Seni Menciptakan Wacana dalam Buku

Judul Buku: Seni Menulis dan Membuat Buku
Penulis: Robert Louis Stevenson & Washington Irving
Tebal Buku: 131 + vii halaman
Penerbit: Jendela, Yogyakarta
Tahun Terbit: 2004
Peresensi: RF. Dhonna
Komunikasi edisi tahun 27/235/November 2004

Pada mulanya adalah kata. Ia dituliskan dalam barisan kalimat dan paragraf. Kisahnya tentang segala isi dunia. Kemudian ia dirias hingga menawan. Sesudahnya ia dinaikkan ke alat cetak. Lipatan-lipatan kertasnya disatukan sampai berbentuk persegi. Pada akhirnya ia menjadi buku, yang dihadirkan kepadamu untuk dijadikan tunggangan bagi sebuah petualangan.

Begitulah bunyi epilog buku yang tersusun dari gabungan dua esai yang berjudul The Art of Writing dan The Art of Book-Making ini. Benar bahwa buku adalah salah satu artefak yang bisa dipakai sebagai tunggangan bagi sebuah petualangan hidup, karena sifatnya mampu meyakinkan sekaligus mempengaruhi pemikiran seseorang.

Sudah banyak buku-buku tentang menulis yang beredar di pasaran, tetapi kebanyakan buku-buku tersebut berupa buku panduan, hanya membicarakan teknik bagaimana cara menulis dan tidak menyinggung substansi dari kegiatan menulis itu sendiri. Karena itulah buku ini hadir untuk memaparkan bagaimana menghasilkan sebuah tulisan yang bisa memberikan deskripsi suasana, selingkup nuansa, bagi sebuah hasil proses artistik dan disajikan caranya.

Buku ini mengungkapkan bahwa seorang penulis (terutama penulis sastra) itu tak ubahnya seperti seorang arsitek istana seni yang turut menciptakan peradaban baru melalui kata-kata. Menurut penulis The Art of Writing, RL Stevenson, dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun, sebuah karya sastra memiliki kekuasaan untuk melakukan perusakan maupun perbaikan secara besar-besaran (hal.42). Berdasarkan hal itu, ia menambahkan bahwa moralitas yang harus diemban oleh seseorang yang berkecimpung dalam profesi kepengarangan adalah wajib menjunjung tinggi kejujuran pada fakta dan bersemangat penuh dalam melakukan pekerjaannya, karena ia akan senantiasa bersentuhan dengan idealisme dan realisme yang mengalami pertempuran untuk memutuskan arah karyanya.

Bagi pengarang Treasure Island ini ini, tujuan segala seni ialah untuk menggelar sebuah pola yang bisa jadi tentang warna, bunyi, perubahan perilaku, gambar geometris, atau baris imitatif, namun tetap sebuah pola. Menurutnya, musik dan sastra merupakan dua macam seni temporal yang mampu menciptakan pola bunyi dalam waktu, atau dengan kata lain, pola bunyi dan jeda. Dari jeda yang tercipta itulah, komunikasi antara penulis dengan penikmat sastra akan terjalin.

Berkenaan dengan baris imitatif, Washington Irving dalam esainya The Art of Book-Making berpendapat bahwa kebanyakan penulis buku pada masanya tidak hanya bersikap meniru (imitatif) terhadap baris-baris tulisan para penulis buku sebelum masanya. Bahkan ia menyebut mereka sebagai kumpulan predator, yang bisanya cuma mendaur ulang, menambal sulam, mengambil kutipan dari sana-sini, dan memangkasi karya-karya cerdas para pendahulu mereka. Hal ini tidak jauh beda dengan masa kini. Seperti di Indonesia, plagiarisme kerapkali terjadi. Tidak hanya plagiarisme ide atau tulisan, tapi juga plagiarisme di bidang lain. Ironisnya, para plagiator itu tetap bangga dengan tindakannya itu. Mengenai plagiarisme, Irving berkeyakinan bahwa karya curian yang dicangkok para perampok ide itu tidak akan mampu bertahan lama. Tetapi bagaimanapun juga, berdasarkan pengalaman penulis yang dikenal sebagai Bapak Cerpen Amerika itu, pada dasarnya setiap penulis sulit untuk mengelak dari keterpengaruhan dan kecenderungan peniruan.

Buku terjemahan ini dilengkapi dengan pengalaman Stevenson ketika ia tengah dalam proses pembuatan novel-novelnya, seperti Treasure Island dan The Master of Ballantrae. Dia menuturkan apa saja hambatannya ketika menulis novel-novel tersebut. Sayang, mungkin karena merupakan buku terjemahan, banyak kalimat penyesuaian dalam buku ini yang kurang bisa dimengerti maknanya.
***

http://rochimafirmadhonna.blogspot.co.id/2015/06/resensi-seni-menciptakan-wacana-dalam.html