34 Tahun Sanggar Triwida

Tjut Zakiyah
tulungagung.go.id

Tigapuluh empat tahun menjadi penjaga sastra Jawa. Kepedulian terhadap sastra Jawa mendorong alm. Bapak Tamsir AS dan 7 sastrawan Jawa yang berasal dari 3 wilayah —Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar— untuk mendirikan sanggar sastra Jawa bernama Triwida. Kilas balik sejarah Triwida ini, kemarin Minggu (25/5/2014) saat syukuran ulang tahun ke-34 di kediaman Bapak Suwignyo Adi, Kalidawir.

Tiga wilayah daerah yang kemudian disingkat menjadi TRIWIDA dan menjadi nama dari sanggar sastra Jawa di Jawa Timur ini, kini telah berkembang menjadi 11 wilayah daerah atau kabupaten/kota, sejak saat dilahirkannya, 18 Mei 1980. Selain Tulungagung, Trenggalek dan Blitar (kabupaten dan kota), keanggotaan TRIWIDA sudah merambah ke wilayah Kediri (kabupaten dan kota), Malang, Madiun, Ngawi, Ponorogo, dan Pacitan.

Triwida terbilang tetap kokoh dan makin ‘ngrembuyung’ jika dibanding dengan sanggar sastra Jawa lainnya, ungkap Sunarko Budiman, ketua Sanggar TRIWIDA dengan rasa bangga. Sebagai bukti, hari itu juga (Minggu, 25/5), Triwida mewisuda 4 anggota baru yang masih tergolong generasi muda, diantaranya adalah para mahasiswa sastra Jawa.

Untuk menjadi anggota Sanggar Triwida tidak terlalu sulit.

“Syarat utama, yg bersangkutan memang berminat menjadi anggota, meski tulisan bahasa/sastra Jawa-nya belum pernah dimuat di media. Nah, di sanggar itu mereka bisa belajar dan akan dituntun oleh para senior, hingga akhirnya karyanya bisa lolos seleksi media (utamanya media berbahasa Jawa misal Jaya Baya, Panjebar Semangat, Djaka Lodang, Mekar Sari dll). Untuk ajang pendadaran, sementara tulisannya akan disalurkan ke Majalah Jemparing (Majalah pendidikasn berbahasa Jawa yg dikelola Sanggar Triwida). Syarat berikutnya (jika sudah berhasil) anggota harus selalu membuat tulisan dg kriteria : tri – wida ( tiga keharuman). Yakni: harum bahasanya, harum sastranya, harum kandungannya. Syarat lain, harus selalu hadir dlm pertemuan rutin 2 bln sekali. Hanya itu syaratnya. Tidak ada iuran rutin. Iuran dilaksanakan jika memang ada kebutuhan mendesak,” ungkap Pak Tiwiek SA, nama beken dari Suwignyo Adi yang sudah melahirkan banyak karya sastra Jawa, sekitar 263 cerita yang tersebar di sejumlah majalah berbahasa Jawa, sekitar 15 karya yang dibukukan, dan sejumlah prestasi diraihnya sejak tahun 1980.

Hadir dalam perhelatan 34 tahun Triwida, Bapak Ahmad Pitoyo, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, yang juga bertepatan sebagai pembina Sanggar Triwida. Usai wisuda 4 anggota baru Triwida, acara utama diakhiri dengan pemotongan tumpeng oleh pak Ahmad Pitoyo dan diserahkan kepada Sri Ismini Istuningsih (Guru SMPN 3 Pacitan), satu-satunya wisudawan yang perempuan, berasal dari Pacitan.
***

http://www.tulungagung.go.id/index.php/jurnalisme-warga/99-34-tahun-sanggar-triwida

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*