Arisan Sastra, Sebuah Oase Budaya di Trenggalek

Bonari Nabonenar
Radar Surabaya, 18 April 2011

Ketika 3 atau 4 orang (saja) mengadakan pertemuan rutin dan mendiskusikan sesuatu hal secara intensif, sebuah oase budaya dapat terbangun dan berkembang menjadi besar, atau setidaknya menghasilkan sesuatu yang besar, dan menggelembung melampaui batas-batas wilayah geografis mereka, seperti yang dilakukan Socrates dan kawan-kawan (Socrates Café) atau Derrida dan kawan-kawan. Tiba-tiba, di Trenggalek muncul kelompok diskusi yang dibangun oleh sosok-sosok muda yang gandrung tulis-baca, yang dengan segala daya-upaya mereka giat mengampanyekan gerakan literasi di kota kecil yang jika terkenal pun, sering lebih karena kemiskinan dan keterpencilannya ini.

Kelompok anak-anak muda yang dipelopori Nurani Soyomukti, penulis yang sudah melahirkan belasan buku, Tony Saputra, mahasiswa STKIP Trenggalek yang gemar menulis puisi, dan kawan-kawan itu pun menjadi semacam kumparan yang semakin memperkokoh keberadaannya dengan aneka macam kegiatan, dari menyelenggarakan diskusi sastra, peluncuran/bedah buku, dan yang secara rutin diagendakan setiap bulan sejak 6 bulan lalu adalah: Arisan Sastra Trenggalek (selanjutnya disebut dengan Arisan Sastra). Beberapa nama yang dalam hal usia tidak bisa disebut muda lagi pun bergabung ke dalam kelompok ini.

Ini adalah kabar gembira, ketika masyarakat kita, tak terkecuali yang hidup di pelosok-pelosok desa cenderung menjadi sangat pragmatis-materialistis, dan pembangunan karakter bangsa hanya menjadi jargon atau kalau dilakukan pun sering lebih berorientasi proyek. Nurani Soyomukti dan kawan-kawan ini melakukan gerakan budaya dengan segenap kemampuan (yang sesungguhnya sangat terbatas) yang mereka miliki. Dan hebatnya, lagi-lagi, mata kita dibuka untuk melihat kenyataan bahwa kemauan yang kuat, yang bersih dari pretensi mendapatkan keuntungan material, mampu menyerap kekuatan alamiah yang, menurut saya: luar biasa, membalik keadaan dari kemampuan yang sangat terbatas itu menjadi kemampuan luar biasa.

Luar biasa, ketika puluhan orang bertahan untuk bergantian membaca/mendengarkan pembacaan-puisi, orasi, di tengah guyuran rintik hujan, dari sekitar pukul 19.00 hingga tengah malam (Rumah Hamzah Abdillah, Jl. WR Supratman, Minggu, 5 Maret 2011).

Luar biasa, ketika acara yang bahkan tidak tertera di dalam agenda Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten (Trenggalek) ini dihadiri oleh penulis, penyair, sastrawan dari berbagai kota: Bojonegoro (Riza Multazam Luthfi), Malang (Misbahus Su’rur), Jombang (Hadi Sutarno), Ponorogo (Ary Nurdiana), dan Ngawi (Hardho Sayoko).

Luar biasa, karena Arisan Sastra ini adalah model pembangunan kebudayaan dari akar rumput, dari bawah, yang sangat berpeluang menyejajarkan Trenggalek dengan kabupaten lain di Jawa Timur yang lebih dahulu maju di bidang kesusasteraaan dan dunia penulisan ini: Sumenep, Lamongan, Bojonegoro, yang belakangan disusul Kabupaten/Kota Mojokerto.

Mengapa tradisi tulis-baca seperti dilakukan Nurani Soyomukti ini penting untuk dibangun? Sastrawan peraih SEA Write Award Suparto Brata yang menulis dengan dua bahasa (Jawa dan Indonesia) memiliki jawaban yang bagus untuk pertanyaan itu: ’’Kita bisa bertani dengan baik hanya dengan mendengarkan siaran radio mengenai cara-cara bertani yang baik. Tetapi, kita tidak akan dapat membuat radio hanya dengan mengikuti petunjuknya melalui siaran radio.’’ Artinya, tradisi baca-tulis atau gerakan literasi adalah wajib hukumnya untuk masyarakat yang ingin maju peradabannya.

Luar biasa, karena Arisan Sastra ini menunjukkan kepada kita adanya geliat-gerak-maju peradaban/kebudayaan, dalam pengertian tidak statis dan puas hanya mengelus-elus warisan budaya nenek moyang (baca: tradisi lisan), yang, mengelus pun kini sepertinya sudah tidak dilakukan dengan benar. Hanya mau merawat (dengan baik) budaya warisan dan tidak dapat mengembangkannya dengan baik paling banter hanya akan menjadikan masyarakat sebagai semacam museum. Jangan sampai instansi bernama Dinas kebudayaan dan Pariwisata di negri ini, khususnya di Jawa Timur hanya mendjadi semacam biro penjualan tiket masuk ke: gua, pantai, candi. Jangan sampai hanya mau sesekali nanggap wayang, ludruk, kentrung, sambil merasa telah ikut menjaga dan mengembangkan warisan budaya bernama kesenian tradisional itu. Adalah kecelakaan budaya jika kita tidak mampu dengan benar merawat warisan dan gagal menciptakan iklim yang baik bagi dunia kreasi, penciptaan, bagi generasi terkini. Dan perlu dicatat pula, Arisan Sastra ini sekaligus juga dapat dipandang sebagai salah satu obat antidehidrasi (menghindarkan kelumpuhan kultural masyarakat) di tengah-tengah banjir limbah peradaban dunia.

Pada akhirnya saya hanya ingin mengatakan, bolehlah Dewan Kesenian Jawa Timur tidak tahu bahwa di Trenggalek juga ada Dewan Kesenian (Kabupaten Trenggalek). Tetapi, kini ada harapan untuk menuju apa yang bisa saya katakan dengan: ’’tidak ada yang salah dengan kesenian di Trenggalek.’’

Arisan Sastra ini penting untuk terus dipacu dan dikembangkan sebagai oase budaya di Trenggalek, dan tidak perlu digiring menjadi koperasi. Karena itulah disamping Nurani Soyomukti yang menjadi tumpuan utama keberlangsungan gerakan ini, saya mengusulkan Tony Saputra untuk dukukuhkan sebagai Bupati Penyair Trenggalek. Setuju, ya?

*) Peserta Arisan Sastra Trenggalek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*