Hendak ke Mana Sastra Indonesia?

Korrie Layun Rampan
Harian Analisa, 31 Mei 2015

Apakah sastra Indonesia itu? Siapakah sastra Indonesia itu? Di manakah sastra Indonesia itu? Apakah rumah sastra Indonesia itu? Mau apa sastra Indonesia itu? Hendak ke mana sastra Indonesia itu?

Saya tidak akan menjawab pertanyaan saya sendiri. Saya akan menelusuri sastra Indonesia mutakhir dalam konteks arah atau kecenderungannya pada masa akhir-akhir ini dan masa akan datang. Diakui, sastra futurisme pun juga tidak akan mungkin meramalkan kemana sesungguhnya arah sastra suatu komunitas, suatu etnik, atau sastra suatu bangsa.

Sebagaimana diketahui bersama, sastra Indonesia lahir pada tahun 1920, saat Muhammad Yamin menulis sajak “Tanah Air” di majalah lokal kebangsaan Jong Sumatera. Secara estafet sajak modern itu ditulis oleh Amir Hamzah (Pujangga Baru), Chairil Anwar (Angkatan 45), Subagio Sastrwowardoyo, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad (Angkatan 66), F. Rahardi, Linus Suryadi AG, Emha Ainun Nadjib, Eka Budianta (Angkatan 80) dan Afrizal Malna, Seno Gumira Adjidarma, Kriapur, Ayu Utami, Dee, Ahmadun Yosi Herfanda, Nirwan Dewanto, M. Fadjroel Rachman, H.U. Mardi Luhung, Evi Idawati, Laksmi Pamuntjak (Angkatan 2000). Para sastrawan ini telah meninggalkan jejak dalam perjalanan panjang sastra modrn Indonesia (1900-2015).

Jejak apakah yang telah ditinggalkan para sastrawan itu dalam sastra Indonesia? Secara sederhana dapat dirumuskan beberapa hal penting dari kehadiran para sastrawan ini dalam perjalanan panjang sastra modern Indonesia. Dimulai dari Muhammad Yamin, melahirkan genre baru dalam sastra Indonesia.

Muhammad Yamin, pelahir genre sastra puisi Indonesia modern. Dengan demikian, dia telah memulai bentuk baru yang berbeda dari bentuk-bentuk puisi tradisional.

Amir Hamzah merevolusikan bahasa dengan menggunakan bahasa baru yang berbeda dari bahasa pantun, syair, gurindam, hikayat, riwayat dan berbagai jenis sastra lama. Di tangan Amir Hamzah, bahasa menjadi dinamik, bercahaya, lentur dan baru.

Dengan bahasa itu dia menulis segala persoalan kejiwaan dan hidup percintaan maupun kekhusukkan di dalam iman percaya kepada Tuhan. Sajak-sajak Amir Hamzah memerdekakan bahasanya dari determinasi ruang lama dan kuno yang membelenggu, dengan berbagai aturan yang mereduksi kreativitas.

Kehadiran Chairil Anwar, membawa bentukan puisi melampaui Pujangga Baru yang melahirkan Belenggu; membawa suasana dan situasi paling dinamik dalam sastra Indonesia modern. Chairil merupakan pembaharu sejati dan peletak dasar sastra puisi paling berkualitas. Sajak-sajaknya mencirikan perlompatannya dari puisi lisan menjadi puisi tulisan; dan dari sastra bisu dengan tendensnya yang luas ke sastra memberontak terhadap realitas indivindu, masyarakat luas, bangsa dan negara. Sajak-sajaknya sensitif, meninggalkan sastra massal ke sastra keseorang yang mengandung nilai-nilai universal. Dengan sajak-sajak yang demikian. dia muncul sebagai individu dengan individualitas yang sangat kuat; sebagai pembaharau yang memasukkan genre puisi Indonesia ke dalam rumah puisi dunia.

Idrus membawa cara baru penulisan cerpen yang bersifat sketsais. Seperti diketahui, sketsa adalah orat-oret atau lukisan yang belum selesai. Dengan demikian, fiksi-fiksi Idrus merupakan ciptaan yang memiliki sifat sketsais. Secara metafora menunjukkan perlambangan masyarakat Indonesia yang sedang berada di tengah transisi menjadi bangsa. Fiksi-fiksi itu -termasuk drama- menunjukkan arah fiksi cerpen. Memperlihatkan unsur karya yang belum menjadi, di samping jenis cerita Armijn Pane yang berunsur ilmiah dan aliran yang dibawa Hamka sebagai aliran cerpen kemasyarakatan.

