PEMBENARAN DAN TAMPARAN

Sofyan RH. Zaid *
triknews.net

Jauh sebelum “Sastra(wan) Generasi Facebook” karya Maman S Mahayana (Kompas, 22/04/2017) yang menggempa(r)kan itu, saya pribadi tidak pernah share puisi di facebook. Kalau pun share puisi, pastilah puisi yang sudah dimuat media massa -baik cetak maupun online- beserta sumber dan edisi pemuatannya. Saya menjadikan dan menempatkan facebook sebagai media sosial untuk sosialisasi atau sebagai ‘tangan kedua’ setelah media massa dalam penyebaran karya. Barangkali orang-orang menganggapnya sebagai penguatan eksistensi, saya pribadi menganggapnya sebagai berikut:

Pertama, sebagai ‘silaturrahmi kreatif’ dengan kawan-kawan facebook. Beberapa orang memberi like atau komentar dengan cara dan gaya masing-masing. Beberapa yang lain ada yang inbox dan bertanya; bagaimana caranya kirim ke media tersebut dan minta alamat emailnya. Kedua, ‘membantu‘ mengenalkan media tersebut ke khalayak, apalagi bila itu merupakan media baru yang menyediakan rubrik sastra. Hal ini juga bisa menjadi kabar baik bagi kawan-kawan yang suka mengirimkan karyanya ke media dengan alasan masing-masing.

Sementara, kenapa saya tidak share puisi di facebook sebelum puisi tersebut dimuat media massa? Alasannya sederhana, karena saya sayang pada puisi yang saya tulis. Barangkali ini alasan yang tidak logis, ya namanya juga sayang. Sayang dalam hal ini mempunyai dua pengertian:

Pertama, saya orang yang tidak produktif dalam menulis puisi karena saya selalu mengalami kesulitan menulis puisi. Pada hal ini, kadang saya iri setengah mati kepada kawan-kawan yang sangat produktif dalam menulis dan menerbitkan buku puisi. Saat saya berhasil menulis satu puisi dari sekian puisi yang saya buang, saya selalu menabungnya dengan niat dikirim ke media bila jumlahnya telah cukup. Kenapa demikian? Karena saya merasa sayang kalau hanya disebar di facebook mengingat prosesnya yang ‘berakit-rakit ke hulu’. Hal ini bisa juga dianggap sebagai sebuah pragmatisme berpuisi atau apalah. Ibaratnya, saya menunggu dan bersabar memancing, setelah ikan didapat, sayang kalau dilepaskan lagi begitu saja. Ikan tersebut bisa saya jual, berikan ke orang, atau saya goreng sendiri.

Kedua, terlepas dari istilah politik sastra dan selera redaktur, saya selalu menghormati para redaktur sastra sebagai ‘kurator kedua’ setelah saya pribadi sebagai ‘kurator pertama’ untuk puisi-puisi yang saya tulis. Saya masih ingat ketika awal menulis ‘puisi pagar’ dan mencoba kirim ke sebuah media, kemudian sang redaktur membalas email saya dengan mengatakan: “Kami hanya menerima puisi serius, bukan puisi main-main”. Beberapa bulan kemudian, setelah ‘puisi pagar’ mulai ‘menyebar’, redaktur tersebut kembali mengirim email ke saya dan mengkonfirmasi kalau puisi pagar yang pernah saya kirim mau dia muat. Giliran, saya yang menolaknya. Jadi, saya menyayangi puisi yang saya tulis dengan cara ‘mengujinya’ ke tempat yang ‘tepat’. Membiarkan ia bertarung dengan puisi-puisi lain di tangan redaktur tanpa perlu berpikir: menang atau kalah, karena puisi selalu punya nasib dan jalannya sendiri. Tanpa perlu tahu: ada honor atau tidak, honornya dikirim atau lupa.

Jadi, bagi saya, esai Maman tersebut -setelah saya baca berulang- merupakan ‘pembenaran’ untuk sikap saya selama ini sekaligus sebagai ‘tamparan’ agar berhati-hati menggunakan facebook dan memperlakukan puisi-puisi yang saya tulis dengan baik sebagai anak kandung pikiran dan perasaan. Dengan kata lain, esai tersebut seperti anggur dan api bagi proses kreatif saya. Namun meski demikian, -sebagaimana yang Maman juga akui bahwa ada juga puisi yang baik dan bergizi di facebook- saya banyak belajar dari facebook, baik melalui komentar, status, catatan, dan puisi kawan-kawan yang ditayangkan di facebook, baik sebelum atau sesudah dimuat media massa. Saya juga banyak tergabung dalam grup-grup sastra facebook baik sengaja atau ‘mendadak ada’ sebagai anggota. Intinya, setiap kali saya membuka dan menutup facebook, saya selalu berdoa: “Robbi habli hikmatan wasa’adatan fi ad-dunya, “maya”, wa al-akherah.” (Tuhanku, beri hamba kebijaksanaan dan kebahagiaan di dunia, maya, dan akherat.) Amin.

Jakarta, 24 April 2017

*) Penulis adalah Madridista dan penyuka mie ayam.
https://triknews.net/index.php/2017/04/24/pembenaran-dan-tamparan-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*