Dari Nietzsche dan Nihilisme ke Wacana Autosuperamento

(Analisis Semantis Puisi-puisi Kristo Suhardi)
Hans Hayon *
Flores Pos, 22-23 April 2014

Mengenal Kristo Suhardi
Kristo Suhardi (Lahir di Ruteng, 2 Mei 1988) menaruh minat pada dunia sastra semenjak belajar di Seminari Menengah Pius XII Kisol, Manggarai Timur (2001-2007). Setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas, ia lalu belajar filsafat di STFK Ledalero (2009-2013). Selain menulis puisi, ia juga gemar menulis cerpen dan membuat beberapa tafsiran singkat filosofis atas beberapa karya sastra. Saat ini Kristo sedang bekerja di Harian Umum Flores Pos Ende, sebagai Wartawan dan Editor. Kristo merampungkan studi filsafatnya di Ledalero setelah menyelesaikan skrispinya yang berjudul “Memahami Seksualitas Manusia dalam Eleven Minutes Paulo Coelho”. Skripsi ini merupakan salah satu upayanya untuk membaca, menafsir, dan menelaah karya sastra dari perspekstif filsafat. Beberapap penyair besar yang begitu dikaguminya antara lain Kahlil Gibran, Paulo Coelho, dan Joko Pinurbo. Dalam artikel ini, saya ingin mengulas dua buah puisi (Ziarah I dan Ziarah II) yang pernah dijuarainya pada ajang menulis puisi tingkat STFK Ledalero.

Nietzsche: Kematian Allah
Frederich Nietzsche, salah seorang filsuf Postmodernisme, penggagas “kematian Allah” merupakan pintu masuk dalam memahami puisi-puisi Kristo Suhardi, khususnya menggugat hakekat iman Katolik. Catatan historis menjelaskan bahwa Nietzsce hadir sebagai “seorang nabi”, menerobos moralitas kristen yang terlampau memiskinkan proses aktualisasi diri manusia. Agama menjadi biang kemunduran kreativitas manusia, yang pada akhirnya menghantar manusia pada kemandulan jati diri. Manusia, oleh karena agama, bergerak dan berekspresi di bawah kedaulatan absolut konsep Allah. Dengan kata lain, extra ecclesia nulla salus, di luar gereja tidak ada keselamatan. Untuk keluar dari kondisi ‘sesat’ ini, manusia perlu membunuh Allah. Hanya dengan begitu, manusia mampu berkembang dan bertumbuh secara otonom tanpa alibi “proyek iman” yang superorganik (diwariskan secara turun-temurun dari kecil). Allah perlu dibunuh demi perwujudan diri manusia yang absen intervensi mutlak dari realitas transenden serentak abstrak tersebut.

Ketika Allah telah mati, dan manusia ketiadaan patokan moralitas yang universal, kehidupan berjalan secara bebas tak terkendali. Manusia kehilangan dasar, orientasi, dan pegangan hidup. Manusia kehilangan horizon. Bumi dan matahari tidak berputar dengan arah sebagaimana biasa, seolah-olah mengaduk manusia ke atas ke bawah, ke depan ke samping. Tidak ada lagi arah yang persis karena semuanya tersesat dalam ketiadaan berhingga. Semuanya gelap pekat. Lalu dalam situasi demikian, terpaksa manusia harus bangkit menata dunia, suatu ajaran hidup dan citra manusia tanpa Allah lama. Segala sesuatu harus direkonstruksi mulai dari filsafat, moral, kesenian, ilmu pengetahuan, dan politik. Singkatnya, harus diusahakan suatu Umwertung aller Werte yaitu transvaluasi semua nilai. Hanya dengan demikianlah, manusia luput dari kehancuran akibat nihilisme. Dengan cara ini, manusia sanggup merombak seluruh tatanan moral dan iman Katolik, yang hemat Nietzsche, tersembunyi dalam oportunisme terparah. Tatanan moral Katolik dinilai sedang sakit dan sedang tertidur dalam kemunafikan. Penghayatan iman tidak lagi otentik karena agama sering menjadi suatu cara hidup yang rumit dengan aturan-aturan tabu bahkan kadang-kadang disamakan dengan khayalan-khayalan suci yang tidak menyentuh realitas. Saya pikir demikianlah kerinduan dasariah yang ingin diangkat dalam kedua puisi Kristo.