Sitor Situmorang mengangkat bentuk baru dalam puisi, cerpen, dan drama pada generasi Angkatan 45. Penggunaan bahasanya yang plastis, sangat dekat dengan Amir Hamzah dan penggunaan ide-ide pikiran dalam sintaksis yang memikir. Dia dekat dengan Chairil Anwar. Sitor menggunakan berbagai perangkat bentuk dan isi, untuk mencapai ide-ide jenial tentang bentuk, tema dan pikiran. Di antara sajaknya yang sangat individual dan merupakan tema romantisme seks paling indah dalam sastra Indonesia. Dapat dilihat dalam sajaknya “La Ronde II”, seperti dikutip berikut ini.

Sitor Situmorang
LA RONDE

II
Adakah yang lebih indah
dari bibir merekah?

Adakah yang lebih manis
dari gelap di bayang alis?

Di keningnya pelukis ragu:
Mencium atau menyelimuti bahu?

Tapi rambutnya menuntun tangan
hingga pinggulnya, penuh saran.

Lalu paha, pualam pahatan
mendukung lengkung perut

Berkisar di pusat, lalu surut
agak bawah, ke pusar segala

Hitam pekat, siap menerima
dugaan indah.

Ah, dada yang lembut menekan hati

Terimalah
kematangan mimpi lelaki!

Beberapa novel Mochtar Lubis mengambil tema psikologi, kemasyarakatan, sosiologi dan dunia perang. Fiksi-fiksi sastrawan ini sangat kuat dan memiliki nilai kesejarahan dan nuansa politik seperti cerpen ”Nasionalis Nomor Satu” dan “Kuli Kontrak”. Cerpen-cerpen ini menjadi penanda dan bukti sejarah perjuangan bangsa dan upaya-upaya selanjutnya dalam mempertahankan kemerdekaan dan harkat bangsa.

Iwan Simatupang merupakan novelis dan cerpenis yang membawa perubahan baru dan pembaruan dalam sastra modern Indonesia. Kumpulan cerpennya Tegak Lurus dengan Langit dan novel Merahnya Merah, Ziarah dan Kering telah menampakkan pembaruan dalam hal struktur dan pemikiran. Iwan memperlihatkan fiksi modern yang berkelindan dalam interour monolog yang menekankan arus kasadaran. Tokoh-tokoh Iwan lebih berupa jelmaan manusia filsafati yang terbimbing dalam aliran eksistensialisme.

Dengan membawa tokoh-tokohnya eksis dalam ranah kehidupan tumpah darahnya sendiri. Umar Kayam, Ahmad Tohari, Linus Suryadi AG dan Korrie Layun Rampan membawa tokoh-tokoh kisah mereka ke ranah nenek-moyang yang menentukan trah dan keberhasilan di dalam lakuan perjuangan sehari-hari.

Umar Kayam memberhasilkan tokoh-tokohnya di dalam kerja keras upaya menjadi diri mereka priyayi jelata -bukan priyayi darah biru- sehingga mereka menjadi contoh yang nyata dari perjuangan kemanusiaan. Ahmad Tohari membawa tokohnya berjuang di dunia kebudayaan dengan membuka diri seluas-luasnya untuk landas tumpu budaya rakyat kecil yang menjadi gantungan kehidupan. Linus Suryadi memperlihatkan budaya bedinde (pembantu) -yang membantu luar dalam- sebagai bagian dari budaya daerah yang hidup dengan realitas yang memungkinkan masyarakatnya bereksistensi.

Dalam realitas budaya Jawa, anak dari hasil hubungan gelap – kaum bangsawan dengan gadis dari rakyat jelata, diakui sebagai anak turunan kaum bangsawan, tetapi sang Ibu tetap berada di luar garis. Korrie Layun Rampan dengan kisah-kisah esoterik dari dunia Dayak, membawa pembaca kepada realitas keisolasian masyarakat pedalaman terhadap dunia modern, dunia kemajuan. Mereka tetap saja terjelungkap di dalam dunia yang jauh tertinggal di luar lingkaran realitas dunia global yang sudah mencapai bulan.

Berbagai pikiran dan bentuk ucap dari para sastrawan yang menjalani estafet dalam angkatan sastra selanjutnya seperti yang dilakukan Iman Budhi Santosa dan Kusnin Asa. Menulis tentang sepi -dan kehidupan yang ada di dalamnya- dan Emha Ainun Nadjib yang mengestafeti keindahan nuansa religius sufi, kemudian mencirikan sajak-sajak sufistik. Sajak-sajaknya yang mencirikan hal demikian terasa sangat indah dan menjadi bagian penting perjalanan sastra Indonesia kiwari seperti dapat dirasakan dari kutipan berikut ini.

