Puisi Dunia, Sastra Terjemahan

Marhalim Zaini
riaupos.co

UNESCO, menetapkan Word Poetry Day pada tanggal 21 Maret. Jika penetapan itu, penanda ingatan, untuk petanda bagi sebuah momentum kelahiran, kita (penyair dan bukan penyair) mestinya bahagia. Sama bahagianya ketika Hari Puisi Indonesia dideklarasikan di Riau tahun lalu, diperingati setiap tanggal 26 Juli (mengacu hari kelahiran Chairil Anwar). Sama bahagianya juga, saya kira, ketika Taufiq Ismail (kalau tak salah 24 Maret ini) memaklumatkan Hari Sastra Indonesia, jatuh pada tanggal 3 Juli, yang merujuk pada hari lahirnya sastrawan Abdoel Moeis.

Kenapa bahagia? Karena sastra/puisi (kembali diupayakan untuk) diberi tempat—minimal dalam ingatan. Sebab, penyakit lupa sudah demikian akut. Jangankan pada puisi, pada dosa sejarah saja, kita lupa. Bukankah jadi kian sulit, kini, mau memilih (pemimpin) antara “orang baik-baik” dengan “orang seolah-olah baik.” Maka, menjadi penting bagi kita, untuk terus-menerus berupaya memberi tanda, atas sesuatu yang kita anggap “baik” untuk dijadikan sebagai penanda.

Puisi Dunia, adalah salah satu “tanda” yang “baik” itu. Apa yang terbayang dalam kepala kita, ihwal sebutan “Puisi Dunia” adalah sesuatu yang “luas”, yang merangkum puisi-puisi yang ditulis oleh orang yang tinggal di dunia ini. Tak terbatas geografis. Tak berbatas ideologis. Namun, harus diakui, bahwa seolah ada dominasi “pemilik” dari sebutan “Puisi Dunia” itu. Yang kerap bergaung sampai ke telinga kita, adalah nama para penyair di belahan dunia Barat. Seolah, puisi-puisi kita, di sini, tidak berhak atas sebutan itu.

Tapi, itu “seolah.” Artinya, mungkin tidak begitu sesungguhnya. Saya jadi ingat Taslim Ali, penyair masa Pujangga Baru. Ia sangat rajin menerjemah. Yang monumental, menurut saya, buku Puisi Dunia jilid I, II, III—(khusus jilid III, yang memuat terjemahan 300 puisi-puisi Asia-Afrika, dikabarkan hilang). Jadi, dari Taslim Ali, kita bisa melihat cakrawala puisi dunia, Barat-Timur, dari Eropa-Amerika Serikat dan Latin-Asia-Afrika. Dan, dari tangan sang penerjemah rupanya, puisi dunia itu dihadirkan (kembali).

Ya, sastra terjemahan. Memang bukan tanpa masalah. Perpindahan dari satu bahasa ke bahasa lain, itu masalah. Bahasa, kita tahu, tak semata soal teks. Tapi ada “konteks” di dalamnya. Teks dan konteks tak mudah (untuk tidak mengatakan: tidak mungkin) dipisahkan begitu saja. Atau secara ekstrem, Derrida bilang, tidak ada makna di luar konteks (kebahasannya). Maka, agak sulit mengklaim misalnya puisi Wislawa Szymborska yang telah dialihbahaskan ke bahasa Indonesia, tetap bercita-rasa-bahasa asli milik Szymborska.

Andai pun, kita sebagai pembaca, tetap “memaksakan” diri untuk berupaya melihat “wajah” Szimborska dalam puisinya yang telah dibahasa-Indonesiakan, tidak juga salah. Tentu, “wajah” Szymborska tetap bisa hadir, meski samar-samar. Diksi, idiom-idiom bahasa yang dipakai, tetap bisa ditelisik. Sekali lagi, dalam hal ini, peran penerjemah menjadi tak dapat diabaikan. Hadir atau tidak hadirnya “wajah” Szymborska di mata pembaca, adalah peran “penuh” si penerjemah.

Maka, agaknya ini sebab dunia penerjemahan kita tidak begitu subur perkembangannya. Pertama, mungkin memang butuh “kemampuan lebih” untuk menjadi seorang penerjemah. Selain cakap berbahasa, juga seorang “pembaca” yang gigih. Kedua, sudahlah begitu repot pekerjaannya, tidak juga kunjung baik “pengakuan” kita terhadap kerja mereka. Kalau pun ada apresiasi, tidak sehebat apresiasi kita pada penulis aslinya.

Ini masalah, yang terbiar. Mestinya, setidaknya kita (di Riau) harus mulai berpikir bagaimana membangun sebuah lembaga penerjemah bagi karya-karya sastra kita. Melahirkan para penerjemah yang gigih. Hanya dengan begitulah, hemat saya, kita dapat bersanding dengan “Sastra Dunia.” Dan, mari kita nikmati, Zaim Rofiqi, dalam karya-karya terjemahan di edisi khusus ini.***

http://www.riaupos.co/649-kolom-puisi-dunia,-sastra-terjemahan.html#.VcYhcfmqqko