Kata yang Berkembang Biak

Samsudin Adlawi *
Majalah Tempo, 26 Agu 2013

DALAM urusan bahasa, masyarakat Indonesia termasuk yang paling kreatif. Di tangan orang Indonesia, satu kata bisa beranak-pinak. Meski secara fisik fonemik berbeda seratus persen dengan induknya, anak-anak kata baru tidak meninggalkan tali pertautan dengan induknya. Anak kata baru itu ada yang berasal dari serapan kata asing, dari padanan kata Indonesia sendiri, bahkan dari bahasa daerah.

Orang Inggris menyebut pregnant bagi wanita yang tengah hamil. Bangsa kita tidak puas hanya dengan satu kata untuk menerjemahkan pregnant, tapi menggunakan empat kata sekaligus: hamil, bunting, mengandung, dan berbadan dua.

Untuk menyebut orang yang sudah tidak bernyawa, bahasa Inggris hanya menggunakan kata die/dead. Tidak demikian dengan orang Indonesia. Di negeri ini setidaknya terdapat delapan kata yang semakna dengan die/dead, yakni mati, meninggal (dunia), tewas, mampus, wafat, gugur, (ber)pulang, dan mangkat.

Meski secara substansi maknanya sama, setiap kata itu memiliki konotasi yang berbeda. Sama makna, tapi beda peruntukan. Kata meninggal digunakan untuk orang yang mati dalam keadaan normal, orang yang baik dan dihor­mati. Misalnya, “Ibuku meninggal setahun yang lalu.” Beda lagi untuk penjahat. Kata yang cocok untuknya adalah mampus atau tewas. Maka kalimat yang pas baginya adalah (1) Perampok bengis itu tewas ditembak polisi, (2) Pembunuh sadis itu akhirnya mampus juga.

Sementara itu, untuk mewartakan tentara dan prajurit yang mati di medan juang atau orang yang mati saat menjalankan tugas negara, secara refleks orang akan menyebutnya dengan kata gugur. Juga jika ada pemimpin seperti raja, sultan, presiden, dan perdana menteri yang mati, sudah tersedia tiga kata untuk menghormatinya, yakni wafat, mangkat, dan berpulang. Ketiga kata itu juga diperuntukkan bagi para pemuka agama dan orang-orang terkasih. “Telah pulang ke Rumah Bapa di Surga pada hari¦,” begitu bunyi penggalan iklan berita duka yang sering menghiasi halaman media cetak.

Kreativitas berbahasa orang Indonesia juga tampak jelas dalam menamai buah berkarbohidrat yang menjadi konsumsi wajib sehari-hari. Orang Indonesia menyebut padi sebagai buah yang masih berada di batang tanamannya. Ketika sudah dirontokkan dari batangnya, nama padi ikut gugur dan menjelma jadi gabah. Lalu, setelah kulitnya terkelupas, berubah lagi namanya menjadi beras. Proses ganti nama tidak berhenti di situ. Beras yang sudah ditanak menyandang julukan baru: nasi. Orang Indonesia memang kreatif. Padi yang sudah hancur menjadi butiran kecil-kecil pun diberi nama. Orang biasa menyebutnya menir.

Bahasa Inggris tidak sekreatif bahasa Indonesia. Dalam Kamus Lengkap Inggris-Indonesia Indonesia Inggris (Prof Drs S. Wojowasito dan Drs Tito Wasito W.), kecuali menir yang diartikan sebagai groats, dari padi sampai jadi nasi penyebutannya tetap memakai kata rice. Sementara padi dibahasakan sebagai rice, gabahnya diterjemahkan menjadi unhulled rice. Sedangkan beras disebut hulled rice. Adapun nasi dipadankan dengan kata cooked rice.

Bahasa Arab tidak jauh berbeda dengan bahasa Inggris. Orang Arab menyebut padi, gabah, beras, dan nasi menggunakan kata ruz. Lema padi dalam Kamus Indonesia-Arab (Asad M. Alkalali, Penerbit Bulan Bintang) diartikan dengan ruz. Gabah dibahasaarabkan menjadi ruz ghair maqsyur. Lalu beras disebut ruz ghair mathbukh dan nasi disebut dengan kata ruz mathbukh. Sedangkan untuk menir, padanan katanya adalah barghal. Kamus Arab-Indonesia terlengkap, Al-Munawwir karangan A.W. Munawwir, edisi kedua, malah lebih praktis. Dalam kamus terbitan Pustaka Progresif itu, lema ruz (arruz) merupakan terjemahan padi, beras, dan nasi sekaligus. Fenomena penyebutan padi berikut anak-pinaknya dalam bahasa Inggris dan Arab yang kurang kreatif itu bisa dimaklumi. Sebab, padi memang bukan jenis tanaman yang bisa dan biasa ditanam di dua negara kerajaan tersebut.

Kreativitas berbahasa juga ditunjukkan masyarakat Madura. Untuk peristiwa jatuh saja, orang di Pulau Garam bisa membiakkannya menjadi 14 kata. Secara fonemik, bahasa Madura “jatuh dari atas” adalah gegger. Kalau jatuhnya ke belakang, sebutannya agentang/tagentang. Khusus bagi yang jatuh ke depan, tersedia tiga kata: nyonglet, tabrengka’, dan tajrungkep. Sedangkan jatuh yang sampai terlempar dibahasakan dengan ngalto’. Sementara itu, kata tapakpak untuk jatuh karena tersandung, tableccar untuk jatuh sambil meluncur, dan nyangsang untuk mengatakan jatuh tapi menyangkut.

Jika ada orang jatuh dan berguling-guling, orang Madura secara spontan akan menyebutnya dengan kata agulu’. Mereka akan mengatakan taroncet untuk orang yang jatuh dengan pantat mendarat lebih dulu. Beda lagi bagi orang yang jatuh dengan posisi pantat di atas. Peristiwa itu disebut labu nocceng. Adapun kata tacarbuk untuk kejadian jatuh ke tempat yang basah berlumpur dan tacellet untuk jatuh ke tempat becek tapi tak bisa bangkit lagi.

Tentu saja, kreativitas berbahasa yang terus berkembang di tengah masyarakat akan semakin menambah kekayaan (kosa-) kata bahasa Indonesia. Sebagaimana ilmu pengetahuan, bahasa memang harus terus berkembang mengiringinya. Itu sunatullah.

*) Wartawan Jawa Pos, sastrawan.
dijumput dari: https://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/08/26/kata-yang-berkembang-biak/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*