Nihilisme: Pasca Kematian Allah
Situasi kehidupan tanpa Allah yang menjadi dasar dan pegangan menjerumuskan manusia pada nihilisme. Dalam Die Fröhliche Wissenschaft, Nietzsce bercerita mengenai orang gila yang membawa sebuah lantera menyala ke tengah-tengah pasar dan berseru terus-menerus: “Aku mencari Allah! Aku mencari Allah!”. Dan pada “Ziarah I”, Kristo dalam nada yang sama, mencatat: Terlalu letih aku mencarimu tanpa peta dan arah/Aku tidak tahu/di mana persisnya engkau/berada/di persimpangan dunia ini//Barangkali…/kau terdampar dalam ritus/yang kusembah/atau tersesat dalam dogma/yang kupuja//Barangkali???

Dengan mengunyah nihilisme sambil mencaci maki diri sendiri, iman menjadi mungkin. Nihilisme sesungguhnya mengajak manusia yang menyandang predikat “beriman” untuk tidak telalu cepat menemukan kesimpulan final tentang Allah. Menurut perspektif eskatologis radikal, iman tidak pernah selesai (oleh Kristo, tereksplisit dalam morfem “Barangkali”), tidak pernah tersedia, tidak pernah terjamin, iman-selalu dan terus-menerus-merupakan loncatan ke dalam ketidapastian, ke dalam kegelapan, ke dalam ruang hampa tanpa pijakan. Menyitir filsuf Karl Jaspers, “bukankah keberadaan bukti berarti kematian iman?” Bahkan secara tragis, teolog Protestan Bultmann dalam kredonya, menulis: “…tidak mengandung dari Roh Kudus, tidak dilahirkan oleh Perawan Maria, memang menderita di bawah Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan, namun tidak turun ke tempat penantian, tidak bangkit pada hari ke-3 dari antara orang mati, tidak naik ke surga.” Saya tidak berani membayangkan apa reaksi umat beriman jika melafalkan kredo semisal ini. Proposisi ini mengisyarakan kewajiban menghadirkan proses dialektika di mana terbuka lebar peluang bagi pertentangan, saling menggigit, menggasak, dan memberontak guna mengasah ketajaman hakikat iman manusia. Kristo mengungkapkan konsep ini dalam diksi yang dipilih dan cenderung diulang beberapa kali dalam kedua puisinya, seperti: darah, sesat, tersesat, riuh, dan terkelupas.

