Jati Diri dan Bahasa Indonesia

Berthold Damshauser *
Majalah Tempo, 21 Apr 2013

Lapor. Sudah saatnya saya kembali melaporkan diskusi pada jam mata kuliah di Jurusan Indonesia Universitas Bonn. Diskusi itu bermula dari pertanyaan seorang mahasiswa.

“Menurut Bapak, apa ciri khas budaya Indonesia dan bertolak dari itu di mana kira-kira identitas atau jati diri bangsa Indonesia?”

Gembira atas pertanyaan segampang itu, saya memasang wajah ilmiah dan menjawab, “Bangsa Indonesia dan itulah ciri juga jati dirinya adalah bangsa pemilik filosofi agung bernama Pancasila. Berkat filosofi itu, yakni berdasarkan keyakinan akan Ketuhanan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia gigih mempertahankan persatuan dan kesatuannya, berjuang menyempurnakan kerakyatan alias demokrasi, juga demi semakin meluasnya keadilan sosial serta meningginya peradaban, yaitu dengan tidak pernah melupakan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.”

Bangga atas pernyataan mantap ini, saya membiarkan jawaban saya berkumandang memenuhi ruang. Wajah-wajah murid saya kaget. Mereka diam dalam hening suasana. Akhirnya ada reaksi.

“Luar biasa. Juga terkesan berbobot.”

Saya tersenyum, menganggukkan kepala.

“Tapi, Pak, bukankah itu terlalu idealistis-programatis, jauh dari realitas, dan karenanya kurang ilmiah?

“Sama sekali tidak,” jawab saya dengan tegas. “Jati diri sebuah bangsa tecermin dalam cita-citanya. Tadi saya mengakui sebagian dari cita-cita itu masih perlu diwujudkan, keadaan masih perlu disempurnakan. Tapi, baiklah, saya akan memberi sebuah definisi tambahan: budaya Indonesia merupakan puncak dari budaya-budaya daerah yang ada di Indonesia.”

Muka-muka tak terkesan memandang saya, menjengkelkan saya. Definisi setajam itu pun tak meyakinkan mereka, tak membuat mereka berhenti bertanya.

“Pak, apakah segampang itu?”

Wah, ini suara kritis yang tak saya sukai itu. Pemiliknya si mahasiswa yang selalu mengganggu dengan komentarnya yang aneh.

“Bukankah,” suara kritis itu melanjutkan, “tema ini mesti kita hadapi dengan melihat dasar permasalahan. Misalnya mempertanyakan apakah bangsa yang memilih istilah serapan yang belum berumur 200 tahun sebagai namanya sesungguhnya sudah eksis. Yang ada di Indonesia jelas ratusan bangsa yang berbeda-beda, sehingga konsep bangsa Indonesia cuma sebuah konstruksi, sesuatu yang dibayangkan, belum menjadi kenyataan yang sesungguhnya.”

“Kalau menganggap diri bangsa, jelaslah mereka bangsa,” jawab saya dengan dingin. “Konstruk ya konstruk, asalkan bermanfaat. Yang penting, bangsa Indonesia percaya pada konstruk demikian. Yang penting, mereka percaya misalnya bahwa Pancasila adalah jati dirinya. Terlalu mempertanyakan bisa meruntuhkan bangunan. Bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan.”

Mendadak sontak seisi kelas disergap kebingungan. Tentu saya senang melihat kebingungan itu. Biar mereka tahu rasa. Sesuatu yang cerdas-bijaksana memang membingungkan banyak orang. Tapi, baru saja saya menikmati kokohnya posisi saya, muncul suara lembut tapi agak berwibawa.

“Saya senang terhadap pragmatisme Bapak,” demikian seorang mahasiswi memuji. “Kita memang tidak selalu perlu terlalu ilmiah. Tapi saya ingin bertanya: bermanfaatkah kiranya, kalau dalam pencarian jati diri Indonesia, kita berfokus pada sesuatu yang jelas dimiliki tiap orang Indonesia? Sesuatu yang melekat pada tiap individu, pada katakanlah manusia Indonesia?”

“Kalau bukan Pancasila, apa itu kira-kira?” kata saya heran. “Gotong-royong? Ide koperasi sebagai pilar ekonomi?”

“Bukan, Pak,” mahasiswi itu menyambung, “bukan cita-cita dan nilai-nilai luhur, bukan wacana yang cuma diomongkan. Saya kira bahasalah kuncinya. Alat yang digunakan orang Indonesia untuk menafsirkan, untuk membahasakan dunia. Maka bahasa Melayu yang kini telah menjadi bahasa semua suku bangsa di republik bernama Indonesia patut dianggap inti atau pusat jati diri bangsa Indonesia!”

“Ah,” jawab saya, “jangan ngawur. Bahasa cuma bahasa. Andai saja Anda menyebutkan musik pentatonis, seni wayang, atau seni tari, itu baru masuk akal kalau membicarakan identitas. Yang wajar, dong.”

“Pak, ingatlah Theodor Fontane,” ujar si kritis, entah mengapa dia menyebut nama sastrawan Jerman itu, “ia dengan cukup beralasan pernah mengatakan bahwa yang paling manusiawi yang kita miliki adalah bahasa. Nah, yang paling Indonesia yang dimiliki manusia Indonesia adalah bahasa Indonesia.”

“Kalau begitu,” saya menyindir, “seni yang paling Indonesia tentulah seni sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia? Dan dalam seni sastra itu juga ditemukan jati diri bangsa? Begitu, ya?”

“Betul sekali! Akhirnya Bapak dengan cara tut wuri handayani membawa kami pada kesimpulan yang sangat menarik. Terima kasih, Pak!”

Tut wuri handayani? Kesimpulan menarik? Saya mohon diri, meninggalkan kelas. Saya lupa, lonceng belum berbunyi.

*) Kepala Program Studi Bahasa Indonesia Universitas Bonn, Pemimpin Redaksi Orientierungen, dan redaktur Jurnal Sajak
https://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/04/21/jati-diri-dan-bahasa-indonesia/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*