Sastra Indonesia di Brooklyn Book Festival 2015

Awis Mranani
edukasi.kompas.com

Eka Kurniawan masuk ke dalam jajaran penulis yang ikut mengisi Brooklyn Book Festival 2015 dengan panel diskusi, pembacaan buku, dan sesi temu dengan para pembaca. Dalam panel “Breaking the Silence: Hidden Stories”, Eka berbagi tentang karyanya Cantik Itu Luka.

Penulis kelahiran Tasikmalaya ini mengatakan, “Awalnya saya ingin membuat cerita horor, tetapi akhirnya terciptalah novel ini. Ada elemen misteri di dalamnya. Namun, sejarah Indonesia itu seperti hantu, banyak yang tidak terlihat. Maka konsep ‘hantu’ ini menjadi penting dalam Cantik Itu Luka.”

Dari banyaknya sejarah dunia yang melibatkan kekerasan, sejarah gelap Indonesia mungkin merupakan salah satu yang kerap tidak diketahui oleh masyarakat dunia. Melalui karya Eka, penyampaian masa lalu Indonesia yang kelam, menjadi begitu nyata dan menarik perhatian.

Eka mampu menggabungkan narasi sejarah dengan fiksi. Ia juga mampu menyisipkan selera humor sarkastis di antara deskripsi kebiadaban yang selalu ia paparkan secara detil.

“Aku akan tinggal di kota ini,” kata Maman Gendeng. “Aku akan mengencingi kemaluannya seperti harimau menandai daerah kekuasaannya.”

Tanpa beranjak dari duduknya, DewiAyu, karakter utama Cantik Itu Luka, menjawab, “Segeralah, sayang, sebelum kau ngompol di celana.”

Itu hanya salah satu contoh sarkasme yang dilontarkan Dewi Ayu. Ia, seorang pelacur berdarah campuran Indonesia dan Belanda, memiliki sifat yang keras dan terlampau jujur akan realitas yang ia hadapi.

Saat teman sepelacurannya berkata, “Kuharap semua Jepang mati terbunuh dengan usus memburai.” Dewi Ayu menjawab, “Jangan terlalu keras, anakku bisa mendengarnya. Ia anak orang Jepang.”

Begitulah novel ini dipadati dengan humor gelap Dewi Ayu yang pantang menutup-nutupi musibah dan kegetiran.

“Situasi politik mempengaruhi karakter orang, demikianlah tokoh-tokoh dalam Cantik Itu Luka dibangun,” jelas Eka. “Dewi Ayu memang tidak terlibat dalam perang secara langsung, tetapi peranglah yang juga ikut membentuk sifatnya.”

Eka juga menjelaskan bahwa darah campuran Indonesia-Belanda Dewi Ayu membuat tokoh tersebut bisamelihat beragam perspektif: seorangpribumi, Belanda, Katolik, Muslim, orang dalam dan orang luar sekaligus.

Masih terbilang muda, Eka sering dibandingkan dengan penulis legendaris Pramoedya Ananta Toer. Memang, karya-karya Eka bisa dikatakan sebagai bukti kebangkitan sastra Indonesia, dan ia adalah penulis yang cukup berpengaruh. Namun, kritikus sastra melihat adanya perbedaan yang unik di antara kedua penulis. Pram menulis dengan realisme politik, sementara Eka menulis dengan realisme magis, sebuah gaya sastra yang menampilkan elemen magis di tengah latar belakang atau lingkungan yang realistis.

Bagaimana tidak, novel Cantik Itu Luka diawali dengan bangkitnya Dewi Ayu dari dalam kubur setelah meninggal dunia selama 21 tahun. Begitu juga dengan anak keempat Dewi Ayu, bernama Cantik, yang sebetulnya sangat buruk rupa, yang belajar menghitung, membaca, dan bicara tanpa bantuan orang dewasa.

“Saya orang Indonesia, tinggal di Indonesia, dan menulis tentang Indonesia,” ujar Eka. ‚ÄúTetapi dalam proses menulis saya harus memberi sedikit jarak antara saya dan Indonesia agar bisa bebas menyelipkan lelucon-lelucon ke dalam tulisan saya.”

Jadi sebetulnya semua realisme magis dalam Cantik Itu Luka bukan bermaksud untuk membuat suasana gelap, tetapi justru unsur bercanda? “Iya,” jawab Eka sambil tersenyum.

Cantik Itu Luka bercerita tentang tragedi keluarga namun merujuk pada sejarah Indonesia, seperti masa pendudukan Belanda, Jepang, dan pembantaian 1965. Dicetak pertama kali pada tahun 2002, edisi berbahasa Inggris baru saja diterbitkan September 2015. Maka Brooklyn Book Festival merupakan ajang yang luar biasa untuk meneruskan kesuksesan buku ini ke AmerikaSerikat.

Festival buku terbesar di New York ini merayakan ulang tahunnya yang ke-10 pada Minggu, 20 September 2015. Ada lebih dari 300 penulis yang hadir dan 14 panggung di seputar Brooklyn Borough Hall.
***

New York
http://edukasi.kompas.com/read/2015/09/29/09000041/Sastra.Indonesia.di.Brooklyn.Book.Festival.2015