Filsuf Michel Foucault, pernah “menyindir” Nietzcshe dengan berkata, ”Tidak mungkin mengakui kematian Allah sambil menghidar dari kenyataan adanya kematian manusia.” Konsekuensinya memang logis yaitu Nietzsche memang telah mati. Bahkan kematiannya diawali dengan situasi sekarat karena mengidap skizofrenia. Dari situ, dapat disimpulkan bahwa akibat dari adanya kematian Allah, selalu mengisyaratkan kematian identitas. Dalam puisi “Ziarah II (untuk Nietzsche)”, Kristo membaca konteks tersebut dengan sangat baik. Saya kutip secara lengkap puisi itu-dengan maksud memudahkan pembacaan atas makna yang integral di balik kedalamannya yang tersembunyi atau mungkin sengaja menyembunyikan dirinya-demikian: Beratus tahun setelah/kepergianmu yang tak pernah/pulang/riuh buih badai yang/menggigil, antarkanku/melawatmu/di suatu waktu ketujuh, di langit/ketujuh belas, dan merajuk/’kau harus segera pulang, riuh/ribu rindu mendambamu’/Dibabat renyah rayu, ia/tersenyum kecut/aku tidak mungkin pulang,/jalan pulang telah terpalang./Oleh beribu lantun doa dan/ayat succi yang mendesakku/ke tempat, yang diberi nama/neraka, yang entah/mintalah pada tuhan, tujuh/puluh tujuh pendoa/yang setia madahkan selarik/mazmur yang bersimbah/darah/Merunduk malu, meski/terpukul, kembali kubujuk ia/’kau harus pulang, doa kami/tak lagi menjumpai surga/tersesat dan hilang dalam/perjalanan menjumpai tuhan’/Setengah kaget, ia bergurau/heran/tepat ketika sepotong ayat suci/terkelupas lacur/’Sia-sia, asah aza yang tidak/manjur. Kasi’an…’/Sedikit ragu, kukatakan/padanya/’tuhan telah disesatkan oleh/tuan abdi tuhan/yang lupa kalau tuhan tidak/butuh darah/dan pintu surga tidak butuh/bangkai kepala untuk dibuka’/Tampak tergesa, sambil/kenakan nalar dan sedikit/iman, ia berujar/’aku akan merajam tuan tuhan yang baru/yang lalai untuk ingat, tuhan/dari keabadian yang mereka/sembah/dalam sujud tak putus/tak pernah bertopeng/pembunuh’/Dan ziarah kala itu perlahan/mekar di bibir derita/Potongan ayat suci dan ritus/pudar terkelupas, putus/ia akan datang lagi…

Terdapat beberapa kerangka pembacaan sebelum memahami puisi yang ‘vulgar’ ini. Pertama, terdapat ragam bahasa dalam diskursus tentang Allah. Baik menggunakan bahasa percakapan, bahasa ilmiah, bahasa puitis, maupun “bahasa diam”, toh tidak pernah sanggup membahas “Allah” secara niscaya. Bahkan-menyitir Jhon Orong, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia pada STFK Ledalero-morfem “tuhan” secara derivatif balik akan membentuk makna kontradiktif pada morfem “hantu”. Hal ini menegaskan bahwa memang demikianlah Allah: tremens et fascinans, menggetarkan sekaligus menakutkan. Kedua, hakikat doa sebagai pengalaman iman. Rumusan doa, ritus-ritus, dan tradisi yang dihidupi oleh suatu agama tidak selalu menjadi ajang justifikasi kualitas iman seseorang. Pembakuan doa sebagaimana doktrin komprehensif moralitas kristen, itulah yang dikritik oleh Nietzsche. Dan dalam puisi di atas, Kristo dengan sangat baik mengangkat kembali tema besar yang pernah dikritik oleh Nietzsche tersebut. Ketiga, puisi ini ditulis secara naratif dan bukan terdiri atas beberapa bait melainkan satu kesatuan yang utuh. Oleh sebab itu, penggalan kalimat yang tidak tepat sangat memengaruhi kualitas pemahaman atas puisi, selain daripada fragmen-fragmen yang terpisah bahkan bertolakbelakang.

Percaya Pada Allah Tanpa (Harus) Melalui Agama
Nietzsche, setelah lahirnya nihilisme, menganjurkan agama populer sebagai kompenisasi kekosongan hidup. “Kematian Allah” merupakan titik pijak awal bagi manusia untuk semakin kreatif dalam menghadapi kehidupan sesulit apa pun itu. “Allah” ini tidak lagi dibicarakan dalam terang iman-metafisis tetapi harus ditafsir dalam terang kodrati manusiawi disertai pada penegasan rumusan pernyataan poetik. “Allah” yang membuat manusia menjadi gamang dan gagu ketika menghadapi penderitaan dalam hidup harus diganti dengan kondisi baru yaitu kehendak untuk mengatasi diri sendiri dan aneka penderitaan yang menghadang. Dan ziarah kala itu perlahan/mekar di bibir derita, demikian Kristo menulis. Itu artinya, tidak ada hidup tanpa kehendak untuk mengatasi kehendak dan kekuasaan atas hidup itu sendiri. Demikianlah agama populer ini, lebih menganjurkan penderitaan daripada kebahagiaan. Dalam situasi demikianlah, hidup menemukan prinsip-prinsip tertingginya. Dan hanya dengan manusia menjadi “Allah” bagi dirinya sendiri, cara pandang terhadap hidup sebagai kompleksitas nilai-nilai senantiasa direvaluasi.