Emha Ainun Nadjib
TIDUR HANYA PADA-MU

Tidur hanya bisa pada-Mu
Ketika larut badan tak menggoda
Sudah khatam segala tangis rindu
Tinggal jiwa kusut dan sebuah lagu
Jiwa terjajah luka
Bersujud sepanjang masa
Di peradaban yang sakit jiwa
Hanya bisa kupeluk guling rahasia
Tidur hanya bisa pada-Mu
Ya, kekasih, tidur hanya bisa pada-Mu
Kalau tak Kau eluskan tangan
Bangunku tetap saja ke dunia
Sejak semua telah kuikrarkan
Cuma Engkau sajalah yang kudambakan
Dengan sangat kumohonkan tidur abadi
Agar kumasuki bangun yang sejati

1986

Novel-novel Seno Gumira Ajidarma (Naga Bumi I-II yang sangat tebal), Ayu Utami, Dee, M. Fadjroel Rachman, Djenar Maesa Ayu, Lan Fang, Cok Sawitri dan lain-lain memperlihatkan penjelajahan estetik yang sangat luas dengan intensitas cerita, menjangkau ke berbagai dunia baru yang spektakuler. Karya-karya ini memasuki era baru dan wilayah baru yang menjadi pertaruhan perkembangan dan pengembangan sastra modern Indonesia.

Cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma dalam Saksi Mata; cerpen-cerpen Joni Ariadinata dalam Kastil Angin Menderu; cerpen-cerpen Lan Fang dalam Yang Liu dan lain-lain. Cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu dalam Mereka Bilang Saya Monyet, Saia dan lain-lain. Cerpen-cerpen Dee dalam Filosofi Kopi; cerpen-cerpen Khairul Jasmi dalam Ketika Jenderal Pulang. Cerpen-cerpen Rama Dira dalam Kucing Kyoko, dan lain-lain -jumlahnya puluhan- menunjukkan makin berkembangnya cerpen sebagai genre sastra, setelah Muhammad Kasim dan Suman Hs. menulis cerpen-cerpen anekdot.

Sastra modern Indonesia diperkaya oleh hadirnya penyair, dramawan, esais, cerpenis, kritikus sastra dan novelis, menunjukkan kualitas mengagumkan. Nama-nama seperti Darman Moenir, Juniarso Ridwan, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Wendoko, Tia Setiadi, Micky Hidayat, Jamal T. Suryanata, Mahmud Jauhari Ali, Burhanuddin Soebely, Gus tf, Ratih Kumala, Oka Rusmini, Isbedy Styawan ZS., Cecep Syamsul Hari, Jamal D. Rahman, Triyanto Triwikromo, Evi Idawati, Cicilia Anggraini Oday, Agus R. Sarjono, Thresia Ratu Angin, Hermiyana, Arif B. Prasetyo, Ma’mur Saadie, Kinanthi Anggraini, Shantined, Cok Sawitri, Amien Wangsitalaja, Fakhrunnas MA Jabbar, Sulaiman Djaya, Hasan Al-Banna, Tomy Tamara, Benazir Nafilah, Wirja Taufan, Budhi Setyawan, Iverdixon Tinungki, Pitres Sombowadila, Syaifuddin Gani, Abidah El-Qalieqy, Ulfatin Ch., Nenen Lilies A., Irianto Ibrahim, Juwairiyah Mawardy, Chen Chen, M. Fauzi, Saifun Arif Kojeh, Ahmad David Khollillurrahman, Yusran Arifin, Raedu Basha, Khoer Jurzani, Fandi Kachonk, A’yat Khalili, Fitri Yani dan ratusan nama yang mengisi antologi Angkatan 2000 dalam Puisi Indonesia. Di antara mereka, berikut ini dikutip puisi Vinca Dia Kathartika Pasaribu (lahir 1996) dan Laksmi Pamuntjak (Pamuntjak, Amba: 2012: 75). Sebagai contoh bentuk ucap, imaji dan metafor puisi dan daya bayang, pilihan kata, dan sintaksis novel Indonesia mutakhir.

