Sarinah di Mata Soekarno

Aditjondro
aditjondro.blogspot.co.id

Perjalanan hidup Soekarno dan wanita tidak melulu tentang kisah cinta. Soekarno memang selalu memuji wanita, bukan karena kecantikannya semata tapi juga karena rasa hormatnya. Seperti halnya rasa kagum dan hormatnya kepada seorang wanita yang bernama Sarinah. Siapakah sebernarnya sosok wanita yang bernama Sarinah itu?. Mengapa Soekarno begitu mengagumi figur Sarinah?

Sarinah adalah seorang wanita yang begitu sederhana. Sarinah adalah wanita desa yang bekerja di keluarga Soekarno sebagai baby sitter atau pengasuh Seokarno semasa kecil. Wanita inilah yang selalu mengajarkan cinta kepada Soekarno. Ia jugalah yang menanamkan rasa hormat terhadap wanita di hati Soekarno.

Setiap hari, Sarinah selalu menggendong dan meninabobokan Bung Karno dengan senandung-senandung yang berisi pesan moral agar Soekarno kecil tumbuh menjadi seorang pria berkarisma dan berbudi luhur. Selain jasanya yang besar karena sudah mengasuh Soekarno, Sarinah juga telah berjasa karena ia berhasil menanamkan doktrin di dalam pikiran Soekarno untuk mencintai rakyat dan kelak rakyatlah yang akan mencintai Bung Karno.

Di saat kedua orang tua Soekarno bekerja, Sarinahlah yang selalu menemani Soekarno. Kedua orang tua Soekarno sudah sangat mempercayai Sarinah bahwa ia bisa mendidik anaknya untuk menjadi seseorang yang berbudi baik, bertutur kata halus, ramah dan sopan serta bisa menghargai juga menghormati orang lain.

Sarinah, adalah sosok wanita desa yang sudah berusia senja. Wajahnya tak lagi cantik dan rambutnya pun sudah memutih. Meskipun hanya berprofesi sebagai seorang pengasuh, namun Sarinah sudah dianggap sebagai anggota keluarga sendiri oleh keluarga besar Soekarno. Rasa bangga sebagai pengasuh orang besar, sudah terlihat dalam diri Sarinah ketika pertama kali ia mengasuh Soekarno kecil. Sarinah selalu bekerja dengan sangat disiplin, ia juga jujur sehingga sangat dipercaya oleh kedua orang tua Soekarno.

Kedekatan Bung Karno dengan Sarinah tidak bisa tertuliskan dengan kata-kata lagi. Bagi Bung Karno, Sarinah adalah seorang wanita yang benar-benar berjasa dan mampu memberi pengaruh terbesar dalam kehidupannya. Salah satu hal yang diajarkan Sarinah kepada Bung Karno di masa kecilnya adalah “Karno hal pertama kamu harus mencintai ibumu, lalu cintailah rakyat jelata serta cintai manusia pada umumnya”

Setiap hari, Sarinah selalu menanamkan kata-kata seperti itu di dalam diri Soekarno. Ibarat jamu, kalimat tersebut pun menjadi sesuatu yang wajib diberikan kepada Soekarno. Sarinah selalu mengatakan kata-kata seperti itu di pagi hari, sore hari bahkan di malam hari. Ketika Soekarno hendak menikmati sarapan pagi, hingga ketika Soekarno hendak makan malam.

Maka tidak berlebihan bila Bung Karno selalu menganggap bahwa apa yang diberikan oleh Sarinah tersebut adalah modal utamanya dalam bersikap. Karena dari Sarinah lah Bung Karno mendapat pelajaran budi pekerti tentang hidup, tentang bagaimana mencintai dan menghargai orang yang selama ini mencintai kita?, Tidaklah berlebihan bila para sejarawan juga berpendapat bahwa nilai sopan santun dan tata krama seorang Bung Karno berasal dari seorang pengasuh bayi yang bernama Sarinah.

Karena kedekatan Bung Karno dengan Sarinah inilah yang membuat Bung Karno merangkum segala petuah-petuah Sarinah ke dalam bukunya “Sarinah: Kewadjiban Wanita Dalam Perduangan Republik Indonesia.” Selain itu karena begitu hormatnya Bung Karno kepada Sarinah, Bung Karno pun mengabadikan nama Sarinah sebagai salah satu pusat perbelanjaan terbesar pertama.
Tak hanya itu, nama Sarinah juga diabadikan sebagai nama sebuah majalah wanita yang dulu cukup populer dan selalu dicari-cari. Hal yang lebih menarik lagi adalah, nama Sarinah juga diabadikan dalam sebuah langgam jawa yang dipopulerkan oleh Waldjinah yang berjudul “ O Sarinah.” Adapun penggalan liriknya adalah sebagai berikut:

Sarinah ayu
Awak’ e lemu
Ngguya ngguyu
Opo gelem nah karo aku

Soekarno memang bukan pria sembarangan. Dia begitu menghormati dan mencintai wanita. Tidak hanya bagi para isterinya, rasa hormat tersebut juga ia tujukan pada wanita-wanita pada umumnya, terlebih bagi mereka yang selalu mendukung kerja keras suami mereka. Tanpa para isteri, suami-suami di pelosok dunia mana pun tak kan kuat bertahan dalam kerasnya perjuangan hidup. Maka jangan heran, bila Bung Karno selalu menulis buku untuk para isterinya sebagai rasa hormat dan rasa terima kasihnya. Dan jangan heran pula bila Soekarno menulis buku tentang wanita Indonesia yang dipersembahkannya untuk Sarinah, mengingat jasa Sarinah yang sudah membuat sosok Soekarno menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
***

http://aditjondro.blogspot.co.id/2006/10/sarinah-di-mata-soekarno.html