Puisi, Penyair, dan Pelbagai Hambatannya

Alex R. Nainggolan
Republika 6 Juli 2014

Puisi terkadang gagal menemukan bentuknya di hadapan publik pembaca. Terutama dengan keseriusan para penyair untuk merajut makna yang di anggap aneh, bertolak belakang, atau mungkin tak dipahami oleh pembacanya. Maka, kita hanya dihadapkan pada sebuah asal-mula, yakni proses terbentuknya puisi itu sendiri.

Sebagai sebuah nalar yang melingkar, puisi menjadi niscaya mengambil bagian sebuah pu blik untuk intim, sekaligus menyeluruh, dengan tidak ingkar pada lingkungan sekitar.

Persoalan yang banyak ditemui ialah kedalaman makna, di mana sejumlah diksi gagal membangkitkan aura sehingga acap kali ditemui bentuk puisi yang datar, tak lagi mengejutkan, atau imajinasi yang terkesan biasa saja. Tentu ini persoalan mendasar bagi seorang penyair.

Setiap penyair percaya, sebuah makna kata memerlukan kerja yang serius, bermain- main, atau tapak hari-jauh sebelum puisi itu dibentuk. Dan, apa yang ditulis HB Jassin beberapa tahun lampau tampaknya masih pantas dijadikan sebuah rujukan jika kita tak pernah tahu apa maksud si penyair dalam puisinya maka masukilah bagaimana keseharian seorang penyair. Bagaimana ia mesti berkelahi dengan sejumlah kalimat, mencoret-coret sketsa, sebelum puisi itu dilempar dan menemui publiknya.

Sebagai suatu bentuk lingua yang lumayan tua, puisi memang harus menjaga semua komponennya. Dalam bahasa Hasif Amini, ibarat sejumlah mekanik yang membutuhkan tenaga dari luar (arus) listrik untuk membangkitkannya.

Dengan demikian, puisi akan bersimpuh, kemudian menggeletar di antara aura bunyi lainnya. Sebab, lingkar pikir manusia terkadang selalu membelenggu. Yang membuat kita mem batasi gerak sehingga imajinasi yang tertuang dalam sejumlah diksi berhenti setelah kita selesai membacanya.

Seorang penyair pernah berucap kepada saya, puisi yang baik itu yang tetap berdenyar sepanjang masa. Di mana seluruh rangkuman jejak tertinggal di sana. Kata-kata penuh pukau, memotret seluruh unsur depan sadar manusia. Getarannya membangunkan semua ketertinggalan kita.

Wah, kalau sudah begitu, saya kira puisi merupakan sebuah benda yang hebat. Meman carkan sejumlah aura, setiap kelindan di dalamnya terbungkus jadi satu. Sebuah tumpangan kalimat yang memaksa kita mengem bara ke negeri-negeri yang tak “bernama”. Imajinasi mungkin sebuah formula ajaib.

Untuk itu, seorang penyair harus rajin-rajin mengasah kepekaannya, mengamati kehidupan, mendengarkan apa yang dirisaukan, menanam gelisah, menjemput seluruh kenangan yang pernah tinggal di kepalanya.

Puisi merupakan percikan yang sederhana, rumit, dan gampang. Pengalaman “berke lahi”dengan kata itu yang makin membuncahkan nurani dalam teks sebuah puisi. Simak dalam sajak Goenawan Mohammad “Kwatrin Pada sebuah Poci”-sebuah konsep dasar puisi (seni, pada umumnya) yang pernah dibedah A Teeuw dalam catatan akhir kumpulan Asmaradana.

Pun usaha keras dari Joko Pinurbo dalam sa jak “Koma”, “Pelajaran Menulis Puisi” di kumpulan Telepon Genggam. Sebagaimana belan tara, kita pun memasuki puisi yang ditulis para penyair. Menyibak setiap ruas, sudut, jenis diksi, bertamasya dengan penuh debar.

Sesekali ditemui banyak elegi yang muncul tak berkesudahan. Tapi, di kali lain, kita bersua pula dengan kenyataan-kenyataan yang beku meskipun tetap menyenangkan.

Puisi seakan membaurkan semua sisi-sisi kehidupan, yang paling hitam, putih, mungkin pula abu-abu. Tantangan para penyair ialah bagaimana menelurkan sebuah realitas ide itu menjadi ayam. Hal yang sama pula terjadi dalam pola pemikiran Plato tentang sebuah konsep dunia ide yang pernah ditulisnya. Dunia ide tak pernah habis, akan terus ada.

Jarak aman Semua penulis percaya setiap kali menuliskan sesuatu memerlukan jarak yang aman terhadap peristiwa. Dengan demikian, ia bisa membaca lagi semua hal yang tak terpikirkan sebelumnya.

Melalui jarak aman tersebut, sebuah tulisan akan berdiri sendiri (independen) dengan tidak bergantung pada peristiwa tersebut. Meskipun sebuah puisi, sebagaimana yang pernah dilontarkan Sutardji Calzoum Bachri, acap kali berada pada posisi “sakratul maut”, seperti ingin menjemput setiap keinginan dan menempatkan realitas secara kasar dan gamblang. Padahal, realitas itu sendiri, terutama dalam sebuah karya sastra, memerlukan polesan-polesan. Sehingga, membentuk sebuah tandingan dari realitas yang ada.

Setiap kali menghitung diksi yang dipakai dalam puisi, penyair mencoba memilah, membelah, kemudian menginsyafi diri sendiri.

Sebuah puisi memang harus disusun dengan penuh kehati-hatian, sebuah kata yang gagal saja bukan tidak mungkin bisa merusak seluruh bangunan puisi itu secara utuh.

Melalui teks itu pulalah terjadi interaksi antara pembaca dan penulis. Sebuah permain an syaraf, sebuah himpunan kalimat yang me me rlukan proses membaca. Membaca, se but Goenawan, adalah usaha membongkar teks secara lebih jauh. Seperti lecutan gerak yang tampak. Melalui rangkai kalimat, alinea, lembar- lembar pengetahuan disibak. Mungkin.

Alex R. Nainggolan Dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982.
Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Jurnal Sajak, Suara Pembaruan, Jawa Pos, dan Seputar Indonesia Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila.
http://www.republika.co.id/berita/koran/islam-digest-koran/14/07/06/n8ahgz-puisi-penyair-dan-pelbagai-hambatannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*