Secuil Kisah Seorang Perempuan-Hamba-Jawa di Jawa

Pengakuan Pariyem
Karya Linus Suryadi AG
Terbit 1981: Penerbit Sinar Harapan
Halaman: 224
Karakter: Maria Magdalena Pariyem, Kanjeng Cokro Sentono
Peresensi: Damar Juniarto

Ya, ya, Pariyem saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
“Iyem” panggilan sehari-hari
dari Wonosari Gunung Kidul
sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono
di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta
Rasa dosa tidak saya kenal
tapi rasa malu saya tebal

INILAH pengakuan dari seorang wanita Jawa, yang bekerja dengan penuh pengabdian, tanpa tuntutan, tanpa berharap balasan. Bahkan ketika dia hamil karena perbuatan anak majikannya, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, tak ada tuntutan untuk diakui sebagai menantu atau selir, atau apapun. Yang ada hanya pengabdian, pengabdian, dan pengabdian. Sudah jarang ada manusia seperti Pariyem. Kategori langka bahkan.

Mana ada wanita yang dihamili keluarga bangsawan yang menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat pengakuan, entah itu status, atau anaknya. Tapi memang untung bagi Pariyem, keluarga majikannya tidak lantas mengusir dan mengucilkan dia, bahkan anaknya diaku sebagai keturunan mereka. Meskipun setelah melahirkan, sang anak dititipkan di kampung dan Iyem kembali kerja sebagai babu di rumah itu.

Novel Pengakuan Pariyem adalah prosa liris pertama yang lahir dari tangan Linus Suryadi AG dan menjadi inspirasi bagaimana kebudayaan Jawa masuk ke dalam khazanah sastra Indonesia modern. Lewat novel prosa liris ini, Linus Suryadi menggambarkan kehidupan spiritual perempuan Jawa, mengkajinya, menganalisis, mendaulat, mengkritik, sekalgius mengajarkan kehidupan Jawa khususnya yang berkaitan dengan perempuan Jawa. Linus seperti ingin berujar begini: kehidupan perempuan Jawa dikelilingi oleh semangat pasrah.

Aspek lain dari novel ini yang mengundang reaksi gempar DPRD Yogya pada tahun 1981 adalah bagian-bagian yang dinilai erotis seperti waktu Pariyem di-PDKT sama anak juragannya.

Selagi saya membersihkan kamarnya
Tiba tiba saya direnggut dari belakang
O, Allah saya kaget setengah mati, mas
Sekujur tubuh saya digerayanginya
Pipi, bibir, penthil saya dingok pula
Paha saya diraba-raba
Diraba-raba paha saya
Alangkah mrinding urat sarap saya
Tapi saya pasrah saja kok,
Saya lega lila,

(Pengakuan Pariyem, hal. 43-44).

Lalu ada satu lagi, waktu Pariyem mengingat jaman dia pacaran sama Kliwon pulang nonton wayang di Wonosari.

O, Allah Gusti nyuwun ngapura
Kami telanjang bulat!
Bibir saya diciumnya
Ciuman pertama dari seorang pria
Penthil saya diremasnya
Remasan pertama dari seorang pria
Dan kuping bawah saya dikulumnya
Kuluman pertama dari seorang pria

(Pengakuan Pariyem, hal. 78)

Terlepas dari erotisisme yang hadir itu, novel ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Novel ini memperluas khasanah hadirnya nafas-nafas kedaerahan, sekaligus memberi wacana sekaligus kritik yang kuat pada masyarakat.

Dijumput dari: http://www.damarjuniarto.com/2008/07/secuil-kisah-seorang-perempuan-hamba-jawa-di-jawa/