Paul Tillich dalam Systematische Theologie menulis: “Sebagaimana dalam Kristus kenyataan ilahi masuk ke dalam kenyataan duniawi, demikian pula sesuatu yang bersifat kristiani hanya bsa ada dalam yang duniawi, yang adikodrati hanya bisa ada dalam yang kodrati, yang suci hanya bisa ada dalam yang profan, yang diwahyukan hanya ada dalam yang masuk akal.” Pada konsep ini, hanya ada satu dunia. Dengan itu, terjawablah keberatan Feuerbach dan Marx yang mengatakan bahwa agama hanyalah hiburan untuk dunia seberang, dunia sesudah kematian. jalan pulang telah terpalang./Oleh beribu lantun doa dan/ayat succi yang mendesakku/ke tempat, yang diberi nama/neraka, yang entah/mintalah pada tuhan, tujuh/puluh tujuh pendoa/yang setia madahkan selarik/mazmur yang bersimbah/darah/Merunduk malu, meski/terpukul, kembali kubujuk ia/’kau harus pulang, doa kami/tak lagi menjumpai surga/tersesat dan hilang dalam/perjalanan menjumpai tuhan’/. Tragisnya, agama malah telah menjadi penghalang besar bagi perwujudan iman manusia oleh karena praktek klerikalisme dan tradisi yang ketat. Bahkan rumusan doa yang baku, yang didaraskan secara rutin tanpa pernah tahu doa itu disusun oleh dan untuk siapa. Singkatnya, penghayatan iman manusia masih sangat terbatas pada teks, tak berani beranjak dari sana menuju konteks “teks” dalam keseharian hidup. Tidak mengherankan jika kita sering menyaksikan betapa seseorang yang menghabiskan banyak waktu dengan berdoa namun dalam kenyataan hidup konkret gagal menemukan korelasi kreatif antara apa yang didoakan dengan penghayatan praktisnya. Orang ini mengingatkan saya akan seorang pekerja yang setiap saat ingin bertemu dengan majikannya dan pada saat yang sama menelantarkan pekerjaannya.

Bukan hal baru lagi ketika di mana-mana terdapat aneka pergolakan, kekerasan, dan diskriminasi sosial yang dilatarbelakangi oleh sikap fundamentalistik dalam agama tertentu. Memang, dalam konteks tertentu, rasanya agak janggal jika menempatkan agama sebagai satu-satunya alasan fundamental kelahiran potret buram di atas karena terdapat juga faktor lain seperti, kepentingan, politik, mekanisme pasar, dan sebagainya. Namun yang menjadi persoalannya adalah, semua pelaku kejahatan, pemerkosaan, dan penyelewengan terhadap Hak Asasi Manusia sejatinya adalah manusia beragama.’tuhan telah disesatkan oleh/tuan abdi tuhan/yang lupa kalau tuhan tidak/butuh darah/dan pintu surga tidak butuh/bangkai kepala untuk dibuka’/. Masih pantaskah Allah dibela? Dan jika masih, sesuatu atau seseorangkah “ia”?

