Teruntuk Sang Pejalan Kata

Teruntuk Sang Pejalan Kata (Nurel Javissyarqi)
AG. Alif

I
Sebut namanya Nur bersambung Rel
Pencari relung-relung terdalam kata
Pemungut serpihan-serpihan masa
Perangkai bunga-bunga bahasa
Ketakutan sewujud mitos baginya
Bersandar keyakinan mencoba menjinakan bahasa berkelindan kemabukan
Nafasnya melantunkan tikaman-tikaman gelisah
Menggeliyat saat pandang mata menatap beda sebuah peristiwa
Nur mewujud Rel memangku gerbong-gerbong tua berisi tumpukan makna
Dibawahnya beranjak dari stasiun jiwa mengkoyak pandir nalaria semesta,
Hingga terhamparlah pada lembaran-lembaran bernada tanya
Menggemalah nada sumbang bagi jiwa-jiwa bimbang
Rel menjadi Nur menghantar para musafir kata
Dari alam kesunyian menggelapkan jumawa ke pelimbahan sepi mengasyikan
Ia senantiasa resah dalam jalanya
Meski jalanan masihlah sama
Menurun di hilir penuh warna
Nur ialah Rel
Lilin panjang di tengah sorotan lampu-lampu kota

II
Rambut ikal mengelombang gugur teriris kasih belaian jiwa
Mengayuh hidup memecah sepi
Tungku dapur tua berasap, masihlah terjaga
Melarut di mimpi-mimpi yang tak lagi nyata

III
Terlihat jutaan kata, bahkan lebih terpampang di alam fana
Sedikit rasa memetiknya, menurun dalam gelaran makna
Bukan kata yang memakna, jiwalah penuntunya
Para pejalan terus berjalan di jalur jalan kata

IV
Oh……sangkakala kata yang mengkoyak batu cadas kehidupan manusia
Menjejal diantara kebekuan nalar
Memberi cahaya di gelap jiwa, menghempaskan gulita
Kata adalah cahaya

V
Bila putaran roda waktu berhenti di garis sejarah
Kata tetap berputar pada porosnya
Sang pejalan kata bukanlah parade badut
Ia lah pembawa obor cahaya
Membaginya secercah, menerangkan dunia
Membawa kabar-kabar keabadian

VI
Di setiap jejakan waktu
Pejalan kata tumbuh berganti masa
Menelusupkan cahaya melewati aliran darah manusia
Semesta menerima nuansa
Dendang Sesal Pada Sunyi

VII
Aku melihat ia iba pada selembar bulu yang koyak
Tetapi lupa pada burung yang sekarat
Karena terbiasa mencium tangan sang tuan
Yang memasung jiwa
Kodrat jiwa sejati dihempaskannya dalam lubang kelam

VIII
Pahlawan mematung di lingkaran tragedi
Mengembus nafas akhir di atas gelanggang
Bukanlah nyata korban kesengsaraan, yang terperosok perlahan
Ke haribahan maut
Dalam kesunyian penjara jiwa.

IX
Kalam masih menghamba alam
Lihatlah jalannya fajar menjemput subuh
Para malaikat turun membawa salam
Kerumunan semesta melimpah di lautan asa
Ya Allah……

X
Wahai Nur …..
Butiran debu menyatu pada setiap dinding jiwamu
Kasat mata tak lagi melihatnya
Atau, melihat yang tak terlihat
Lalu kirab kejumuddan dipertontonkan
Bukanlah warna yang sesungguhnya

XI
Dukanya duka sekalian mahluk
Melumpuh daya mengeja peristiwa
Memusat pada ruang hampa
Diam jugalah kata-kata
Derunya menyayat-nyayat jiwa

XII
Aku kan tegak meski hati melayu
Mencari sisa-sisa daya yang tak kutahu,
Seketika membuta
Ingin pergi darinya pada saat malam
Namun gelap menyekap naluria

XIII
Nurel menghilang di padang terang
Silau cahayanya tak kunjung musnah
Kini tak terlihat lagi jejakan cerita lalu
Kekosongan melanda merayu-rayu
Ialah kisah tanpa sang pencerita

https://www.facebook.com/notes/kanjeng-tok/teruntuk-sang-pejalan-kata/1009142955791971