Martabat Sastra(wan) Facebook

Zulfaisal Putera
Banjarmasin Post, 30 April 2017

Apa yang salah dengan karya sastra dan sastrawan di Facebook (Fb) ? Apa karena Fb adalah media yang bebas bagi siapa pun untuk menampilkan karya sastranya sehingga dianggap tidak memiliki ukuran kualitas yang jelas? Apa juga karena Fb sebagai media yang gratis sehingga karya sastra apa pun yang ditampilkan dianggap jadi takbernilai? Atau, apa karena Fb takmempunyai redaksi dan kurator sehingga karya sastra yang ditampilkan tidak selektif?

Di sisi lain, apakah karya sastra yang muncul di media koran atau majalah yang mempunyai halaman sastra dijamin lebih berkualitas? Apa karena halaman sastra hanya hadir satu kali seminggu atau sebulan sehingga taksemua karya bisa dimuat kecuali yang lolos seleksi? Apa juga karena media tersebut mempunyai redaksi dan kurator sehingga karya sastranya pasti berkualitas? Atau, apa karena andil seorang kritikus terhadap karya sastra tersebut?

Demikian dua kutub senarai pertanyaan yang saya kumpulkan dari tulisan beberapa sahabat di media sosial dalam sepekan ini. Pertanyaan-pertanyaan itu merupakan reaksi atas Catatan Kebudayaan yang ditulis Maman S. Mahayana (MSM) di harian Kompas, Sabtu, 22 April 2017, halaman 24, yang berjudul “Sastra(wan) Generasi Facebook”. Para pembaca yang mengenal siapa MSM, agak terperangah mencermati isi catatan tersebut.

MSM adalah pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Publik sastra Indonesia mengenalnya sebagai kritikus sastra Indonesia. Kebanyakan tulisannya merupakan catatan kritis berkualitas atas karya atau peristiwa sastra Indonesia. Dan media yang memuatnya pun taksembarang, seperti jurnal atau Kompas dan media sekelasnya. Oleh karena itu, catatannya Sabtu pekan lalu itu menimbulkan banyak tanggapan karena dianggap tidak menunjukkan ‘kualitas’ seorang MSM.

Saya termasuk yang agak ‘terganggu’ membacanya. Pertama, MSM adalah salah satu guru saya dalam kepenulisan. Kedua, saya juga suka menampilkan karya sastra di dinding Fb saya. Ada beberapa pernyataan MSM di catatannya itu yang menurut saya ‘tidak nyaman’ untuk ditelan. Dan tampaknya hal itu juga dirasakan oleh para penanggap catatan itu. Salah satunya adalah: “Sebagian besar (karya sastra di FB), instan, ahistori, narsistik, tanpa seleksi, tanpa kritik (yang baik)”.

Entah serius atau sedang berkelakar, saya yakin, MSM tahu bahwa Fb itu tribun bebas. Tidak bisa dibandingkan dengan media Koran atau majalah yang punya penjaga gawang. Jelas, takada seleksi eksternal dan kritik (yang baik) itu. Namun, saya yakin, kebanyakan penulis karya sastra di dinding Fb-nya sudah melakukan seleksi sendiri sebelum diunggah. Saya dan mungkin juga penulis lain, suka ‘memeram’ dulu tulisan itu beberapa waktu sebelum dipublikasikan. Jelas, ada histori. Pembaca Fb tentu taktahu dan takperlu tahu.

Narsistik? Itu tidak hanya berlaku untuk penulis sastra di Fb. Penulis media cetak lebih lagi. Ketika karyanya dimuat, ada kebanggaan berlebih. Dia pasti berkabar ke rekan lainnya. Dia mulai merasa sebagai penulis sastra yang hebat dan tersohor. Selanjutnya, mengelompokkan diri hanya kepada sesama yang tersohor. Dia pun mulai takmenganggap penulis yang masih ‘menggelandang’. Bukankah itu bagian ciri narsistik: arogan dan egois? Saya menemukan itu di grup WA sastrawan. Yang tersohor kebanyakan hanya mengomentari chat penulis tersohor juga.

Adakah kritikus untuk karya sastra(wan) di Fb? Banyak. Para pembaca sesama fecebooker, sesama penulis, dan juga pembaca kritis. Berkualitas? Tergantung. Saya menemukan beberapa teman penulis yang mau memberikan catatan kritis atas karya temannya. Memang taksepanjang dan setajam kritik di media cetak, tetapi substansinya sudah kritik. Hanya tentu kritikus di Fb gratis. Namun, jangan lupa, ada banyak antologi karya sastra yang dikumpulkan dari Fb yang diterbitkan dan kemudian dikritisi.

Saya menengarai MSM memang sedang berkelakar dengan catatannya itu. Apalagi dasar sebuah kritik minimal hasil kajian. Dan saya takmenemukan bahwa apa yang disampaikan MSM itu hasil dari penelitian serius. Barangkali, saya perlu mengajak kritikus MSM ‘kembali ke jalan yang benar’. Hikmah yang bisa dipetik dari kasus ini adalah bahwa para sastra(wan) generasi Facebook jangan cepat puas. Martabat karya sastra Anda di Fb tergantung bagaimana Anda berkarya. Kira-kira begitu ya Pak Maman?
***

https://www.facebook.com/zulfaisalputera/posts/10211431680601887

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*