Autosuperamento
Membaca puisi Kristo Suhardi di atas, menghantar kita pada suatu horizon yang garing, bahkan garang. Teknik yang ditawarkannya. hemat saya adalah autosuperamento, melampaui diri. Selaras dengan itu, filsuf eksistensialis, Kierkergaard dalam salah satu sajaknya menulis: “Yang aku perlukan adalah kekuatan untuk menghayati kehidupan.” Bukan kekuatan kehidupan pengetahuan, melainkan sesuatu yang berhubungan dengan akar-akar eksistensi, sesuatu yang dapat menjadi pegangan seandainya seluruh dunia dan sekitarnya hancur-berantakan. Kecemasannya beralasan tatkala kemajuan saintisme pada gilirannya menjadikan manusia sebagai produk pabrik yang oleh Hemingway disebut, “manusia yang pergi di jalan gelap tanpa tujuan dan tanpa ke mana-mana,” sehingga “manusia akan terbuang percuma,” kata George Orwell. Jika demikian, manusia seperti apakah yang pantas hidup agar tidak terjebak dalam kecemasan T. S. Elliot sebagai “manusia rongga kosong dalam negeri keji”?. Albert Camus lalu menganjurkan Sisyphus, Goethe menampilkan Faust, dan Kristo Suhardi, serta Nietzsche tentunya, mengusung Zarathustura (ubermensch, supermen, adimanusia). Harapan akan datangnya sosok manusia tersebut secara sengaja disematkan Kristo pada penutup puisi Zaiarah II dengan menulis: ia akan datang lagi.. Dan hemat saya, keyakinan akan datangnya manusia jenis ini, lahir dari pergulatan luar biasa dalam diri Kristo sebagai seorang penyair. Atau secara blak-blakan, saya memberanikan diri untuk sekedar menafsir pergulatan eksistensial penyair-yang adalah calon imam-dengan konteks dunia di mana ia hidup dan berada. Dalam artikel ini, saya membatasi diri dalam penafsiran teks sastra tanpa perlu mengaitkan yang seharusnya tidak perlu-apalagi kehidupan panggilan penyair. Hanya dengan demikian, artikel saya ini diluputkan dari “keterlanjuran” untuk dipengaruhi oleh orang yang saya ulas karyanya.

Tidak ada pergulatan yang lebih besar daripada pergulatan yang terjadi di dalam diri manusia (dalam diri penyair Kristo). Reinholo Niebuhr dalam The Nature and Destiny of Man (1943) pernah mengungkapkan permasalahan pelik bahwa “manusia itu merupakan problem yang membingungkan. Salah satu keistimewaan serta keunikan manusia adalah bahwa manusia menjadi problem bagi dirinya sendiri.” Derrida pernah menulis, “Saya tidak percaya orang (baca: iman) hidup terus, post-mortem.” Tetapi kata-kata yang diutarakannya, yang ditulisnya, hidup terus, survive, di atas atau mengatasi (sur) hidup (vivre), melampaui atau mengatasi kehadiran. Allah selalu melampaui eksistensi-tetapi bukan berarti Allah tidak eksis-dan aktus memikirkan, membincangkan dan menelanjangi konsep kemanusiaan manusia, memungkinkan adanya pembicaraan tentang Allah. Bukankah “kematian Allah” selalu pasti mengakibatkan kematian bagi manusia itu sendiri? Oleh karena itu, penawaran Kristo untuk autosuperamento, melampaui diri menjadi sangat penting. “Man is nothing else but what he makes of himself,” tulis J. P. Sartre. Dengan begitu, membaca puisi-puisi Kristo mengingatkan saya akan novel Ziarah karya Iwan Simatupang yang pada salah satu bagian ditulis: “Juga pagi itu dia bangun dengan rasa hari itu dia bakal bertemu dengan isterinya di salah satu tikungan, entah tikungan mana. Sedang isterinya telah mati entah berapa lama. Tiap langkahnya adalah dia yang ziarah pada kemanusiaan pada dirinya sendiri.” Sebuah lompatan ke dalam apa yang tidak diketahui namun membebaskan, ke dalam kegelapan namun menjernihkan kepekaan. Ke dalam kejatuhan namun tidak menolak untuk bangkit. Hanya dalam situasi demikian, manusia selalu menemukan alasan-alasan untuk hidup yang lebih berarti-yang oleh Kristo, tak jarang lalai untuk ingat tuhan.

*) Peminat Sastra, tinggal di Maumere
https://hansonwelehayon.wordpress.com/2014/05/02/dari-nietzsche-dan-nihilisme-ke-wacana-autosuperamento/