengan sejumlah sastrawan seperti Tan Lioe Ie, Abubakar, dan Cok Sawitri.

“Mereka tidak hanya cukup lewat pengembangan intelektual saja. Akan tetapi di sini banyak menempa mereka di bidang pengembangan etika, logika, dan estetika sesuai runut Kurikulum 2013,” ujarnya.

Saat ini Teater Angin tengah mempersiapkan acara tahunan “Malam Apresiasi Sastra” yang akan digelar 20-21 Februari mendatang. Koordinator Publikasi Malam Apresiasi Sastra (MAS) Ratih Widyasari mengatakan, persiapan menuju acara ini sudah sekitar 60 persen. Sederet penampilan drama, musikalisasi puisi dan teaterisasi puisi akan memeriahkan MAS tahun ini.

“Kita ada dua hari pelaksanaan malam apresiasi sastra, hari pertama tanggal 20 Februari itu penampilan dari seniman-seniman luar terus teater-teater SMA se-Bali sama alumnus dari kita sendiri. Hari kedua itu baru penampilan full dari Teater Angin. Tahun ini kita mengangkat tema yaitu ‘Kemana Baliku Berlabuh’,” ujar Ratih didampingi Ketua MAS 2015, Andika Yudistira.

Sementara itu, Ketua Umum Teater Angin Dicky Mahardika Putra menjelaskan makna dari tema “Kemana Baliku Berlabuh”. Tema ini, menurutnya, sengaja diangkat untuk menggugah kesadaran generasi muda untuk melestarikan budaya Bali, sebelum budaya Bali yang adiluhung tidak direnggut oleh pihak asing.

“Kita ngangkat tema tentang kebudayaan Bali yang sedang berlangsung saat ini yaitu kita fokusin ke kebudayaan-kebudayaan Bali yang mulai hilang diambil oleh masa depan sama kebudayaan-kebudayaan luar yang mulai masuk ke Bali, sehingga kita melupakan dari mana sih sebenarnya kita berasal. Jadi kita pengen mengangkat tema kenapa kita harus segera melestarikan budaya Bali sebelum budaya itu diambil oleh pihak asing, itu inti dari tema tahun ini,” jelasnya.

Tradisi

Teater Angin saat ini tercatat memiliki 70-an anggota dari kelas X hingga XII. Dicky menuturkan, Teater Angin memiliki tradisi kuat yang masih dipertahankan hingga kini. Komunitas ini tidak kenal dengan senioritas meskipun anggotanya terdiri dari tiga angkatan kelas .

“Dari kelas satu, dua, tiga, kita enggak manggil “kak”, jadi akrab banget. Terus kita ada namanya doa buka itu setiap kita memulai suatu kegiatan atau latihan sekecil apa pun itu, kita duduk di bawah dalam bentuk lingkaran, doa buka itu dipimpin oleh saya ketua atau tiga besar. Tiga besar itu ada ketua atau Waka 1, Waka 2 yang sedang menjabat. Kita doa buka, tangan kanan di atas, tangan kiri di bawah kita bentuk lingkaran. Setelah doa kita mulai melakukan sesuatu, terus setelah acara selesai ada doa tutup mirip prosedurnya seperti itu,” papar siswa kelas XI ini.

Dicky menambahkan, pengalaman menjadi Ketua Umum Teater Angin periode 2014/2015 dikatakan paling berkesan. Di samping ketika dia bersama Teater Angin mengikuti berbagai event atau lomba sastra hingga ke Semarang. Kala itu, Dicky didaulat menjadi salah satu pemain dalam sebuah lakon drama. Menariknya, Dicky mengaku tidak tahu kapan waktu pasti Teater Angin didirikan di SMAN 1 Denpasar.

“Kalau sekarang aku kan kelas II, aku angkatan ke-50. Kalau kelas I-nya angkatan ke-51, tetapi dari dulu ada beberapa alumnus yang mengatakan ada dari 50 tahun yang lalu, tetapi ada juga yang mengatakan dari tahun 90. Saya sendiri belum tahu informasi yang bener-bener jelas tahun keberapa, soalnya dulu ada yang namanya Sanggar Angin belum Teater Angin,” jelasnya.

Lain Dicky, lain pula yang dirasakan Ratih. Gadis berambut panjang ini mengaku sangat menyukai sastra. Karena itulah, ia tertarik untuk bergabung di Teater Angin sampai akhirnya terpilih menjadi Koordinator Publikasi dalam kepanitiaan Malam Apresiasi Sastra.“Rasa kekeluargaan erat banget, banyak banget pengalaman yang kita dapat enggak cuma sekadar masuk ikut ekstra tapi bener-bener banyak sekali pengalaman,” ungkapnya.

Hal yang sama juga dirasakan Andika Yudistira. Kendati pada awalnya, Andika yang kini didaulat menjadi Ketua Malam Apresiasi Sastra ini sempat bingung ingin bergabung dalam ekstrakurikuler apa di SMAN 1 Denpasar. “Kakak saya nyaranin gabung di Teater Angin. Tapi saya masih bingung mau masuk Teater Angin apa enggak. Tapi lama-kelamaan saya melihat Teater Angin itu asyik, kebersamaan, enggak ada senioritas, bergaulnya itu enak sama kakak kelas jadinya lebih raket,” tuturnya.

Sementara anggota Teater Angin lainnya, Tri Surya Gemilang, mengaku ingin lebih mengasah bakatnya di bidang drama. Di samping memang tertarik bergabung karena nama besar Teater Angin sendiri. “Teater Angin adalah salah satu ekstrakurikuler besar di SMA Negeri 1 Denpasar. Waktu SMP saya juga dapet bermain drama atau operet di SMP, justru itu saya juga ingin bergabung di dalam Teater Angin biar bisa mengasah bakat saya juga dalam bermain drama,” ujarnya.

Prestasi yang pernah diraih Teater Angin antara lain juara I Lomba Musikalisasi Puisi Poltek 2009, Pementasan Terbaik ETEC 2009, juara I Lomba Musikalisasi Puisi Arttitude 2010, juara I Lomba Baca Puisi Bulan Bahasa 2010, juara I Lomba Musikalisasi Puisi tingkat Kota Denpasar, juara I Lomba Musikalisasi Puisi Reinkarnasi Budaya Fakultas Sastra Universitas Udayana 2012, Juara I Lomba Musikalisasi Puisi Kebangkitan Budaya dan Olahraga STMIK Stikom Bali 2012, juara I Lomba Baca Puisi Putra PSR Kota Denpasar 2013, serta juara harapan I LOMUISI Sastra Welang 2013.

http://balipost.com/read/headline/2015/02/07/29508/teater-angin-bersiap-gelar-malam-apresiasi-sastra.html