Vinca Dia Kathartika Pasaribu
SETANGKAI

Aku setangkai sunyi mengamini mekar janji
Di muara kelam malam
Debu gemintang berjajar pada lusuh kerinduan
Rindu nyanyi diri
Rindu tenang hati
Rindu yang membuncah laksana mata samudera
Aku setangkai perih yang tiap malam turut berbaris
Memikul tandu-tandu luka, menghantarnya ke larut doa
Satu per satu anyir yang menganga disemayamkan dalam keranda raga
Di telapak tanganku, dupa kutuk menyala
Getir aroma kepasrahan
Pasrah terbakar diri
Pasrah tertawan hati.

20-12-2012 Horison/Kakilangit, 9/210, Th. XLVIII, September 2013

“Kau tak perlu bercerita,” bisik Samuel, “apabila kau belum siap.”

Perempuan itu memang tak hendak berbagi tentang kematian Bhisma: setidaknya bukan sekarang. Ada padanya yang ingin kembali ke awal mula: ke sebuah masa kecil di mana dunia hadir sebagai sesuatu yang tak diketahui, sebagai mulut-mulut yang belum bertutur-kisah, sebagai tubuh-tubuh yang belum mengenal haus dan lapar. Bagaimana ia bermula, bagaimana Amba dan Bhisma bermula. Surat-surat itu: ah, surat-surat itu. Surat-surat yang telah bertahun-tahun terkubur bersama darah, tanah dan air. Tanah air, tumpah darahku. Seperti apa rasanya membaca surat-surat yang ditulis untukmu beberapa tahun lampau, ketika dia bukan dia, kamu bukan kamu, ketika dia belum mati, dan kamu adalah kamu yang lain?

Apa hak Samuel untuk berpikir tentang ke-kamu-an seorang Amba dan Bhisma, ketika semakin lama dia semakin tak mengenali dirinya sendiri? Ketika lidahnya semakin kelu dan kata-katanya tinggal satu: maaf? Maaf sebab aku terlaklu bodoh untuk menjadi berguna. Maaf sebab akun tak sanggup meringankan peneritaanmu. Maaf sebab aku tak punya nama untuk kepedihanmu dan sebab setiap kali aku menatapi wajahmu, aku melakukan sesuatu yang tak patut.

“Maafkan aku,” kata Samuel sambil menyentuh tangan perempuan itu, “kau tahu kau tak perlu berbagi apa pun dengan aku.”

“Jangan minta maaf,” sahut Amba. “Tak ada yang lebih menyedihkan di dunia ini, Samuel, daripada permintaan maaf yang tak ada tempatnya.”

Semuel tak bersuara.

Perempuan itu berkata, “Aku ingin ingat ke masa sebelum aku punya rasa gentar.”

Nah!
Ke arah manakah kecenderungan sastra modern Indonesia terkini? Jawabannya sangat sederhana, yaitu:

1. Produktivitas. Tren sastra Indonesia mutakhir haruslah berorientasi kepada prodiktivitas -semua yang menyebut dirinya sastrawan harus produktif- dan dari situlah dapat dilihat arah yang sebenarnya. Produktivitas itu akan tampak dalam produksi: sastra anak, sastra remaja, sastra pop dan sastra serius. Semua bidang itu tak boleh dinafikan -karena memiliki wilayah otonominya sendiri-sendiri- Di dalam semua itulah kita dapat melihat arah sastra yang sebenarnya. Ke manakah sastra itu menuju?

2. Inovasi. Tak ada sastra yang menunjang kehidupan dan budaya suatu bangsa tanpa adanya inovasi dalam penciptaan. Sebagaimana diketahui, inovasi adalah penemuan yang spektakuler, membuka dan memberi ruang baru, sikap baru, tujuan baru, faham baru, dan penciptaan baru. Dari kebaruan inovasi itulah dapat dilihat arah tujuan sastra yang sesungguhnya.

3.Kreativitas. Sering dikatakan, kreativitas bertolak belakang dengan produktivitas. Tanpa penciptaan, tak mungkin juga dilihat ada kehidupan kreativitas. Itu sebabnya produktivitas sangat penting dalam kreativitas. Kreativitas itu ada jika kreativitas dilahirkan. Kreativitas adalah bentuk ciptaan, diangkat secara orisinal dan unik. Berbeda dari hasil produksi yang mengikuti pakem dan kaidah konvensional. Kreativitas menandai kebaruan, otensitisitas, keunikan, keutuhan, dan kualitas. Kreativitas selalu membelakangi dan meninggalkan hal-hal normatif yang mengukuhkan konvensi dalam tradisi yang telah diakui secara konvensional. Dari segi itulah kita dapat melihat arah sastra modern Indonesia ke masa depan.
Sastra tidak akan ada tanpa penciptaan! Apakah sastra kita surut ke belakang atau terus maju ke depan?