Eka Kurniawan dan Obsesi O

Judul : O
Pengarang : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2016
Peresensi : Indri Permatasari
indonesiana.tempo.co

Akhirnya buku setebal 470 halaman ini terselesaikan juga meski dengan kecepatan membaca yang super ndlosor. Maklum saya memang tak jago dalam membaca. Sehingga saya lebih memilih membaca pelan, agar masih ada yang nyangkut dalam ruang pikir.

Nama Eka Kurniawan memang sedang moncer belakangan ini. Karya-karya nya banyak diperbincangkan oleh para pecinta sastra baik di media sosial atau bahkan ruang diskusi yang dianggap lebih adiluhung.

Namun saya sebenarnya tidak berpikir ndakik-ndakik sampai kesana. Karena saya termasuk jenis manusia labil yang pengetahuan sastranya sungguh dangkal . Sehingga kalau saya suka dengan tulisan seseorang ya saya baca saja, tak peduli siapa yang menulisnya, mau terkenal atau tidak. Ya, semua hanya soal selera belaka.
***

Jujur saja, bukan hal mudah untuk membuat review novel karya Eka. Jika sebelumnya saja saya membaca Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dengan penuh kernyit-kernyit di sekujur dahi untuk memahami. Maka dalam O saya membutuhkan lebih dari itu.

Jika dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka seperti sedang bermain-main dengan gaya stensilan, maka di O Eka membuat novel yang condong pada imajinasi sebuah fabel. Hewan-hewan yang bisa berpikir dan berbicara, bahkan sampai benda-benda tak bernyawa semacam kaleng sarden dan pistol revolver pun ikut merasakan duka dan gembira.
***

Novel ini menceritakan tentang O, seekor monyet betina yang gandrung dan jatuh cinta setengah mati dengan seorang Kaisar Dangdut bernama Entang Kosasih. Bahkan O yakin bahwa sang kaisar akan mengawininya seperti janji terdahulu yang sempat terucap saat mereka masih menjadi sepasang kekasih di sebuah hutan di rawa kalong.

Bagaimana bisa monyet jatuh cinta dengan manusia? Ah, tak ada yang tak mungkin di muka bumi ini. lagian dulunya Entang kosasih adalah seekor monyet yang berubah menjadi manusia karena sudah menguasai jalan hidup manusia seperti legenda Armo Gundul yang mereka percaya. Pun, sebelum jadi monyet, konon semua monyet mewujud sebagai ikan terlebih dahulu.

Seperti kembali membaca teori evolusi Darwin ya.
***

Semua ini membuat O terobsesi menjadi manusia supaya bisa bersama dengan sang pujaan hati, dan menuntunnya bergabung dengan topeng monyet milik Betalumur. Di tempat inilah O berkenalan dengan Kirik, seekor anjing kecil yang antipati terhadap manusia dan terus memprovokasi O agar kabur dari majikannya yang tak peduli terhadap kesejahteraannya, juga melepas mimpinya untuk bisa bersanding dengan Entang Kosasih.

Tak melulu kisah hewan saja yang diangkat. O juga menyajikan kehidupan manusia dengan segala keruwetannya. Ada duo polisi berpangkat rendah tapi beridealisme tinggi Sobar dan Joni Simbolon, yang mesti berakhir tragis. Juga Rini Juwita dan Mimi Jamilah yang sama-sama menyayangi Kirik.
***

Dengan jumlah karakter tokoh yang sangat banyak, Novel O seperti kumpulan cerpen yang dijahit rapi antara satu cerita dengan cerita lainnya. Semua tokoh yang kelihatan tidak berhubungan ini sejatinya berkelindan dan beririsan satu sama lain.

Mungkin ini pula yang menyebabkan O menjadi terlalu ruwet dan kurang fokus. Banyak hal sebenarnya yang bisa dikesampingkan dan tidak mempengaruhi alur cerita. Tetapi lagi-lagi mungkin hal itu disengaja oleh penulis untuk menguji kadar konsentrasi pembaca.
***

Seperti karya-karya Eka sebelumnya, novel ini dipenuhi dengan sindiran, sarkasme maupun guyon bernada satire. Terkadang semuanya tersaji secara eksplisit, namun lebih banyak lagi yang tersembunyi. Dengan plot acakadul, maju-mundur ganteng, tetapi masih sangat menarik untuk dinikmati dan mau tidak mau, harus diakui bahwa di sinilah poin keunggulan Eka.

Jika boleh berpendapat, saya selalu menyukai gaya penulisan yang berlapis-lapis dan mbulet. Saya malah jadi ingat film-film Tarantino yang acapkali tumpang tindih, namun setiap kepingan yang berserakan itu sebenarnya adalah bagian dari sebuah sketsa besar..

Tapi entah kenapa, di novel O ini, saya sedikit kelelahan dengan potongan-potongan cerita yang dibangun Eka. Konsentrasi saya kerap ambyar dengan intensitas cerita yang deras namun banyak jeda di setiap bagian. Kalau boleh ditarik moral ceritanya -meski hal itu sangatlah sulit- Eka ingin menyampaikan pesan bahwa manusia bisa menjadi hewan dengan segala ‘kekurangannya’ dan hewan juga bisa menjelma manusia dengan segala yang dianggap ‘kelebihannya’.

Saya tidak bilang novel ini tidak bagus, tapi memang dibutuhkan keahlian membaca diatas rata-rata untuk mengimbangi gaya penulisan diatas rata-rata yang Eka punya. Jujur saja sih, saya lebih menikmati Cantik Itu Luka yang lebih kalem mengalirnya. Ahh..ini mungkin masalah otak saya saja yang kurang ganep.

Bagaimanapun, Indonesia memang patut berbangga dengan kehadiran penulis-penulis muda seperti Eka Kurniawan.
–00—

“kau mungkin akan hidup dengan dibalut cinta, tapi mungkin tidak bahagia. Kau juga bisa hidup bahagia, meskipun tanpa cinta. Tapi tentu saja kau bisa memperoleh semuanya,sebagaimana bisa terjadi kau tak memperoleh keduanya”
***

https://indonesiana.tempo.co/read/73712/2016/05/11/Eka-Kurniawan-dan-Obsesi-O

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*